
Saat kepalan tangan dari jendral tua Dao hampir menyentuh dada Shin Liong , tiba tiba , kejadian tadi terulang kembali , tubuh Shin Liong raib dari pandangan mata nya , dan beralih ketempat lain seolah pemuda ini dapat menembus ruang waktu .
Dengan rasa penasaran yang tinggi , jendral Dao kembali melancarkan serangan nya ke pada pemuda Shin Liong itu .
"Tiga !" ...
Terdengar suara dari mulut Shin Liong yang mengingatkan jika pertarungan sudah memasuki jurus yang ke tiga .
Kali ini jendral tua Dao benar benar harus mengerahkan semua kemampuan yang dia miliki agar bisa mengalahkan Shin Liong .
Hingga jurus ketiga , belum ada satupun serangan balasan dari Shin Liong pada Jendral Dao Shu fa .
"Kau bukan lawan ku , sudahi hal tidak berguna ini jendral , pulang lah dan jangan ganggu keluarga ku lagi , jangan sia siakan sisa hidup mu !" ujar Shin Liong sambil melompat satu tindak di ke belakang .
Tetapi hal itu justru diartikan lain oleh putra mahkota dan sang jendral tua Dao .
Dia menyangka Shin Liong sudah merasa jerih karena menjelang jurus yang ketiga , tidak satupun Shin Liong punya kesempatan untuk membalas serangan .
"Jangan dengarkan kata kata nya paman , bunuh pemuda itu secepat nya , agar ketiga istri nya dapat ku miliki !" teriak putra mahkota yang sudah mabok kepayang melihat kecantikan para istri dari Shin Liong itu .
"Aku akan melepaskan diri mu , asalkan kau mau menyerahkan Dewi Teratai putih dan kedua teman nya itu ,kepada ku , dan merangkak lah keluar dari tempat ini !" ujar jendral tua Dao kepada Shin Liong masih dengan nada sombong nya .
"Ayah !, kenapa ayah terlalu berbaik hati kepada anjing Kaisar ini , pukul kepala nya , A Yong ingin mendengar suara nya mengkaing ayah !, kalau ayah tidak tega , biar A Yong melakukan nya !" teriak A Yong dari belakang yang sudah tidak tahan mendengar sang ayah terus di hina .
"Tenanglah nak !, ayah cuma memberi kesempatan kepada anjing tua ini agar jangan mengganggu keluarga kita , kalau dia tidak mau sadar , ayah sendiri yang akan menguliti anjing tua ini !" sahut Shin Liong sambil bergerak kesamping kiri dengan kecepatan yang luar biasa .
"Pemuda tidak tahu diri !, aku sudah berbaik hati kepada mu , akan ku rontokan semua tulang belulang di tubuh mu sekarang !" teriak jendral tua Dao sambil kembali menyarangkan pukulan nya ke arah Shin Liong .
"Empat !" ...
Terdengar suara Shin Liong menggema di udara pagi , " kau kuberi kesempatan sebanyak lima jurus untuk memulai serangan kepada ku , bila dalam lima jurus kau tidak mampu merobohkan aku , lima jurus berikut nya adalah milik ku !" ...
Jendral tua Dao pura pura tidak mendengarkan ucapan Shin Liong itu , dia sedang berusaha dan ber upaya untuk mengalahkan Shin Liong .
Sambil menyerang , jendral tua ini juga diam diam melepaskan jarum jarum beracun kearah Shin Liong .
Namun jarum jarum itu tidak ada satupun yang berhasil menembus kulit nya .
Kulit tubuh Shin Liong seolah olah terbuat dari besi baja yang tidak bisa di tembus oleh jarum jarum beracun itu .
Shin Liong yang mengetahui akan hal itu , cuma tersenyum saja , dia mengerti jika sang jendral ini sudah mulai kehabisan akal untuk menumbangkan diri nya .
Sedangkan sang jendral tua itu heran jarum jarum beracun nya tidak ada satu pun yang berpengaruh kepada lawan nya .
Dia mengira jika lawan nya ini memiliki ilmu ruang waktu yang bisa membuat seseorang berpindah tempat dalam sekejap .
Dia pikir , cara satu satu nya untuk mengalahkan lawan nya ini adalah dengan adu tenaga dalam saja .
"Ternyata kau cuma bisa berkelit dan menghindar saja , bila memang kau hebat , coba tahan serangan ku ini dengan tangan mu sendiri , jangan cuma menghindar !" pancing jendral tua Dao .
