Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Pertapa Han Chi Kung.


__ADS_3

Mendengar perkataan dari tabib Wu itu, gadis cantik jelita bernama Yu Hua itu tiba tiba menangis sambil menjerit sejadi jadi nya.


"Aku tidak ingin mati!, huu huu, Aku masih mau hidup lebih lama lagi, huu huu,, seandainya ibu tidak memiliki ambisi menguasai lembah teratai putih, kita masih hidup aman damai di lembah teratai merah, apa yang sebenar nya ada di dalam otak ibu, sehingga dengan tega nya menjerumuskan putri nya sendiri, sekarang bocah sial murid guru sejati itu sudah pergi mencari kedua orang mertua nya,seandainya ibu tidak memperdaya majikan lembah teratai putih, tentu kita masih hidup dengan tenang!" jerit dari Yu Hua terdengar hingga beberapa buah rumah.


An Lian hanya bisa meratapi nasip yang telah menimpa mereka.


Mereka menjebak Dewi Li Lian dan suami nya Ar Wan Wen masuk ke dunia dimensi ketiga yang justru sangat berbahaya itu, dan bocah yang sudah meracuni mereka pun kini menyusul pergi ke dunia dimensi ketiga itu, entah akan pulang selamat atau justru tewas di sana.


Jikapun selamat, bisakah dalam waktu tiga purnama mereka kembali?.


Lalu sekarang apa yang dia dapat kan dengan menjebak Dewi Li Lian?.


Musuh kini bertambah, dan lembah teratai yang keramat dan misterius itupun tidak bisa mereka kuasai.


Akhirnya hidup dengan berpedoman dengan ambisi, akan menghasilkan kehancuran semata mata.


Betapapun dia, meskipun seorang jendral dengan pengaruh hebat, koneksi banyak,dan pendukung nya juga banyak, tetapi bila hukum sang maha kuasa tiba, semua itu tidak akan bisa membantu untuk keluar dari masalah, bahkan mungkin akan memperberat masalah.


Benar kata orang, disaat kita tercebur ke air, emas berlian ber ton ton akan membinasakan kita,dan kayu kering yang kita anggap tidak berguna lagi yang justru menjadi penyelamat kita.


"Ibu selalu mengatakan anak muda itu pendusta, ternyata dia benar benar murid guru sejati!" kata Yu Hua di sela sela tangis nya.


"Apa yang kalian katakan?, murid guru sejati?, atau kuping ku yang tidak jelas mendengar nya?" tanya Tabib Wu.


"Ya, yang meracuni kami dengan racun Upas Naga Emas adalah murid guru sejati itu" kata An Lian dengan suara meninggi karena rasa tidak senang nya.


"Kalian tahu siapa guru sejati itu sebenar nya?" tanya tabib Wu.


"Mana kami tahu tentang guru sejati segala, bertemu saja belum pernah!" sahut An Lian mulai dongkol.


"Ketahuilah, bahwa guru sejati itu ialah sang Dewata San Qin itu sendiri,jangan kan cuma kalian, seluruh leluhur lembah teratai merah kalian kerahkan semua nya untuk melawan nya, jangan kan menyakiti nya, menyentuh tubuh nya saja kalian tidak akan mampu,pergilah!, aku tidak bisa membantu kalian, seandainya masih ada, mungkin cuma orang itu yang bisa membantu kalian" kata Tabib Wu.


"Si siapa orang itu tabib, kami akan mencari nya!" kata An Lian bersemangat.


"Orang itu adalah Ar Wan Wen sendiri, dia pewaris ilmu sang Tabib Dewa, cuma dia kemungkinan yang bisa menyelamatkan nyawa kalian!" kata tabib Wu.


Mendengar itu, An Lian yang tadi sudah bergairah, kini menjadi lemah lunglai kembali.


Bukan kah Ar Wan Wen dan Dewi Li Lian sudah mereka jebak untuk masuk ke dunia dimensi ketiga?.


Kini segala nya serba bersilang sengkarut tidak karuan.

__ADS_1


Keluar dari tempat Tabib Wu, kepala ketiga orang itu menjadi gontai tertunduk lesu, tidak dia sangka, senjata yang semula di gunakan untuk memeras Dewi Teratai putih dan Shin Liong agar mau melepaskan ilmu kesaktian nya untuk mereka, kini berbalik menjadi bumerang yang menyerang tuan nya sendiri.


