
Dua ekor kuda itu berlari menarik sebuah kereta .
Dibelakang nya , terdapat sebuah kereta lagi yang ditarik oleh dua ekor kuda pula .
Kali ini , Dewi Xuan Yi yang bertindak sebagai kusir kereta , sedangkan di belakang nya , terlihat Shin Liong bersandar di bahu Dewi Chang 'e sambil memejam kan mata nya .
Sesekali tangan Dewi Chang 'e menyibak rambut yang terurai di dahi Shin Liong karena tertiup angin .
Nampak sekali , jika sang Dewi ini sangat menyayangi putra semata wayangnya ini .
Dipangkuan nya , nampak pangeran kecil berbaring berbantalkan paha Dewi Chang 'e .
"Apa yang mengganggu pikiran mu sayang ?" tanya Dewi Chang 'e pada putra nya itu .
"Ah tidak ibu , Liong tidak memikirkan apa apa " kilah Shin Liong .
"Kau tidak bisa berdusta pada ibu mu ini nak , katakan kepada ibu mu ini sayang , apa beban pikiran yang meresahkan kamu nak ?" kata Dewi Chang 'e lagi .
"Iya Bu , Liong bingung , sampai kapan kita bisa melindungi sang pangeran kecil ini , tidak mungkin kan kita mengawal nya terus kemana mana " kata Shin Liong menjelaskan kebingungan nya .
Dewi Chang 'e tersenyum menoleh kearah putra tersayang nya itu , "Liong lupa ya ?, di dunia ini masih ada satu tempat , dimana tidak ada seorangpun yang bisa kesana " ...
"Di mana itu Bu ?" tanya Shin Liong antusias .
"Apakah Liong lupa dimana liong dulu di jaga dan di besarkan oleh kakek mu ?" tanya Dewi Chang 'e lembut .
Dibenak Shin Liong kini terbayang , kenangan masa kecil , dimana dulu dia hidup berduaan dengan kakek nya di Dunia dimensi , di dalam sebuah goa di Utara Sian Tao .
"Ya ya Liong ingat Bu , pondok kakek Qin di tepi Danau itu , ibu benar , disanalah satu satu nya tempat yang paling aman bagi sang pangeran kecil " ujar Shin Liong bersemangat .
"Kau bisa mengantarkan kami kesana nak !" ujar Dewi Chang 'e pada Shin Liong .
"Liong ingat Bu , di sebelah kota Sian Tao , tepat nya di gunung Sian Tao , ada sebuah perguruan silat yang cukup besar yang bernama perguruan silat Rajawali emas , dan patriak nya adalah teman dari ayah mertua Liong , sementara kita ke pondok kakek , mereka bisa kita titipkan di perguruan itu " kata Shin Liong bersemangat .
Kereta kuda itu terus melaju membelah hutan rimba di kiri dan kanan jalan utama , tidak jarang mereka harus turun dari kereta untuk menyingkirkan pohon yang tumbang menghalangi jalan .
Setelah berhari hari di jalanan , maka pada satu siang , mereka memasuki kota Tao dari gerbang selatan kota .
Kota Tao , meskipun bukan kota yang sangat besar , tetapi sangat ramai , karena berada di persimpangan jalan antara kota Sian Tao di Utara dan kota Famoa di selatan , kota Min Tao di timur dan kota Li Cuan di barat .
Dikota Tao inilah Dewi Chang 'e semasa terlahir sebagai Xue Bao Yu putri dari Xue Bai Dong hidup berumahtangga dengan seorang pemuda yang bernama Zhang Yong Kai dan memiliki putra Shin Liong sekarang .
Sebenar nya Shin Liong memiliki She atau marga Zhang dari ayah kandung nya , tetapi karena semenjak bayi merah , pemuda Zhang bersumpah agar tidak ada seorang pun yang memanggil bayi kecil Shin Liong sebagai She Zhang , maka waktu itu orang cuma mengenal Shin Liong sebagai Bao kecil .
__ADS_1
Dalam adat istiadat negeri yang sudah turun temurun , bila seorang anak dilarang menggunakan marga ayah nya , berarti anak tersebut anak terbuang atau di buang dari keluarga , dan tidak lagi memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga nya , serta pihak ibu boleh memberikan marga nya kepada sang anak bila disetujui oleh pihak kepala keluarga , tetapi bila tidak , maka tidak boleh ada seorang pun yang memanggil dengan marga , karena dianggap sudah terhapus dari keluarga dan di anggap Ji Lola (Anak tanpa sanak keluarga) .
