
Dewi Chang 'e berjalan kearah putri Xuan Yi yang masih tergolek lemas diatas tempat tidur, setelah terkena racun tidur.
Dimasukan nya sebutir pil kedalam mulut putri itu, sambil mengurut beberapa bagian tubuh putri itu.
Akhirnya,setelah beberapa saat, putri Xuan Yi pun siuman.
Sambil menangis, dia memeluk tubuh ibu mertua nya itu.
"Sudahlah nak, kau selamat, jaha*am ini belum berhasil menyentuh tubuh mu!" kata Dewi Chang 'e membelai rambut menantu nya itu.
Tiba tiba mata putri Xuan Yi menjadi liar, dan nafas nyapun memburu turun naik.
"Aku harus membunuh nya ibu, dia sudah menyentuh tubuh ku, aku harus membunuh nya, tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh tubuh ku ini Bu, kecuali suami ku seorang, aku harus membunuh nya!" kata putri Xuan Yi sangat murka.
"Tenangkan hati mu anak ku, biarkan dia menyaksikan apa akibat dari ulah nya yang terlalu mendewa dewakan nafsu iblis nya itu,ayo kita keluar, kita lihat apa yang akan terjadi dengan istana ini!" kata Dewi Chang 'e sambil menyeret tubuh sang pangeran Mao Sin Kian yang telah kaku seperti patung itu.
Dari luar istana, kini dia menyaksikan betapa kini seluruh tembok istana ini sudah hancur lebur, dan ratusan bahkan mungkin ribuan mayat prajurit istana berserakan dan sebagian bertumpuk tumpuk tidak karuan dengan tubuh yang sudah tercerai berai.
"BUM!!!"...
Sekali lagi sebuah dentuman maha dahsyat terdengar, bersamaan dengan hancur nya bangunan istana negeri Sien Fo.
Dari balik reruntuhan istana itu, melesat lima sosok tubuh manusia.
Rupanya mereka sang jendral Sin Hew Ko, Sin Lao Fu, Sin Thu dan Sin Tiau serta sang Raja Mao Mo Gwan.
Mao Mo Gwan, sang Dewa api Bintang itu menatap kearah Shin Liong dengan tatapan sangat murka sekali.
Kini istana kebanggaan nya beserta seluruh kerabat istana musnah tewas tertimbun reruntuhan istana.
"Kurang ajar, biadab sekali kelakuan mu, aku tidak akan berpuas diri sebelum bisa membunuh mu bocah!" kata sang Raja Mao Mo Gwan.
"Awalnya aku tidak ingin menyentuh mu, tetapi putra mu menyalakan api permusuhan dengan ku, bisa ku pastikan jika hari ini negeri Sien Fo tanpa pemilik lagi, dan selama nya akan mendapat huru hara sepanjang masa, tidak akan pernah aman lagi, putra mu telah menculik istri ku, sedangkan kau diam membiarkan kelakuan bejad nya, kau tidak pantas untuk menjadi seorang Dewa, atas nama kakek ku, aku Shin Liong , sang Dewata muda, mencabut hak dan martabat kedewaan dari mu!" kata Shin Liong lantang.
Tiba tiba seberkas cahaya putih ke Kuningan melesat keluar dari tubuh Raja Mao Mo Gwan, dan masuk kedalam telapak tangan Shin Liong.
"Aku tidak perduli dengan segala pangkat kedewaan ini, aku cuma mau mencabut nyawa mu, ayo, kalian ber empat, bunuh pemuda itu!" perintah dari sang raja Mao Mo Gwan kepada ke empat jendral nya itu.
"Ha ha ha ha, empat orang jendral pengecut, yang sudah menghakimi dan mengeroyok seorang anak muda di dekat jurang Neraka hidup, tanpa mau mendengarkan keterangan pemuda itu sedikit pun juga!" kata Shin Liong .
Mendengar itu, hati ke empat jendral itu sedikit berdetak keras, mereka langsung teringat kejadian empat tahun silam.
Tetapi mereka tidak lagi memiliki kesempatan untuk ber leha leha, karena teriakan dari raja Mao Mo Gwan sang Dewa api Bintang itu terdengar kembali, menyuruh mereka untuk segera menyerang pemuda di depan mereka itu.
Serentak, ke empat jendral itu bergerak menyerang Shin Liong dengan kekuatan maksimal mereka masing masing.