Disebuah jalan kota Yufing, terlihat Shin Liong dan Dewi Teratai putih sedang berjalan bergandengan tangan.


"Sayang, hari masih agak siang, kita menginap di kota ini,atau meneruskan perjalanan saja?" tanya Dewi Teratai putih kepada Shin Liong .


"Setelah peristiwa tadi, sebaiknya kita meneruskan perjalanan saja Dewi, kesenangan ku dengan kota ini sudah terganggu, dan sebaik nya kita mempergunakan ilmu lari cepat saja,dan kuda kita, kita jual saja di kota ini!" kata Shin Liong berpendapat.


"Aku akan menuruti semua pendapat mu suami ku, tetapi terlebih dahulu kita ke pasar untuk membeli perbekalan kita di perjalanan nanti, bila mempergunakan ilmu lari cepat, kita bisa menempuh perjalanan siang malam sayang!" kata Dewi Teratai putih.


Akhirnya setelah menjual kuda mereka di tempat penjualan kuda seharga Saribu lima ratus keping emas, mereka berdua segera pergi ke pasar untuk membeli perbekalan mereka di jalan.


Beberapa saat kemudian, di gerbang timur kota Yufing, terlihat Shin Liong dan Dewi Teratai putih sedang berjalan keluar dari gerbang kota itu.


Beberapa puluh pasang mata menatap kearah mereka dengan aneh sekaligus kagum dengan kecantikan Dewi Teratai putih.


Namun beberapa saat kemudian, mereka sama sama mengucek mata nya, karena melihat tiba tiba saja tubuh sepasang suami istri muda itu sudah sangat jauh dari mereka, dan ketika mereka berkedip kembali, tubuh sepasang suami istri muda itu sudah tidak lagi nampak di mata mereka.


Masing masing orang yang melihat saling pandang,kemudian segera menghambur masuk kedalam kota Yufing.


Sementara itu Shin Liong dan Dewi Teratai putih terus melesat di jalan utama menuju ke kota Yuking, hingga tidak terasa perkampungan penduduk sudah terlewati mereka, dan perkebunan masyarakat pun kini mereka lewati pula.


Ketika mereka berhenti berlari, kini hari sudah mulai sore, beberapa pelintas nampak sudah berhenti di rumah singgah.


Sedangkan Shin Liong dan Dewi Teratai putih masih berjalan menyusuri jalan utama ke propinsi Yuan yang beribu kota di kota Yuking.


"Sayang lihatlah itu ada sebuah lembah, biasanya ada air di situ,ayo kita kesana lewat atas pohon" ajak Dewi Teratai putih yang segera melesat lewat dahan dahan pohon menuju ke arah lembah di kejauhan.


Setelah mereka melesat dari dahan ke dahan,dan dari pohon ke pohon, beberapa saat, sampailah mereka di sebuah sungai kecil ber air dangkal berarus cukup deras berbatu batu.


Di sebuah tanah yang agak datar,di pinggir sungai kecil itu, Dewi Teratai putih segera mengeluarkan peralatan memasak mereka, sementara Shin Liong sibuk mengumpulkan kayu kering, lalu menyusun batu batu sebagai tungku memasak.


Saat Dewi Teratai putih sedang menanak nasi, Shin Liong kembali mengasah keterampilan nya yang sudah cukup lama tidak di pergunakan nya, yaitu menangkap ikan dengan menombak nya pakai bilah bambu kecil.


Sebentar saja, beberapa ekor ikan besar besar sudah di dapat oleh nya.


Setelah di bersihkan nya, ikan ikan itu di serahkan nya pada Dewi Teratai putih untuk di masak.


Ikan ikan itu oleh Dewi Teratai putih, di bakar diatas bara api, membuat aroma ikan bakar menyebar ke sekitar hutan itu.


Tiba tiba dari arah hulu sungai kecil itu, berlari sambil melompat di atas atas batu besar yang berserakan di sungai itu, seorang laki laki tua, berjubah hitam khas jubah para pertapa ke arah mereka.

__ADS_1


Dari cara nya melompat di atas batu batu besar di sungai itu, terlihat jika laki laki tua itu berilmu tinggi, karena tubuh nya enteng seperti tanpa beban sama sekali.


