
Komandan pasukan ke sepuluh itu kembali membungkukan badan nya di hadapan Shin Liong .
"Sudahlah tuan!, tidak usah di perbesar lagi, ini sudah kewajiban kami untuk menolong sesama manusia!" kata Shin Liong.
"Maaf tuan muda, maukah tuan muda mampir ke markas kami sebentar, markas Kaisar Chong Sian?" tanya komandan pasukan itu.
Shin Liong menyetujui sambil melihat lihat manusia yang masih tersisa di dunia ini.
Markas Kaisar Chong Sian berada di tengah hutan lebat.
Disekeliling markas, sejauh seratus depa, tidak ada pohon satu pun, sedangkan markas sang Kaisar ini di Pagari dengan baja tebal yang tahan terhadap serangan.
Markas ini sekaligus merupakan benteng pertahanan dan tempat komando perjuangan.
Setelah melihat pasukan kesepuluh tiba, pintu benteng pun di buka.
Setelah mereka semua nya sudah masuk, pintu benteng pun di tutup kembali.
Benteng ini cukup luas, dengan beberapa bangunan serta alun alun di dalam nya.
Di tengah tengah, menghadap kearah alun alun, berdiri istana sang Kaisar.
Sedangkan kaisar sendiri adalah seorang laki laki tua berusia sekitar tujuh puluh tahunan, dengan tubuh kurus dan agak bongkok.
Tetapi meskipun begitu, kaisar ini memiliki seratus selir yang tidak boleh memiliki anak, cuma sang permaisuri lah yang berhak memiliki anak.
Sang Kaisar tua ini menerima kedatangan Shin Liong di aula istana utama.
Setelah mendengarkan laporan dari komandan pasukan ke sepuluh, sang Kaisar nampak termenung sesaat, lalu mengedarkan pandangan nya ke arah tamu nya, satu persatu.
Saat mata nya menatap wajah putri Xuan Yi, nampak sang Kaisar terkesima melihat ke jelita an paras putri Xuan Yi itu.
Shin Liong Melihat di benteng itu semua prajurit nya adalah laki laki semua, tidak ada satu orang pun wanita, kecuali para selir, dan dayang istana yang semua nya cantik cantik.
Adapun pasukan yang di miliki sang Kaisar tua ini tidaklah banyak, paling sekitar tiga ratus orang saja.
Saat makan malam, Shin Liong tahu jika makanan mereka sudah di bubuhi racun tidur pelemah otot, maka nya, secara diam diam dia mengeluarkan pil anti racun, lalu dengan kecepatan luar biasa, pil itu di jentiknya hingga terlempar masuk kedalam piring kedua istri nya, putra serta ibu nya.
Setelah selesai makan, tiba tiba tubuh Shin Liong ambruk tertelungkup di meja makan, di susul oleh A Yong, Dewi Chang 'e dan terakhir kedua istri Shin Liong .
"Ha ha ha ha, racun tidur pelemah otot milik ku memang tidak ada dua nya, tidak pernah gagal meskipun sekali, dayang!!, siapkan obat kuat milik ku, malam ini aku akan berpesta pora!" teriak sang kaisar tua itu.
"Yang mulia!, tidak kah ini sangat berbahaya tuan, mereka tamu kita, orang yang telah menolong kita, mengapa kita mencelakai mereka yang mulia?" tanya komandan pasukan ke sepuluh.
"Kau jangan terlalu banyak memprotes, atau kau kujadikan persembahan kepada yang mulia Kaisar Dewa?" tanya sang Kaisar dengan nada tidak senang.
"Maaf!, maaf!, yang mulia, maafkan saya!, saya salah!" kata sang komandan pasukan dengan gugup Sabil segera pergi dari tempat itu.
Sang Kaisar tua itu berjalan menghampiri putri Xuan Yi yang masih tertelungkup di meja makan.
Saat tangan nya bermaksud ingin membelai pipi sang putri, tiba tiba dengan gerakan sangat cepat, pedang kecil berwarna biru milik putri Xuan Yi memotong tangan sang Kaisar tua itu sebatas bahu nya, hingga potongan tangan kanan sang kaisar terjatuh di atas meja makan.
Karuan saja Kaisar tua itu menjerit sejadi jadi nya, hingga mengejutkan para prajurit di luar istana.
