
Beberapa saat lamanya Shin Liong berusaha menyadarkan Ar Wan Wen dari pingsan nya, dibantu oleh A Yong dan Dewi Nuwa .
Hingga akhirnya, sambil batuk batuk kecil, Ar Wan Wen mulai membuka mata nya.
Yang pertama terlihat oleh nya adalah Shin Liong, barulah pandangan nya mengarah ke pada A Yong, dua anak muda sangat tampan dengan wajah sangat mirip itu.
Awal nya di dalam pikiran Ar Wan Wen, kemungkinan sang penolong nya ini dua orang bersaudara, karena dilihat dari tulang nya, cuma berbeda dua tahunan saja.
Barulah ketika pandangan nya beralih pada wajah seorang wanita muda yang cantik jelita, dia mengucek matanya berkali kali, seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Nu,, Nuwa?, benarkah itu kau nak?" tanya Ar Wan Wen dengan mata berkaca kaca sambil berusaha duduk di bantu oleh Shin Liong .
"Ayah!, benar ayah, ini Nuwa!,syukurlah ayah sudah sadar kembali, ini Shin Liong menantu mu ayah, dan ini A Yong cucu mu, putra ku ayah!" kata Dewi Nuwa sambil memeluk sang ayah dengan air mata yang berlinangan.
"A,, A Yong?, cucu ku?, putra mu?, jagat Dewata Agung, begitu lama nya kah kami tidak sadar kan diri, rasa nya seperti mimpi yang sangat panjang sekali nak, tahu tahu setelah sadar,kami sudah memiliki seorang cucu yang gagah dan tampan!" kata Ar Wan Wen tidak lagi kuasa menyembunyikan air mata haru nya.
Shin Liong segera membungkuk di depan laki laki itu, "ayah!, saya Shin Liong, suami dari putri mu menghaturkan sembah bakti ayah!"...
"Kakek!, saya A Yong cucumu kek, hasil pekerjaan dari Laki Laki ini kek!" kata A Yong bersimpuh di sisi ayah nya.
"Ceplak!"...
Kuping A Yong di sentil Shin Liong.
Sambil meringis menahan sakit, A Yong cuma bisa cengar cengir saja melirik kearah sang ayah yang melotot menatap kearah nya.
Bagi A Yong, justru dengan sering menjahili sang ayah, atau justru di jahili Ayah nya, dia merasa semakin dekat satu sama lain nya, dan kasih sayang diantara mereka semakin kuat saja,sebagai ayah dan anak, juga sebagai teman dan sahabat satu satu nya.
"Begitu saja ayah marah, main sentil kuping, emang yang A Yong bilang salah ya yah?" tanya A Yong sengaja ingin menggoda ayah nya.
"Salah sih tidak juga!, tetapi tidak sopan dihadapan kakek mu bicara seperti itu!" jawab Shin Liong .
"Tetapi memang seperti itu kan yah?, A Yong lahir karena kerja sama ayah dan ibu kan?" kembali pertanyaan yang sama diajukan A Yong.
Shin Liong mengangkat tangan nya, bermaksud menyentil kuping A Yong kembali, tetapi tangan nya keburu di pegang oleh Dewi Nuwa.
"Sudahlah A Yong, kakak!, tidak ayah!, tidak anak!,sangat senang saling menjahili,sekali sekali akur gimana?"kata Dewi Nuwa menengahi.
Mendengar kata kata ibu nya, A Yong segera tersenyum sambil memeluk tubuh ayah nya.
"Maafkan A Yong ya yah!, A Yong sayang ayah, jangan suka marah marah yah!, nanti ayah cepat tua seperti eyang Qin!" kata A Yong.
__ADS_1
Kedua laki laki muda ayah dan anak itu kemudian tertawa bersama, lalu saling berangkulan.
"Ayah!, maafkan mereka ayah!, memang seperti itu mereka berdua, ayah dan anak yang suka saling menjahili!" kata Dewi Nuwa kepada ayah nya.
"Tidak apa apa nak, ayah suka melihat kebersamaan dan keakraban antara mereka berdua, tidak seperti ayah, yang selalu meninggalkan diri mu di dalam lembah teratai, maafkan ayah dan ibu ya nak?" kata Ar Wan Wen.
