
Juan Mahardika terlihat lemah tak berdaya. Wajahnya pucat, tetapi berkeringat dingin. Tangannya sering mengusap perut yang terus melilit.
"Ke dokter saja ya?" tanya Elfa duduk di pinggir tempat tidur.
"Tidak perlu, kemungkinan Akak diare karena perut Akak tidak tahan makan pedas."
"Kalau tidak tahan mengapa Akak terus makan?"
"Demi El, Akak rela selalu sakit perut."
"Mengapa demi El?"
"Setiap hari menu makan di sini dan yang El suka selalu pedas."
"Minum air putih yang banyak, jangan sampai kekurangan cairan!"
"Sudah habis itu satu botol besar, Akak minum semua."
"El ambilkan minum, tetapi El sholat dulu ya?"
Juan Mahardika langsung duduk di samping Elfa. Sudah selama tinggal di Ngawi tidak pernah meninggalkan waktu sholat sekali pun. Bahkan selalu tepat waktu jika mendengar panggilan langsung berjamaah di mushola bersama keluarga.
"Akak juga mau sholat, bagaimana caranya kalau lemas begini?"
"Akak ambil air wudlu, sholat sambil duduk atau berbaring juga boleh."
"Kalau begitu bimbing dan temani Akak ya?"
"Baiklah."
Tiba-tiba perut Juan Mahardika kembali melilit dan terasa sakit, "Aduh, Akak mau pup dulu. Tunggu sebentar ya!" Juan Mahardika langsung berlari ke kamar mandi.
Saat Juan Mahardika berada di kamar mandi, Elfa keluar kamar mengambil air putih. Memberitahukan keluarga tentang keadaan Juan Mahardika. Meminta bantuan Bude Marmi untuk membuatkan bubur untuk makan malam.
Bude Marmi membuatkan ramuan jamu untuk meredakan diare ramuan nenek moyang turun temurun. Tidak tahu komposianya karena saat El bertanya Bude Marni menyebutkan dengan bahasa jawa. Terkadang Elfa tidak tahu artinya apa yang dikatakan olehnya.
"Pakde saja yang membimbing untuk sholat, El berjamaah saja sana di mushola!" perintah Pakde Sarto.
__ADS_1
"Injih, Pakde. El wudlu dulu."
Pakde Sarto dan Juan Mahardika sholat berjamaah di kamar berdua. Walau tidak sampai doa sudah kembali berlari ke kamar mandi. Yang terpenting sholat yang wajib sudah di kerjakan.
Elfa masuk kamar Juan Mahardika membawa satu mangkuk bubur, satu cangkir jamu, dan satu botol besar air mineral, "Ayo makan dulu, setelah itu baru minum jamu!"
"Jamu apa?"
"El juga tidak tahu, Bude Marmi yang buat. Makan saja dulu!"
Juan Mahardika hanya duduk bersandar di tempat tidur dan meluruskan kaki, "Tangan Akak lemas tidak ada kekuatan."
Elfa langsung mengambil sendok dan menyuapkan satu sendok bubur pada mulut Juan Mahardika, "Ayo buka mulutnya!"
Sambil tersenyum manis, Juan Mahardika membuka mulut. Suapan demi suapan terus diterima walau tanpa kata. Satu mangkuk langsung ludes tanpa sisa dengan cepat.
"Terima kasih, kok enak banget ya kalau disuapin?"
"Modus, mau minum air putih dulu atau minum jamu dulu?"
Elfa melihat isi cangkir yang terlihat berwarna kuning. Diciumnya sesaat jamu itu ingin mengetahui bahan dasar yang ada di dalamnya. Ada bau jahe, madu, kayu manis dan kunyit.
"Ada madunya pasti manis. Di minum jamunya dulu ya?"
"Iya." Juan Mahardika hanya membuka mulut dan tidak mengangkat tangan.
"Manis, 'kan?"
"Iya sangat manis seperti yang menyuapi."
Belum sempat Juan menghabiskan jamunya. Perut kembali seperti diaduk dan melilit. Berlari ke kamar mandi dengan memegangi perutnya.
Hampir tiga jam Juan Mahardika masih bolak-balik ke kamar mandi. Walau mulai berkurang dan tidak sesering tadi sore. Tetap saja Juan Mahardika semakin lemah dan bertambah pucat
Elfa sampai tidak tega untuk meninggalkan laki-laki yang selalu memujanya itu. Setiap keluar dari kamar mandi. Elfa selalu meminta Juan Mahardika untuk minum air putih sebanyak mungkin.
