
Merah padam muka sang patriak klan Gak mendapat kenyataan bahwa dia terkena tempeleng oleh seorang anak remaja baru besar hingga kuping nya berdengung cukup lama.
"Kurang ajar!, baj*Ngan!, kali ini aku akan benar benar membunuh mu!" kata sang patriak klan dengan sangat marah nya.
Dikerahkan nya hampir seluruh energi nya untuk menyerang Shin Liong yang dia anggap sudah menghina nya itu.
Dengan kecepatan sangat cepat, dia segera menyerang ke arah dada Shin Liong dengan pukulan ber energi penuh itu.
Dia ingin segera membinasakan anak remaja yang sudah menghina nya itu dengan pukulan sekali pukul saja,
Dia tersenyum melihat Shin Liong belum bersiap apa apa sedangkan pukulan nya sudah hampir mencapai tubuh Shin Liong .
"Hm, kali ini, arwah mu akan menyesal telah berurusan dengan ku!" kata hati Gak Ming Kwan gembira,karena hasil dari pukulan nya sudah bisa dipastikan sudah.
Sedangkan Shin Liong kali ini sengaja tidak menghindar dari pukulan laki laki itu.
Gak Ming Kwan sang patriak klan Gak, kaget bukan main, ketika pukulan nya hampir mencapai tubuh Shin Liong , tiba tiba energi di tubuh bocah itu naik sangat cepat ketitik yang paling tinggi.
Dia ingin menarik pukulan nya, sudah tidak keburu lagi, sedangkan bila terjadi benturan, dia akan celaka, karena besar nya energi yang dipancarkan tubuh Shin Liong luar biasa besar nya, sehingga daun daun pohon yang tadi tempat Shin Liong bersandar, kini berguguran seperti terkena badai.
"BUM!!".
Terdengar dentuman dengan sangat nyaring sehingga daun daun dan debu berterbangan keudara.
Tubuh Shin Liong nampak masih berdiri tegak, sedangkan tubuh patriak klan Gak nampak terbang terpental kebelakang sejauh tiga puluh depa jauh nya, dengan seluruh tulang belulang nya remuk semua nya.
Shin Liong sengaja mengerahkan separuh energinya untuk menghajar Gak Ming Kwan.
Tanpa ada yang mengetahui nya, tidak jauh dari tempat itu, diatas pohon Tao yang rimbun, ada tiga pasang mata memperhatikan pertarungan itu.
Mereka adalah Gak Shio Jin dan kedua putra nya.
"Ayah!, ternyata dugaan ayah benar, anak itu bukan manusia sembarangan, dia bisa menahan pukulan patriak yang terkenal paling kuat itu, lalu apa tindakan kita seterusnya?" tanya Gak Bun Cui putra nya.
"Kita jangan bertindak apapun juga, biarkan anak itu menyelesaikan tugas nya, lalu setelah semua mereka habis, barulah kita keluar dan mengajak anak itu bersahabat, maka kita akan mendapatkan ke untungan tanpa harus cape cape bertarung!" jawab Gak Shio Jin menjelaskan kepada kedua orang putra nya.
Memang dari kedua putra Gak Bo Ong, Gak Shio Jin lah yang tidak mengikuti jejak sang ayah yang jahat dan brutal itu, makanya mereka tidak begitu di sayang oleh Gak Bo Ong.
Dari keturunan leluhur kedua Gak Shio Jin inilah yang menurunkan generasi yang tidak jahat, alias tidak pernah bermasalah dengan masyarakat.
Tetapi karena mereka satu klan, maka antipati dari masyarakat juga mereka rasakan.
Hal itulah yang membuat Gak Shio Jin dan keturunan nya menjadi semakin membenci Gak Ming Kwan dan keturunan nya.
Cuma karena mereka takut berhadapan dengan leluhur senior, yang merupakan ayah kandung dari Gak Shio Jin, yaitu Gak Bo Ong lah, makanya mereka bertindak seolah olah memihak klan mereka.
__ADS_1
Gak Tong Kwan berlari kearah tubuh ayah nya yang terbang terpental kebelakang setelah beradu pukulan dengan Shin Liong .
"Ayah!" teriak Gak Tong Kwan sambil memeluk jasad sang ayah yang telah tewas dengan tulang di sekujur tubuh nya berpatahan.
Ketiga pemuda itu segera menggotong tubuh sang patriak klan Gak yang telah tewas itu kembali ke tempat kediaman mereka.