Dewi Nuwa kembali memeluk sang ayah, dia ingat dahulu waktu kecil, bila di ajak sang ayah berpergian, dia selalu di usung diatas pundak sang ayah.
"Tidak apa apa ayah, tidak ada yang perlu di salah kan, yang penting sekarang kita sudah bersama sama, sekarang pulihkan energi ayah!" kata Dewi Nuwa kepada ayah nya.
"Iya ayah, pulihkan energi ayah terlebih dahulu, barulah kita ngobrol lagi!" kata Shin Liong sambil menyalurkan sedikit hawa murni ke tubuh ayah mertua nya itu.
"Kakek beristirahat sajalah kek, masih banyak waktu!" kata A Yong ikut bicara.
Sementara kedua orang tua Dewi Nuwa menghimpun energi nya Kembali, Shin Liong segera menutupi daerah sekitar itu dengan tirai gaib punggung kura kura nya.
Sedangkan Dewi Nuwa dan putri Xuan Yi menyiapkan makanan untuk mereka makan.
Beberapa saat kemudian, Ar wan Wen dan Li Lian sudah selesai menghimpun hawa murni nya, dan berjalan kearah Shin Liong ,A Yong dan Dewi Chang 'e yang sedang berbincang bincang itu.
"Tuan!, apakah tuan sudah sehat sekarang?" tanya Dewi Chang 'e pada Ar Wan Wen.
"Ya, saya sudah benar benar sehat sekarang, dan nampak nya istri saya juga sudah sehat juga sekarang, terimakasih atas pertolongan kalian semua, andai tidak ada pertolongan kalian, mungkin sampai mati, tubuh kami tetap di pergunakan oleh para iblis itu!" kata Ar Wan Wen.
Ar Wan Wen menatap ke arah Shin Liong dan A Yong.
Hati nya takjub, antara percaya dan tidak, dua orang pemuda yang hampir sepantaran itu, ternyata dua anak beranak.
"Kau kah Shin Liong suami putri ku?" tanya Ar wan Wen kepada Shin Liong .
Shin Liong menjura tiga kali di hadapan ayah mertua nya itu dan juga ibu mertua nya.
"Ayah!, ibu!, saya memang Shin Liong menantu kalian!" kata Shin Liong di ikuti oleh A Yong menjura di hadapan Ar Wan Wen dan istri nya.
"Kakek!, nenek!, saya Shin Yong cucu kalian menghaturkan penghormatan kepada kakek dan nenek!" kata A Yong yang juga menjura tiga kali tiga kali seperti sang ayah di hadapan kakek dan nenek nya.
Dengan rasa bangga dan bahagia, Ar Wan Wen dan Li Lian memeluk Shin Liong dan A Yong bergantian, sambil berlinangan air mata nya.
"Meme, setelah melewati mimpi buruk yang demikian panjang nya, akhirnya ketika kita tersadar, kita ternyata sudah memiliki menantu dan juga cucu!" ucap Ar Wan Wen dengan rasa haru, sambil memeluk Li Lian.
"Benar kakak!, maafkan Lian ya, gara gara menuruti perkataan Lian, Kaka terseret kedalam bahaya besar, dan hampir saja menjadi budak iblis selama nya, jika saja anak, menantu, cucu dan besan kita tidak menyelamat kan kita!" kata Li Lian penuh sesal karena sempat marah kepada Ar Wan Wen yang memberikan pendapat nya dahulu agar berpikir matang sebelum memasuki dunia yang kacau dan rusak itu.
__ADS_1
Tetapi dengan lantang dan marah, Li Lian mengancam akan pergi sendiri mencari kedua orang tua nya yang kabar nya memasuki dunia kacau itu, kalau Ar Wan Wen takut atau tidak mau menemani nya pergi.
Tentu saja Ar Wan Wen tidak akan membiarkan sang istri pergi sendirian ke dunia yang paling berbahaya itu, maka, dia pun mengikuti sang istri nya pergi.
Ternyata, apa yang mereka temui di dunia aneh ini bukan lah kerabat nya, tetapi para iblis yang jahat, kejam, kuat dan licik.
Kepandaian mereka yang sudah paling tinggi sewaktu di Dunia Fangkea, ternyata bukan apa apa dibandingkan mahluk penghuni dunia dimensi ketiga ini, yang rata rata memiliki tingkatan alam Dewa itu, meskipun didapat dari Qi hitam atau aura kejahatan atau juga hawa iblis.