Seberapa pun minuman yang disodorkan oleh Elfa. Juan selalu saja menghabiskan sampai tidak tersisa. Apalagi minum hanya tinggal membuka mulut, yang memegang gelas tetap Elfa.
__ADS_1
"Aduh, Akak lemas banget," kata Juan Mahardika membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Istirahat dan tidur kalau bisa, Kak!"
"Iya Akak ingin memejamkan mata sebentar, tetapi jangan tinggalkan Akak ya!"
"Iya, tidurlah!"
Juan Mahardika memejamkan mata, meraih tangan Elfa untuk digenggam dengan erat, "Akak tidak mau ditinggal sama El."
Elfa hanya diam saja dan membiarkan tangan terpaut erat. Tidak tega badan kekar itu terlihat lemah tidak berdaya. Wajah yang biasanya berseri-seri kini terlihat pucat pasi.
Merasa bersalah karena sebenarnya tahu jika kemungkinan tidak suka makan pedas. Selera makan dan kebiasaan beda dengan masyarakat kebanyakan. Tidak terbiasa makan nasi dan makan pedas kemungkinan yang memicu terjadinya diare.
Elfa terdiam sambil melihat wajah Juan Mahardika. Teringat saat sakit dulu, laki-laki itu tidak pernah meninggalkan sedetikpun. Selalu merawat dengan tulus walau selalu mendapatkan penolakan.
Dua jam berlalu Juan Mahardika bisa terlelap dengan tenang. Tangan terus terpaut tanpa terlepas. Ingin berkali-kali melepaskan, tetapi tidak bisa dan takut terbangun.
Waktu hampir tengah malam, tetapi El masih terjaga padahal mata mulai terasa berat. Setiap tangan ingin ditarik ada pergerakan Juan Mahardika sesaat. Tidak ingin membangunkan, akhirnya Elfa memilih meletakkan kepala di samping tangan yang terpaut.
Lebih dari tengah malam, Juan Mahardika terjaga karena perutnya masih terasa sakit walau sudah berkurang. Masih menggenggam tangan Elfa dengan erat. Melihat Elfa terlelap dengan posisi duduk dan kepala berada di pinggir tempat tidur.
Bersama selama hampir satu minggu. Baru kali ini merasan sangat dekat dan semakin dekat. Menyingkap rambut yang menutupi sebagian wajah.
"Terima kasih, Akak sangat mencitai El. Pusaka Akak sudah normal kembali sekarang. Apapun yang El lakukan dulu, Akak mengucap syukur, baru menyadari sekarang itu semua demi kebaikan Akak sendiri," monolog Juan Mahardika sendiri.
Tangan Juan Mahardika masih menggenggam erat tangan Elfa. Seandainya ingin egois dan mengikuti kata hati tidak ingin tautan terlepas sampai pagi. Namun, semenjak mencintai mulai menyadari cinta itu hanya akan memberi dan menjaga.
Walau berkali-kali pusaka kebesaran terbangun, tetapi seolah dia tahu sekarang ini belum waktunya menikmati. Pusaka tetap anteng dan seolah mengerti, diminta untuk tidur bergegas dia tidur tanpa memberontak.
Dengan lembut Juan Mahardika mengusap rambut Elfa. Menarik perlahan tangan dari genggam agar tidak terjaga. Tanpa membangunkan, Juan Mahardika menggendong bridal Elfa dan dibaringkan di tempat tidur serta memberikan selimut sampai dada.
Juan Mahardika memandangi lekat wajah gadis yang membuatnya jungkir balik mengejar cintanya. Pertama kali jatuh cinta karena mengikuti pusaka yang seolah tidak mau berpindah ke lain tempat. Saat melihat wajahnya yang tenang ketika terlelap langsung teringat masa lalu.
Dulu tanpa merasa bersalah langsung menikmati surga dunia bersama. Tanpa memperdulikan akibat yang akan ditimbulkan. Yang terpenting bisa merasakan indahnya melayang ke langit ke tujuh.
"Akak sangat merindukan saat itu, Akak sangat ingin mengulangi lagi indahnya malam seperti waktu itu, El," monolog Juan Mahardika mendekati bibir Elfa.
__ADS_1