Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Tuan Besar Liem.


__ADS_3

Hari ini Hao Shen atau Shin Liong dan Hao Cun atau Chen Chao Kai masih berada di kota Kwan Ton, berjalan jalan di pusat keramaian kota Kwan Ton.


Berada di keramaian seperti ini, sejenak mengurangi keletihan hati Shin Liong.


Ketika berjalan jalan, tiba tiba mata Hao Shen atau Shin Liong , melihat sesuatu yang di cari nya, yaitu toko obat yang biasanya juga membeli daging, kulit dan batu energi binatang buas hingga binatang siluman.


Toko obat ini terlihat cukup besar dan nampak cukup mewah.


Ketika Hao Cun dan Hao Shen masuk ketempat itu, seorang laki laki muda menghampiri mereka berdua.


"Mau mencari apa tuan muda berdua?" tanya pemuda itu dengan ramah.


"Ah tidak saudara, kami mau menjual hasil buruan, apakah disini membeli nya juga?" tanya Hao Shen kepada pelayan toko itu.


"Benar tuan, tetapi tuan bisa berurusan dengan tuan besar dan nyonya besar saja, sebentar saya panggilkan, silahkan duduk dulu tuan kata pemuda itu, sambil berlalu ke dalam sebuah ruangan.


Tidak lama kemudian, dari dalam ruangan itu, keluar sepasang suami istri setengah tua, mungkin usia mereka baru empat puluhan tahun saja.


Sepasang suami istri itu nampak meremehkan Hao Cun dan Hao Shen yang terlihat seperti pengembara biasa saja.


"Kata pelayan saya, kalian mau menjual binatang buruan ya, kalau cuma satu atau dua ekor, bawa ke tempat lain saja, disini membeli sedikit nya lima keatas" kata wanita cantik pemilik toko obat itu.


Hao Shen sangat kecewa dengan pelayanan toko obat itu.


"Ooh, seperti itu ya bibi, maap kan kami kalau begitu, kami permisi dulu!" kata Hao Shen buru buru, sambil melangkah keluar.


Wanita itu menggerutu tidak karuan, "huh dasar tidak berguna, binatang satu dua ekor aja mau di jual ke toko sebesar ini, mengganggu orang saja!" ...


Tanpa menghiraukan gerutuan istri nya, sang suami segera bertanya kepada kedua pemuda kembar itu, " binatang apa yang kalian bawa dan berapa jumlah nya?" tanya nya.


"Sepuluh ekor siluman serigala malam, sepuluh ekor siluman serigala darah, dan empat ekor siluman Ku Ung, tetapi kami tidak jadi menjual nya, permisi!" kata Hao Shen sambil melangkah keluar toko.


Laki laki pemilik toko itu memanggil Hao Cun dan Hao Shen.


"Saya akan membeli semua binatang buruan itu tuan muda, kulit binatang siluman serigala malam lima keping emas per ekor, dan begitu juga dengan siluman serigala darah, dan daging nya sama juga, batu energi nya dua kali tingkatan batu itu, sedangkan untuk kulit dan daging siluman ku Ung, harga kulit nya sepuluh keping emas, dan harga daging nya sepuluh keping emas juga, bagai mana?" tanya laki laki itu.


"Maap tuan, kami sudah tidak berselera berbisnis dengan anda!" kata Hao Cun menyahut cepat.


Nampak kekecewaan terpancar di mata laki laki itu.


Melihat itu, sang istri nya menghibur,"sudahlah sayang, paling paling mereka berdusta, buktinya mereka tidak jadi menjual dengan kita, lagi pula semua yang dia katakan itu adalah binatang siluman yang langka dan susah dicari, apalagi hingga sebanyak itu!" kata istri pemilik toko itu sambil menertawakan Hao Cun dan Hao Shen, karena tidak masuk akal.


Hao Cun mendatangi mereka," kalau ternyata kami benar bagai mana nyonya?" tanya nya.


"Kalau kalian benar, kami akan membayar dua kali lipat dari harga tadi, bagai mana?" tanya istri pemilik toko itu menantang Hao Cun dan Hao Shen, karena memang tidak masuk akal, sudah bertahun tahun tidak ada lagi orang yang menjual binatang itu, meskipun permintaan sangat meningkat.