Shin Liong ingin mengetahui sebesar apa energi nya sekarang ini, dia lalu mempergunakan seperempat dari energi nya untuk menyambut serangan dari ke empat jendral itu.
"Bum!!"...
"Bum!!"...
__ADS_1
"Bum!!"...
"Bum!!"...
Empat dentuman susul menyusul terjadi.
Tubuh ke empat jendral itupun terbang seperti daun kering tertiup angin, dengan kondisi seluruh tulang belulang nya remuk.
Melihat itu, kemurkaan sang raja Mao Mo Gwan menjadi semakin besar saja, kini seluruh tubuh nya menyala api berwarna hijau yang sangat panas.
Inilah ilmu api bintang yang sangat terkenal sehingga membawa dia diakui sebagai Dewa api bintang.
Mao Mo Gwan segera menyerang Shin Liong dengan serangan mematikan dan berkecepatan luar biasa cepat nya.
Dengan langkah Dewa Dewi nya, Shin Liong berhasil berkelit kesana kemari,sambil sesekali mengayunkan pedang kristal Katai putih inti bintang kearah lawan nya.
"Trak!"...
Terdengar suara berderak nyaring, dari pedang kristal Katai putih inti bintang yang menghantam tubuh Mao Mo Gwan.
Terlihat tubuh Mao Mo Gwan terbelah menjadi dua bagian, berkelojotan sebentar, lalu diam selama nya.
Tubuh Mao Sin Kian gemetar pucat pasi menyaksikan kerajaan nya dalam sekejap mata sudah hancur luluh, dan seluruh kerabat nya tidak tersisa satu pun yang selamat, seolah olah negeri ini baru saja di Landa pralaya.
Sedih, sesal, marah dan dendam, menjadi satu di dalam dada nya, tetapi apa mau dikata, setetes nila, merusak susu Sebelanga.
Meskipun kini totokan nya sudah di lepaskan oleh Dewi Chang 'e, tetapi apa lagi kini yang harus di perbuat, seluruh kerabat nya sudah musnah semua nya.
Tiba tiba dengan gerakan yang sangat cepat, sebuah pedang kecil berwarna biru, menembus dada pemuda Mao Sin Kian yang di tusukan oleh Putri Xuan Yi.
"Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh tubuh ku, kecuali suami ku sendiri, kau sudah melanggar nya, maka hukuman nya adalah kematian!" seru putri Xuan Yi sambil menangis.
Kini istana Sien Fo seperti sebuah lapangan tempat menumpuk bekas bangunan.
"Tidak pernah aku menyaksikan kebiadaban seperti ini, kalian bukan nya manusia, tetapi iblis!!"...
Tiba tiba terdengar suara bergema nyaring.
Di udara, nampak seorang laki laki gagah melayang terbang sambil menatap kearah Shin Liong dengan tajam.
"Hati hatilah anakku, dialah Dewa Teng Sin, sang jendral pasukan langit, kepandaian nya cukup tinggi!" bisik Dewi Chang 'e di telinga Shin Liong.
"Ya!, Karena kau cuma berdiam diri di istana langit, sementara di sini, di negeri yang kau bilang negeri nya para Dewa beradab, terjadi kebiadaban yang di buat oleh Raja yang berpangkat Dewa, bersama putra nya, mengumbar nafsu tanpa menghiraukan hukum yang boleh dan tidak boleh di lakukan, tidak perduli istri orang lain, main serobot, lalu apa yang sudah di lakukan oleh kalian dari istana langit?, kalian diam dengan menutup mata kalian, seolah olah tidak mengetahui hal ini!" kata Dewi Chang 'e tiba tiba muncul di depan Dewa Teng Sin sang jendral pasukan langit itu.
Dewa Teng Sin menatap kearah Dewi Chang 'e sesaat, dia tidak mengenal Dewi Chang 'e, karena Dewi itu bukan dari golongan para Dewa Dewi, tetapi dari golongan Dewata dan Dewita.
"Aku tidak ingin mendahului kaisar langit, kalian harus menemui sang kaisar langit untuk diadili, karena telah membunuh seorang Dewa dan seluruh kerabat nya!"kata Dewa Teng Sin.
"Kau pikir aku takut menghadap pada Yu Huang Di ya?, ayolah, aku akan memenuhi undangan mu!" kata Dewi Chang 'e.
Dewi Chang 'e memegang tangan Shin Liong dan putri Xuan Yi, lalu dengan sekali sentak, mereka bertiga pun melesat keudara, sedangkan di belakang mereka terbang Dewa Teng Sin mengikuti nya.
