
Mendengar Elfa tergelak, Juan Mahardika langsung duduk sambil melihat jam dinding. Perasaan sedang menikmati rujak bebeg yang selalu ada di pikiran. Ternyata menikmati rujak bebeg yang tidak sesuaii gambaran hanya mimpi saja.
"Sayang, mana rujak bebeg yang rasanya aneh itu, apakah sudah habis?"
Elfa tergelak kembali, "Kasihan banget sih, pingin makan rujak bebeg sampai mengigau." Elfa duduk di samping Juan Mahardika sambil memeluk pinggangnya.
"Apakah Akak tadi mengigau?"
"Ho'o, besok saja kita beli rujak bebeg, Akak tidur lagi saja dulu!"
"Ayo temani!"
"Baik, tetapi jangan macam-macam El masih capek!"
"Iya tentu saja, Sayang."
Pagi ini pukul tujuh pagi, setelah mandi Juan Mahardika memakai baju santai. Bersantai duduk di sofa panjang sambil menikmati kopi panas dan roti bakar. Hanya memeriksa pekerjaan lewat online dan email saja.
Juan Mahardika sengaja tidak pergi ke kantor. Pikirannya masih terbayang rujak bebeg yang rasanya aneh tadi pagi. Masih ingin membuktikan jika rujak itu rajanya segar asam dan pedas. Menunggu waktu yang dijanjikan Elfa pukul sepuluh pagi di sebuah taman kota yang tidak jauh dari komplek perumahan elit miliknya.
"Akak tidak ke kantor?" tanya Elfa yang baru datang dari ruang makan.
"Akak mau makan rujak bebeg dulu."
"Masih penasaran dengan rujak tumbuk itu?"
"Iya, di lidah Akak masih merasakan makan rujak yang rasanya gurih."
"Akak ini aneh-aneh saja."
Baru saja Elfa duduk di samping Juan Mahardika, tetapi suami tecinta langsung menekan tombol off pada laptop, "Ayo kita berangkat sekarang, Sayang?"
"Ini baru jam tujuh lebih, Akak. Tukang rujak bebeg berdagang pukul sepuluh."
"Tidak apa-apa, sekalian kita jalan-jalan menghirup udara segar di taman."
__ADS_1
"Tunggu El ganti baju dulu!"
Masih pukul delapan pagi Elfa dan Juan Maharadika tiba di taman kota. Udara masih segar dan suasana masih asri dan belum banyak polusi. Elfa memilih berjalan tanpa menggukan alas kaki.
Sepatu dipegang oleh Juan Mahardika sambil menggandeng Elfa. Perut Elfa yang semakin membuncit setelah umur kandungan hampir mendekati tujuh bulan. Membuat Juan Mahardika terkadang sangat khawatir karena ukurannya melebihi ukuran ibu hamil pada umumnya.
Baru berjalan kurang dari satu dua kilo meter kaki terasa berat. Ukuran kaki yang mulai membesar dan sering kesemutan membuat Elfa tidak kuat berjalan jauh. Padahal dulu setiap hari mampu berlari lebih dari dua puluh kilo meter.
"Kalau lelah, duduk di bangku panjang sana, Sayang. Jangan dipaksakan!"
"Iya, Akak. El mulai lelah. Ayo istirahat dulu!"
"Mau Akak pijitin kakinya?" tanya Juan Mahardika berjongkok mengusap kaki Elfa.
"Tidak usah, Akak. Ini di tempat umum, bahaya nanti kalau Akak tiba-tiba ingin beraksi."
Juan Mahardika tergelak dan duduk di samping Elfa. Sudah bisa dipastikan setiap memberikan terapi pijat selalu berujung dengan plus-plus dan modus. Apa jadinya jika pusaka bumerang terbangun di tempat yang salah.
Satu jam berlalu dinikmati hanya dengan duduk dan berbincang sambil bercanda. Belum ada tanda-tanda pedagang rujak bebeg datang. Ada rombong kecil yang datang dengan di dorong pemiliknya dengan tulisan toge goreng.
"Mana pedagangnya, Sayang?"
"Itu baru datang!" tunjuk Elfa pada pedagang yang baru berhenti di ujung taman kota.
"Apa rasanya toge sekecil itu di goreng ya?"