Shin Liong menghirup udara kota Tao dalam dalam , seakan ingin memasukan semua kenangan masa kecil nya dulu .
Di depan sebuah rumah besar namun terlihat kusam dan tidak terawat , kereta berhenti sejenak .
"Nak inilah rumah keluarga Zhang , dahulu rumah ini salah satu rumah yang terbaik di kota Tao ini , di sini pula Xue Bao Yu pernah hidup bersama Zhang Yong Kai sebagai suami istri dan berhasil membuat kau terlahir ke Dunia ini nak , tetapi Ibu tidak di takdirkan dapat mendampingi mu sayang , dan keluarga mu , semua nya tidak menghendaki dirimu hadir di Dunia ini , ayah mu telah bersumpah , bahwa kau tidak boleh menggunakan marga Zhang !" kata Dewi Chang 'e berlinangan air mata .
"Aku tidak di kehendaki dua keluarga ini Bu , dan aku berjanji tidak ingin memakai marga siapa pun juga , aku masih bisa hidup meskipun tanpa kerabat , sekarang , meskipun Liong ditawari untuk masuk keluarga mereka , Liong tidak kepingin Bu!" kata Shin Liong dengan nada sedih .
Melihat kesedihan Diwajah sang suami , Dewi Xuan Yi dan Dewi Ying Fa segera memeluk tubuh suami nya itu .
"Kakak tidak boleh bersedih , kan ada kami , kakak Yu , adik Fa , A Yong , ibu semua nya adalah keluarga kakak " kata Dewi Xuan Yi .
Shin Liong tersenyum melihat istri istri nya itu , benar , merekalah keluarga yang sebenar nya , yang siap berbagi suka dan duka , serta sedih dan gembira .
Seorang pelayan tua keluar dari gerbang rumah yang nampak tidak terurus lagi itu .
Dewi Chang 'e turun dari kereta , dan berjalan menghampiri wanita tua itu .
"Bi , bukankah ini rumah keluarga Zhang yang sangat terkenal itu ?" tanya nya .
Wanita itu menatap kearah Dewi Chang 'e , lalu menggosok gosok mata nya , "kau benar nak , dulu ini milik keluarga Zhang yang terhormat itu , tetapi semenjak kematian tuan besar Zhang sewaktu ada festival kebudayaan di kota raja bertahun tahun yang lalu , keluarga ini terus merosot , sehingga tuan muda Zhang pun akhirnya meninggal karena penyakit kotor akibat sering gonta ganti wanita , membuat keluarga ini semakin terpuruk dan menjadi hujatan masyarakat , kini dari keluarga ternama , keluarga Zhang jatuh ke pada keluarga paling melarat di kota ini , rumah ini sudah lama dijual , sedangkan nyonya besar , pindah ke pinggiran kota bersama Wang Ju Jian yang di buang suami nya !" kata wanita tua itu menjelaskan .
Kembali Shin Liong menarik nafas nya dalam dalam , " sudahlah Bu , keluarga sudah diputus , aliran darah sudah di hentikan , kita bisa apa Bu , meskipun langit merayap , kitab kitab tidak akan merubah ayat nya " ...
"Lalu kenapa bibi masih berdiam ditempat ini ?" tanya Dewi Chang 'e .
Wanita tua itu menatap Dewi Chang 'e sekali lagi .
"Maaf nak , wajah mu mengingatkan ibu pada wajah seseorang , tetapi orang itu sudah lama meninggal , bibi tinggal disini semenjak tuan besar menikah dengan nyonya besar , dan rumah ini merupakan warisan dari mertua nya , itulah yang membuat bibi berat meninggalkan rumah ini , biarlah bibi merawat rumah ini , hingga akhir hayat bibi nak !" kata wanita tua itu .
Setelah memberikan sejumlah Tail emas untuk wanita tua itu , Dewi Chang 'e segera naik ke dalam kereta nya kembali .
Malam itu , rencana nya , mereka akan menginap di sebuah rumah penginapan yang cukup terkenal di kota Tao .
Karena takut tidak kebagian kamar , siang siang mereka sudah pesan kamar terlebih dahulu di sebuah rumah penginapan .