__ADS_1
Mereka terus melesat menembus awan, hingga awan yang paling tinggi, dimana tidak ada lagi awan di atas itu, kecuali biru nya langit, dan di bawah hamparan awan seperti lautan kapas.
Diatas sebuah awan yang paling tebal, nampak sebuah bangunan istana yang sangat besar berdiri dengan megah nya.
Di pintu gerbang istana itu nampak empat orang Dewa sedang berjaga jaga.
Halaman depan istana itu nampak seperti sebuah alun alun sangking besar nya, dan di sekelilingnya di tanami pohon pir Dewa.
Di kiri dan kanan nampak berjejer ratusan prajurit langit dengan kepandaian tinggi.
Di depan istana itu ada sebuah aula yang sangat besar yang menyatu dengan istana.
Di dalam istana terlihat sudah banyak sekali para Dewa Dewi duduk berjejer di kiri dan kanan, sedangkan di ujung terlihat seorang tua bertubuh sedang, duduk diatas kursi kebesaran.
Jendral pasukan langit, Dewa Teng Sin, berlutut di depan sang kaisar langit.
"Yang mulia, ini para pembantai Dewa api Bintang beserta seluruh kerajaan nya telah hamba bawa!" kata Dewa Teng Sin.
Tiba tiba Dewa Erlang maju kedepan, "kalian bertiga berlututlah di hadapan sang kaisar langit!"...
Sebuah pecut di keluarkan dan di ayunkan ke tubuh Dewi Chang 'e.
"Bum!"...
Sebelum pecut itu mengenai tubuh Dewi Chang 'e, pukulan dari Shin Liong terlebih dahulu mampir di tubuh nya, membuat tubuh Dewa Erlang terjungkal kelantai.
"Siapapun yang berani menyakiti ibu ku, maka kematian yang akan dialami nya!" kata Shin Liong nyaring.
Kaisar langit menatap kearah Dewi Chang 'e, lalu ke arah Shin Liong , dan terakhir kepada putri Xuan Yi.
"Benarkah kau telah membantai Dewa api Bintang nona?"tanya Kaisar Langit.
"Ya Huang Di!, akulah yang melakukan nya, aku sebenar nya tidak ingin melakukan itu, tetapi kulihat, istana langit membiarkan para Dewa yang seharusnya menjaga manusia, tetapi malah menjadi pemangsa manusia!" kata Dewi Chang 'e.
"Siapa sebenar nya kamu nona, mengapa tahu nama ku?" tanya kaisar langit mencoba menahan kemarahan hati nya.
"Aku rasa kau tidak ada guna nya kau mengetahui siapa aku Huang Di, tetapi satu hal yang harus kau ketahui, bahwa pemuda ini putra ku, dan wanita jelita itu adalah anak menantu ku, awal nya aku tidak ingin menyentuh Raja negeri Sien Fo itu, tetapi putra nya memaksa menculik dan hampir memperkosa menantu ku, bila saja aku terlambat sedikit saja, maka bisa kau bayangkan, kejadian apa yang akan menimpa anak menantu ku ini " kata Dewi Chang 'e.
Dewa Erlang yang tadi dipukul jatuh oleh Shin Liong, kini bangkit dengan sangat murka nya, menatap kearah Shin Liong.
"Mereka manusia biasa yang tidak tahu aturan, yang mulia, datang tanpa menghormati aturan istana langit ini, seperti binatang saja layak nya!" kata Dewa Erlang marah karena tadi di gebukin oleh Shin Liong .
Dewi Chang 'e menoleh kearah Dewa Erlang, "apa yang telah kau lakukan terhadap Dewa yang mengutamakan nafsu nya, merebut istri orang lain, menindas sesama, tetapi kau cuma diam saja, menikmati hidup mewah di istana langit ini, lalu apa guna nya kau diangkat sebagai Dewa? kerja mu cuma makan dan tidur saja!" kata Dewi Chang 'e.
"Yang mulia, wanita ini terlalu lancang, biarkan saya beri pelajaran adat sedikit yang mulia!" kata Dewa Erlang meminta ijin kepada sang Kaisar.
Shin Liong maju kedepan, mendekati ibu nya.
"Kalau kau ingin bertarung, jangan dengan ibu ku, tetapi cukup dengan ku, sebelum aku mati, tidak akan ku perkenankan siapapun menyakiti ibu ku" kata Shin Liong marah.
...****************...
__ADS_1