Elfa hanya tersenyum mendengar pertanyaan Juan Mahardika. Terkadang nama makanan yang ada di Indonesia tidak sesuai dengan ekspektasi dan cara memasak. Walaupun namanya toge goreng, tetapi cara memasaknya tidak di goreng.
"Ayo, Akak lihat sendiri cara memasak toge goreng. El lagi malas menjelaskan karena perut sudah lapar!"
Juan Mahardika tersenyum dan mengangguk, baru saja dua jam yang lalu Elfa sarapan satu piring nasi goreng. Perut sudah merasa lapar dan ingin menikmati sarapan yang ke dua. Menggandeng mendekati pedagang yang baru saja datang.
"Bang, toge goreng dua ya!" pesan Elfa.
"Siap, silakan duduk dulu!"
__ADS_1
Juan Mahardika langsung memeprhatikan pedagang toge goreng yang mulai memasak. Meski namanya toge goreng, sebenarnya proses pembuatannya tidak digoreng melainkan direbus. Suami Elfa itu memperhatikan dengan seksama tanpa berkedip saat toge dimasukkan pada air yang mendidih.
Ditambah saus oncom yang membaluri mie kuning yang juga direbus terlebih dahulu. Ada tambahan tahu dan kucai semakin terlihat lezat dan nikmat. Perpaduan rasa yang menghasilkan citarasa manis, asam dan gurih.
"Mau ditambah lontong, Neng?" tanya Pedagang Toge Goreng.
"Boleh, Bang. Akak mau pakai lontong tidak?"
"Tidak, satu piring saja yang pakaii lontong!" perintah Juan Mahardika dengan lantang.
Sambil menikmati toge goreng, Juan Mahardika masih saja teringat rujak bebeg. Baginya toge goreng ranya seperti rujak bebeg yang ada dalam mimpinya karena terasa gurih dan sedikit asam. Lidah merasakan seperti tidak asing lagi padahal baru pertama kali menikmati toge goreng.
"Sayang, ini rasanya seperti rujak bebeg dalam mimpi Akak tadi pagi."
"Betulkah?"
"Iya, ada gurih dan sedikit asam."
Walaupun rasa itu seolah sama seperti dalam mimpi, Juan Mahardika tetap menghabiskan satu piring toge goreng, tetapi ingatannya terus tertuju pada rujak bebeg, "Sudah habis, Sayang. Kapan rujak bebeg itu datang?"
"Tunggu sebentar lagi. Coba tanyakan pada pedagang toge goreng!"
"Benar juga."
Juan Mahardika hanya menengok ke belakang dan bertanya tanpa berdiri dari tempat duduknya, "Bang, jam berapa rujak bebeg datang?"
"Abah rujak bebeg biasanya jam sepuluh baru datang," jawab Pedagang toge goreng sambil melihat jalan raya.
Kebetulan yang baru dibicarakan datang dari kejauhan, "Itu si Abah datang!" Pedagang Toge Goreng menunjuk arah seberang jalan.
Terlihat ada seorang laki-laki tua berambut putih dengan perawakan sedang sedang memikul dua rombong berbentuk kotak kecil. Memakai songkok hitam, baju sadariah berwarna hitam, celana longgar dan ikat pinggang besar berwarna hijau.
Tubuhnya yang sudah tua dan keriput tidak menyurutkan semangatnya untuk memikul dagangan yang terlihat berat. Tenaganya masih terlihat kuat walau kayu panjang yang berada di pundak terlihat melengkung ke bawah. Tetap semangat dengan wajah tersenyum kepada orang yang berlalu-lalang.
Mata Elfa tidak berkedip melihat pedagang rujak bebeg dari kejauhan sampai dia meletakkan dagangan di samping rombong toge goreng. Sekilas Elfa teringat masa kecil melihat siluet laki-laki tua yang dipanggil Abah oleh pedagang toge goreng. Apalagi Elfa melihat saat si Abah sedang meregangkan tangan dan terlihat hanya punggung saja.
__ADS_1
Seolah Elfa sedang melihat foto laki-laki tua yang ada rumah Raffa. Laki-laki tua yang sering dipandang oleh Mami Mitha sambil berlinang air mata, "Ya Allah ya Rob, mengapa El jadi teringat Abah Asep ya?" monolognya lirih.