Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Kuil Shi Siu Sian.


__ADS_3

Pagi di Desa Lok Pau terasa lain dari pada biasanya , hari ini banyak para pendekar kultipator dari berbagai ranah berdatangan di Desa agak terpencil itu .


Di belakang Desa itu , berdiri sebuah kuil besar bernama Kuil Shi Siu Sian atau Kuil Dewa bertangan Empat .


Ada puluhan Biksu yang tinggal di Kuil Shi Siu Sian ini , dan mereka di pimpin oleh seorang Biksu yang sangat tua sekali .


Meskipun Biksu ini sudah sangat tua hingga dia sendiri lupa sudah berapa umur nya sendiri , tetapi Biksu ini sangat di hormati oleh semua golongan dari para pendekar kultipator se Antero belahan barat Bumi ini .


Pagi itu , di depan kuil besar itu terjadi sedikit ke hebohkan , karena seorang tua berpakaian aneh seperti orang yang terkena gangguan jiwa sedang berbaring di depan tangga Kuil Shi Siu Sian itu .


Beberapa orang Biksu muda mencoba membujuk kakek tua itu agar pergi dari tempat itu , tetapi orang tua aneh itu tetap saja diam tiduran di depan tangga Kuil .


Bahkan beberapa Biksu muda mencoba untuk mengangkat tubuh kurus orang tua aneh itu , tetapi ternyata sedikitpun tubuh kurus itu tidak mampu mereka angkat , seolah olah berat nya , sama seperti berat sebuah gunung .


"Kakak Tan !, kakek tua ini tubuh nya sangat berat kak !" keluh seorang Biksu muda .


"Iya kakak Tan , tubuh kakek tua ini begitu berat nya , mungkin karena terlalu banyak dosa nya ya kak ?" kata biksu muda yang lain nya lagi .


"Tok !" ...


"Auw !" ...


Tanpa ada yang sempat melihat , ternyata sebuah ketokan tongkat menghantam kepala salah seorang dari Biksu muda itu sehingga sang Biksu ter aduh kesakitan ketika kepala plontos nya benjut terkena getok .


"Aku tidak akan pergi hingga sang Biksu tua itu keluar !" kata laki laki tua aneh itu .


"Orang tua , leluhur sedang bersemedi di ruangan beliau , dan tidak boleh di ganggu !" jawab salah seorang dari Biksu muda itu .


Orang tua itu kembali tidur lagi , seolah olah tidak terganggu dengan kehadiran beberapa orang yang berlalu lalang itu .


"Ketika matahari jatuh dari langit , cahaya nya akan membakar semua iblis dan hantu , hati hati Dewa pun akan terbakar bila tidak berhati hati !" kata laki laki aneh itu sambil memejamkan mata nya , seolah sedang mengigau .


"Adik !, katakan pada tetua , orang tua ini tidak bisa di pindahkan !" kata Biksu muda pertama .


Salah seorang dari Biksu muda segera masuk kedalam kuil itu .


Beberapa saat kemudian , dia ke luar bersama seorang Biksu tua ber alis , kumis dan jenggot yang serba putih semua .


"Omitohut !, Santi !, Santi !, Santi !, siapakah kau orang tua , bisakah kau menyingkir dari tempat itu ?" tanya Biksu Tua itu pelan .


"Kau tidak akan mengenal ku , panggilkan Biksu tua Guan Ing kesini , baru kau tahu siapa aku , ketika matahari jatuh dari langit , cahaya nya akan membakar semua Iblis dan hantu , hati hati , Dewa pun akan terbakar bila tidak berhati hati !" igau laki laki tua aneh itu lagi .


Tiba tiba dari dalam kuil terdengar suara halus namun sangat jelas sekali , "Bu Beng Koan Jin !, masuklah , aku sudah menunggu mu sejak empat hari yang lalu !" ...

__ADS_1


"Bu' , Bu Beng Koan Jin ?" mata Biksu tua itu melotot hampir keluar sangkin terkejut nya dia .


Bu Beng Koan Jin atau orang aneh tanpa nama adalah legenda ratusan tahun yang lalu .


Dimana dia adalah salah satu dari manusia tanpa tanding yang pernah hidup di muka Bumi ini , tetapi sifat nya yang aneh , dan selalu acuh dengan segala urusan yang tidak ada sangkut paut nya dengan diri nya itu , membuat semua orang segan , baik kawan maupun lawan .


