
Kemarahan dari Mian Nyi Mo Xiau kini benar benar telah sampai ke ubun ubun nya.
Seakan tidak menghiraukan keselamatan nya sendiri, dia menyerang Shin Liong dengan membabi buta.
Yang ada di dalam pikiran nya adalah, bagai mana membunuh Shin Liong dengan berbagai cara,bahkan mungkin cara curang sekalipun.
Atau setidak tidak nya, membuat anak muda itu cacat selama nya seperti diri nya.
Kini Mian Nyi Mo Xiau atau iblis kecil bermuka dua menyerang Shin Liong dengan cakaran kuku kuku nya yang runcing dan hitam itu.
Kuku kuku itu kini terlihat mengeluarkan uap berwarna hitam, menandakan bahwa kuku kuku itu beracun sangat jahat.
Shin Liong sedari awal tidak terlalu banyak membalas serangan, hanya menghindar saja, membuat Mian Nyi Mo Xiau menjadi semakin gusar dan marah, menyerang Shin Liong dengan membabi buta.
Hingga pada satu kesempatan, ketika Mian Nyi Mo Xiau baru saja melancarkan serangan cakar nya ke dada Shin Liong , baru setengah jalan cakar itu terayun, tinju Shin Liong terlebih dahulu bersarang di dada Mian Nyi Mo Xiau atau iblis kecil bermuka dua itu.
"Bum!".
Pukulan dengan seperempat kekuatan Shin Liong itu, bersarang telak di dada Mian Nyi Mo Xiau, membuat laki laki itu terpental hingga seratus langkah ke seberang jalan.
Tubuh Mian Nyi Mo Xiau terpelanting sangat jauh, hingga menabrak pohon Tao sebesar pohon kelapa hingga tumbang.
Sedangkan tubuh Mian Nyi Mo Xiau ambruk tidak bergerak lagi, dengan dada yang sudah hancur luluh.
Orang ke tiga dari delapan iblis itu tewas dengan sangat mengenaskan.
Kini tinggal lima orang lagi dari delapan iblis itu yang masih hidup setelah sepasang Tua Laknat dan Mian Nyi Mo Xiau tewas di tangan Shin Liong dan Dewi Teratai putih.
Setelah menguburkan jenazah Mian Nyi Mo Xiau di seberang rumah singgah itu, Shin Liong dan Dewi Teratai putih pun meneruskan acara makan makan mereka, bersama Ah Mei dan Yun Yun.
Setelah selesai makan, mereka segera masuk kedalam rumah singgah itu untuk beristirahat.
Kini tatapan orang orang yang kebetulan berada di tempat itu, termasuk Ah Mei dan Yun Yun menjadi berbeda kepada Shin Liong dan Dewi Teratai putih, tidak lagi dengan acuh tak acuh seperti tadi.
Sebenar nya kalian dari mana dan hendak kemana?" tanya Dewi Teratai putih kepada Ah Mei dan Yun Yun.
"Kami dari kota Raja mengikuti festival kebudayaan itu, dan kami tertinggal dari rombongan murid murid perguruan Walet Emas, kami bermaksud pulang ke kota Yufing, nona" jawab Yun Yun.
"Kenapa jadi terpisah dari rombongan kalian, kan jadi berbahaya?" tanya Shin Liong heran.
"Iya tuan muda, paman nya Yun Yun kan kepala pasukan kota Raja, jadi beliau meminta Yun Yun dan saya untuk menunda kepulangan kami berdua, dan para tetua perguruan juga menyetujui nya, beliau berjanji akan mengantarkan kami pulang, tetapi berhubung di kota Raja ada hal yang tidak terduga, kami yang merasa sudah hebat, berani pulang berduaan saja, karena selama ini sepanjang jalan utama selalu aman!" jawab Ah Mei dengan perasaan menyesal.
"Yaah sudahlah, yang penting sekarang kalian selamat dan penjahat nya sudah menerima balasan nya juga!" kata Dewi Teratai putih.
__ADS_1
Shin Liong yang duduk di sisi Dewi Teratai putih sedari tadi sibuk memperhatikan telapak tangan kanan nya, lalu menggamit Dewi Teratai putih sambil memperlihatkan telapak tangan kanan nya, "lihat lah Dewi, tanda itu kini menjadi tiga buah!"...
