Itu Bukan Salahku, Tuan!

Itu Bukan Salahku, Tuan!
Bab 140. Lapar Mata


__ADS_3

Elfa hanya bisa menggelengkan kepala ketika Juan Mahardika memborong kalung dan aksesoris dari manik-manik khas Kalimantan dalam jumlah banyak. Seolah calon ayah baru itu sedang lapar mata, semua yang cantik dipilih dan dibeli. Itu baru satu toko yang dikunjungi sudah menghabiskan uang segebok.


"Sayang, pilihan Akak cantik semua, 'kan?"


"Iya tetapi masih cantikkan El."


"Itu pasti, nomor satu tetap istri Akak."


Pindah di kaos bercorak batik asli Balipapan dengan tulisan I love you BPP. Juan Mahardika memborong lebih dari sepuluh lusin. Dengan warna yang berbeda dan ukuran yang bebeda pula.


"Akak. mengapa banyak sekali yang dibeli?"


"Semua cantik dan bagus, Sayang. Akak bingung memilihnya, lebih baik Akak beli semua."


"Untuk siapa semua oleh-oleh sebanyak itu?"


"Banyak yang mau, Sayang. Tenang saja pasti nanti jadi rebutan."


Juan Mahardika masih mencari oleh-oleh yang khas dari Kalimantan. Melihat ada sarung khas Samarinda dengan motif yang beragam. Kemarin saat di Samarinda tidak sempat mencari oleh-oleh di sana, sehingga langsung memborong sarung khas lebih dari jumlah kaos.


"Ya Allah Akak, ini mau beli oleh-oleh atau mau jadi pedagang sarung?"


Juan Mahardika hanya tersenyum sambil terus memilih warna sarung yang diinginkan. Sudah lebih dari setengah stok milik pedagang dipilihnya. Namun, tangan belum berhenti memilih yang disuka.


"Untuk siapa sarung sebanyak itu, Akak?"


"Untuk Pakde Sarto dan keluarga yang ada di Ngawi."


"Itu bukan cukup untuk keluarga, tetapi cukup untuk sekampung, Akak."


"Ide bagus itu. Satu kampung ada berapa laki-laki yang pakai sarung?"

__ADS_1


"Mene ketehe," jawab Elfa kesal.


Elfa tidak jadi memilih oleh-oleh yang akan dibeli. Semua sudah terwakilkan oleh suami yang seperti emak berdaser sedang belanja. Semua yang dilihat ingin dibeli, padahal tidak tahu untuk siapa oleh-olehnya.


Sopir yang mengantar Juan Mahardika dan Elfa yang tercengang melihat perubahan tuan besarnya sekarang ini. Dulu selalu jutek, galak dan pemarah serta tegas. Selalu dilibasnya jika ada sedikit kesalahan. Sekarang ini seperti melihat tuannya berbalik seratus delapan puluh derajat.


Sopir harus meminta bantuan kepada pegawai toko untuk mengangkut semua belanjaan yang sudah diborong oleh tuannya. Setelah dibayar lunas harus segera dibawa ke mobil karena takut kewalahan mengangkut jika ditunda. Bahkan, satu toko yang membantu lebih dari tiga orang agar cepat selesai.


Juan Maharika lebih tercengang lagi saat masuk di salah satu toko di tengah pasar. Toko batu permata yang sangat lengkap kolesinya. Biasanya batu permata untuk cincin yang dipakai laki-laki dewasa yang sering disebut batu akik.


Ada lima batu akik asli Kalimantan yang sangat populer di kalangan kolektor batu akik. Kecubung karang, kecubung biru laut, Kecubung ametis, kecubung sempalai dan red borneo. Warna dan kilaukan cahaya yang menyilaukan mata para pecinta batu akik, sangat menghipnotis untuk membeli walau harganya selangit.


Dari lima jenis itu, satu yang menjadi perhatian Juan Mahardika. Batu red borneo yang terlihat eksotik dengan harga selangit. Red borneo adalah yang paling populer dan sering diburu para kolektor seluruh dunia.