Di tempat kediaman klan Gak, nampak leluhur pertama Gak Tao Jin bersama putra nya Gak Cung Kwan sedang menunggu kedatangan dari patriak Gak Ming Kwan.
Mata kedua orang anak beranak ini terpana ketika Gak Tong Kwan dan kedua sahabat nya itu tiba di kediaman klan Gak dengan menggotong jasad sang patriak klan yang sangat memprihatinkan itu.
Seorang gadis cantik berlari keluar dari ruang tengah sambil berteriak nyaring, "ayaaah!, kenapa ayah kakak, kenapa?,, siapa yang telah membuat ayah menjadi seperti ini, katakan siapa?" jerit gadis cantik itu sambil menangis memeluk jasad sang ayah.
Leluhur pertama Gak Tao Jin terdiam kaku menatap kearah jasad sang putra yang tewas dengan tubuh mengenaskan itu, hampir tidak ada tulang di tubuh nya yang tidak patah.
Sedangkan Gak Cung Kwan, diam terpaku menyaksikan tubuh sang kakak nya itu.
Antara percaya dan tidak percaya, dia berkali kali menatap ke arah sang kakak nya itu.
Apa yang dahulu cuma ada di dalam khayalan nya, kini terbaring di depan mata nya.
Dengan tewas nya sang kakak yang menjabat patriak klan, maka bisa di pastikan dialah yang akan menggantikan kedudukan sang kakak nya, karena sang kakek Gak Bo Ong, tidak mungkin memilih pengganti yang lain dari keturunan ayah nya.
"Apa yang telah terjadi dengan ayah mu Tong Kwan?" tanya leluhur pertama, Gak Tao Jin.
"Ayah beradu tenaga dengan anak itu, dan ayah kalah, hingga seperti itu" jawab Gak Tong Kwan lalu mencerita kan kejadian tadi kepada kakek nya.
"Di mana anak itu sekarang?" tanya leluhur pertama.
"Dia masih di bawah pohon di lapangan kecil itu!" jawab Gak Tong Kwan sambil menyusut air mata nya.
"Ayo Cung Kwan, kita cari keparat itu sampai dapat, lalu kita patahkan juga seluruh tulang belulang anak itu!" kata leluhur pertama.
Meskipun sangat enggan untuk pergi, tetapi karena sang ayah yang mengajak nya, terpaksalah dia ikut juga akhirnya.
Dari kejauhan mereka berdua melihat anak remaja itu masih berdiri di bawah pohon.
"Rupanya kau yang telah mencelakai cucu ku dan membunuh putra ku, biar kupatahkan semua tulang belulang mu anak muda, agar kau tahu adat masuk ke wilayah orang lain!" kata leluhur pertama.
"Oh rupanya kakek orang tua dari bapak yang tadi ya, berhati hatilah kakek, karena bintang di langit akan terus terlihat kecil, saya cuma membela diri saja, cuma anak kakek yang lemah, sehingga tidak berhasil mencabut nyawa ku, tetapi sebalik nya, nyawa nya lah yang tercabut dari badan nya" kata Shin Liong sambil tersenyum.
"Kurang ajar!, akan ku kuliti tubuh mu hidup hidup, bocah bang*at!" kata leluhur pertama sambil bergerak menyerang kearah Shin Liong dengan gerakan yang lebih cepat dari pada gerakan Gak Ming Kwan tadi.
Tetapi di mata Shin Liong, gerakan secepat itu masih terlihat sangat lambat dan membosankan, serta terdapat celah di sana sini.
Tetapi sebagai seorang yang berjiwa lembut, dia tidak bermaksud cepat cepat menyelesaikan pertarungan itu.
__ADS_1
Karateristik jiwa seseorang akan terlihat disaat dia melakukan pertarungan.
Bila seseorang itu bersifat brangasan dan kasar, maka dia cendrung menyelesaikan pertarungan secara cepat, tetapi bila dia berhati lembut, maka dia tidak Lang sung menghabisi lawan nya meskipun sudah berada di atas angin.
Gerakan dari leluhur Gak Tao Jin semakin menjadi cepat dan bertenaga sangat kuat, karena sang leluhur pertama itu sangat ingin cepat cepat menyelesaikan pertarungan itu.
Tetapi hingga beberapa jurus berlalu, jangankan memukul jatuh Shin Liong , mendekati saja tidak bisa.
Melihat sang ayah yang masih belum mampu mendesak lawan nya, Gak Cung Kwan segera maju meringsek mengeroyok Shin Liong.