Dewi Teratai putih memegang tangan Shin Liong sembari memperhatikan tanda bintik warna kuning yang kini sudah berjumlah tiga buah itu.
"Satu lagi perbuatan baik yang di nilai oleh Dewata sayang, tinggal tujuh tanda lagi!" kata Dewi Teratai putih tersenyum manis kepada Shin Liong, sambil menarik kepala Shin Liong agar tidur beralaskan paha nya.
Tentu saja hal itu tidak luput dari pandangan mata Ah Mei dan Yun Yun, yang malu malu melihat adegan indah itu.
Bila di lihat sepintas, Shin Liong seperti adik kakak dengan Dewi Teratai putih, meskipun sebenar nya Shin Liong adalah suami nya.
"Sangat terlihat jelas kalau nona muda sangat menyayangi tuan muda!" kata Yun Yun takjub melihat kedua sejoli ini.
"Tentu saja aku sangat menyayangi nya nona Yun, dialah teman ku satu satu nya, tempat ku berbagi suka dan duka berdua, saling menjaga dan menyayangi, kami hampir bernasib sama, meskipun nasip ku jauh lebih baik dari pada nasip nya, kami sudah tidak lagi memiliki orang tua, kalau dia semenjak kecil, sedangkan aku beberapa tahun yang lalu kedua orang tua ku menghilang tak tahu rimba nya, kami sama sama besar jauh dari orang lain, sehingga saat bertemu, kami merasa saling terikat nasip yang sama, meskipun usia kita mungkin sama nona Yun,tetapi nanti, bila kalian telah bertemu pasangan hidup kalian, jangan sekalipun kalian mencintai kelebihan nya, cintailah kekurangan nya, agar hidup bisa saling melengkapi satu sama lain nya, karena bila kalian mencintai kelebihan nya, saat kalian menemukan ke kurangan nya, cinta kalian akan pudar, tetapi bila kalian mencintai kekurangan nya,dan di kemudian hari kalian temukan ke lebihan nya, maka kebahagiaan yang kalian rasakan, bukan kekecewaan" nasihat Dewi Teratai putih agak panjang lebar kepada nona muda Yun dan Ah Mei.
Memang dari segi usia, Dewi Teratai putih, Ah Mei dan Yun Yun sama sama jalan delapan belas tahun,sedangkan Shin Liong empat belas jalan lima belas tahun, tetapi tentu saja pada masa itu usia empat belas sudah dianggap bisa berumah tangga, bahkan, ada beberapa orang yang menikahkan putra putri nya di usia yang jauh lebih muda lagi, yaitu dua belas tahun.
"Saya seandainya nanti menikah, saya ingin mencontoh nona muda yang cukup mencintai satu orang saja selama nya!" kata Ah Mei.
Mereka bercerita hingga larut malam.
Ketika malam telah larut, Dewi Teratai putih mengeluarkan buntalan pakaian mereka, meletakan nya di lantai, lalu mengangkat tubuh Shin Liong yang tertidur di pangkuan nya, ke atas bantal buntalan pakaian mereka, dan sebuah kecupan kasih sayang mendarat di dahi anak muda itu.
Sebenar nya Dewi Teratai putih tidak terlalu nyenyak tertidur, panca Indra nya masih bekerja sempurna, dia tidak ingin mempercayakan keselamatan diri nya dan suami nya, kepada orang yang baru dia kenal, dia tidak ingin mempertaruhkan keselamatan dia dan suaminya, dengan mempercayai orang yang baru dia kenal begitu saja.
Shin Liong membuka mata nya, di kedip kedipkan nya beberapa saat, untuk menyesuaikan dengan cahaya matahari yang mengenai mata nya.
"Sudah bangun sayang?" suara lembut Dewi Teratai putih, terdengar di samping nya.
"Ah, kau sudah bangun terlebih dahulu Dewi?, kenapa tidak membangun kan aku?" tanya Shin Liong.
"Ah, Dewi tidak tega sayang, Dewi lihat kau tertidur sangat pulas nya, sehingga Dewi biarkan saja sebentar!" kata Dewi Teratai putih sambil memeluk tubuh Shin Liong dari samping nya.
Secangkir teh panas manis telah di hidangkan oleh Dewi Teratai putih untuk Shin Liong.
"Kau ingin cuci muka dulu,apa langsung mandi sayang?" tanya Dewi Teratai putih lagi.
