
A Yong berjalan di depan gerbang kediaman jendral muda Ming Cen Du , mengikuti beberapa pemuda lain nya yang juga kebetulan sedang menunggu giliran untuk di persilahkan masuk .
Sebenarnya tidak ada niatan di dalam hati nya untuk mendaftar sebagai Prajurit , tetapi entah mengapa , langkah kaki nya mengikuti para pemuda yang berjejer di jalan itu .
"Hei !, kau masuk , giliran mu sekarang !" teriak Prajurit penjaga gerbang .
Dengan agak gelagapan , A Yong mengayunkan langkah kaki nya memasuki gerbang kediaman sang jendral muda itu .
Ternyata halaman rumah sang jendral itu , begitu luas , dengan sebuah bangunan bertingkat dua menghadap kearah selatan , berdiri sangat megah , seperti sebuah istana .
Beberapa orang pemuda yang sudah di nyatakan lulus seleksi , menatap kearah A Yong sambil tersenyum sinis .
Memang Dimata siapapun , A Yong cuma seorang anak muda yang bermodalkan wajah sangat tampan saja , tanpa ada kelebihan tingkat kultivasi nya .
Hal ini terjadi , karena semenjak kecil , sama seperti sang ayah , anak muda ini sudah di sembunyikan tingkat kultivasi nya oleh sang eyang nya , yaitu kakek Qin .
Bagai manapun , orang melihat tingkat kultivasi nya masih berada di tingkat Alam Taruna menengah saja , dimana tingkatan ini adalah tingkatan kedua paling dasar , dan biasanya di miliki oleh para anak muda yang baru belajar silat .
Seorang laki laki gagah bertubuh tinggi tegap dengan kulit putih bersih menatap kearah A Yong dengan tatapan mata yang merendahkan serta tidak memandang sedikit pun .
Laki laki itu adalah bawahan atau boleh di bilang orang kepercayaan dari sang jendral muda yang bernama Pang Ti Kong atau biasa di panggil Pang Ciangkun (perwira Pang) .
"Apakah kau ingin menjadi Prajurit juga anak muda ?" tanya Pang Ciangkun sambil kembali menatap kearah A Yong , mencoba memindai tingkat kultivasi nya .
Tetapi berapa kali pun dia mencoba memindai nya , yang dia lihat cuma tingkat dasar kedua saja .
"Dengan tingkatan mu sekarang ini , apa yang bisa kau lakukan seandainya kau berhadapan dengan musuh ?" tanya Pang Ciangkun tersenyum mengejek .
"Bersujud memohon pengampunan sambil terkencing kencing di celana Ciangkun !" sahut salah seorang pemuda yang di iringi oleh derai tawa seluruh pemuda lain nya di tempat itu .
A Yong tidak menanggapi penghinaan itu , dia cuma ikut tertawa melihat tingkah congkak para calon Prajurit itu .
"Sudah !, sudah !, berhenti tertawa , sekarang peragakan kepada ku bagai mana kuda kuda bertahan !" kata Pang Ciangkun sambil tersenyum merendah kan .
A Yong sengaja bertindak sekena nya saja , karena dia ingin tahu , bagai mana tindakan dari perwira Pang itu .
Melihat kuda kuda dari A Yong yang seperti orang tidak pernah berlatih silat , seluruh pemuda yang ada ditempat itu tertawa riuh menyaksikan .
Dengan senyum mengejek dan merendahkan , Pang Ciangkun mengambil ancang ancang untuk menendang kaki A Yong yang terlihat asal asalan itu .
Perwira ini ingin mempermalukan A Yong di depan para pemuda itu , sekaligus menunjukan bahwa dia lebih hebat di tempat itu .
"Prak !"...
Terdengar suara berderak sangat nyaring , saat kaki Pang Ciangkun mengenai kaki A Yong .
Semua orang mengira kaki A Yong sudah patah menjadi dua , tetapi mereka malah dibuat melongo , karena teriakan dan jeritan nyaring justru keluar dari mulut Pang Ciangkun ini , sambil berdiri dengan kaki kiri , sedangkan kaki kanan yang tadi dia gunakan untuk menendang A Yong , kini terlihat terlipat dua , seperti kain yang di lipat .
__ADS_1
Sedangkan anak muda yang terlihat tidak memiliki kebisaan apa apa itu , masih berdiri seperti semula , tanpa bergeser bahkan tergetar pun tidak .
