Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Kaisar Mangkat.


__ADS_3

Shin Liong yang kini telah berubah menjadi nona kepala pelayan istana itu, berjalan keluar dari dalam rumah nya, menuju ke arah istana sang Kaisar Chen Tio Liang tinggal.


Para prajurit yang kebetulan berpapasan dengan nona kepala pelayan itu, menyapa nya dengan heran.


"Selamat siang nona Ni Hou, tumben ini belum tengah hari, sudah mau memberikan obat untuk sang Kaisar?" tanya prajurit itu.


Nona ni Hou menatap kearah prajurit itu dengan mata melotot, "mana aku tahu, siang kek, tengah hari kek, malam kek, bila sang pangeran menyuruh, pasti akan ku kerjakan, masalah kenapa nya, aku tidak tahu, tanya saja sendiri kepada sang pangeran!"...


Mendengar perkataan dari nona kepala pelayan itu, prajurit itu bergidik ngeri, untuk bertanya kepada sang pangeran, jangankan mendapat jawaban, yang ada dapat bogem mentah iya.


Ketika nona kepala pelayan itu berlalu masuk kedalam istana dengan membawa nampan emas berisi botol obat dan air putih itu, barulah para prajurit itu bernafas lega.


"Kenapa dengan nona kepala pelayan itu hari ini ya, biasa nya, dia paling genit,hari ini kok judes?" tanya prajurit yang tadi.


Teman nya mengangkat bahu, "entah lah, mungkin lagi dapet ya, jadi nya rada judes!"...


Nona Ni Hou terus melangkah tanpa ragu ragu, meskipun berpapasan dengan para pelayan lain nya, tetapi tidak ada satu orang pun dari para pelayan itu yang berani menegur nya, sebagian malahan ada yang menghindar ke tempat lain, pura pura tidak tahu saja.


Seperti yang Shin Liong dengar tadi, ternyata kini penjagaan di depan kamar sang kaisar sudah di tiadakan sama sekali, sehingga dengan melenggang bebas tanpa pertanyaan ini itu lagi, Shin Liong yang kini seperti kepala pelayan istana itu,masuk kedalam kamar sang Kaisar.


Setelah masuk kedalam kamar utama sang Kaisar, Shin Liong kembali mengambil bentuk asli diri nya sendiri, sambil menutupi se isi kamar dengan tirai gaib punggung kura kura, agar suara dari dalam, tidak terdengar siapapun dari luar.


Di atas tempat tidur, nampak Kaisar tidur terlentang dengan wajah sangat pucat,dan bibir kehitaman sebagai pertanda orang yang terkena racun ganas.


Shin Liong meraba nadi sang Kaisar, masih ada, tetapi sangat lemah, sedangkan nafas nya pun tinggal satu satu saja lagi, seperti nya apa yang dikatakan jendral itu benar, kematian sang kaisar sudah tinggal menunggu waktu saja lagi.


Shin Liong Mengambil pil surgawi dua butir dari dalam cincin penyimpanan nya, dan memasukan kedua butir pil itu kedalam mulut sang Kaisar, lalu mendudukkan tubuh sang Kaisar, serta mengurut di beberapa bagian tenggorokan sang kaisar itu.


Setelah pil itu meluncur masuk kedalam perut Kaisar, selanjut nya Shin Liong segera menyalurkan hawa murni kedalam tubuh Kaisar.


Perlahan lahan, bibir kaisar yang tadi menghitam, kini kembali memerah, begitu juga dengan wajah nya, yang tadi pucat pasi, kini mulai memerah juga.


Setelah beberapa saat Shin Liong menyalurkan hawa murni kedalam tubuh sang Kaisar, akhirnya dia pun mengakhiri nya, lalu meraba nadi sang Kaisar.


Bibir Shin Liong tersenyum gembira, kini detak nadi sang kaisar kembali seperti sedia kala lagi.


Mata sang kaisar tiba tiba terbuka, menatap langit langit sejenak, seperti mengumpulkan semua ingatan nya.


Sang Kaisar menoleh kearah Shin Liong yang masih duduk diatas kursi menatap kearah sang Kaisar.


Sang Kaisar perlahan duduk di sisi tempat tidur, sambil bahu nya menggigil seperti menahan sesuatu.


Shin Liong yang tahu apa yang terjadi, segera mengambil bokor terbuat dari perunggu berukir, sepesial tempat kaisar berludah.