"Cuci muka saja Dewi!" kata Shin Liong sambil terus kebelakang rumah singgah, tempat terdapat nya sebuah sungai kecil ber air jernih, mengalir.
Setelah mencuci muka nya sebentar, Shin Liong segera kembali ke rumah singgah, dimana Dewi Teratai putih tadi sudah menyediakan secangkir teh panas.
Sementara itu, Dewi Teratai putih bersama dengan Ah Mei dan Yun Yun sedang memasak nasi dan lauk sayur rebung yang mereka jemur dulu sewaktu di tepi telaga di tambah dengan beberapa daging rusa yang di asap.
Acara makan kali ini tanpa komentar apa apa, Ah Mei dan Yun Yun sudah bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan Dewi Teratai putih dan Shin Liong yang terlihat seperti orang yang sedang bucin berat itu.
__ADS_1
Sedangkan Ah Mei dan Yun Yun kini pandangan mereka berbeda terhadap Shin Liong .
Mereka kini yakin bahwa memang ada manusia yang mampu menyembunyikan tingkat kultivasi mereka, meskipun itu satu Dian Tara berjuta juta manusia.
Tidak semua orang mampu dan bisa menyembunyikan tingkat kultivasi nya, karena ilmu untuk menyembunyikan nya, tidak terlalu di ketahui oleh orang banyak, mungkin karena awal nya dianggap tidak terlalu berguna banyak.
Adapun Shin Liong ini, dia tidak memiliki ilmu untuk menyembunyikan tingkat kultivasi nya seperti Dewi Teratai putih, tingkat kultivasi nya di sembunyikan oleh leluhur Bu Tek Cong dari perguruan Rajawali Emas, dan di sempurnakan lagi oleh kakek Qin , sehingga siapapun tidak perduli dari tingkat apa pun, tidak akan bisa melihat tingkat kultivasi yang sesungguh nya dari Shin Liong.
Setelah selesai sarapan pagi, Shin Liong dan Dewi Teratai putih segera bersiap siap untuk berangkat meneruskan perjalanan mereka kembali.
Seperti biasa nya, Dewi Teratai putih menaiki kuda coklat mereka dengan duduk di belakang Shin Liong.
Sedangkan Ah Mei dan Yun Yun juga menaiki kuda hitam mereka berdua, karena tidak ada kuda lain lagi.
Tidak seperti kuda coklat milik Shin Liong dan Dewi Teratai putih yang nampak tidak terpengaruh dengan beban yang dia bawa, kuda hitam yang di naiki Ah Mei dan Yun Yun seperti mengangkut beban yang cukup berat.
Kuda itu melangkah terseok seok di jalanan tanah berbatu batu, sehingga perjalanan mereka tidak bisa cepat lagi.
Menjelang tengah hari, mereka berhenti di tepi sebuah telaga kecil tidak jauh dari jalan utama.
Shin Liong membiarkan kedua kuda itu melepaskan lelah nya sambil minum air telaga sepuas nya.
Namun baru saja mereka bermaksud mau makan, tiba tiba bergema suara seruling menusuk kedalam kuping mereka.
Yang sangat merasakan dampak suara suling itu adalah dua orang gadis yang bersama Shin Liong dan Dewi Teratai putih.
Mereka berdua bergulingan sambil menutup kedua lobang telinga mereka.
Melihat itu, segera Dewi Teratai putih menotok di beberapa bagian tubuh dan kepala kedua orang gadis itu.
Akhirnya kedua orang gadis itupun kembali tenang,meskipun suara seruling itu kian nyaring terdengar.
"Sayang, itu suara seruling perenggut sukma, milik Shin Bu Mo Thi, berhati hatilah, dia sangat licik sekali" kata Dewi Teratai putih berbisik di telinga Shin Liong .
Shin Bu Mo Thi atau iblis bumi Roh kegelapan adalah salah satu dari delapan iblis yang sangat terkenal jahat dan ganas.
Biasa nya mereka mencari mangsa tidak di jalan utama,tetapi di jalan jalan desa, entah karena apa sehingga sekarang mereka mengganggu orang di tengah jalan utama.
Sepertinya sekarang, eksistensi para iblis sudah mulai beraksi terang terangan.
Entah angin apa yang menyebabkan mereka mulai keluar bergentayangan.
...****************...
__ADS_1