Karena kebiasaan kota Tao ini , bila sudah sore hari , kamar kamar sudah pada habis semua .
Karena hari masih terlalu siang , maka Dewi Teratai putih mengajak Shin Liong dan keluarga nya untuk berjalan jalan di alun alun kota Tao , tempat semua masyarakat kota Tao bersantai , menantikan sore hari .
Di bawah pohon yang sangat rindang , mereka beristirahat sejenak sambil berbaring diatas rerumputan .
__ADS_1
Seorang wanita cantik bersama dua orang teman nya , turun dari kereta dan berjalan kearah bawah pohon rindang bersebelahan dengan pohon tempat Shin Liong istirahat .
Dari sikap nya , terlihat jelas jika dia wanita kaya raya dan terhormat , karena tidak jauh dari tempat itu , terlihat beberapa pengawal sedang mengikuti wanita cantik itu dari kejauhan .
Salah seorang dari wanita itu menatap kearah rombongan Shin Liong yang juga ber istirahat tidak jauh dari tempat mereka .
Setelah menatap kearah rombongan Shin Liong beberapa lama , akhirnya wanita cantik itu memberanikan diri nya mendekati rombongan Shin Liong .
"Ehm !, maaf , apakah kau Dewi Nuwa ?" tanya nya .
"Ah iya iya , saya Dewi Nuwa , nona siapa ya ?, kok saya seperti pernah bertemu dengan nona ?" tanya Dewi Teratai putih bingung .
"Saya Wang Shi Er , teman Shin Liong dahulu , mana Shin Liong ?" tanya wanita yang ternyata Wang Shi Er itu .
Ingatan Dewi Teratai putih kembali berputar ke masa bertahun tahun yang silam , waktu dia dan Shin Liong memulai pengembaraan nya dahulu , saat bertemu dengan Wang Shi Er , serta bagai mana Wang Bau Qi ayah Wang Shi Er mencoba merayu nya .
Dewi Teratai putih menunjuk kearah Shin Liong yang sedang berbaring di samping nya , dengan berbantalkan paha Dewi Teratai putih .
"Ini Shin Liong !" tunjuk nya kearah Shin Liong .
Mata Wang Shi Er terbelalak melihat seorang pemuda yang sangat tampan berbaring di samping Dewi Teratai putih itu .
"Haah ?, bukan kah Shin Liong ...eh...a anu , eh enggak !" kata Wang Shi Er gugup .
Maksud mu Shin Liong itu jelek serta agak mengerikan tubuh nya ?" tanya Dewi Teratai putih sambil tertawa .
Wang Shi Er tidak bisa berkata kata , cuma mengangguk saja .
"Kami pergi dahulu itu , justru untuk mencari obat bagi penyakit nya , dan sekarang dia sudah sembuh , inilah rupa yang sesungguh nya dari Shin Liong yang kau kenal dahulu !" kata Dewi Teratai putih menjelaskan .
Shin Liong membuka mata nya , dan duduk bersandarkan pohon Tao .
"Shi Er ?, ah akhirnya kita bisa bertemu lagi ditempat ini , apa kabar ayah mu ?" tanya Shin Liong pada Wang Shi Er .
Mendengar pertanyaan itu , Wang Shi Er tertunduk beberapa saat lama nya .
"Ayah sehat saja , beliau sudah kawin lagi beberapa tahun yang lalu , dan kini sudah memiliki dua orang putra putri !" jawab Wang Shi Er .
"Ooh , syukurlah kalau begitu , lalu bagai mana dengan ibu mu ?" tanya Shin Liong lagi .
Kali ini Wang Shi Er menunduk lebih dalam lagi , "ibu ku pindah ke pinggiran kota Tao , beliau membeli sebuah rumah sederhana yang kecil dan tinggal bersama pho pho ku , aku sering mengunjungi mereka , ibu ku membuka sebuah kedai kecil , berjualan bahan kebutuhan , maafkan pho pho dan engkong ya Shin Liong , karena keegoisan mereka , kau menderita , seharus nya sekarang , kau penerus keluarga Zhang , Shin Liong , tetapi sumpah sudah terucap , dan yang bersumpah sudah lama mati , sehingga sumpah tidak lagi bisa di cabut !" ucap Wang Shi Er sedih .
...****************...
__ADS_1