__ADS_1


"Hoek!"...


Tiba tiba sang kaisar memuntahkan beberapa gumpal darah hitam berbau busuk kedalam bokor perunggu itu.


Sang kaisar terus muntah, hingga yang terakhir, muntah air bening, saja, barulah dia berhenti muntah.


Muntahan sang kaisar di dalam bokor perunggu itu tiba tiba mendidih seperti minyak panas.


Setelah beberapa saat muntahan sang kaisar mendidih di dalam bokor perunggu itu, tiba tiba bokor perunggu nya mulai meleot seperti perunggu dipanaskan diatas tungku pandai besi.


Bokor yang meleot itu akhirnya menggumpal sebesar kepalan tangan, mengeluarkan asap beberapa saat, lalu lenyap menjadi abu yang teronggok di lantai.


Shin Liong bersimpuh didepan sang kaisar yang kini duduk bersimpuh diatas tempat tidur nya,untuk mengatur gejolak hawa murni yang memasuki tubuh nya dengan sangat deras nya.


Setelah terjadi ledakan teredam di dalam tubuh sang Kaisar, kini tingkat kultivasi nya melonjak ketingkat Dewa Bumi sempurna.


"Syukurlah tuan ku sudah terbebas dari racun kerak neraka itu tuan ku, dan kini tingkat kultivasi tuan ku pun naik drastis ketingkat Dewa Bumi sempurna!" kata Shin Liong gembira melihat kesembuhan sang Kaisar.


"Anak muda, terimakasih atas pertolongan mu anak muda, saya dan negara ini berhutang jasa kepada mu anak muda, siapakah nama mu, agar aku dan seluruh rakyat ku kelak bisa mengingat mu?" tanya sang Kaisar.


Shin Liong kembali bersimpuh di hadapan sang kaisar.


"Ampun tuan ku, hamba cuma seorang pengembara biasa, nama hamba Shin Liong, dan kebetulan hamba bertemu dengan tuan muda pangeran Chao Kai, dialah yang mengajak hamba kesini tuan ku, dan sesungguh nya tuan ku di racun oleh pangeran Chi You, seperti juga sang putra mahkota, untung hamba bisa menolong tuan ku berdua!" jawab Shin Liong.


"Terimakasih tuan ku, bukan itu tujuan hamba, hamba senang dan bahagia bila tuan ku bisa sembuh seperti sedia kala nya!" kata Shin Liong tidak ingin di sanjung berlebih lebihan.


"Tidak!, tidak anak ku, ini keputusan ku, keputusan seorang kaisar, dan berlaku mulai saat ini, mulai saat ini pula, kau tidak boleh memanggil ku seperti itu, panggil aku ayahanda!" perintah sang Kaisar.


Shin Liong bersimpuh didepan sang Kaisar, "Baiklah bila itu kehendak ayahanda, hamba bisa apa?, ayahanda, bila ayahanda ingin menjebak para pelaku penghianat itu, hamba punya satu obat yang bisa membuat ayahanda nampak seperti benar benar mati, denyut nadi dan jantung pun tidak bekerja, dan ayahanda bisa bangkit kembali seperti semula, cuma dengan menghimpun hawa murni, dan membuyarkan hawa obat yang hamba beri, itu bila ayahanda percaya kepada saya!" kata Shin Liong .


"Anak ku, aku percaya kepada mu, bila saja kau bermaksud tidak baik kepada ku, tidak mungkin kau mengobati diri ku, lakukan lah nak!"kata sang kaisar kepada Shin Liong.


"Ayahanda, agar sandiwara kita berhasil, gosoklah wajah dan bibir ayahanda dengan bunga ini, agar kembali terlihat pucat ke hitaman kembali, setelah itu, barulah ayah minum pil ini, sebenar nya pil ini berguna untuk mengistirahatkan jantung selama beberapa waktu, tetapi bisa juga untuk mengelabui orang lain, tetapi jangan khawatir, kesadaran ayahanda tetap terjaga, hingga bila satu saat ayahanda ingin kembali seperti semula, tinggal himpun hawa murni untuk membuyarkan hawa bius ini, dan ayah akan kembali seperti sedia kala" kata Shin Liong sambil memberikan sekuntum bunga berwarna merah kepada sang Kaisar.