Tidak ada yang tahu berapa usia dari orang tua ini , yang pasti dia teman seangkatan dari Biksu tua leluhur Kuil Shi Siu Sian ini , tetapi sudah hampir seratus tahun orang tua ini menghilang dari dunia ramai ini , sehingga orang orang menganggap itu cuma legenda yang sudah lama tiada .


Lama kelamaan , nama Bu Beng Koan Jin pun di lupakan orang .


"He he he he Situa Guan Ing !, kukira kau sudah melupakan aku sahabat !" kata orang tua bergelar Bu Beng Koan Jin itu sambil bangkit tertatih tatih menuju ke dalam kuil di ikuti oleh Biksu tua dan para Biksu muda .


Agak jauh di belakang Kuil Shi Siu Sian itu , ada sebuah bangunan cukup besar , di situlah tempat Biksu leluhur Guan Ing menghabiskan sisa usia nya dengan ber siu lian (bersemedi) .


Baru saja mereka tiba di depan bangunan itu , tiba tiba dari dalam bangunan itu terdengar suara seorang laki laki , "kalian semua masuklah kedalam sini !" ...


Biksu tua bersama orang tua yang bergelar Bu Beng Koan Jin itu segera memasuki bangunan itu .


Ternyata di dalam bangunan itu , tidak memiliki kamar , alias sebuah ruangan cukup besar tanpa perabotan apapun juga .


Di sisi Utara bangunan itu , menghadap ke arah pintu , terdapat sebuah batu altar terbuat dari batu giok hijau lumut .


Di atas batu altar itu , duduk seorang laki laki yang sudah sangat tua dan kurus berpakaian Biksu dengan kepala yang licin plontos .


"Bu Beng Koan Jin sahabat ku , lebih seratus tahun kita tidak berjumpa , ku kira kau sudah pergi mendahului ku sahabat , oh syukurlah kita masih bisa berjumpa lagi , berat rasa ku memikul beban yang selama ini kita terima sahabat !" kata Biksu Guan Ing sambil menatap kearah orang tua berpakaian tidak karuan itu .


Laki laki berpakaian tidak karuan itu hanya nyengir kuda mendengar keluhan keluar dari mulut sahabat nya itu .


"Ketika matahari jatuh dari langit , cahaya nya akan membakar semua Iblis dan hantu , hati hatilah , karena Dewa pun akan terbakar bila tidak berhati hati !" ucap kakek Bu Beng Koan Jin .


Ucapan kakek sinting itu kemudian di ikuti oleh Biksu Guan Ing berulang ulang seperti merapalkan sebuah mantera .


Biksu tetua baru menyadari jika mata orang tua bernama Bu Beng Koan Jin itu putih semua setelah dia membuka mata nya dan menoleh kearah Biksu tetua itu .


"Apakah saat nya sudah tiba sahabat ?" tanya Biksu leluhur kepada sahabat nya itu .


"Iya sahabat ku , hari ini seluruh alam dimensi berada pada satu jejeran lurus , yang menandakan janji Dewata kepada kita sudah sampai sahabat ku , aku juga sudah lelah membawa tubuh tua renta ini , aku ingin tidur panjang !" keluh orang tua Bu Beng Koan Jin .


Kemudian Biksu leluhur menatap kearah Biksu tetua yang menjadi kepala kuil Shi Siu Sian itu .


"Bagai mana dengan para penguasa empat kota itu Biksu Sun ?" tanya nya .


"Seperti yang sudah saya laporkan leluhur , hari ini mereka akan menemui leluhur untuk meminta petunjuk dari leluhur , apa yang seharus nya mereka laku kan " jawab Biksu tetua Sun .

__ADS_1


"Hmm , waktu nya sudah tiba , lalu matahari itu jatuh dimana sahabat ku ?" tanya Biksu leluhur kepada Bu Beng Koan Jin sahabat nya .


"Hmm , aku melihat matahari itu jatuh di sebuah hutan lebat , dan hutan itu menjadi terang benderang seluruh nya , lalu matahari itu menggelinding kearah kuil ini sahabat ku , semoga kita menerima manfaat pancaran cahaya nya , bukan terbakar panas nya !" jawab Bu Beng Koan Jin .