Memang untuk mendapatkan tingkat kultivasi yang tinggi lewat aura iblis jauh lebih mudah ketimbang berkultivasi biasa, cuma melakukan ritual dan persembahan saja, sudah bisa memiliki tingkat kultivasi yang tinggi.
Tetapi biasa nya lewat energi hitam iblis ini, semakin tinggi tingkatan nya, semakin banyak pula persembahan korban yang harus di lakukan.
"lalu apa rencana kalian selanjut nya nak?" tanya Ar wan Wen kepada Shin Liong .
"Kita harus menyelamatkan dunia yang sudah rusak ini ayah!" jawab Shin Liong.
"Hah?" Ar wan Wen tersentak kaget, "bagai mana cara nya kita menghabisi mereka yang sudah ratusan juta banyak nya itu nak, dan juga tersebar di mana mana!"...
"Dengan racun hidup, ayah, itulah satu satu nya yang bisa menghabisi seluruh mahluk itu!" jawab Shin Liong.
Ar wan Wen termenung mendengar keterangan dari Shin Liong itu.
Sebagai murid dari seorang yang bergelar Sian Wu (Tabib Dewa), tentu saja dia sangat tahu tentang satu jenis racun yang bisa hidup dan menular dari seseorang ke yang lain nya, tetapi jenis dan macam nya yang dia tidak pernah mengetahui nya.
"Apakah kau mengetahui jenis racun apa yang harus di gunakan nak?, dan dari mana kau mengetahui nya?" tanya Ar wan Wen bingung.
"Saya adalah pewaris tunggal dari Sian Wu Fu Chen Cao ayah, jadi saya mengetahui semua nya!" jawab Shin Liong sambil tersenyum.
Namun Ar wan Wen yang justru tersentak kaget mendengar kata kata dari Shin Liong itu.
"Apa?, kau pewaris tunggal dari mendiang guru, ba bagai mana cerita nya, lalu dimana guru sekarang?" tanya Ar wan Wen.
"Ini berawal dari pada satu hari sekitar lima tahun yang lalu, dimana ada seorang nenek tua memberikan saya sebuah buku tipis berjudul legenda pil surga, setelah membaca buku tersebut, saya terus menerus di beri gambaran lewat mimpi, tentang sebuah tempat bernama Taman Lokapala, seorang Dewi obat, lalu seorang laki laki yang mati di racuni oleh murid nya sendiri saat bersemedi, dan kematian sang murid karena racun hidup serta menghilang nya sebuah cincin ruang dimensi yang masuk kedalam lobang celah batu, dan pada satu pengembaraan saya, saya melihat sebuah goa. aneh, dan mencoba melihat lihat isi nya, dan secara ajaib ada seekor tikus putih memberikan saya sebuah cincin ruang dimensi, dimana setelah saya membuka cincin itu, saya terbawa ke sebuah alam lain bernama Dunia taman Lokapala!" jawab Shin Liong berusaha menyingkat cerita yang sebenar nya panjang itu.
Ar Wan Wen termenung setelah mendengar penuturan dari menantu nya itu.
Mata nya berkaca kaca mendengar cerita itu.
"Kalau benar lintasan mimpi itu sebuah alamat dari Dewa, bisa jadi guru sudah di bunuh oleh adik Diao Hu Liang yang sangat terobsesi oleh taman Lokapala milik guru, dan adik Diao Hu Liang juga terbunuh oleh racun hidup milik guru, serta cincin ruang dimensi milik guru yang di curi oleh nya masuk ke dalam celah lobang batu di goa itu, dan di temukan oleh tikus putih, serta di berikan kepada mu nak!" kata Ar wan Wen dengan nada sedih karena teringat dengan guru nya yang bergelar Sian Wu atau Tabib Dewa itu.
Dengan menarik nafas dalam-dalam, di tatap nya wajah sang menantu nya ini.
__ADS_1
"Nak!, sampai kapan pun, kau harus merahasiakan, jika kau adalah pewaris tunggal sang Sian Wu itu, atau seluruh pendekar dan para pembesar di seluruh dunia akan mencari mu untuk merebut cincin ruang dimensi itu!" kata Ar wan Wen.
...****************...