
Setelah selesai membagi dua batu dan membuat prasasti baru yang sama persis rupa , bentuk , maupun tulisan nya , Shin Liong segera menyerahkan kepada Ratu Qi Xun Er agar di bawa ke negeri nya.
Tetapi ternyata batu besar itu begitu berat nya , sehingga berpuluh puluh Prajurit Negeri ko Li Nyin tidak mampu untuk menggerakkan batu sebesar gajah itu meskipun sedikit.
"Baiklah kalau begitu , kalian pulanglah terlebih dahulu , aku akan menyusul kalian setelah selesai urusan ku di negeri Tiau Nyin ini , dan batu ini biar aku yang bawa dan letakan sendiri nanti nya !" kata Shin Liong sambil mengibaskan tangan nya ,dan batu giok sebesar gajah itupun lenyap , masuk ke dalam cincin dimensi nya.
Setelah berpesta beberapa hari , akhirnya sang Ratu Qi Xun Er beserta pasukan nya segera kembali ke negeri mereka sendiri.
Sementara itu , Shin Liong dan kedua orang istri nya masih berada di negeri Tiau Nyin itu untuk beberapa hari.
...----------------...
Kita tinggalkan perjalanan Shin Liong , Putri Xuan Yi dan Dewi Ying Fa untuk sementara waktu , kita tengok nasip A Yong sebentar.
A Yong membuka mata nya perlahan , dikedip kedipkan nya mata nya sembari menatap ke sekeliling nya.
Kini dia berada di dalam sebuah ruangan batu berwarna putih terang dengan ukuran kurang lebih lima depa persegi empat kotak.
Dia mencoba mengingat semua nya perlahan lahan.
Terakhir dia minum teh bersama jendral Huang Fu Shen , lalu setelah itu dia tidak ingat apa apa lagi.
A Yong mencoba menggerakkan tubuh nya , terasa sangat lemah sekali.
Diraba nya nadi di pergelangan tangan nya , terasa tidak beraturan sekali.
Kini A Yong tahu , jika diri nya terkena racun lumpuh urat , yang membuat orang yang terkena racun itu akan kehilangan tenaga nya , dan dalam waktu lama , bila tidak di berikan penawar nya , akan mengakibatkan kelumpuhan permanen.
A Yong segera duduk bersila dan berusaha mengumpulkan hawa murni kedalam dantian nya.
Tetapi betapa terkejut nya dia , setelah dia dapati , dantian nya juga seperti lumpuh total.
Meskipun berulang ulang kali dia mencoba , tetap saja dia tidak berhasil mengumpulkan hawa murni nya, seolah olah saluran dantian nya tersumbat racun lumpuh urat itu.
"Sungguh racun yang benar benar hebat" , pikir A Yong.
Meskipun berada dalam bahaya , tetapi A Yong berusaha untuk tidak panik sedikit pun juga.
Dia ingat kembali wejangan dari sang ayah nya yang sangat sering di ucapkan oleh nya.
"Jangan pernah takut dengan kematian , karena yang kamu takutkan itu kelak pasti akan datang juga , takutlah dengan kehidupan sesudah kematian itu , karena kau tidak tahu , dengan karma buruk mu , kamu kelak akan terlahir sebagai apa , atau kemana kelak kau di tempatkan oleh Thian yang maha kuasa !"...
A Yong meskipun pernah dilatih dan diajarkan ilmu oleh eyang nya, tetapi tidak sebanyak sang ayah yang telah mewarisi semua ilmu eyang Qin.
Dia lebih banyak mendapatkan ilmu dari Dewita Yaochi Jin Mu atau Ibu Suri yang memelihara nya semenjak lahir hingga remaja , karena saat itu sang ibu nya masih sakit jiwa.
Baru setelah berjumpa dengan sang ayah lah dia menerima gemblengan dari ayah maupun ibu nya sendiri.
Jadi untuk meminta petunjuk atau menghubungi eyang nya , dia tidak memiliki kemampuan itu.
Kini A Yong harus benar benar mengandalkan diri nya sendiri.
Kini dipusatkan nya kembali konsentrasi nya , berusaha mengumpulkan hawa murni nya.
Namun betapa pun dia mencoba atau bagai manapun dia berusaha , ujung nya adalah ke sia sia an belaka.
Di penghujung harapan nya , disaat keputusasaan mulai datang menggerogoti harapan dan asa nya , tiba tiba wajah sang ayah terbayang bayang di mata nya .