Setelah dekat dengan Shin Liong dan Dewi Teratai putih, laki laki tua itu menengadah ke udara sambil hidung nya kembang kempis membaui aroma sesuatu.


"HM harum nya aroma ikan bakar ini, oh perut ku terasa melilit karena aroma ikan bakar ini,bolehkah aku minta barang sedikit saja?" tanya laki laki tua sekitar usia sembilan puluhan tahun itu.


"Duduklah kakek disini di dekat kami, kita makan sama sama!" kata Shin Liong mempersilahkan laki laki tua itu untuk duduk.


"Apakah kakek seorang pertapa?" tanya Dewi Teratai putih sambil menyerahkan semangkok nasi dan lauk nya.


"Iya nak, orang orang biasanya memanggil kakek sebagai kakek pertapa Hoan Chi Kung, kalau boleh tahu, kalian siapa dan mau kemana?" tanya kakek itu lagi.


"Saya Shin Liong dan ini istri saya Dewi Nuwa, kami mau ke kota Yuking kek!" sahut Shin Liong.


"Haah?, kamu yang semuda ini sudah memiliki istri?" kata kakek tua itu kaget sekali.


Shin Liong mengangguk malu malu, " iya kek, dia memang istri saya, memang nya ada apa kek?"...


"Ah tidak!, tidak!, cuma kakek iri saja kepada mu, kakek yang setua ini, sudah tiga ratus tahun usia kakek, sekalipun belum pernah kawin!" jawab kakek tua itu sambil tertawa tawa.


Kini giliran Shin Liong dan Dewi Teratai putih yang terkaget kaget bukan main, mereka mengira kakek tua itu paling paling cuma berusia sembilan puluh tahunan saja,eh tidak tahu nya sudah tiga ratus tahun usia nya.


"Oh iya kek, kalau benar usia kakek segitu tua nya, berarti kakek pernah tahu tentang taman Lokapala dong kek?" tanya Dewi Teratai putih.


Kakek tua itu tertawa lepas, terlihat deretan gigi nya yang masih utuh semua.


Taman Lokapala adalah sebuah dunia misterius, ciptaan leluhur tabib Dewa, dia di cari belum tentu bisa ketemu, tetapi tidak di cari, bisa saja dia nongol di depan kalian, ada apa kalian mencari taman Lokapala itu?" tanya kakek tua itu lagi.


"Begini kek, suami saya ini sewaktu di dalam kandungan ibu nya dulu, pernah di racuni seseorang dengan racun Damar Neraka, sehingga ibu nya mempertaruhkan nyawa nya sendiri dengan me minum getah kayu Larantuka untuk mengimbangi racun Damar neraka demi putra nya bisa lahir ke dunia ini, dan ketika sang putra nya lahir, ibu nya meninggal Dunia, tetapi sisa kedua racun jahat itu masih ada didalam tubuh suami saya ini kek, dan satu waktu pasti akan bangkit menghantam tubuh inang nya, hanya pil surgawi yang bisa membersihkan racun itu hingga benar benar tuntas, tetapi pil surgawi itu cuma bisa di buat di taman Lokapala saja, karena bahan serta peralatan nya, cuma ada di situ" jawab Dewi Teratai putih.


Lama kakek tua itu merenung seperti mengingat sesuatu.


"Pergilah ke dunia dimensi kedua, mungkin disana kalian bisa menemukan taman Lokapala itu, itupun bila kalian benar benar berjodoh dengan taman Lokapala itu"kata kakek tua itu.


"Lalu dimana pintu dunia dimensi itu,dan apa pula yang di maksudkan dunia dimensi ke tiga itu kek?" tanya Dewi Teratai putih lagi.


"Pertanyaan mu sangat banyak, tetapi baiklah, pergilah ke timur, di laut lepas ada sebuah pulau bernama pulau Naga, dan di pulau itulah tempat pintu portal ke dunia dimensi kedua itu berada, sedangkan dunia dimensi ketiga adalah dunia yang ada sesudah dimensi kedua, dan pintu portal nya,tentusaja di dunia dimensi kedua itu, kalian cari lah sendiri kuil tempat pintu dimensi itu berada" kata kakek Chi Kung.


Dewi Teratai putih menarik nafas dalam-dalam, terasa berat beban yang dia hadapi kini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2