Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Pertarungan Terakhir, di Tepi Jurang.


__ADS_3

Setelah bermalam selama satu malam di salah satu rumah penginapan di kota raja Guan itu, maka pada ke esokan pagi nya, setelah sarapan dan menyiapkan bekal di perjalanan, Shin Liong sudah mengantri di gerbang kota raja untuk ke kota Balo, sebuah kota di sebelah tenggara kota raja, sekitar perjalanan dua hari berkuda dari kota Raja Guan.


Setelah menyeberangi sungai Guan, Shin Liong segera berjalan menuju kearah tenggara, ke arah kota Balo.


Kota Balo itu sendiri adalah termasuk wilayah negeri Sien Fo paling ujung sebelah timur laut, dan di tepi sungai Guan yang bermuara di negeri Guan.


Ketika hari telah lewat tengah hari, telinga Shin Liong yang tajam, mendengar ada suara pertempuran di kejauhan.


Setelah mempercepat langkah kaki nya, maka terlihatlah empat orang laki laki paro baya sedang bertarung melawan dua orang punggawa kerajaan.


Dari tanda di jubah nya, bisa dipastikan jika kedua orang punggawa kerajaan itu berasal dari negeri Sien Fo, karena di dada kiri mereka ada sulaman gambar bintang yang memiliki nyala api.


Tidak jauh dari tempat itu, ada sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda, dengan penumpang di dalam kereta itu.


Ke empat laki laki paro baya yang mirip pengawal bayaran itu sebenarnya berkepandaian tinggi, yaitu Dewa Bumi akhir.


Tetapi kedua orang punggawa yang mereka hadapi juga bukan kaleng kaleng, karena kepandaian mereka setingkat Dewa Langit menengah.


Meskipun mereka ber empat, tetapi karena jarak tingkatan yang begitu jauh, bagai bumi dan langit, maka sebentar saja, ke empat laki laki paro baya itu mulai terdesak, dan akhirnya tumbang satu persatu.


Saat dua orang laki laki paro baya yang terakhir tumbang, Shin Liong segera berkelebat kearah kereta kuda itu.


"Tunggu tuan, ada masalah apa sehingga kalian berkelahi?" tanya Shin Liong berkelebat menghadang kedua laki laki punggawa kerajaan Sien Fo itu.


Kedua orang punggawa kerajaan Sien Fo itu menatap kearah Shin Liong .


"Saudara Jiang!, masih ada satu orang lagi, ayo kita selesaikan juga sekalian,biar tidak ada yang melihat!" kata laki laki yang badan nya lebih tinggi.


"Ayolah Saudara Fu!, secepat nya kita selesaikan tugas kita!" jawab teman nya sambil menyerang ke arah Shin Liong tanpa memberi kesempatan kepada Shin Liong untuk bertanya.


Karena tingkatan mereka berada di tingkat dewa Langit menengah, sehingga ini adalah musuh terberat Shin Liong selama berkelana di semesta raya ini.


Setelah mengerahkan hampir seluruh energi milik nya, barulah dia bisa menekan kedua laki laki itu.


Pada jurus yang keseratus, satu hantaman keras dari Shin Liong berhasil mendarat di dada salah satu dari kedua laki laki itu.


Tubuh laki laki itu terbang sejauh seratus langkah, dan sebelum mendarat secara patal di atas bebatuan, teman nya segera melesat kearah tubuh itu, menyambar nya, lalu menghilang di bawah kerimbunan pepohonan hutan.


Keheningan menguasai tempat itu beberapa saat lama nya, hingga pintu kereta terbuka dan seraut Wajah muncul dari balik pintu kereta.


Seorang pemuda delapan belas tahun keluar dari kereta, berjalan kearah Shin Liong, lalu membungkukan badan nya beberapa kali dihadapan Shin Liong .


"Terimakasih banyak tuan muda atas pertolongan tuan muda, jika tidak, kami pasti akan mereka bunuh!" kata pemuda itu.


"Sebenar nya saudara siapa, dan mau kemana?" tanya Shin Liong kepada pemuda tampan itu.


Dengan ragu ragu, pemuda itu berkata, "saya Kuan Yian, dengan marga Theo,saya dan tunangan saya bermaksud ke negeri Sui di selatan, dan yang terbunuh itu adalah para pengawal yang kami sewa,tetapi kami ke selatan tidak melewati jalanan biasa, tetapi lewat jalan dinding barat!" jawab pemuda itu.

