Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Lembah Sam Liong San .


__ADS_3

Kakek Thien Mo dan Sian Lo Sai menatap kearah kakek Sian Hud Hok dengan tatapan heran .


"Apa yang sudah terjadi dengan saudara Twa Pang Lauw ?, coba katakan dengan jelas Lo Sian !" bentak Thien Mo .


Sebelum berbicara , kakek tua itu menarik nafasnya dalam-dalam terlebih dahulu , "saat bertemu dengan ku , seluruh ilmu kesaktian nya sudah sirna , dan dantian nya pun sudah hancur tak bisa di pulihkan lagi , meskipun oleh Sian Wu (Tabib Dewa) sekalipun , setelah ku tanya , katanya semua murid murid nya tewas ditangan pemuda yang mengaku Kong Thai Sian itu , dengan dendam dan kemarahan memuncak , dia langsung mencari pemuda itu , dan mereka bertarung hebat , sayang pemuda itu menguasai jurus pukulan sejati inti semesta , dan dia terkena pukulan itu , sehingga kini dia hidup menjadi manusia sampah !" ...


"Se' sejati inti semesta ?, bukankah pukulan legendaris itu cuma di miliki oleh Dewata San Qin saja , dan tidak pernah diajarkan kepada siapa pun juga , bagai mana bisa seorang pemuda bisa sampai menguasai pukulan itu , sungguh sulit untuk dipercaya !" kata kakek Sian Lo Sai .


"Itulah yang tidak ku mengerti , bagai mana bisa pemuda yang baru berusia belasan tahun , bisa mengalahkan Twa Pang Lauw yang sudah mencapai tingkatan yang sangat tinggi itu , dan ada hubungan apa dia dengan Dewata San Qin !" kata kakek tua Sian Hud Hok .


"Apakah kalian ingat apa yang di ucapkan oleh Dewata Tua itu saat mengurung Dunia kita ini , sehingga kita tidak bisa menduduki istana langit lagi ?, bukan kah Dewata Tua berkata , "Sekarang aku masih menunda hukuman untuk kalian semua , tetapi ingatlah , saat seluruh Dunia dimensi berada digaris lurus sejajar , saat itulah hukuman untuk kalian ku mulai !" kata kakek Sian Lo Sai menirukan ucapan dari Dewata San Qin seribu tahun yang lalu .


"Ya , dan itu sudah terjadi beberapa purnama yang lalu , mungkin kah ini bukti dari ucapan Dewata Tua itu ?" tanya Thien Mo .


"Kalau begitu , kita harus menjebak pemuda itu , salah seorang dari kita memancing nya keluar dari Kota menuju ke hutan , dan disanalah dia kita keroyok bersama seperti kita pernah lakukan kepada Dewa terkuat yang didatangkan untuk menghukum kita ?, dan kita berhasil , aku yakin kali ini kita pun akan berhasil pula , bukankah tiga senjata mustika Dewa masih berada di tangan kita ?" usul dari kakek Sian Lo Sai .


"Lalu siapa yang bertugas memancing nya keluar dari kota , serta dimana dia kita bantai beramai ramai ?" tanya kakek Sian Hud Hok .


"Biar aku yang akan memancing dia keluar , kalian berdua tinggi di dalam lembah Sam Liong San saja !" usul kakek Thien Mo agar kedua orang sahabat nya itu , menunggu nya di dalam lembah Sam Liong San (gunung tiga Naga) .


Lembah Sam Liong San ini tidak lah terlampau besar , dan sangat cocok untuk menjepit seseorang , karena hampir tidak ada jalan keluar , disebabkan sekeliling nya dinding batu cadas yang membentuk tiga buah gunung cukup tinggi .


Setelah menemukan kata sepakat , akhirnya ketiga dedengkot tua itu segera bergerak menuju ke daratan besar dengan mempergunakan perahu kecil mereka masing masing .


Lembah Sam Liong San berada di selatan Kota Raja Qiantung sekitar perjalanan setengah hari , tetapi bila mempergunakan ilmu lari cepat , paling tidak sampai seperempat hari sudah sampai .


Lembah ini menghadap kearah Utara , yaitu kearah kota Qiantung , dengan gunung yang melingkari nya bernama Sam Liong San (Gunung tiga Naga) yang semua nya terbuat dari batu cadas menjulang ke angkasa .


