
"Apakah saya boleh masuk, Nona?"
Elfa sampai memiringlan telinga untuk mendengar suara yang berada di luar pintu. Suara yang tidak asing saat menjadi relawan di lokasi bencana. Laki-laki yang selalu membantu disetiap aktifitas di sana.
"Pak Jamal?"
"Benar, saya Pak Jamal. Apakah saya boleh masuk?"
"Silahkan masuk, Pak!"
"Terima kasih, Assalamualaikum." Pak Jamal masuk dengan membawa bady bag dengan ukuran sedang.
"Walaikum salam, silahkan duduk!"
"Terimakasih."
"Ada apa Pak Jamal ke sini, apakah diperintahkan oleh laki-laki aneh itu?"
Pak Jamal tergelak mendengar Elfa bertanya. Tidak ada yang berani menyebut seperti itu selama ini, hanya gadis baik hati itu saja yang berani, "Saya mengantar barang Nona yang tertinggal di lokasi bencana."
Elfa hanya melihat bady bag yang diletakkan di meja samping branker tempat tidur. Teringat saat kemarin pulang dijemput oleh Abang Alfian. Baju yang dipakai dari pulau pribadi milik Juan Mahardika sengaja ditinggal di tenda.
Elfa tidak merasa memiliki baju itu melainkan hanya memakai sementara karena terpaksa. Tidak juga ingin memiliki baju yang bukan haknya. Akan lebih bermanfaat bagi yang membutuhkan.
"Apa itu, Pak?"
"Baju yang ada di tenda Anda, Nona."
"Itu bukan baju saya, Pak. Kembalikan saja pada yang punya."
"Maaf, ini atas perintah Tuan Juan, Nona. Pak Jamal ke sini diperintahkan untuk mengantar baju itu."
"Di mana sekarang dia, enak banget main suruh saja?" tanya Elfa kesal.
"Tuan sedang menunggu jawaban pesan WA Anda, Nona."
"Berarti dia masih ada di Bogor sini?"
Pak Jamal menjawab dengan mengngguk. Bersamaan dengan Elfa membelalakkan mata. Tidak menyangka tekat dan keinginan laki-laki itu pantang menyerah.
"Suruh pulang saja ke negaranya saja, Pak. Tidak perlu menemui El!"
"Baik, nanti Pak Jamal sampaikan. Permisi pamit dulu, Nona."
__ADS_1
"Bady bag itu dibawa lagi saja, Pak!"
"Maaf, Nona. Pak Jamal tidak bisa karena jika itu dibawa pulang lagi berarti Pak Jamal kehilangan pekerjaan. Assalamualaikum."
"Walaikum salam, benar-benar laki-laki brengsek. Semena-mena saja sama karyawan."
Dengan emosi Elfa mengambil ponsel yang ada di atas meja. Membuka pesan WA tanpa melihat Pak Jamal yang ke luar dengan tersenyum manis. Tidak memperdulikan pula Pak Jamal menghubungi menggunakan ponsel, "Saya berhasil, Tuan."
Elfa terus membaca isi pesan WA dari Juan Mahardika. Mulai dari mengajak ingin bertemu, emot menangis dan melipat tangan memohon. Sampai mengirim emot gambar hati berwarna pink dengan jumlah puluhan.
"Dasar gila, seenaknya sendiri saja!" Elfa terus membaca pesan WA dari Juan Mahardika dengan menggerutu sendiri.
Setelah sampai pesan WA terakhir yang isinya hampir sama ingin bertemu dan menunjukkan emot hati. Elfa langsung menulis pesan dengan perasaan yang kesal, "El tidak mau bertemu dengan laki-laki yang semena-mena dengan karyawannya."
Tidak ada lima detik, sudah ada jawaban dari Juan Mhardika, "Akak JM salah apa?"
Elfa masih dalam keadaan emosi saat membaca balasan dari Juan Mahardika. Kembali mengetik menjawab dengan cepat, "Pikir saja sendiri, bikin kesal saja. Sudah El mau istirahat dan dilarang kirim pesan WA!"
Juan Mahardika hanya memberikan emot jempol pada pesan terakhir Elfa. Benar-benar tidak menjawab atau mengirim pesan WA lagi. Melakukan yang diperintahkan Elfa dengan patuh.
Elfa melempar ponselnya ke samping bantal. Menarik napas panjang untuk mengurangi emoisi yang dirasa. Sambil mengusap dada agar tenang dan sabar.