__ADS_1


Jalan dinding barat adalah jalan kecil menyisi tebing misterius yang memisahkan Dunia luar dan Dunia tengah, di sebelah barat benua tengah, dan tidak bisa di tembus oleh siapapun juga.


"Apakah kalian lewat kota Balo?" tanya Shin Liong .


"Tentu saja tidak tuan muda, kami menyimpang ke kiri sebelum kota Balo, menuju ke dinding barat!" jawab pemuda itu, "tuan muda sendiri mau kemana kah?"...


"Saya ingin melihat dinding gaib itu secara langsung!" jawab Shin Liong singkat.


"Kebetulan kalau begitu tuan muda, kami melewati tempat itu, ayo naik ke atas kereta, kita sama sama kesana!" ajak pemuda Theo Kuan Yian itu kepada Shin Liong.


Shin Liong duduk di depan, disebelah pemuda Theo Kuan Yian yang memegang tali kendali kuda.


"Saya harus mengganti pakaian saya agar tidak kotor tuan!" kata Theo Kuan Yian sambil mengganti pakaian nya dengan pakaian yang lebih lusuh, serta topi caping lebar, sehingga persis seperti seorang kusir kereta biasa.


Kereta mereka pun segera meluncur membelah keheningan hutan itu.


Tidak terlalu lama berjalan, mereka tiba di persimpangan jalan kearah kiri yang sudah di tumbuhi rumput rumput liar.


Setelah berjalan ke arah kiri beberapa waktu, mereka pun tiba di tepi sebuah sungai.


Untung di sungai itu masih ada tukang rakit yang bertugas menyeberangkan orang orang, karena di seberang masih ada beberapa desa lagi.


Setelah menyeberang, mereka meneruskan perjalanan menyusuri jalan yang sudah di tutupi rumput rumput liar itu.


Kini di kiri dan kanan mereka tidak ada lagi pohon meskipun sebatang, semua Padang tandus berumput liar.


Hari menjelang sore, ketika dari arah belakang mereka, terdengar derap beberapa ekor kuda.


Dari belakang terlihat empat ekor kuda berlari kencang, kearah mereka.


Di atas punggung kuda itu ada empat laki laki terlihat seperti paro baya meskipun sebenar nya usia mereka masing masing sudah sangat tua.


Ke empat laki laki tua itu langsung mengurung kereta kuda yang di naiki Shin Liong itu, dua di depan dan dua di belakang.


Muka pemuda bernama Kuan Yian itu tiba tiba pucat pasi dan tubuh nya gemetar setelah melihat ke empat laki laki yang mengejar mereka itu.


Sambil melompat turun dari kereta kuda, pemuda Kuan Yian tiba tiba berlutut di hadapan ke empat laki laki yang baru tiba itu, "ampun tuan, sa saya cuma seorang kusir, dialah yang menculik tuan putri Xiu Oei tuan!"...


Shin Liong terheran heran mendengar perkataan dari pemuda Kuan Yian itu, tidak di sangka nya, di saat saat terjepit seperti sekarang, pemuda itu cari selamat sendiri, dengan mengorbankan teman seperjalanan yang telah menyelamatkan nya.


"Apa maksudmu saudara Kuan Yian?, bukan kah aku cuma menumpang saja, dan kereta ini milik kalian?" tanya Shin Liong masih kebingungan.


"Tuan Sin Hew Ko! (monyet sakti), Sin Lao Fu! ( macan sakti), Sin Thu!, (kucing sakti), Sin Tiau!, (burung sakti), ampuni saya yang hina, saya cuma seorang kusir tuan, dialah yang menculik sang putri Xiu Oei, sekarang sang putri ada di dalam kereta, dalam keadaan tertotok, silahkan tuan periksa bila saya berbohong!" kata pemuda Theo Kuan Yian itu.


Sebenarnya pemuda Theo Kuan Yian ini telah semenjak lama menaruh hati kepada putri Xiu Oei,tetapi tidak mendapatkan tanggapan yang memuaskan, hingga pada suatu hari, dia mendengar jika sang putri akan segera dipersunting oleh pangeran dari negeri Sien Fo.


Pemuda Theo Kuan Yian yang putra pembesar negeri Guan itu akhirnya berbuat nekat dengan menyewa empat laki laki sakti, berhasil menculik putri Xiu Oei dari istana dan melarikan nya ke selatan, kenegeri Sui, karena negeri Sui adalah salah satu negeri yang sanggup menandingi negeri Sien Fo.