Batu fenomenal ini asli dari daerah Mandi Angin, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan ini memiliki beragam warna. Yang paling populer adalah warna merah sehingga dijuluki Ruby nya Kalimantan.


Batu Red Borneo sangat popular dan mendadak melejit mengalahkan pamor batu Bacan dari Maluku Utara. Batu akik yang sedang naik daun ini selalu membuat para penggemar batu akik berbondong-bondong memburu karena memiliki kualitas terbaik di antara batu akik yang lain. Meski ada beragam warna, namun batu Red Borneo yang semakin merah warnanya, maka harganya akan semakin mahal.


"Ada berapa yang seperti ini, Pak?" tanya Juan Mahardika.


"Ada empat, Tuan. Yang paling mahal yang ini karena mulus dan hampir tidak ada bercak didalamnya," jawab Pegawai toko menunjukkan batu akik red borneo yang warnanya sangat indah.


Mata Juan langsung berbinar melihat batu akik yang masih dalam bentuk asli belum menjadi cincin. Warna merah dengan kilauan yang menawan membuat langsung terpana siapa saja yang melihat.


"Sayang, tolong pilihkan untuk Akak, Papi, Abang Al dan Daddy Hans dong!"


Elfa membelalakkan matanya karena kaget, sang suami berencana membeli batu akik untuk olah-oleh para laki-laki dalam keluarga, "Akak mau beli batu akik banyak juga?"


"Iya dong, Sayang. Opa dan Pakde Sarto juga Akak belikan."


"Terserah Akak saja deh." Akhirnya Elfa pasrah dan tidak ingin melarang suami yang sedang lapar mata untuk berbelanja. Anggap saja sedang ngidam untuk menghabiskan uang miliknya yang tidak akan habis tujuh turunan dan tujuh tanjakan seperti daerah Balikpapan.

__ADS_1


Elfa semakin bingung, tidak pernah melihat suami tercinta tertarik dengan barang antik itu. Tahunya dulu dia selalu suka dengan wanita seksi dan kehidupan bebas. Sekarang sangat tertarik dengan manik-manik dan batu akik.


Elfa jadi teringat Mami Mitha saat di Ngawi melihat pelawak idolanya zaman dulu. Laki-laki yang memiliki cincin batu akik di lima jari tangan kanan dan kiri, tetapi tingkahnya berlagak gemulai. Mami bisa sampai tertawa terpingkal-pingal jika melihat tingkah polah sang idola beraksi di atas panggung.


Elfa jadi tertawa sendiri membayangkan jika suami tercinta memakai batu akik itu di sepuluh jarinya. Bukan cuma seperti pelawak zaman dulu lagi. Akan seperti wanita jadi-jadian yang suka mangkal di pinggir jalan saat tengah malam.


Elfa semakin tergelak padahal hanya membayangkan saja. Namun, jika diceritakan tidak mungkin sang suami mengetahui siapa artis pelawak zaman dulu. Jika ditunjukkan pasti baru akan mengerti dan mungkin ikut tertawa.


"Mengapa El tertawa begitu Sih?"


"El lagi membayangkan Akak seperti idola Mami."


"Siapa idola Mami?"


"El tidak tahu namanya, sebentar El carikan di media sosial."


Elfa mengetik nama pelawak zaman dulu yang sering memakai batu akik di sepuluh jarinya. Dia sangat terkenal pada zaman itu dan menjadi idola para ibu-ibu dari sosialita sampai emak-emak berdaster. Elfa tahu karena dulu Mami Mitha sering melihat di media sosial saat lagi santai.


Dengan mudah idola zaman dulu itu langsung muncul dengan nama Tesi. Laki-laki kurus dan cungkring berpenampilan gemulai. Memakai batu akik di semua jari kanan dan kiri ditambah memakai baju seksi.


"Coba Akak lihat, El sedang membayangkan Akak memakai batu akik seperti dia!"


"Amit-amit jabang bayi!"


"Ha ha ha!"


BERSAMBUNG


Yok mampir kk di novel teman author, rekomen banget lo!


__ADS_1


__ADS_2