__ADS_1
Shin Liong tersenyum mendengar perkataan dari sang jendral tua ini .
"Kau ingin adu tenaga dalam kah pak tua , boleh boleh , aku juga sudah mulai bosan bermain main seperti ini , tetapi ingat , bila kau kalah , maka ini hari terakhir dinasti Fang berkuasa di negeri Fangkea ini !" sahut Shin Liong masih tetap santai .
Keyakinan sang jendral tua semakin kuat jika Shin Liong tidak memiliki tenaga dalam tinggi , cuma bermodalkan ilmu ruang waktu saja .
Sang jendral tua membentangkan kedua tangan nya ke samping kiri dan kanan , memutar kedua tangan nya di samping tubuh nya , lalu disatukan di depan dada nya .
"Terimalah saat saat akhir hidup mu anak muda !" kata sang jendral tua sambil melesat kan pukulan kearah dada Shin Liong .
Sang jendral tua sangat gembira , karena saat pukulan nya sudah mengarah ke dada Shin Liong , tidak terlihat jika pemuda itu memiliki energi besar .
Dia yakin jika sekali pukul saja , lawan muda nya ini bakalan berhenti menjadi manusia .
Namun kegembiraan sang jendral tua ini mendadak berganti dengan rasa panik luar biasa , karena saat pukulan nya tinggal sejengkal dari tubuh lawan muda nya ini , dan tidak mungkin bisa di tarik kembali , tiba tiba energi lawan nya ini meningkat luar biasa .
"Bum !!" ...
Sebuah dentuman yang sangat nyaring terdengar dari halaman rumah penginapan ini .
Sangking keras nya dentuman itu , hingga debu debu berterbangan keudara , menutupi pandangan mata .
Saat debu mulai mereda , terlihat Shin Liong masih berdiri tegak di tempat nya semula , sedangkan jendral tua Dao Shu fa roboh terlentang di tanah dengan darah menyembur dari mulut , hidung , mata dan telinga nya .
Di saat saat tarikan nafas nya yang terakhir , mata nya mendelik kearah Shin Liong dengan rasa tidak percaya , bahwa dirinya di kalahkan oleh seorang pemuda .
Sebutir air mata mengalir di sudut mata nya , dia tahu , ini saat saat akhir dari dinasti Fang sang penguasa abadi negeri Fangkea , sejarah akan mengubur keberadaan mereka kelak .
Seandainya dia menuruti nasehat pendeta Shi Ma untuk tidak membesarkan masalah dengan pemuda itu , tentu istana Alexia tidak akan terancam bahaya .
Dia mengangkat telunjuk nya kearah putra mahkota , ingin menyuruh nya menyudahi pertikaian ini demi istana Alexia tetap berjaya .
Tetapi energi nya sudah habis sama sekali , dan tangan nya pun terkulai tidak berdaya .
Nyawa nya pun melayang , meninggalkan raga tua nya .
Kasmaran telah menutupi akal sehat sang putra mahkota Alexia itu , dia tidak lagi berpikir tidak mungkin mengalahkan Shin Liong , tetapi yang ada di dalam pikiran nya saat itu adalah menangkap dan membunuh Shin Liong agar bisa menguasai ketiga istri nya yang cantik jelita luar biasa itu .
Apalagi saat melihat Dewi Xuan Yi yang paling jelita diantara ketiga nya itu , dengan kulit putih susu serta bentuk tubuh yang sangat indah , rambut kuning emas dan mata hijau terang itu , pikiran sang putra mahkota seperti lenyap dari kewarasan nya .
"Kurang ajar , kau sudah membunuh jendral besar Dao Shu fa , dan itu tidak mungkin bisa di maafkan lagi , kemanapun kau pergi , pasukan istana akan mengejar mu !" ujar putra mahkota mencoba mengancam Shin Liong .
"Ha ha ha ha !, bukankah aku sudah berkata jangan ganggu keluarga ku , jika itu kau lakukan , istana langit saja tidak akan mampu menyelamatkan negeri ini , apa lagi sekedar budak nafsu seperti diri mu ini , takdir telah ditulis , dan nasif telah di tentukan jika hari ini , dinasti Fang sang penguasa abadi tanah Fangkea akan berakhir , sejarah baru akan mulai mencatat diri nya , dan sejarah lama mulai di lupakan !" teriak Shin Liong bergema ke seantero kota Raja Alexia .