Setelah Sian Lo Sai dan Sian Hud Hok masuk kedalam lembah Sam Liong San , Thien Mo segera bergegas memasuki Kota Raja Qiantung untuk memulai rencana licik mereka .


Mula mula Thien Mo membunuh para Prajurit penjaga gerbang Kota Raja , lalu membunuhi siapa saja yang di temukan nya , entah itu laki laki tua , dewasa , pemuda , bahkan anak anak sekalipun .


Hal ini untuk memancing agar Shin Liong segera keluar menemui nya .


Di istana Liu , sang Kaisar sedang menerima laporan dari para Prajurit nya , tentang kedatangan seorang kakek tua gila bernama Thien Mo , yang membunuh siapa saja yang di temui nya .


Pada saat itu , hadir pula selain para jendral , Tosu Twa Kung , Biksu leluhur , Bu Beng Koan Jin , A Yong , Shin Liong dan kedua orang istri nya .

__ADS_1


Mendengar penuturan dari para Prajurit penjaga gerbang Kota Raja itu , Biksu leluhur nampak sangat terkejut sekali .


"Hm , rupanya para dedengkot utama Benua besar ini sudah mulai bermunculan kembali , saya yakin Thien Mo ini tidak seorang diri , pasti ada dua orang sahabat nya yang lain !" kata Biksu leluhur setengah bergumam .


Tetapi karena gumaman itu terlalu nyaring , sehingga semua orang yang ada di tempat itu mendengar nya .


"Kalian mengenal siapa Thien Mo ini kah ?" tanya Shin Liong .


"Ya tuan , dia salah satu dari empat dedengkot utama Benua besar ini selain Twa Pang Lauw yang telah tuan kalahkan dulu , masih ada Sian Hud Hok dan Sian Lo Sai !" jawab Bu Beng Koan Jin yang menjawab .


Belum lagi mereka selesai membicarakan masalah Thien Mo , tiba tiba datang lagi dua orang Prajurit teliksandi dari perbatasan timur negeri Hong Than .


"Ada apa lagi Prajurit , adakah yang ingin kau sampaikan ?" tanya Kaisar Liu Xiong Bu .


"Mohon maaf yang mulia , Negeri Sian Than yang baru berdiri di timur dengan merebut kekuasaan Kaisar Chu Gong Ouw itu , bergerak kearah barat ini dengan sepuluh ribu Prajurit nya , dan menurut para teliksandi di dalam kota Raja Liok Ho , mereka bergerak ke arah Kota Raja Qiantung dengan peralatan lengkap dan perbekalan yang cukup tuan ku !" kata Prajurit teliksandi itu .


"Jendral Qiu Pang Kian !, siaga kan sepuluh ribu Prajurit dan berangkatkan ke batas negeri kita , hadang musuh di benteng perbatasan , bawa beberapa jendral yang lain , aku akan menyertai kalian , sementara aku tidak ada , pemerintahan di Kota Raja Qiantung ini di pimpin oleh pangeran Liu Xin An putra ku , yang di bantu oleh pangeran Liu Xia Song !" titah sang Kaisar kepada Jendral Qiu Pang Kian yang segera menjalankan titah itu .


Shin Liong menoleh kearah Biksu leluhur dan Bu Beng Koan Jin serta A Yong .


Ketiga laki laki beda usia itu segera mempersiapkan diri mereka untuk pergi ke timur perbatasan negri Hong Than dengan Sian Than .


Sedangkan Shin Liong bersama kedua orang istri nya itu , segera pergi menuju gerbang Kota Raja Qiantung yang di rusuh Thien Mo .


Dari kejauhan Shin Liong melihat seorang laki laki tua sedang mengamuk , memukul dan menendang setiap orang yang dia temui di jalan .


Orang orang yang kena tinju atau tendangan nya , akan langsung terkapar di tanah , entah mati atau masih hidup .


Kerena hal itu , orang orang segera berlarian , menyingkir dari jalan , mencari keselamatan diri masing masing .


Shin Liong dengan kedua orang istri nya , sengaja berdiri di tepi jalan , seolah olah heran melihat orang orang yang ribut berlarian tak tentu arah tujuan itu .


Saat kakek tua Thien Mo sudah berada di dekat mereka , kakek tua itu berhenti sebentar melihat ada seorang pemuda tampan dan dua orang wanita jelita sedang berdiri di tepi jalan tanpa rasa takut sama sekali .