Para prajurit berhamburan memasuki ruang makan itu.
__ADS_1
Tetapi baru saja mereka masuk, tubuh mereka pun kembali berterbangan keluar terhantam satu kekuatan dahsyat dari pukulan A Yong.
Mereka mendarat di ruangan tengah bergelimpangan masing masing dengan dada yang remuk.
Seorang laki laki paro baya bertubuh tinggi tegap berwajah tampan, masuk ke dalam ruang makan itu.
Dia terpana menyaksikan sang Kaisar tua itu bergulingan di lantai dengan darah menyembur dari buntung an bahu nya yang membasahi lantai Ruang makan.
"Kurang ajar!, apa yang telah kalian lakukan pada sang Kaisar heh?" tanya laki laki yang baru masuk itu.
"Aku sudah membuntungi tangan nya yang tidak memiliki adab itu, dan sebentar lagi, tuan keperkasaan yang selalu dia banggakan itu akan ku potong juga!" kata putri Xuan Yi, mata nya yang hijau kini seperti memancarkan cahaya mengerikan.
Tanpa sempat berbicara lagi, tiba tiba saja sang Kaisar kembali menjerit nyaring sambil berguling guling di lantai.
Perkutut kebanggaan nya yang selalu manggung setelah di beri obat itu, kini sudah berpisah dari tubuh nya untuk selama lama nya.
Pedang biru sang bidadari bermata hijau itulah yang menjadi algojo, pemutus segala kenikmatan dunia nya.
Dengan kemarahan yang meluap luap, laki laki paro baya yang baru datang itu segera menyerang kearah putri Xuan Yi.
Tetapi serangan nya di potong oleh A Yong di tengah jalan.
"Sebelum kau menyerang ibu muda ku, terlebih dahulu kau hadapi aku dulu!" kata A Yong yang berdiri dihadapan laki laki itu dengan gagah nya.
"Dengan tingkat kepandaian mu saat ini, kau sangat mengada ada bila berkhayal mampu menghadapi jendral Su Geng Gong yang sakti ini nak!" ucap laki laki paro baya itu.
"Ternyata kalian semua kaki tangan mahluk iblis itu, sesakti apapun kalian, apa bila hidup sekedar menjadi kaki tangan iblis, tidak ada guna nya!" jawab A Yong agak marah karena di remehkan oleh sang jendral itu.
"Ha ha ha ha, kalian akan ku bunuh disini!" kata jendral itu sambil terus tertawa menatap ke arah A Yong.
Bagai mana sang jendral ini tidak tertawa, dalam pandangan mata nya, tingkat kultivasi A Yong baru mencapai alam Taruna menengah, sekarang ingin melawan dia yang sudah berada di tingkat Dewa Bumi akhir.
"Begitu kah?, baiklah kalau begitu, akan ku buktikan, yang kau kira bintang itu cuma kunang kunang saja!" kata jendral Su Geng Gong sambil menyerang ke arah A Yong dengan kekuatan penuh nya.
A Yong sengaja tidak ingin menghindari serangan dari sang jendral, tetapi memapaki serangan itu dengan separuh energi nya.
"Bum!"...
Dentuman terjadi akibat pertemuan dua energi besar itu.
Tubuh A Yong bergetar hebat, hingga rambut nya ter kibar terkena angin pukulan.
Sementara itu, tubuh sang jendral terpelanting hingga menabrak dinding istana.
Dari lobang hidung nya keluar darah segar, pertanda dia mengalami luka dalam ringan.
"Nah tuan, apa saya bilang, bintang yang jauh tinggi di langit, kau bilang kunang kunang, sekarang tuan baru yakin kan, jika itu benar benar bintang?" kata A Yong.
Dengan amarah yang membuncah hingga mencapai ubun ubun, sang jendral langsung menyerang kembali kearah A Yong dengan sebilah pedang berbentuk lentik.
Pertarungan antara jendral Su Geng Gong melawan A Yong kembali terjadi dengan seru nya, beberapa kali terdengar benturan antara senjata mereka.
Pedang milik sang jendral rupanya juga sekelas pedang pusaka langit, sehingga dapat mengimbangi senjata A Yong.
