
Wanita cantik itu terus menatap ke arah Shin Liong dan Dewi Teratai putih dengan tatapan tajam yang entah apa artinya.
"Kenapa ibu menatap kakak beradik itu terus menerus?" tanya Bi Yu Hua putri nya.
"Sepertinya lelaki kecil itu bukan adik nya, tetapi kekasih nya" kata wanita cantik awet muda bernama An Lian itu.
"Ah masa sih bu, masa ada seorang gadis memiliki kekasih seorang yang masih anak anak?" tanya Yu Hua.
Dewi Teratai putih dan Shin Liong, meskipun mendengar percakapan mereka tadi, namun dia pura pura tidak mendengar nya saja, terus asik menikmati makanan mereka.
Ketika mereka telah selesai makan, Dewi Teratai putih segera membayar harga makanan mereka, dan selan jut nya mereka berdua bermaksud keluar dari rumah makan itu.
Namun ternyata wanita cantik bernama An Lian tadi segera menghalangi langkah mereka berdua.
"Ada apakah ibu menghalangi langkah kami, saya tidak merasa pernah berurusan dengan ibu!" kata Dewi Teratai putih berusaha bicara perlahan.
"Katakan ada hubungan apa kalian dengan Li Lian dan Ar Wan Wen?" kata wanita itu sambil menatap kearah Shin Liong dan Dewi Teratai putih secara bergantian.
"Kami tidak mengerti maksud ibu apa ya?" tanya Dewi Teratai putih pura pura tidak mengerti.
"Jangan berdusta dihadapan ku, aku tahu kalian ada hubungan dengan Li Lian dan Ar Wan Wen, jujurlah pada ku, siapa kalian?" kata wanita cantik jelita itu mendesak Dewi Teratai putih.
"Ibu, ada hal apa ibu dengan Li Lian dan Ar Wan Wen, apakah ibu saudaranya?" tanya Shin Liong tiba tiba.
Wanita cantik itu kelabakan mendengar pertanyaan dari Shin Liong yang blak blakan itu.
"Eh ti tidak, kalian katakan saja, ada hubungan apa kalian dengan Li Lian dan Ar Wan Wen?" tanya wanita cantik tadi.
"Kedua orang yang kau katakan itu adalah orang tua saya bu!" kata Dewi Teratai putih akhirnya mengaku kepada wanita cantik jelita yang mirip wajah ibu nya itu.
"Lalu sekarang dimana kedua orang itu?, apa masih berada di lembah?" tanya wanita itu tanpa menyebut lembah apa yang di maksud kan.
"Sangat di sayangkan bu, ibu dan ayah saya sejak beberapa musim yang lalu, tidak pernah pulang ke lembah lagi, mereka menghilang tanpa jejak!" jawab Dewi Teratai putih.
"Bukankah kalian memiliki cermin sakti,kenapa tidak bertanya kepada cermin sakti itu?" tanya wanita cantik itu.
__ADS_1
Dewi Teratai putih tersentak kaget, siapa wanita cantik yang mirip ibu nya itu, dan mengapa dia seperti tahu segalanya tentang keluarga lembah teratai.
"Cermin itu tidak bisa melacak dimana keberadaan kedua orang tua saya bu" jawab Dewi Teratai putih sendu, dia teringat dengan masa masa dimana ayah dan ibu nya masih berada di lembah teratai, mareka hidup berbahagia di sana.
Hingga pada suatu hari, ibu nya berkata bahwa dia memiliki urusan yang tidak bisa di tunda tunda lagi, ibu dan ayah nya harus segera pergi,dan Dewi Teratai putih di suruh menggantikan sang ibu selama dia tidak berada di lembah itu.
Itulah kali terakhir dia melihat ayah dan ibu nya, karena setelah itu, tidak lagi dia mendengar kabar tentang kedua orang tua nya.
'Siapakah ibu sebenar nya, mengapa sangat mengetahui tentang lembah kami?" tanya Dewi Teratai putih heran.
Tentu saja nak saya mengetahui nya, bahkan sangat mengetahui, karena aku dan ibu mu di besarkan di lembah itu bersama sama, cuma karena kutukan berantai itu, ayah ku membawa ku pergi keluar dari lembah itu, dan ibu ku berada di lembah membesarkan ibu mu!" kata wanita cantik itu.