Awalnya dia curiga itu adalah Kong Thai Sian , tetapi setelah memindai beberapa kali tubuh pemuda itu , dia tersenyum , karena tidak mungkin pemuda itu Kong Thai Sian , karena tingkat kultivasi nya saja baru berada di ranah Alam Taruna menengah saja .


Setelah berjalan mendekat kearah Shin Liong , seperti pada orang orang yang dia temui , Thien Mo segera mengayunkan tinju nya kearah dada Shin Liong .

__ADS_1


"Bum !"...


Satu dentuman nyaring terdengar menggema di gerbang selatan Kota Raja Qiantung itu .


Saat tinju dari Thien Mo hampir menyentuh tubuh Shin Liong , tiba tiba secara ajaib , energi dari pemuda itu melonjak pesat ke batas yang tidak di sangka sangka oleh Thien Mo sendiri , hingga benturan dua energi besar pun terjadi .


Tubuh Shin Liong bergetar beberapa saat , sedangkan tubuh Thien Mo melayang kearah belakang sejauh beberapa depa , dan mendarat di tanah dengan muka yang pucat .


"Kep*rat jaha*am , apakah kau yang bernama Kong Thai Sian itu ?" tanya Thien Mo murka .


"Aku tidak pernah mengaku sebagai Kong Thai Sian , tetapi orang orang yang memanggil ku seperti itu !" jawab Shin Liong tenang .


"Aku tidak ingin bertarung di tempat ini , bila kau memang hebat , ikuti aku sekarang , kita bertarung di hutan , sampai salah satu diantara kita ada yang tewas !" kata Thien Mo sambil berkelebat keluar dari gerbang selatan Kota Raja Qiantung itu .


Shin Liong tersenyum menatap kearah kedua orang istri nya , "rupanya perkiraan Biksu leluhur sangat benar sekali , dia memancing ku ke hutan , untuk mengeroyok ku , dia kira aku tidak tahu akal licik mereka !" ...


Ketiga orang ini segera berkelebat kearah selatan , mengikuti arah pergi ya Thien Mo tadi .


Setelah beberapa waktu berkelebat memasuki hutan , akhirnya mereka tiba di mulut sebuah lembah yang di kelilingi oleh gunung batu cadas yang tegak menjulang tinggi .


Di tengah lembah yang tidak terlalu besar itu , terlihat Thien Mo berdiri tegak dengan berkacak pinggang , menunggu kehadiran Shin Liong di tempat itu .


"Kedua orang teman mu itu suruh keluar , tidak usah main sembunyi sembunyi an seperti ini !" kata Shin Liong .


"Ho ho ho ho, kau terlalu percaya diri anak muda , dengan tingkatan mu yang sekarang , percaya diri saja belum cukup , dari pada aku bersusah payah membunuh mu , lebih baik kau bunuh diri saja sekarang !" kata Thien Mo dengan jumawa dan keyakinan yang tinggi .


"Ha ha ha ha, kau sudah pikun atau memang bodoh sedari awal nya , seharus nya kejadian di gerbang kota tadi , bisa membuka mata mu , siapa aku , tetapi otak mu memang bebal , aku maklum karena usia mu yang sudah sangat uzur sekali , jadi penyakit pikun sudah menghinggapi mu sehingga tidak mampu untuk berpikir !" kata Shin Liong sambil tertawa lucu .


"Kurang ajar , ku pecahkan kepala mu pemuda sombong !" kata Thien Mo dengan kemurkaan yang meledak ledak .


Sambil mengerahkan seluruh energi nya , Thien Mo segera menyerang Shin Liong dengan serangan tangan kosong nya .


Sedangkan Shin Liong sendiri , masih tidak melakukan serangan balasan , dia hanya menerapkan jurus langkah Dewa Dewi tingkat sempurna nya , untuk menghindari serangan dari kakek tua Thien Mo itu .


Energi dari jurus jurus jarak jauh yang di lepaskan oleh kakek tua Thien Mo itu , menyasar kemana mana karena tidak mengenai tubuh Shin Liong , hingga mengenai tebing batu yang terdekat , sehingga tebing batu itu berguguran karena hantaman energi besar yang di lepaskan oleh kakek tua Thien Mo .


...****************...

__ADS_1


__ADS_2