"Oke Dil, kita berbisnis sekarang!" kata Hao Cun.

__ADS_1


laki laki pemilik toko itu melotot menatap kearah istri nya.


"Kalau kalian membatalkan kesepakatan kita, kalian bisa kami adukan ke tuan ketua kota, karena sudah berdusta dan menipu, saksi para pengunjung yang banyak ini!" kata Hao Cun yang memang mengerti segala aturan berbisnis.


Dengan badan lemas tak bersemangat, laki laki itupun terpaksa membawa Hao Cun dan Hao Shen ke ruangan belakang.


Diruangan itu, Hao Shen mengeluarkan semua bawaan nya dari dalam cincin ruang nya.


Melihat tumpukan daging dan kulit binatang itu, sang istri pemilik toko itu cuma bisa melongo dengan wajah yang pucat pasi.


Setelah semua kulit, daging dan batu energi di hitung jumlah nya, sang laki laki pemilik toko obat itu mengambil Sipoa, lalu menghitung jumlah nya,


"Seribu tujuh ratus enam puluh delapan keping emas tuan!" kata nya sendu, Sabil menyerahkan delapan belas kantong kulit kepingan emas.


Setelah menghitung semua nya, dan memasukan kedalam cincin ruang, Hao Cun dan Hao Shen segera keluar dari toko obat itu.


Setelah Hao Cun dan Hao Shen keluar, laki laki pemilik toko obat itupun terduduk lemas di kursi nya, terdiam beberapa saat.


Sedangkan sang istri nya, diam mematung tidak berani berkata kata lagi.


Dia sadar semua karena kesombongan nya belaka, seharusnya mereka untung besar, tetapi karena ulah nya, terpaksa nombok.


Sangat lama laki laki itu diam merenung, kecewa bercampur marah kepada istri nya.


Sedangkan Hao Cun dan Hao Shen, berjalan di sepanjang jalan utama, setiap pengemis yang ditemui nya, dia kasih satu keping emas, hingga ratusan pengemis hari itu bergembira mendapatkan rejeki yang tidak di sangka sangka mereka.


Menjelang tengah hari, hampir seluruh jalan utama sudah mereka lewati untuk mencari para pengemis dan gelandangan.


Beberapa orang nampak berjaga jaga di pintu gerbang rumah itu dengan persenjataan lengkap.


"Beberapa orang wanita keluar dari gerbang dengan mata bengkak dan memerah, pertanda habis menangis.


"Ada apa bibi?, kenapa menangis?" tanya pemuda Hao Shen kepada salah seorang wanita yang menangis terisak Isak di dekat mereka.


wanita itu menoleh kearah Hao Cun dan Hao Shen, "Tuan besar Liem sedang sakit sudah berbulan bulan, dan siang ini sakit nya bertahan parah, seperti nya sebentar lagi akan meninggal!" kata wanita paro baya itu sambil menyusut air mata nya.


"Bisa kah kami menjenguk beliau, kebetulan saya juga mengerti sedikit tentang ilmu pengobatan" kata pemuda Hao Shen kepada wanita paro baya itu.


"Saya akan menanyakan kepada nona muda dulu tuan, saya cuma pelayan biasa!" kata wanita paro baya itu lalu melangkah masuk kedalam.


Tidak berapa lama, wanita tadi keluar bersama seorang gadis cantik yang juga bermata sembap karena menangis.


"Ada urusan apa kalian ingin melihat akung?" tanya gadis cantik itu dengan suara ketus.


"Tidak ada apa apa nona, kami cuma ingin menjenguk beliau, beliau orang baik, dan kami ingin men doa kan mudahan beliau bisa di sembuhkan, lagi pula adik saya ini mengerti sedikit tentang pengobatan, siapa tahu bisa membantu tuan besar Liem " sahut Hao Cun sedikit berdusta.


Dia seorang putra mahkota, sedikit banyak nya, mengerti tentang cara cara jitu jika ingin bertemu seorang pembesar.

__ADS_1


Gadis itu menatap kearah pemuda Hao Cun dan Hao Shen yang sangat mirip itu beberapa saat.


"Kalian berdua siapa?" tanya gadis itu lagi.