__ADS_1
Senyum yang selalu terhias serta keceriaan yang selalu mendamaikan hati A Yong itu tampil di benak nya.
"Tidak !, aku bukan orang lemah , aku putra Shin Liong , pewaris dari Dewata San Qin , di darah ku mengalir darah Dewata , ayah! , beri aku petunjuk ayah !" bisik A Yong sambil mengepalkan tangan nya.
Tiba tiba wajah sang ayah terbayang di mata nya saat dia akan berangkat beberapa hari yang lalu.
"Anak ku !, simpanlah ini baik baik, ini adalah pil surgawi , pil yang tidak ada dua nya di semesta raya ini , bila kau dalam bahaya , telanlah satu butir , tetapi bila keadaan sangat parah , telanlah dua butir , jagalah pil ini baik baik !" ...
Kata kata dari sang ayah itu terngiang kembali di telinga nya saat memberikan botol kecil berisi pil surgawi kepada nya.
Di keluar kan nya botol kecil itu dari dalam cincin ruang nya , dan di letakan nya dua butir pil surgawi sebesar biji lada itu di telapak tangan nya.
Selanjut nya ,dengan sekali teguk , di telan nya ke dua butir obat itu.
Beberapa saat berlalu , masih belum ada reaksi apa apa.
A Yong terus mengatur pernafasan dengan duduk bersila .
Setalah beberapa waktu berlalu , A Yong mulai merasa ada hawa hangat berputar putar di perut nya.
Lalu hawa hangat itu berubah menjadi hawa panas dan menyebar keseluruh tubuh nya , menyusup ke segenap urat dan sumsum nya.
"Hoek !"...
Tiba tiba A Yong muntah beberapa gumpal darah berwarna hitam legam , dan berbau busuk.
Setelah muntahan nya berganti menjadi cairan bening , barulah A Yong berhenti muntah.
A Yong merasa hawa panas itu berubah menjadi sebuah energi yang sangat besar sekali , bergulung gulung di dalam tubuh nya , dan masuk kedalam dantian nya.
Begitu besar nya arus energi yang memasuki dantian nya , hingga terjadi ledakan teredam di dalam tubuh nya beruntun beberapa kali , sebagai pertanda dantian nya membesar akibat besar nya arus Qi murni yang memasuki dantian nya.
Kini A Yong tahu bahwa tingkat kultivasi nya telah meningkat dan menerobos dari tingkat Dewa Bintang menengah , menjadi naik ke Dewa Sorga menengah.
A Yong tahu bahwa sebentar lagi , dia mungkin akan menghadapi ujian dari petir kesengsaraan tingkat kesembilan , atau tingkat terakhir yang diuji oleh petir kesengsaraan.
Petir kesengsaraan tingkat sembilan adalah petir berwarna putih dengan tingkat panas yang terpanas serta terdahsyat dari petir yang lain nya.
Setelah tingkat Alam Dewa pertama ini , tingkat Alam Dewa kedua tidak lagi di uji dengan petir kesengsaraan , karena tingkatan petir nya sudah di bawah tingkatan kultivasi nya sendiri menyebabkan petir tidak lagi berguna bagi nya.
Meskipun tidak melihat dunia luar , A Yong berdiri bersiap siap menerima ujian akhir dari petir kesengsaraan tingkat sembilan itu.
Energi dari pil surgawi pun mulai bergolak didalam tubuh nya , melindungi semua organ penting di dalam tubuh nya.
"Jder !"...
Tiba tiba sebuah Sambaran petir kesengsaraan tingkat sembilan , telah menghancurkan cincin ruang milik Teng Kwan , tempat dia meletakan tubuh A Yong.
Rupanya , saat itu malam hari , dan Teng Kwan sedang tidur di dalam sebuah goa.
Tanpa di ketahui nya , pada saat yang sama , A Yong sedang menerobos ke tingkat akhir dari Alam Dewa pertama , yaitu tingkat Dewa Sorga menengah , sehingga saat petir kesengsaraan menyambar , laki laki itu sedang tertidur pulas.
Karena epek dari Sambaran petir kesengsaraan tingkat sembilan itu , cincin ruang milik Teng Kwan beserta tangan kanan nya sebatas pundak hancur lebur tak berbentuk lagi.
