Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Seraut Wajah dari Masalalu.


__ADS_3

Setelah perjalanan satu hari satu malam mengikuti arus sungai Chong, akhirnya, pagi pagi sekali, kapal sandar di dermaga kota Xi Yuan.


Ada beberapa penumpang yang turun di kota itu, namun ada pula beberapa penumpang yang naik.


Beberapa diantaranya adalah lima orang pemuda aneh lagi.


Kelima orang pemuda itu tidak saling bertegur sapa, seolah olah tidak saling mengenal saja, dan dari gerak gerik nya sangat jelas terlihat jika mereka tidak saling kenal.


Tetapi yang membuat Shin Liong berkesimpulan bahwa mereka sebenar nya saling mengenal adalah dari kesamaan mereka yang sama sama menggunakan tirai gaib ilmu bunglon, sehingga penampakan mereka yang sebenarnya tersamarkan seperti para pemuda biasa.


Sambil menatap orang yang berlalu lalang, ada yang turun di kota Xi Yuan ini, dan banyak pula yang baru naik dari kota Xi Yuan,Shin Liong kembali menyapu muka Dewi Teratai putih dengan telapak tangan nya, membuka pandangan gaib wanita cantik jelita itu.


Ketika menatap kelima orang yang baru naik dari dermaga kota Xi Yuan itu, Dewi Teratai putih terperangah melihat penampakan sebenarnya dari kelima orang yang tidak saling tegur sapa itu.


"Mereka satu kelompok dengan lima orang yang kemarin sayang" bisik Dewi Teratai putih di telinga Shin Liong.


Shin Liong tidak menjawab, cuma menganggukkan kepalanya saja.


Singgah di dermaga kota Xi Yuan tidaklah lama, Pluit pertama pun berbunyi, tanda penumpang yang belum naik, harus segera naik ke kapal.


Tidak berselang terlalu lama, Pluit kedua pun ber bunyi, di iringi suara desisan mesin uap yang meninggi, serta tangga di tarik dari dermaga.


Akhirnya Pluit ketiga pun berbunyi, dan desisan suara mesin uap kian meninggi,serta kapal pun mulai bergerak maju perlahan lahan, lalu, semakin lama, semakin cepat, hingga akhirnya mencapai batas maksimum kembali.


Menjelang malam hari, Shin Liong dan Dewi Teratai putih masuk kedalam kamar mereka untuk beristirahat.


Diperkirakan, menjelang tengah malam nanti, mereka akan sampai di muara sungai Chong, atau teluk Zimo.


Entah sudah berapa lama Shin Liong dan Dewi Teratai putih tertidur, namun tiba tiba terdengar suara dentuman yang sangat keras sekali.


Shin Liong dan Dewi Teratai putih terlonjak karena sangat ter kejut nya mendengar suara dentuman yang sangat nyaring sekali di tengah malam buta itu.


Lampu lampu lentera bergoyangan karena imbas ledakan itu.


Saat itu, kapal meski masih mendesis, namun tidak melaju, alias hanyut mengikuti arus muara.


Saat Shin Liong dan Dewi Teratai putih keluar dari kamar, dan di luar orang orang sudah ramai hilir mudik dalam keadaan panik.


Ditengah kepanikan orang orang itu, terlihat pula Tong Xian Gu dan Tan Che Ing.


"Nona Tan!, apa yang telah terjadi dengan kapal ini?, dan suara dentuman apa tadi?" tanya Dewi Teratai putih bingung.


"Nona Dewi!, menurut beberapa orang yang saya tanyakan, kapal ini diserang perompak sungai yang beroperasi di muara sungai Chong ini" kata nona Tan Che Ing.


Sepuluh orang perompak ini sudah menguasai kapal, mereka mengumpulkan orang orang di suatu ruangan yang cukup besar.


Kini wujud asli dari kesepuluh orang pemuda kemarin terlihat jelas sekarang.


Kesepuluh orang pemuda itu adalah laki laki paro baya, sekitar usia empat puluh lima hingga lima puluh tahun.


Di luar kapal, ada empat kapal kecil yang mengepung kapal penumpang itu.


Dari kapal kecil itu lah tadi terdengar suara dentuman yang sangat nyaring dari meriam yang mereka tembakan untuk menakut nakuti kapal penumpang itu.


"Kalau kalian ingin selamat, kumpulkan cincin ruang kalian semua nya sekarang juga, tidak boleh ada yang tersisa, bila ada yang coba coba berbuat seperti itu, maka kematian akan kalian terima!" kata salah seorang bajak muara itu dengan garang sambil mengayun ayun kan pedang nya.