"Kami Hao bersaudara, saya Hao Cun dan ini adik saya Hao Shen, nona!" kata Hao Cun masih tetap dengan nada yang lembut.


"Maap nona muda, saya rasa tidak ada salah nya mereka menjenguk, siapa tahu tuan besar pernah berjasa kepada mereka, dan mereka ingin mengucapkan terimakasih kepada Tuan besar" kata wanita paro baya, pembantu rumah tangga tadi.


Setelah berpikir beberapa saat lamanya, akhirnya gadis itu mengijinkan Hao Cun dan Hao Shen untuk melihat keadaan tuan besar Liem.


Setelah mereka masuk kedalam kamar tuan besar Liem, mereka melihat didalam sudah berkumpul beberapa laki laki paro baya dan beberapa pemuda.


Ketika mereka masuk, beberapa laki laki paro baya nampak memandang tidak senang.


"Nio Nio!, kau masuk bersama siapa heh?, kita sedang berduka dan bersiap melepaskan akung mu, sekarang kau malahan masuk mengajak orang asing!" tanya salah seorang laki laki paro baya.


"Paman Ao Gwan!, mereka masyarakat yang pernah di tolong akung, dan mau mendoakan akung, apa salah nya sih paman, kenapa mesti sewot dengan masyarakat yang bermaksud mendoakan akung!" kata gadis cantik tadi.


Di atas tempat tidur, nampak tubuh seorang laki laki tua, berumur delapan puluh tahun, terbaring dengan nafas satu satu, seperti sedang sekarat.


Sepintas saja melihat, Hao Shen sudah tahu, bahwa laki laki tua itu terkena racun jamur setan, racun jamur ini bila di beri sedikit demi sedikit, tidak terlihat seperti di racun, tetapi seperti sakit biasa, karena racun itu bersifat menyumbat saluran dari otak ke jantung secara perlahan lahan.


"Kakak!, tuan besar ini terkena racun jamur setan, dan sebentar lagi akan mati bila tidak cepat di tolong!" kata Hao Shen berbisik ditelinga kakak nya.


Kemudian, pemuda Hao Cun berkata perlahan kepada gadis cantik tadi, "maap nona, menurut penglihatan adik saya, tuan besar terkena racun jamur setan, dan sebentar lagi akan tewas bila tidak cepat di tolong"...


"Haah?, di racun?, apakah yang kau katakan itu benar heh?" tanya gadis yang di panggil Nio nio itu.


"Saya berani menjamin seratus persen nona, tuan besar termakan racun jamur setan yang di berikan sedikit demi sedikit supaya terlihat seperti sakit wajar, seandainya jamur itu di berikan sekaligus, maka epek racun nya akan jelas terlihat nona!" jawab Hao Shen.


"Kau terlalu mengada ada anak muda, berpuluh puluh tabib sudah di datang kan, dan semua mengatakan sakit jantung, kau mau berdusta ya, pergi!, pergilah dari ruangan ini!" teriak laki laki tua tadi.


Laki laki ini merupakan keponakan dari tuan besar Liem Bao Ong, putra dari mendiang kakak laki laki nya yang tewas semasa Liem Ao Gwan masih kecil.


Semenjak saat itulah, Liem Ao Gwan di pelihara oleh paman nya sendiri, adik dari ayah nya, dan diangkat anak oleh sang paman.


"Tunggu kakak!, biarkan dia disini!" teriak seorang laki laki paro baya juga, yang ,sedari tadi diam memperhatikan Nio Nio bicara.


"Tetapi adik!, anak muda ini cuma mau menipu kita, dia tahu ayah sudah tidak bisa diselamatkan lagi, lalu bikin cerita macam macam, sebaik nya adik jangan percaya perkataan nya!" kata Liem Ao Gwan dengan muka merah padam.


"Kakak!, aku putra tertua ayah, dan aku yang berhak memutuskan apa yang harus di lakukan!" kata laki laki paro baya bernama Liem Tan Ouw itu.


Tuan besar Liem Tan Ouw berputra dua orang, yang tertua bernama Liem Tan Ouw, dan yang kedua bernama Liem Chu Kiang.


Sedangkan Liem Chu Kiang adalah ayah dari nona muda Liem Swie Nio.


...****************...

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan kalian semua nya.


Salam sayang untuk semuanya.


__ADS_2