Masih untung tubuh nya adalah tubuh seorang Dewa muda , dan putra seorang panglima para Dewa yaitu Dewa Teng Sin.
Andai kata dia bukan Dewa muda , sudah pasti tubuh nya hancur juga terkena Sambaran petir kesengsaraan itu.
__ADS_1
Apa lagi kini di dalam tubuh nya , bercokol Kalasura sang pangeran iblis.
A Yong yang di sambar oleh petir kesengsaraan tingkat sembilan itu tetap berdiri tegak ,dan energi pil surgawi bekerja memperbaiki tubuh nya yang rusak tersambar petir itu.
Dalam waktu yang sangat singkat sekali , tubuh A Yong pun telah sehat dan kuat kembali.
"Jder !"...
Kini Sambaran yang kedua menghantam tubuh A Yong tanpa ada halangan apa apa lagi , karena goa tempat Teng Kwan bermalam itu sudah hancur lebur menjadi dataran yang rata.
Sedangkan Teng Kwan , dengan tubuh yang cuma tersisa tangan kiri itu , berlari kearah dalam hutan dan hilang di kegelapan malam.
"Jder !"...
Kini Sambaran dari petir kesengsaraan yang ketiga menghantam tubuh A Yong , sehingga tubuh remaja itu menjadi hangus seluruh nya.
Setelah beberapa saat berlalu , awan putih perak yang tadi berada diatas kepala A Yong , kini berubah menjadi berwarna ke biruan dan bersamaan dengan itu , hujan kebahagiaan pun turun dengan deras nya.
Hujan itu seperti meluruh kan semua kulit A Yong yang tadi nya gosong menjadi arang itu kini meninggalkan kulit baru yang lebih putih dan lebih halus lagi.
Wajah A Yong pun kini menjadi semakin tampan saja.
Setelah hujan berhenti , dan A Yong juga telah selesai berganti pakaian dengan pakaian kering , karena pakaian nya tadi telah hangus terkena hawa panas dari petir kesengsaraan.
Sementara menunggu pagi , A Yong cuma duduk mengatur pernafasan nya, sembari mengumpulkan hawa murni dari sekeliling nya.
Ketika pagi datang , A Yong bangkit berdiri , berolahraga sebentar dengan melatih beberapa jurus yang di ajarkan ayah nya dulu.
Setelah selesai , dia memandang ke sekeliling nya , nampak hutan lebat dan disebelah timur , nampak sebuah lembah terbentang luas.
A Yong segera melesat menuruni tebing yang tidak terlampau curam itu ke arah lembah di bawah nya.
Seperti dugaan nya , ternyata di dasar lembah itu ada sebuah sungai kecil berair dangkal sebetis.
Dengan kedua tangan nya , A Yong segera mencuci muka nya , Serta meminum air bening itu beberapa teguk.
Di sungai itu nampak banyak ikan besar besar sedang berenang di sela sela batu besar.
A Yong mengeluarkan sebilah pisau kecil panjang sejengkal , dan ber gagang emas.
Pisau ini pemberian dari putri Siaw Eng beberapa waktu yang lalu, sambil meminta A Yong agar menjaga pisau itu baik baik , agar pemuda itu selalu mengingat diri nya.
Dengan pisau itu , A Yong menajamkan sebuah ranting bambu kecil seperti tombak , lalu dengan tombak sederhana itulah dia mencari ikan.
Sebentar saja , ikan mas sebesar betis dia dapatkan tiga ekor.
Untuk membuat api , A Yong cukup menggesekkan pisau nya ke bebatuan yang keras , dan percikan api pun tercipta.
Setelah beberapa saat kemudian , di tengah hutan itu tercium aroma ikan bakar yang membuat perut terasa lapar seketika.
Sambil memakan ikan mas yang di bakar nya tadi , A Yong memikirkan kemana arah yang harus dia tuju untuk menuju ke lembah tempat kota raja berada.
Perlu di ingat , bahwa hingga saat terakhir ini , A Yong masih mengira dia berada di Dunia yang dulu dia tempati bersama keluarga nya.
...****************...
Terimakasih atas dukungan kalian semua nya , meskipun dalam keterbatasan mata author yang masih dalam perawatan (rawat jalan), author berusaha bertanggungjawab menuntaskan cerita ini sesuai dengan rangka yang telah author rencanakan .
__ADS_1
"Salam sayang untuk kalian semua nya !".