Setelah setengah jam berlalu, perasaan Elfa masih kesal dan uring-uringan. Tidak mendengar lagi ada notifikasi pesan WA masuk. Elfa kembali emosi dan meraih ponsel membuka pesan yang tak kunjung masuk.
Berkali-kali mengambil napas untuk mengontrol emosi, "Lo mengapa El marah karena laki-laki brengsek itu?" monolog Elfa setelah menyadari yang baru saja dilakukan.
Pintu terbuka datang Mami Mitha sendirian mendengar ucapan putrinya, "Siapa yang di maksud laki-laki brengsek itu, Nak?"
"Astagfirullah hal'azim, Mami bikin kaget saja. Coba ucap salam kalau masuk!"
"Maaf, Assalamualaikum."
"Walaikum salam."
Mami MItha mengusap rambut Elfa dengan penuh kasih. Memandang wajah putri tercinta dengan tatapan mata yang teduh. Menunjukkan rasa kasih sayang yang tulus tanpa batas.
"Siapa yang El sebut tadi?"
"Akak JM, Eee salah pengusaha MAHARDIKA CORP."
Mami Mitha tersenyum sambil kembali membelai rambut Elfa, "Sejak kapan El kenal pengusaha tampan itu?"
"Hampir tiga tahun yang lalu, tetapi bertemu lagi sekitar setengah tahun terakhir ini," jawab Elfa jujur.
__ADS_1
Mami Mitha terus memandang putrinya, masih merasakan ada yang disembunyikan. Merasakan ada suatu persoalan yang belum terselesaikan ada pada Elfa. Namun, tidak ingin memaksa dan berniat bertanya secara bertahap agar lebih nyaman.
"Nak, Mami berharap El jujur pada diri sendiri. Jangan pernah mengingkari apa yang ada di dalam hati, jangan pernah memandang sesuatu dari harta dan kekayaan. Berpegang teguhlah pada keyakinan dan hati nurani dan belas kasih."
"Iya, Mami."
"El mau cerita tentang pengusaha itu sama Mami?"
Elfa dengan cepat menjawab dengan menggelengkan kepala. Memeluk erat Mami Mitha yang terlihat khawatir. Takut tidak bisa menyembunyikan luka hati yang tidak pernah dibagi pada siapapun.
Perasaan dan hati seorang ibu pasti akan bisa merasakan gundah gulana putrinya. Itu yang sangat membuat Elfa khawatir dan takut. Masih belum siap untuk bercerita yang sebenarnya tentang peristiwa masa lalu.
"El sangat menyayangi Mami."
"Mami juga sangat menyayangi El, kalau ada masalah jangan ragu cerita sama Mami ya, Nak!"
"Iya, Mami."
Elfa semakin gugup dengan nasihat Mami Mitha. Seolah Mami Mitha mengetahui keresahan hati. Berusaha menyembunyikan kegelisahan hati lebih hati-hati.
"Bagaimana dengan dokter itu, Nak?"
"El sudah menolak dokter itu, Mami."
"Tetapi mengapa dia kemarin masih merebutkan El di tempat bencana?"
Elfa bercerita sekilas tentang Dokter Yohan Charnett. Mulai dari saat masih kuliah dan bertugas di rumah sakit. Menyusul ke tempat bencana dengan tujuan bisa mendekati Elfa.
"Masih ada lagi yang suka sama El, selain Dokter Yohan dan pengusaha Juan Mahardika?" tanya Mami Mitha.
Elfa tergelak setelah teringat ada satu lagi yang dulu sering mengikuti ke mana kaki melangkah. Pemuda berdarah melayu Malaysia itu sekarang dikejar oleh Sheilla Jannes. Setelah selesai wisuda, Sheilla Jannes kesengsem dengan Athe karena mereka sekarang ini bekerja di tempat yang sama.
"Ada satu lagi, Mami. Namanya Atheer Ahmed."
"Apakah sampai sekarang pemuda itu masih mengejar El?"
"Jangan khawatir, Athe sekarang sedang dikejar oleh Shei."
"Kok bisa begitu?"
"Mereka bekerja di satu tempat, Mi."
"Sekarang El jujur sama Mami, bagaimana perasaan El dengan pengusaha MAHARDIKA CORP itu?"
__ADS_1
"Kok tanya dia lagi sih, Mi?"