__ADS_1


Tetapi setelah mendapat pengejaran dan empat pengawal nya tewas, timbul perasaan was was dan ketakutan di dalam hati pemuda ini, sehingga mengatur siasat berpura pura menjadi kusir kereta, apa bila terkejar dia bisa berdalih, dan apa bila tidak terkejar dia tetap untung.


Shin Liong yang hidup lugu dan apa ada nya itu, sekalipun tidak pernah menyangka jika dia dikorbankan sebagai tumbal demi keselamatan pemuda itu.


"Ooh rupanya kau biang kerok peristiwa ini anak muda, rupanya nyawa mu rangkap sembilan ya, sehingga berani mengganggu calon istri pangeran dari negeri Sien Fo, sungguh kurang ajar sekali!" kata laki laki pertama yang bergelar Sin Lau Fu dengan muka merah padam.


"Tunggu dulu tuan!, saya tidak mengerti duduk permasalahan yang sebenar nya, saya baru sekitar setengah hari ikut di kereta ini!" kata Shin Liong berusaha menjelaskan semua nya.


"Tuan jangan dengarkan kata kata nya, dialah penculik sebenar nya, dia mengancam saya agar mau mengantarkan nya ke selatan, saya bisa apa tuan?" kata pemuda Kuan Yian itu lagi.


"Saudara Kuan Yian!, kenapa kau membalikan pakta sebenar nya?, bukan kah kau yang mengajakku tadi ikut kereta ini, kenapa sekarang kau berdusta, dan putri siapa yang kau maksudkan?" tanya Shin Liong heran.


"Kau sudah menculik putri Tan Xiu Oei dan memaksa aku untuk membawa mu ke selatan, kenapa mengingkari nya, cepat akui saja!" pemuda Kuan Yian itu mendesak Shin Liong agar mengakui hal yang tidak di perbuat oleh nya.


"Saya benar benar tidak mengerti saudara Kuan Yian, apa yang saudara tuduhkan kepada saya" jawab Shin Liong .


"Sudahlah!, jangan banyak bacot!, ayu bunuh anak muda itu!" teriak Sin Lao Fu memberikan aba aba kepada teman teman nya untuk secepat nya membunuh Shin Liong , karena hari sudah menjelang sore.


Empat laki laki sakti yang tingkatan nya sudah mencapai Dewa Bintang sempurna itu segera bergerak secepat kilat menyerang ke arah Shin Liong .


Selama malang melintang di Dunia luas ini, baru sekarang Shin Liong menemukan musuh yang benar benar tangguh, dua tingkat berada diatas nya, di tambah lagi kini dia dikeroyok oleh empat orang berkepandaian setara.


Langkah Dewa Dewi nya pun seperti tidak ada artinya melawan keroyokan empat jendral dari negeri Sien Fo (api bintang) itu.


Bahkan kini energi maksimal yang dia kerahkan itupun sedikit demi sedikit mulai terkuras pula.


Meskipun begitu, tidak sedikitpun ada niat di hati Shin Liong untuk lari dari arena pertarungan itu.


Baginya berjuang hingga titik akhir adalah suatu keharusan, tidak ada istilah mundur.


Satu persatu pukulan mulai mendarat di tubuh nya, masih untung ada hawa sakti dari pedang kristal Katai putih inti bintang, yang melindungi tubuh nya dari kerusakan patal akibat pukulan dari ke empat jendral negeri Sien Fo itu.


Shin Liong mengerahkan energi maksimal nya ke arah pedang nya, sehingga pedang itu bercahaya putih terang, lalu pukulan itu dia lemparkan kearah ke empat laki laki itu.


"BUM!!!".


Satu dentuman dahsyat terdengar, sehingga tanah di sekitar nya bergoyangan hebat, akibat bertemu nya pulukan jarak jauh Shin Liong dengan ke empat laki laki itu.


Tubuh ke empat laki laki itu terpelanting sejauh dua puluh depa dengan luka dalam yang cukup parah.


Sementara tubuh Shin Liong juga terpelanting sejauh seratus depa, melesat di atas jurang neraka hidup.


Setelah tubuh Shin Liong berada di atas jurang, satu teriakan energi sangat kuat, menyedot tubuh nya hingga jatuh masuk kedalam dasar jurang itu.


Pada saat yang sama pula, pedang kristal Katai putih inti bintang yang terlepas dari genggaman Shin Liong, menghilang, kembali ke dalam tubuh pemilik nya.


...****************...

__ADS_1


Apakah ini akhir hidup Shin Liong?, tentu saja tidak. ikuti terus petualangan Shin Liong berikut nya.


__ADS_2