Kini suara tawa mereka berhenti , dan mata seluruh pemuda itu terbelalak ngeri .
Mereka tahu , sudah ada beberapa pemuda yang keluar dari tempat itu dengan kaki patah oleh Pang Ciangkun ini .
Tetapi kini Pang Ciangkun terkena batu nya , justru kali ini , kaki nya sendiri yang patah menjadi dua bagian hingga bisa dilipat seperti kain .
Melihat hal yang menimpa Pang Ciangkun , beberapa orang Prajurit segera menggotong nya masuk kedalam rumah kediaman Ming Goanswe (Jendral Ming).
Sedangkan dua puluh orang Prajurit khusus yang lain nya , segera mengurung A Yong .
"Hei anak muda , kau harus menyerah untuk kami tangkap , karena telah melukai Pang Ciangkun , cepat menyerah lah atau tubuh mu akan kami cincang !" teriak salah seorang dari Prajurit itu .
"Ha ha ha ha, kalian cuma kroco kroco penghianat negara yang tidak pantas untuk diberi kehidupan , kalian makan dari tail yang di berikan oleh sang Kaisar , tetapi di belakang , kalian diam diam berencana untuk menumbangkan Kaisar dengan bekerja sama dengan negeri Sian Tan , itukah sikap seorang ksatria ?" terdengar suara lantang dari mulut A Yong .
Para Prajurit saling pandang dengan muka yang pucat pasi .
"Cepat bunuh anak muda itu , mulut nya tajam , bisa bisa membahayakan kita semua !" teriak salah seorang dari para Prajurit itu .
Para Prajurit itu segera bergerak mengurung A Yong dengan pedang terhunus semua nya .
Namun dengan sekali bergerak berkelebat , puluhan orang Prajurit yang tadinya mengepung diri nya itu tiba tiba terdiam kaku di posisi mereka masing masing , terkena totokan dari A Yong yang bergerak sangat cepat dengan mempergunakan jurus Dewa Dewi nya .
Puluhan pemuda yang tadi nya menertawai A Yong , kini terdiam membisu .
Sambil bergerak , tentu saja A Yong melihat dan mengenal kedua orang laki laki paro baya yang tadi malam bicara di bawah pohon , dan kini berada di belakang barisan para pemuda yang di nyatakan lulus seleksi .
Tiba tiba dari dalam rumah kediaman sang jendral terdengar bentakan nyaring , "berhenti , siapa yang sudah berani membuat keributan di tempat kediaman ku ini heh , cari mati ya ?" ...
Belum lagi gema suara itu hilang , di hadapan A Yong berdiri seorang laki laki muda seumuran tiga puluh lima tahun , berwajah tampan .
Laki laki yang tidak lain dari Jendral Ming Cen Du itu menatap kearah A Yong dengan tatapan yang sangat tajam sekali , seakan akan laki laki itu ingin melihat seluruh isi hati A Yong .
Berkali kali dia memindai tubuh A Yong , namun yang dia lihat cuma tubuh seorang anak muda enam belas tahun dengan tingkat kultivasi di ranah Alam Taruna menengah saja .
Sang Jendral itu heran , bagai mana cerita nya , hingga Pang Ti Kong cidera berat karena anak muda ini .
"Hei siapa kau anak muda , dan apa tujuan mu memasuki tempat kediaman ku ini ?" tanya sang jendral itu sambil menatap kearah A Yong dengan tatapan yang tajam .
"Nama saya A Yong , dan saya kebetulan lewat tempat ini ,melihat banyak pemuda masuk ketempat ini , saya iseng iseng ikut masuk , ternyata ada ujian masuk ke Prajuritan , dan anak buah mu itu tahu tahu menendang kaki ku !" jawab A Yong santai .
"Hm !, kau sudah memasuki tempat ini , maka tidak ada jalan keluar bagi mu , menyerahkan diri secara sukarela atau kutangkap dan ku paksa menyerah , pilihan terserah kepada mu !" kata sang jendral dengan keyakinan tinggi dengan kemampuan nya sendiri .
A Yong menanggapi gertakan sang jendral itu dengan tersenyum simpul .
Tingkat kultivasi sang Jendral memang tinggi untuk orang se tataran nya , yaitu berada di ranah Dewa langit menengah , tetapi masih terpaut jauh dengan A Yong yang sudah berada di ranah Dewa Bintang menengah .
