
Yang mejawab pertanyaan Kris bukan Henry Alexander, tetapi Asisten Dwi Saputra yang kebetulan mendengar pertanyaan Kris. Asisten Dwi Saputra dan Rena baru pulang mencarikan pesanan orang tua yang ada di desa.
"Kris tidak perlu repot-repot mengurusi itu, semua sudah dilakukan oleh pengajara satu hari yang lalu." Aisisten Dwi Saputra duduk di samping Henry Alexander dan memberikan bukti foto gugatan cerai dari pengacara atas nama Kris.
"Ini siapa yang tanda tangan?" tanya Kris bingung.
Rena tersenyum melihat Kris bingung melihat ada foto surat gugatan itu dengan tanda tangan berbeda tetapi atas nama Krisnawati Prayuda. Teringat kemarin setelah mendengar Dokter Yohan Carnett berurusan dengan polisi, Elfa meminta untuk segera bertindak. Menunjuk pengacara untuk mengurus semua persoalan Kris dengan suami rahasianya.
Karena Ibu Prayuda bingung dan terus bertanya mengapa harus bersembunyi. Elfa akhirnya bercerita persoalan yang sebenarnya tentang Kris. Ibu Prayuda yang menandatangani surat gugatan itu.
"Semua pengacara yang mengatur, Kris jangan Khawatir dan tidak perlu berpikir macam-macam yang penting bayi Kris sehat," kata Rena.
"Membayar pengacara sangat mahal, Rey. Kris tidak mungkin sanggup."
"Jangan berpikir macam-macam, Kris tinggal tahu beres. Ini sudah malam beristirahatlah!" perintah Henry Alxander.
"Iya."
"Ayo aku antar ke Klinik!"
"Aduh setia banget sih teman Rey satu ini," goda Rena sambil mengedipkan matanya pada Kris.
"Ngawur aja, sono istirahat juga!" Kris memukul pundak Rena perlahan.
Henry Alexander berpamitan pulang setelah mengantar Kris sampai kamar klinik. Kris tidak langsung tidur, masih bergabung dengan perawat yang berjaga. Ikut berbincang dan bercanda sampai menunggu mata terasa mengantuk.
Sampai lebih dari tengah malam, mata Kris belum juga bisa diajak terpejam. Sejak ketahuan tujuan Mr. Yo menikah, Kris berusaha keras untuk bisa lepas dari suami rahasia. Namun setelah sekarang semua diurus oleh pengacara pikiran Kris seolah resah tidak menentu.
Entah dari mana pikiran tidak rela itu muncul. Selalu gelisah selalu terbayang wajah jahat Mr. Yo. Senyum devil Mr, Yo selalu terdengar di telinga seolah menggema tanpa henti.
__ADS_1
Kris masuk kamar berusaha membaringkan tubuh di tempat tidur yang empuk. Menyelimuti tubuh dengan selimut yang lembut dan hangat. Sayangnya semua itu justru masih nyaman saat tidur di tilam tipis tanpa selimut.
Berbaring miring rasanya salah, terlelentang juga salah. Menutup mata dengan selimut rasanya sesak napas. Membuka mata selalu terbayang wajah suami durjana itu kembali.
Berkali-kali Kris menghela napas panjang. Tidur salah, duduk salah bahkan terkadang mondar-mandir sendirian di kamar. Semakin malam hati semakin gelisah tidak menentu.
Ingin menghubungi Ibu di desa rasanya tidak mungkin. Tidak ingin menambah beban ibu yang sudah mengetahui kisahnya sekarang. Ingin mengajak berbincang Elfa dan Rena pasti mereka sudah terlelap.
Kris seperti berada di persimpangan jalan saat ini. Ingin terus melangkah rasanya gamang. Ingin berbelok ke kiri tidak tahu ke mana tujuannya. Ingin berbelok ke kanan tidak terlihat tujuan yang sebenarnya.
Hampir jam tiga pagi, ke luar kamar berjalan perlahan. Perawat terlelap di tempatnya berjaga. Dokter Emy juga terlelap di kantor pribadi. Berjalan masuk dapur para koki dan asisten rumah tangga sudah terlelap semua.