Seandainya ada orang yang melihat hal itu, orang tentu akan tertawa karena melihat dia orang tua mengeroyok seorang anak remaja.
Tetapi meskipun begitu, hingga hampir sepuluh jurus sedang berlalu, tidak juga mereka berhasil memukul tubuh Shin Liong .
Akhirnya leluhur pertama dan putra nya segera mengerahkan tenaga maksimal nya, untuk memukul jatuh tubuh Shin Liong .
Dengan mengerahkan seluruh energi di tubuh mereka, leluhur dan putra nya itu segera melepaskan pukulan bertenaga luar biasa kuat nya itu dari sebelah kiri dan kanan Shin Liong .
Agar kedua anak beranak itu tidak punya kesempatan menarik pukulan nya kembali, Shin Liong menggunakan taktik nya tadi kembali, pura pura tidak siap.
Dan ketika tangan sepasang anak beranak itu hampir menyentuh tubuh nya, secara dipercepat, dikerahkan nya energi di dalam tubuh nya hingga separuh energi nya dan di pukul kan ke arah kiri dan kanan nya.
"BUM!!"...
Ketika terjadi benturan antara tiga buah energi sangat kuat itu, terdengar suara dentuman yang sangat kuat, sehingga pohon pohon pun bergetar hebat, daun daun dan debu berterbangan.
Tubuh Shin Liong amblas masuk kedalam tanah sebatas lutut nya.
Sedangkan kedua anak beranak itu, terpental sangat jauh hingga tiga puluh depa jauh nya, dan mendarat di tanah dengan tulang belulang yang sudah remuk semua nya serta nyawa nya yang melayang ke neraka menyusul Gak Ming Kwan yang sudah mendahului mereka.
Baru saja Shin Liong melompat dari dalam tanah sebatas lutut nya itu, terdengar suara raungan yang sangat nyaring, dan bersamaan dengan itu, pohon yang tadi tempat Shin Liong bersandar, tiba tiba tercabut lalu melayang sejauh sepuluh depa dan jatuh berdebam.
Tidak jauh dari tempat itu terlihat tubuh seorang laki laki tua renta berdiri bongkok dengan jenggot panjang sebatas perut, bermata merah menyala seperti mengandung nyala api, menatap kearah Shin Liong dengan tatapan kebencian luar biasa.
"Bocah kecil, hari ini telah tiga orang dari keturunan ku telah kau bantai dengan kejam, jangan katakan aku Gak Bo Ong si Dewa pembantai ( cuma gelar, bukan Dewa sebenar nya) bila hari ini aku tidak membantai diri mu, beserta semua kerabat mu, bila perlu!" kata kakek bongkok itu dengan suara serak.
Laki laki tua bongkok itu di perkirakan usia nya sekitar sembilan puluh tahun, meskipun usia sebenar nya lebih dari itu.
Dialah manusia yang di takuti banyak pendekar di daerah situ, karena tingkat kultivasi nya yang sudah mencapai tingkat Dewa Bumi akhir, dan dialah pula alasan mengapa klan Gak menjadi klan nomor satu di kota Si Ma itu.
Siapa yang tidak gentar bila mendengar nama Gak Bo Ong si Dewa pembantai nomor satu khusus nya di daerah situ.
"He he he he, kakek jujur, si Dewa pembantai, sayang sekali saya hidup sebatang kara, tidak memiliki sanak keluarga lagi, seandainya kakek jujur membantai saya, tidak akan ada yang bakal menangisi ku, apalagi sampai menuntut balas, jadi aku tidak takut dengan ucapan kakek jujur " ucap Shin Liong sambil memplesetkan nama sang kakek.
"Hei setan pohon tomat, nama ku Gak Bo Ong, bukan jujur, rupanya kau memang sudah bosan hidup, sehingga nama ku saja kau olok oloki!" kata kakek Gak Bo Ong.
__ADS_1
"Kakek jujur, jangan cepat naik darah, dengar dulu penjelasan ku, Gak Bo Ong itu bahasa orang di tempat ku dulu sama arti nya dengan jujur kek, jadi apa beda nya kakek ku panggil Gak Bo Ong atau kakek jujur?, artinya sama sama tidak berdusta kek!" kata Shin Liong sambil cengengesan tertawa, yang membuat hati kakek Gak Bo Ong menjadi seperti di garuk garuk dari dalam, ingin sekali dia mengunyah tubuh Shin Liong seandainya gigi nya masih ada.
...****************...