Tetapi perbedaan tingkat kultivasi yang jauh, membuat lama kelamaan, energi dari sang jendral mulai terkuras akibat sering nya berbenturan sesama senjata.
__ADS_1
Pada pertemuan antara kedua pedang mereka yang kesekian kali nya, akhirnya pedang di tangan sang jendral pun terbang dan tertancap di dinding istana.
Sedangkan pada saat yang sama pula, pedang Naga api di tangan A Yong berhasil membabat dada sang jendral hingga hampir terbelah.
Tubuh sang jendral pun akhirnya tersungkur ke lantai istana.
Tanpa ada satupun yang berani menahan, Shin Liong, A Yong, kedua orang istri nya dan Dewi Chang 'e pun keluar dari benteng itu untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Shin Liong kecewa, dia sangat berharap bertemu dengan manusia lain nya, tetapi sekali nya bertemu, ternyata kaki tangan nya mahluk Orgo.
Sepanjang perjalanan, Shin Liong menjadi lebih banyak diam saja, tidak lagi suka menjahili sang putra.
Pikiran nya kacau, kalau dunia ini sudah tidak ada lagi manusia yang baik, bisa bisa Tian yang maha kuasa akan menghancurkan nya.
Perjalanan Shin Liong dan keluarga nya, masih melewati hutan belantara lebat, namun tidak terdengar ada suara se ekor binatang pun.
Beberapa hari berjalan, sekeliling masih saja hitam belantara yang lebat.
Namun pada hari berikut nya, ketika mereka sedang beristirahat makan siang, tiba tiba pendengaran Shin Liong yang sangat tajam itu mendengar beberapa desah napas halus dari balik sebuah pohon besar.
Shin Liong segera meningkatkan kewaspadaan nya, sambil memindai orang yang mengintip dari balik pohon besar itu.
"Bu!, ada empat orang di balik pohon besar itu !" bisik Shin Liong di telinga sang ibu.
"Ibu tahu!, mereka sudah cukup lama mengikuti kita nak!" ucap Dewi Chang 'e.
Shin Liong kagum dengan ilmu sang ibu ini, dia saja baru mengetahui ada orang mengintip, sedangkan sang ibu sudah sejak lama mengetahui jika mereka di buntuti.
"Saudara yang mengintip di balik pohon, keluarlah, saya tahu kalian mengintip kami, bila berniat baik, keluarlah dan bergabung di sini, bila kalian tidak juga mau keluar, berarti berniat tidak baik, jangan salahkan kami bertindak!" teriak Shin Liong lantang.
Karena hutan itu sunyi sepi, tidak ada suara binatang apapun juga, sehingga teriakan dari Shin Liong sangat jelas terdengar.
Tidak terdengar suara apapun juga, sepi, cuma desau An angin meniup daun daun pohon saja yang terdengar.
"Hei kalian yang mengintip di balik pohon, keluarlah, saya tahu kalian mengintip kami, bila bermaksud baik, kemarilah, tetapi bila tidak keluar, maka saya anggap bermaksud tidak baik, dan jangan salahkan bila saya bertindak kasar!" teriak Shin Liong lagi.
Masih saja sunyi sepi, tidak ada suara apapun juga.
"Baiklah, karena kalian tidak juga mau keluar, maka saya anggap kalian bermaksud tidak baik dengan kami, hitungan mundur di mulai, satu!" teriak Shin Liong .
Masih tetap sunyi sepi tanpa suara apapun juga.
Tetapi telinga Shin Liong kini bukan nya mendengar suara nafas halus saja, tetapi juga suara detak jantung yang berirama agak cepat, juga terdengar.
"Dua!"...
Ketika Shin Liong mengucapkan kata dua, suara detak jantung orang orang dibalik pohon besar itu semakin kencang dan agak lebih cepat, tanda bahwa mereka dalam keadaan tegang.
"Ti".....
Belum selesai hitungan Shin Liong , dari balik pohon besar itu. muncul empat orang pemuda.
"Tunggu!, tunggu dulu!, jangan serang kami!" kata empat orang pemuda itu dari balik pohon besar.
Ke empat pemuda itu berjalan mendekat kearah Shin Liong dan keluarga nya yang sedang makan itu.
__ADS_1
Nampak bibir mereka kering pertanda belum makan atau minum apa pun juga.
...****************...