__ADS_1
"Engkau adalah seorang jendral , kau pilih sendiri hukuman yang pantas untuk ku , tetapi perlu kau ingat , aku tidak bakalan menyerahkan nyawa ku kepada para pengkhianat busuk seperti kalian ini !" tantang A Yong dengan senyuman sinis nya .
"Hm , rupanya kau banyak tahu tentang aku anak muda , kini tidak ada lagi alasan ku untuk berlaku sungkan kepada mu !" kata sang jendral sambil melayangkan serangan kepada pemuda di hadapan nya itu .
Gerakan dari sang Jendral itu sangat cepat dan bertenaga penuh , sehingga bisa dipastikan , bila terkena serangan nya , nyawa bisa pindah alam jadi nya .
Tetapi kali ini yang dia lawan adalah Shin Yong , seorang anak muda dengan tingkat kesaktian yang tinggi , setingkat dengan Dewa muda .
Meskipun serangan dari sang Jendral sudah termasuk serangan paling cepat serta paling berbahaya , tetapi di mata A Yong , serangan itu masih terlalu lamban .
Sambil menghindar ke kanan , dengan kecepatan luar biasa , kaki A Yong bersarang di pantat sang Jendral , membuat tubuh sang jendral terbang sejauh sepuluh depa , dan mendarat dengan kedua kaki nya .
Sambil mulut nya menyumpah serapah , sang jendral mengeluarkan pedang nya , lalu menyerang ke arah A Yong dengan serangan yang cepat dan sangat berbahaya sekali .
Namun A Yong dengan tenang , menghindari serangan dari sang jendral dengan berkelit ke kanan dan ke kiri .
Beberapa kali sang Jendral melepaskan pukulan jarak jauh nya , cahaya merah ke kuningan ber desingan di sekitar tubuh A Yong .
Beberapa diantara cahaya itu lepas dan menghantam pohon Tao hingga hancur berderak .
Namun sejauh ini , belum ada satupun dari pukulan jarak jauh itu yang berhasil menyentuh tubuh A Yong sedikit pun .
Sang jendral yang penasaran , mengira jika A Yong sebenar nya tidak memiliki energi besar , tetapi memiliki ilmu yang bisa membuat tubuh nya berpindah pindah tempat , semacam dimensi ruang waktu .
Karena keyakinan nya itu , sang jendral memancing A Yong agar mau menahan pukulan jarak jauh nya itu .
"Cuih !, kukira kau memiliki ilmu yang cukup tinggi untuk bisa melawan aku , ternyata nya cuma pemilik ilmu ruang waktu saja sudah berlagak didepan ku , ayo tahan pukulan jarak jauh ku ini bila kau memang hebat anak muda !" hasutan sang jendral agar A Yong mau membenturkan pukulan nya , kepada pukulan sang jendral .
"Begitu kah ?, baiklah kalau begitu , asal kau jangan menyesal saja !" jawab A Yong sambil bersiap siap menerima energi pukulan jarak jauh dari Jendral Ming Cen Du .
Bukan main girang nya hati jendral Ming Cen Du merasa hasutan nya berhasil kepada anak muda itu .
"Memang anak muda bodoh !, cepat sekali terpancing hasutan lawan , dan tidak ada waktu lagi untuk kau menyesali nya !"...pikir sang jendral , sambil mengerahkan seluruh energi nya .
Dia ingin dengan sekali pukul , tubuh A Yong akan meledak berkeping keping .
Jendral itu berniat memperlihatkan kehebatan nya kepada seluruh yang hadir , agar semua Prajurit maupun calon Prajurit itu takut kepada nya .
Sementara itu , A Yong mempergunakan tiga perempat dari energi nya , untuk menghadapi sang jendral .
Awal nya energi dari A Yong tidak nampak keluar , saat sang jendral melepaskan pukulan nya , seolah olah anak muda ini belum siap melawan sang jendral .
Hal itu membuat hati sang Jendral menjadi semakin girang sekali , karena yakin bisa mengalahkan lawan nya dengan sekali pukul .
Tetapi ketika telapak tangan dari Jendral Ming Cen Du tinggal beberapa jari dari tubuh A Yong , mendadak terlihat jika energi dari A Yong naik secara cepat dan mendadak sekali , membuat sang jendral tidak ada waktu lagi untuk menarik kembali energi pukulan nya .
...****************...
__ADS_1