Sedangkan semua yang ada di tempat itu tidak mengerti maksud dari kata kata kedua leluhur bersahabat itu .


Belum lah hilang rasa heran dan penasaran mereka , tiba tiba dari arah kuil muncul dua orang Biksu muda berlari Tergopoh gopoh menemui Biksu tetua Sun .


"Maaf guru , ke empat tamu kita sudah hadir masing masing membawa dua orang pengawal mereka , tetapi ternyata ada penyusup yang bermaksud menggagalkan acara mereka guru !" lapor Biksu muda itu kepada Biksu tetua .


"Manusia dari mana yang berani mati , hingga nekat menyusup kedalam kuil Shi Siu Sian ini !" kata Biksu tetua dengan nada marah .


Mendengar itu , Biksu leluhur dan orang tua Bu Beng Koan Jin saling pandang .


"Jangan gegabah bertindak biksu Sun , kau akan menerima cahaya kebaikan matahari itu , atau ikut terbakar panas nya , semua kau sendiri yang menentukan nya !" kata Biksu leluhur menasihati Biksu tetua .


Biksu leluhur dan orang tua bernama Bu Beng Koan Jin itu bangkit berdiri bersamaan , lalu melangkah keluar menuju kearah kuil Shi Siu Sian , di ikuti Biksu tetua dan para biksu muda lain nya .


Di halaman depan kuil itu terlihat delapan orang pengawal sedang berdiri mengurung seorang pemuda sangat tampan bersama dua orang istri nya yang cantik jelita luar biasa itu .


Bersamaan dengan mereka bertiga , masih ada seorang gadis cantik lagi yang berdiri saling membelakangi dengan kedua wanita cantik jelita tadi .


"Apa yang kau lihat sahabat ku ?" tanya Biksu leluhur kepada Bu Beng Koan Jin .


"Apa yang kalian lihat dengan mata kalian yang tidak berguna itu , bukan lah wujud sesungguh nya , ada energi luar biasa yang tersembunyi dari mata jahir kalian semua , aku melihat cahaya putih kemilau yang terang luar biasa memancar dari nya sahabat , mata hari itu benar benar sampai di kuil ini , sungguh di berkati oleh semua Dewa kuil mu ini sahabat !" jawab Bu Beng Koan Jin masih dengan omongan tidak jelas yang cuma bisa di mengerti oleh Biksu leluhur saja .


"Apakah kita lerai atau kita biarkan saja dia memilah dan memilih mana lawan dan mana kawan sahabat ?" kembali Biksu leluhur bertanya kepada sahabat nya itu .


"Mengapa harus kita lerai , cahaya Matahari itu akan memilih sendiri mana yang menerima manfaat dan mana yang seharus nya dibakar !" jawab Bu Beng Koan Jin ringan sambil mencari tempat untuk duduk menikmati pertunjukan itu .


Seolah satu pemikiran , Biksu leluhur juga duduk Disamping orang tua berpakaian aneh itu tanpa ada rasa terganggu sama sekali .


Di halaman kuil itu , Shin Liong bersama kedua orang istri nya dan gadis yang menjadi penunjuk jalan mereka itu sedang di kurung oleh delapan orang laki laki paro baya berbadan kekar serta berkepandaian cukup tinggi .


"Katakan penyusup , kau di suruh oleh siapa heh , kalau kau tidak mau mengatakan nya , jangan menyesal bila leher mu ku patahkan !" ucap salah seorang dari laki laki pengawal itu dengan suara yang di sangar sangar kan sambil sudut mata nya tidak lepas dari kedua istri Shin Liong yang cantik jelita itu .


Mungkin maksud nya , ingin menunjukan pada kedua wanita cantik jelita itu , bahwa mereka lebih gagah dari pada Shin Liong sendiri .


Sedangkan Shin Liong sendiri setelah laki laki pengawal itu tadi berbicara , dia menjadi ingat dengan suara itu , yaitu suara yang tadi malam merencanakan aksi tidak baik kepada semua yang terlibat dengan rencana empat penguasa kota itu .


Ternyata mereka semua kaki tangan penjahat yang di susup kan ke dalam lingkungan empat penguasa kota itu .


...****************...

__ADS_1


__ADS_2