"ja, jadi ibu adalah,,," kata Dewi Teratai putih terputus.
"Ya nak, aku dan ibu mu adalah saudara kembar, ibu mu bernama Li Lian dan aku bernama An Lian, ketika ibu mu sudah resmi menjadi Dewi Teratai putih yang ke sembilan puluh sembilan, nenek mu keluar dari lembah, mencari kakek mu, dan kini mereka berdua hidup bersama di lembah teratai merah" kata wanita yang mengaku bibi dari Dewi Teratai putih.
"Kenapa bibi tidak tinggal di lembah teratai saja, malah memilih tinggal di luar lembah teratai?" tanya Dewi Teratai putih .
"Dewi Teratai putih tidak boleh dua atau tiga orang, hanya satu orang saja,yang tinggal di dalam lembah, kalau ada lebih dari satu calon Dewi Teratai, maka alam akan memilih salah satu dari calon calon yang ada, dan yang tidak terpilih akan menemui kematian nya secara misterius, ketentuan itu bermula ribuan tahun yang lalu, ketika leluhur kita dahulu memiliki putri kembar juga,dan kedua putri kembar itu setelah dewasa berebut ingin menjadi penguasa lembah teratai, hingga terjadi perkelahian sesama keluarga lembah teratai, melihat itu, leluhur lembah teratai menjadi sangat marah nya,dan mengutuk siapapun yang tinggal di dalam lembah teratai, kecuali sang Dewi Teratai putih, akan mendapat bala bencana bila berdiam di dalam lembah, dan kutukan itu berlaku hingga sekarang,siapapun yang tidak berhak tinggal di sana, bila bersikeras ingin menguasai lembah teratai, maka kematian menanti nya,dan hal itu, terbukti dengan banyaknya kerabat kita yang binasa cuma karena menganggap kutukan itu hanya masalah takhayul dan coba coba melanggar nya, yang bibi takutkan ayah dan ibu mu mendapat kutukan itu pula, karena diri mu sudah dewasa dan sudah pantas menjadi penerus Dewi Teratai putih!" kata Aji (bibi) An Lian mengakhiri keterangan nya.
Pandangan mata aji An Lian beralih kepada Shin Liong, "lantas dia siapa, apa dia adik mu?"...
Dewi Teratai putih menggelengkan kepala nya," bukan aji An, dia salah satu korban kutukan leluhur itu" Dewi Teratai putih akhir nya menceritakan siapa sebenar nya Shin Liong, dan apa hubungan dengan nya.
"Jadi, dia adalah suami mu Nuwa?" tanya aji An Lian.
"Ya aji, dialah yang pernah di ramalkan oleh seorang Biksu dahulu, dia terjatuh dari atas tebing gunung setelah bertarung melawan Pak Siu Mo Tian dan Ban Kiok Mo, kebetulan waktu itu saya sedang mandi di telaga,dan tubuh nya menimpa tubuh saya, kami hampir kena kutukan dari leluhur seandainya kami tidak segera menikah di depan leluhur, itulah awal pertemuan kami aji" kata Dewi Teratai putih.
An Lian sang Dewi Teratai merah menarik nafasnya dalam-dalam, dengan tingkat kultivasi seperti sekarang ini, apakah kalian tidak takut untuk berpetualang, mengembara di dunia luas ini Nuwa?" tanya aji An Lian.
Dewi Teratai putih tersenyum manis mendengar perkataan dari aji nya itu.
"Aji, air yang paling bening dan tenang, seberapapun dalam nya, yang terlihat dasar nya seolah olah dangkal saja, kalau aji tahu siapa kakek dan guru nya, mungkin aji akan kaget" ucap Dewi Teratai putih.
"Benarkah nak?, lalu siapakah kakek mu dan siapa pula guru mu?" tanya aji An Lian kepada Shin Liong.
__ADS_1
"Aji, guru saya adalah kakek saya sendiri, dia bernama kakek Qin, atau orang menyebut nya guru sejati!" sahut Shin Liong.