Tiba tiba dari arah penumpang, melompat seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluh dua tahun ke arah para perompak itu.

__ADS_1


"Tunggu!, enak sekali kalian mengambil yang bukan hak kalian, dasar perompak hina!" teriak pemuda tampan itu.


Mata Dewi Teratai putih terbelalak menatap pemuda yang melompat dari arah para penumpang itu, hati nya tiba tiba berdebar tidak karuan, perasaan perasaan aneh segera muncul di dalam hati nya.


"Li Peng Sun!" ucap nya pelan,dan genggaman tangan nya terlepas dari tangan Shin Liong tanpa dia sadari.


Shin Liong menoleh kearah Dewi Teratai putih, nampak sekali wajah wanita cantik itu menjadi sumringah, dan pandangan mata nya tidak lepas dari pemuda itu.


" Ha ha ha ha, siapa kau anak muda, apa kau sudah bosan hidup?, meskipun tingkatan mu sudah berada di tingkat alam Brahmana akhir juga, tetapi, kau sendirian, dan kami ber sepuluh, bagai mana cara nya kau bisa menang?"kekeh seorang laki laki paro baya yang nampaknya seperti pemimpin rombongan itu.


"Aku tahu itu!, tetapi setidaknya, aku tidak takut kepada kalian semua!" kata pemuda itu lagi dengan sangat berani nya.


"Baiklah kalau begitu, Ban Tong ngok!, cepat habisi pemuda ini!" teriak laki laki itu kepada anak buah nya.


Seorang laki laki yang di panggil Ban Tong ngok itu segera maju kedepan, menyerang pemuda tadi.


Pertempuran sengit dan seimbang segera berlangsung, antara pemuda tadi dengan seorang laki laki paro baya yang di panggil Ban Tong ngok oleh pimpinan nya.


Segera saja jual beli pukulan terjadi, dan akhirnya terlihat jika Ban Tong ngok masih kalah jurus melawan pemuda tadi.


Hal ini terlihat dari beberapa kali pukulan pemuda itu hampir mengenai dada Ban Tong ngok.


Melihat keadaan Ban Tong ngok yang mulai kewalahan menghadapi pemuda itu, tiba tiba dari belakang sang pemimpin rombongan, melompat kedalam arena laga seorang laki laki paro baya, bernama Ban To Yot.


Laki laki paro baya bernama Ban To Yot ini adalah saudara kembar dari Ban Tong ngok.


Dikeroyok oleh dua orang laki laki paro baya yang setingkat, membuat pemuda itu segera saja terdesak menjadi bulan


bulanan mereka berdua.


Pemuda itupun dengan gagah nya, menerima nasip, tewas di ujung pedang lawan nya saat itu.


Pemuda itu memejamkan mata nya, pasrah menerima nasip.


Namun setelah di nanti sekian lama nya, pedang itu tidak juga mampir di leher nya, akhirnya, di beranikan nya untuk membuka mata nya.


Alangkah terkejut nya pemuda itu, ketika melihat kedua orang laki laki paro baya yang telah mengeroyok nya itu, kini telah tersungkur dengan leher yang nyaris putus, dan tidak jauh dari situ, berdiri seorang gadis cantik jelita dengan pedang kecil berwarna biru terhunus di tangan nya.


Mata pemuda itu menatap kearah gadis yang berdiri tegak tidak jauh dari diri nya itu.


Setelah beberapa saat menatap gadis itu," nona, bukan kah kau nona Nuwa putri paman Ar Wan Wen?" tanya pemuda itu.


"Ya, aku Nuwa, dan bukan kah kau Li Peng Sun putra paman Li Quan Dong?" tanya Dewi Teratai putih juga.


"Betul nona, saya Li Peng Sun, oh Dewata Agung, terimakasih kau pertemukan kami kembali!" kata pemuda Li Peng Sun bahagia.


Begitupun dengan Dewi Teratai putih, hatinya sangat bahagia, pemuda yang pernah dia impikan itu kini berada di depan matanya kembali.


Dengan perasaan yang sangat terharu sekali, Dewi Teratai putih berlari menghampiri pemuda Li Peng Sun, dan memeluk nya.


Shin Liong menatap kejadian itu dengan mulut melongo, ternyata masih ada sisi lain dari Dewi Teratai putih yang tidak pernah dia ketahui.


Entah mengapa, ada rasa pedih dan marah di dalam hatinya, tetapi tidak mungkin dia marah kepada Dewi Teratai putih.


"Kurang ajar, rupanya kau tidak sendirian, kawan kawan, ayo bunuh mereka semua nya!" teriak laki laki itu kepada ketujuh teman teman nya.