Tetapi pangeran bodoh yang mata nya telah dibutakan oleh rupa dan cinta buta nya itu , bukan nya menjadi sadar , tetapi malahan semakin beringas , menyuruh semua Prajurit khusus yang dia bawa untuk menyerang Shin Liong .
Ratusan orang Prajurit segera menyerbu kearah Shin Liong .
A Yong , Dewi Teratai putih , Dewi Xuan Yi dan Dewi Ying Fa segera menyongsong serangan para Prajurit khusus itu di depan sang suami nya .
__ADS_1
Seperti segerombolan tikus menghadapi pentungan , satu persatu para Prajurit khusus itu bertumbangan tewas .
Sementara itu , sang putra mahkota , setelah melihat para Prajurit khusus nya satu per satu tewas .
Dengan menggunakan kuda milik sang jendral tua Dao , dia segera memacu kuda itu untuk melarikan diri pulang ke istana Alexia .
Setelah beberapa saat bertempur , habislah seluruh Prajurit khusus tewas semua nya , sedangkan sebagian kecil , berhasil melarikan diri .
"Kak ayo kita kejar pangeran to*ol itu , aku akan memberikan perhitungan pada nya , bila dia masih hidup , dia akan terus merong rong ketenangan rumah tangga kita kak !" kata Dewi Teratai putih yang masih sangat gusar itu .
"Ibu benar ayah , pangeran to*ol itu akan terus merongrong ketenangan rumah tangga kita , bila keberadaannya kita biarkan saja , lagi pula , berapa ratus orang kecil yang bakalan menjadi korban nya kelak !" kata A Yong .
"Kalau Kaka tidak mau mengejar penjahat itu , biarkan kita yang mengejar nya kak Nuwa !" ujar Dewi Xuan Yi sambil menoleh pada sang suami .
"Baiklah !, Baiklah !, ayo kita kejar penjahat itu ke istana Alexia , kita buat istana Alexia gempar hari ini !" kata Shin Liong sambil melangkah keluar dari rumah penginapan itu .
Istana Alexia berada di sebuah pulau di tengah tengah sebuah Danau besar , dengan sebuah jembatan sebagai penghubung nya , dengan gerbang luar berada di ujung jembatan sebelah daratan dan gerbang dalam berada di ujung jembatan lain nya , yang menghadap langsung ke dalam benteng istana .
Saat Shin Liong mendekati gerbang luar istana Alexia , gerbang tertutup dengan rapat nya .
Baru saja mereka bergerak mendekati gerbang luar istana itu , dari atas gerbang , meluncur hujan anak panah yang sangat banyak sekali .
Shin Liong segera mengerahkan separuh energi nya untuk melepaskan pukulan jarak jauh kearah gerbang luar istana Alexia itu .
"BUM !!" ...
Dentuman sangat nyaring terdengar menggema , bersamaan dengan hancur nya gerbang luar istana Alexia .
Para Prajurit penjaga gerbang berterbangan jatuh kedalam Danau .
Dibalik gerbang luar istana Alexia itu , sebuah jembatan terbuat dari emas terbentang sepanjang kurang lebih dua ratus depa panjang nya .
Dan di ujung jembatan , tepat nya di pinggir pulau , sebuah gerbang besi menjulang tinggi dengan megah nya .
Baru saja Shin Liong berjalan mendekati gerbang dalam itu , kembali ratusan anak panah menghujani nya .
Sekali lagi Shin Liong mengerahkan separuh energi nya , untuk melepaskan pukulan jarak jauh nya ke arah gerbang dalam itu .
"BUM !!" ...
Satu dentuman dahsyat menggema , bersamaan dengan hancur nya gerbang dalam istana Alexia menjadi puing puing kecil .
Tubuh para Prajurit penjaga gerbang dalam , berterbangan seperti dauh kering tertiup angin musim kemarau .
Sebagian jatuh menimpa atap istana , dan sebagian terlewat serta jatuh di dalam Danau .
Sedangkan reruntuhan gerbang , jatuh menimpa sebagian Prajurit tombak dan lembing yang sudah bersiaga di balik gerbang dalam istana Alexia itu .
Teriakan dan jeritan menggema di dalam komplek benteng istana Alexia pagi itu .
__ADS_1
...****************...