"Haah?, gu guru sejati?, bukankah dia legenda ribuan tahun yang lalu, mungkin kah?" tanya aji An Lian atau Dewi teratai merah,ragu ragu.
Dewi Teratai putih memahami keragu raguan dari aji nya itu.
"Apakah aji pernah tahu tentang pukulan sejati inti semesta?" tanya Dewi Teratai putih kepada aji nya.
"Tentu saja aji tahu Nuwa, bukan kah pukulan itu ciptaan dari guru sejati sendiri, tetapi tentang kebenaran pukulan itu, aji masih belum begitu yakin Nuwa" kata aji An Lian.
"Manusia kedua dan satu satu nya yang menguasai pukulan itu sekarang selain guru sejati, ya dialah orang nya aji, dia menguasai pukulan itu secara sangat sempurna sekali, dia pernah melakukan nya kepada Shin Bu Mo Thi, ternyata pukulan sejati inti semesta itu bisa untuk merusak apa saja, seperti penglihatan, pendengaran dan apa saja yang kita inginkan tentu nya" kata Dewi Teratai putih menjelaskan kepada aji nya.
"Kalau begitu kau harus mengajarkan aku jurus itu ya?" kata Yu Hua ikut mencelutuk omongan mereka.
"Sebenar nya aku ingin mengajarkan jurus itu kepada kalian tetapi aku takut, karena belum mendapatkan ijin dari kakek ku, dulu kakek sudah mewanti wanti bahwa semua ilmu yang ku punya, boleh diajarkan kepada siapapun juga,asal jangan pukulan sejati inti semesta saja, pukulan itu tidak boleh di ajarkan kepada siapapun tanpa ijin langsung dari kakek Qin" kata Shin Liong membuat wajah Yu Hua nampak menjadi sangat tidak senang.
"Kalau begitu kalian berdusta kepada kami, sebenarnya kau bukan siapa siapa, cuma sekedar mengaku murid dari guru sejati saja!" kata Yu Hua berusaha menghasut ibu nya.
"Apakah yang dikatakan putri ku benar Nuwa?" tanya aji An Lian.
Mendengar apa yang di katakan oleh saudara sepupu nya itu, Dewi Teratai putih menjadi geram, "terserah kepada aji saja, mau percaya atau tidak, kami tidak perduli, bagi kami sama saja, aji percaya kami tidak untung, aji tidak percaya, kami tidak rugi!" ucap Dewi Teratai putih mulai ketus.
Ucapan dari Dewi Teratai putih itu tentu saja membuat kuping An Lian menjadi merah.
"Kalau aku menyuruh kalian berpisah bagai mana?" tanya An Lian tiba tiba membuat mata Dewi Teratai putih yang semula bening cantik, tiba tiba merah karena marah.
"Apa?, apa?, apa? aji, apa aji tidak salah omong kah?, kita kenal saja baru sekarang, tiba tiba aji mau mengatur hidup saya, jangan kan cuma aji, Dewa sekalipun menyuruh kami berpisah, tidak akan kami turuti!" kata Dewi Teratai putih mulai meninggi.
"Sudahlah ibu, mereka tidak akan menuruti bila cuma seperti itu, begini saja, bagai mana bila suami mu itu bertarung dengan ku, bila aku kalah, aku akan menuruti semua kehendak kalian, tetapi bila dia yang kalah, kalian harus berpisah, dan dia harus menjadi budak ku se umur hidup nya, bagai mana?" tanya Yu Hua.
"Bagaimana bila taruhan nya seimbang saja, bila dia kalah, saya rela berpisah dari nya, dan dia jadi budak kalian se umur hidup nya, tetapi bila kau yang kalah, kau harus bersedia menjadi budak kami seumur hidup mu, bagai mana?" tanya Dewi Teratai putih yang mulai terpancing amarah nya.
Yu Hua menatap ke arah Shin Liong, berkali kali dia meneliti tingkat kultivasi laki laki muda itu, namun tetap saja yang dia lihat berada di tingkat alam taruna menengah, bagai mana dia yang termasuk jenius itu, diusia yang baru delapan belas tahun, sudah mampu berada di tingkat alam Brahmana awal bisa kalah dari Shin Liong, mustahil, batin nya.
...****************...
__ADS_1