Kris berjalan ke belakang rumah, ada lampu temaram di pinggir kolam dan di atas gazebo. Suasana terlihat teduh saat ada kilatan cahaya air kolam yang berpantulan cahaya rembulan dan lampu taman. Bau harum bunga yang bermekaran di taman kecil ujung halaman.
Kris membaringkan tubuhnya di gazebo yang terbuat dari kayu jati. Terasa dingin tanpa bantal, tanpa selimut dan tanpa alas. Namun, membuat Kri semakin terasa nyaman saat berbaring memeluk lutut.
"Apa yang terjadi ya Allah pada hati ini?" monolog nya dengan lirih sambil memeluk lutut.
"Apa maksudnya ini sih, Nak. Mengapa kamu selalu gelisah?" Kris mencoba untuk mengajak berbincang putra yang masih dalam perutnya.
Kegelisahan hati seakan sejalan dengan gerakan bayi yang selalu menendang dari dalam, "Apa maumu sih, Nak. Apa putra Ibu lagi demo karena niat Ibu ingin menggunggat ayahmu?" tangan Kris terus mengusap perutnya.
Seolah bayi yang ada dalam perut itu mengajak berinteraksi. Selalu menendang dari dalam bergerak seolah dia sedang bermain bola. Tidak bisa diam dan tidak berhenti bergerak.
"Kamu tahu, Nak. Ibu selalu tersiksa karena ayahmu? Apakah kamu tega Ibu selamanya akan tersiksa? ayo tidurlah sekarang, Ibu sangat lelah."
Tangan Kris mengusap perlahan ke atas dan ke bawah. Mata dipejamkan mencoba untuk tenang. Terkadang hanya bersenadung bersolawat agar gerakan terdiam.
Lama-kelamaan mata bisa terpejam dan gerakan tangan berhenti mengusap perut. Terasa nyaman dan bisa melupakan peristiwa kepedihan di hati. Terlelap sampai pagi menjelang tanpa ada yang mengetahui.
__ADS_1
Pagi hari perawat terbangun karena ada suara alarm yang menunjukkan jadwal memberikan vitamin untuk Kris. Dua perawat bergegas masuk kamar dengan membuka pintu perlahan. Hanya sayangnya, tidak di temukan Kris di atas tempat tidur.
Perawat langsung melapor pada Dokter Emy yang kebetulan sedang mempersiapkan laporan perkembangan Kris, "Jangan panik, kita cari dulu di sekitar rumah!"
Dokter memerintahkan dua perawat mencari di kamar dan kamar mandi. Dokter Emy berlari di rumah bagian belakang menyusuri kolam renang, taman dan gazebo. Merasa lega karena melihat Kris yang meringkuk terlelap membelakangi kolam renang.
"Bagaimana ini, dibangunkan atau dilaporkan?" monolog Dokter Emy sendiri.
Dokter Emy langsung mengirim foto Kris yang terlelap di gazebo kepada Elfa. Tidak ingin menutupi apa pun tentang pasien yang dirawatnya secara khusus itu. Yakin Elfa sudah bangun dan selesai menunaikan ibadah pagi hari.
Tidak hanya Elfa dan Juan Mahardika yang datang. Rena dan Asisten Dwi Saputra juga berlari mendatangi gazebo yang ada di samping kolam.
"Mengapa dia memilih tidur di sini?" tanya Juan Mahardika.
Kita tunggu saja dia bangun, Akak."
"Iya, Sayang."
"Rey ambilkan selimut saja kasihan kedinginan," kata Rena ingin berlari ke kamar.
"Tidak perlu, Nyonya. Perawat sudah ke sini sambil membawa selimut, bantal dan obat."
Elfa langsung mengambil selimut yang dibawa oleh perawat, "Bawa sini selimutnya!" perintah Elfa.
"Ini silakan, Nyonya!"
Elfa perlahan duduk di pinggir gazebo, menyelimuti perlahan tubuh Kris yang terasa dingin. Menyelimuti dari kaki sampai pundak Kris bertujuan agar semakin terlelap. Hanya sayangnya Kris langsung terbangun karena badan terada hangat,
"Eee apakah sudah siang?" tanya Kris.
__ADS_1
"Mengapa Kris tidur di sini?"
"Kris tidak bisa tidur di kamar, bayi dalam perut sedang demo gara-gara gugatan cerai itu."