Sang Kaisar menerima bunga itu dan menggosok di seluruh wajah nya, hingga terlihat kembali pucat ke biru biru an.


Setelah itu, Shin Liong memberikan sebutir pil kecil kepada sang Kaisar.


Sang Kaisar menerima nya, dan menelan pil itu tanpa rasa ragu ragu.


Setelah menelan pil itu, sang kaisar berbaring kembali diatas tempat tidur seperti semula, dan perlahan lahan, denyut nadi nya semakin melemah, hingga akhirnya hilang sama sekali.


Shin Liong kembali merubah bentuk tubuh nya menjadi nona Ni Hou, lalu keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Shin Liong yang kini berubah seperti Ni Hou itu, berjalan kearah rumah kediaman nya.


Di dalam rumah itu, nona Ni Hou palsu itu berubah menjadi Weng Taoli kembali, lalu menarik tubuh nona Ni Hou asli, dan meletakan nya di atas tempat tidur.


Setelah semua nya selesai, Weng Taoli palsu itu keluar dari rumah kepala pelayan itu, dan melanjutkan pekerjaan nya bersama Weng Tao dan kakek Weng .


Sore hari ketika matahari tinggal sepenggalah di ufuk barat, semua pekerja kebun dan taman istana pulang semua nya ke rumah masing masing.


Baru saja mereka selesai mandi, tiba tiba terdengar suara tabuhan di pukul berkali kali, dan suara lantang seorang prajurit berteriak.


"Perhatian!, perhatian!, yang mulia sang Kaisar Chen Tio Liang sore ini telah mangkat!"...


"Perhatian!, perhatian!, yang mulia sang Kaisar Chen Tio Liang sore ini telah mangkat!"...


"Perhatian!, perhatian!, yang mulia sang Kaisar Chen Tio Liang sore ini telah mangkat!"...


Mendengar itu, nampak wajah Weng Tao atau pangeran Chen Chao Kai menjadi pucat pasi, dan tubuh nya tiba tiba lemas tanpa tenaga lagi.


"Ayah!, maafkan aku ayah, aku tidak sempat membawa tabib kepada mu, aku putra yang tidak berbakti ayah!" ratap pangeran Chen Chao Kai berderai air mata nya.


"Sabarlah kak, aku yang salah, aku tidak sempat mengobati yang mulia!" kata Shin Liong dengan suara bergetar.


"Tidak apa apa adik, semua sudah di atur Tian yang maha Agung, kita sudah berusaha semaksimal mungkin, kau tidak bersalah, bukan kah tadi pagi kau lihat, keadaan ayah ku memang sudah sangat parah, bibirnya saja sudah membiru!" ucap pangeran Chen Chao Kai berusaha berbesar hati.


"Lalu apa tindakan kita sekarang kakak?" tanya Shin Liong.


"Aku akan kembali ke istana adik, aku tidak akan memaksa mu untuk ikut serta, karena ini memang sangat berbahaya, musuh berada di mana mana, aku cuma mau mendampingi ayahanda sebagai putra mahkota untuk terakhir kali nya, itu saja, tidak ada niatan yang lain!" jawab pangeran Chen Chao Kai pasrah.


"Aku sebenar nya ingin bersama mu kakak, tetapi aku malam ini ingin pergi menemui para jendral yang sudah di pecat itu, aku ingin tahu bagai mana pendirian mereka, sesudah itu, aku akan mencari mu kakak, pergilah besok pagi ke istana, dan aku akan menyusul mu, bila urusan ku telah selesai!" kata Shin Liong lagi.


Kini Shin Liong kembali menjadi diri nya sendiri, jati diri nya yang asli.


Ketika malam mulai turun, Shin Liong keluar dari gang kecil itu berjalan menuju ke arah kediaman jendral Beng Bo Antiong.


Rumah sang jendral tua itu cuma di jaga oleh beberapa orang prajurit saja, seolah olah itu bukan tempat kediaman seorang jendral.


Di depan gerbang, Shin Liong dilarang oleh para prajurit jaga untuk menemui sang jendral tua itu, tetapi setelah memaksa beberapa kali, akhirnya dia diperbolehkan untuk menemui sang jendral tua itu.


Awal nya sang jendral nampak heran melihat kedatangan Shin Liong ketempat kediaman nya itu.


Tetapi setelah ber basa basi, akhir nya, sang jendral pun terkesan dengan penampilan dari Shin Liong itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2