Mereka segera bergerak menyerang Dewi Teratai putih dan pemuda Li Peng Sun dari segala arah.

__ADS_1


Namun gerakan dari Dewi Teratai putih terlalu sangat cepat, sehingga tidak dapat di ikuti oleh mata mereka.


Satu persatu, para perompak itupun mulai bertumbangan dengan leher yang nyaris putus.


Sedangkan di kapal kecil yang mengeroyok kapal penumpang dari segala arah itu, satu persatu mulai terbakar dan tenggelam.


Rupanya setelah melihat Dewi Teratai putih mampu menghadapi para pengeroyok nya, Shin Liong segera melompat kearah kapal para perompak itu,dan mengamuk di situ, sehingga satu persatu kapal para perompak itu mulai tenggelam.


Setelah semua kapal para perompak itu tenggelam, Shin Liong kembali melompat keatas kapal penumpang.


Kini keadaan di atas kapal penumpang itu sudah sepi,pertarungan sudah lama selesai.


Shin Liong kembali ke kamar mereka, namun dia tidak mendapati Dewi Teratai putih di situ.


Akhirnya dia mencari Dewi Teratai putih ke atas, dimana mereka sering bersantai disana.


Namun ketika dia tiba di sana, dia terdiam melihat Dewi Teratai putih sedang memeluk pemuda Li Peng Sun itu dengan erat sambil menangis.


Tiba tiba saja, langkah nya terasa berat, dan tenaga nya terasa lenyap semua nya.


"Tidak!, kau kuat Shin Liong !, ini bukan apa apa bagi mu, kau kuat Shin Liong, jangan ber prasangka buruk, mereka tidak ada hubungan apapun juga!" bisik hati Shin Liong menguatkan langkah nya.


Akhirnya, dengan langkah yang terasa berat, Shin Liong berjalan kearah Dewi Teratai putih dan pemuda Li Peng Sun itu.


"Dewi!, Maap Dewi!, aku telah menghabisi ke empat kapal mereka semua nya!" kata Shin Liong pelan.


Dewi Teratai putih tersentak kaget mendengar suara Shin Liong, dan segera melepaskan pelukan nya kepada pemuda Li Peng Sun itu.


"Eh i' iya Shin Liong, terimakasih ya!" ucap nya canggung.


"Dewi!, apa tidak sebaiknya kau tidur saja, besok hari masih ada waktu!" kata Shin Liong mengingatkan Dewi Teratai putih.


Dengan perasaan canggung, Dewi Teratai putih menyahut," kau tidur saja duluan Shin Liong, aku masih mau berbincang bincang dengan nya!"...


"Tetapi Dewi, kau kan baru saja habis bertarung, jadi istirahatlah dulu Dewi, besok masih ada waktu!" kembali Shin Liong mengingatkan Dewi Teratai putih.


Namun Dewi Teratai putih seperti terganggu mendengar perkataan dari Shin Liong itu.


"Shin Liong!!!, sejak kapan kau cerewet heh, kau tidak mengerti perkataan ku kah, tinggalkan aku disini!, aku masih mau berbincang bincang dengan nya, kau sungguh tidak tahu diri Shin Liong!, sudah dikasihani, malah melonjak!!" bentak Dewi Teratai putih dengan suara nyaring.


Shin Liong tersentak kaget mendengar bentakan dari Dewi Teratai putih itu,selama mereka bersama, baru sekarang Dewi Teratai putih membentak dirinya sedemikian rupa,cuma karena kehadiran pemuda lain yang dia kenal.


Shin Liong membungkukan badan nya beberapa kali di hadapan Dewi Teratai putih dan Li Peng Sun.


"Maapkan saya nona, maapkan saya, tolong nona maapkan saya, saya memang lancang, maapkan saya nona!" pinta Shin Liong sambil membungkukan badan nya beberapa kali, trauma masa lalu kini hadir kembali di mata laki laki muda itu.


Shin Liong mundur perlahan sambil terus membungkuk,lalu hilang di balik pintu deck.


Kapal kembali melaju menyusuri tepian laut menuju kota Zimo.


Shin Liong duduk termenung di haluan kapal itu, percikan air laut sesekali membasahi mukanya tidak dia hiraukan.


"Shin Liong !!!, sejak kapan kau cerewet heh, kau tidak mengerti perkataan ku kah, tinggalkan aku di sini, aku masih mau berbincang dengan nya, kau sungguh tidak tahu diri Shin Liong, sudah di kasihani, malah melonjak!!" kata kata Dewi Teratai putih terus menerus terngiang di telinga nya.


"Kau sungguh tidak tahu diri Shin Liong, sudah di kasihani, malah melonjak!!"...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2