Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Melanjutkan Perjalanan.


__ADS_3

Malam mulai larut ketika Shin Liong dan Dewi Teratai putih melangkah keluar dari rumah pelelangan negara itu.


Sepasang mata tua menatap nya dari kerimbunan pohon Tao.


Nampak bersama orang tua itu,ada beberapa wanita paro baya, tanpa ada pengawal seorang pun juga.


"Benarkah dia anak itu?" tanya orang tua itu lagi.


"Benar ayah!, dialah si pembawa sial itu,aku sudah membayar sepasang Tua Laknat untuk membunuh nya,tetapi, jangan kan tewas, malah sepasang pedang tengkorak milik sepasang tua Laknat yang di lelang malam ini,itu berarti sepasang Tua Laknat lah yang tewas di tangan mereka" jawab wanita paro baya berwajah cantik.


"Plak!".


"Plak!".


Tiba tiba dua kali telapak tangan kakek tua itu melayang ke pipi kiri dan kanan wanita paro baya itu.


" Liu Jian!, kalau selama ini aku diam saja bukan karena aku tidak tahu kelakuan mu dengan Cai Lang tua itu,Sebenar benar nya, kau lah si pembawa sial keluarga kita itu, kau racuni adik ipar mu sendiri, hingga keponakan mu yang menanggung akibat nya, sekarang adik mu Yong Kai sekarang menjadi manusia tidak berguna, semua harta kekayaan kita habis, lalu hasil apa yang kau dapat dari perbuatan mu itu?, kalian minta anak itu keluar dari marga Zhang, dan sekarang keluarga Zhang sudah tamat, penerus nama besar Zhang sudah habis, sepuluh tahun lagi,dunia akan melupakan bahwa di dunia ini!, dikota Tao khusus nya, pernah ada sebuah keluarga kaya bernama keluarga Zhang yang paling terhormat, kini kau masih berniat mencelakai dia yang sebenar nya adalah keponakan mu sendiri,darah yang sama dengan darah mu mengalir di tubuh nya, harta!, tahta!, dan pujian membutakan mata dan hati mu, kau hasut semua keluarga kita agar membenci bocah tidak berdosa itu, hingga kini rumah tangga adik mu Ju Jian pun hancur karena akibat ulah mu, kau sudah puaskah sekarang?" suara tuan besar Zhang dengan suara bergetar menatap kearah Shin Liong yang sudah menghilang di kegelapan bersama istri nya.


Liu Jian menunduk sambil menangis tersedu sedu,seumur hidup nya,baru kali ini sang ayah sangat marah hingga memukul muka nya di depan orang banyak.


Dengan langkah tertatih tatih,tuan besar Zhang melangkah sambil memegangi dada kirinya yang terasa bagai di tusuk besi panas itu.


Terlampau banyak beban batin yang ia pendam sendiri,tanpa berani mengatakannya kepada siapapun juga,hanya karena dia orang yang miskin.


Seluruh harta kekayaan mereka, adalah warisan mendiang mertua nya dahulu, sehingga semenjak menikah, tuan besar Zhang tidak memiliki hak bicara apapun sama sekali.


Kini semua beban batin nya sudah sampai pada ujung nya.


Sambil melangkah,air mata tuan besar Zhang mengalir terus di pipi nya,dia tahu apa derita cucu terbuang nya itu, karena dia juga berada di ruang yang sama,namun dengan cerita berbeda.


Akhirnya di langkah kesepuluh, tubuh nya tidak lagi mampu menanggung besar nya beban batin yang dia tampung terus menerus.


Tubuh tuan besar Zhang pun tersungkur mencium tanah, tanpa sempat berbicara dengan cucu nya.


"Ayah!" jerit Liu Jian memeluk sang ayah sambil menangis terisak Isak.


"Kakek!". jerit dua orang pemuda Feng Liao dan Feng Liu memeluk tubuh sang kakek tersayang nya itu.


"Ayah!,aku terlalu banyak menyusahkan pikiran ayah!" Isak tangis Ju Jian,putri bungsu keluarga Zhang.


Sedangkan Shin Liong dan Dewi Teratai putih pada saat yang sama, sudah berada di dalam sebuah becak, meluncur menuju penginapan yang mereka sewa.


Gerimis Pun mulai turun membasahi bumi, saat mereka berjalan memasuki penginapan itu.


"Besok sebelum kita berangkat,aku mau berbelanja beberapa keperluan kita dahulu untuk bekal di perjalanan, terutama bumbu bumbu dapur serta beras, tidak apa apa kan sayang?" tanya Dewi Teratai putih kepada Shin Liong.


"Ya tidak apa apa, aku tidak mengerti urusan seperti itu,kau saja yang atur ya, aku mengikuti mu saja" jawab Shin Liong sambil menghempaskan tubuh nya di tempat tidur.


Setelah membereskan riasan nya,Dewi Teratai putih pun segera pergi tidur menyusul Shin Liong yang sudah terlebih dahulu tidur.

__ADS_1


Se ekor cicak merayap di langit langit kamar, mengintai ngengat malam, tetapi ketika melihat kemesraan sepasang suami istri itu, sang cicak segera pergi menyelinap di balik celah dinding, lalu kembali mengintip malu malu.


Pagi ini setelah selesai berkemas kemas,Dewi Teratai putih segera membangun kan Shin Liong yang masih tertidur pulas itu.


"Sayang!, ayo bangun, kan pagi ini kita mau berbelanja dulu, baru menjemput kuda kita, ayo dong cepat, bersihkan badan,apa mau Dewi mandi in?" tanya Dewi Teratai putih sambil mengguncang guncang tubuh Shin Liong.


Mendengar Dewi Teratai putih bermaksud mau memandikan nya,Shin Liong bergegas bangun dan berlari kekamar mandi.


Beberapa saat kemudian,mereka berdua sudah berjalan jalan di pasar utama kota Raja Alexia.


Pasar ini adalah pasar terbesar di kota Raja Alexia bahkan di semua kota.


Dewi Teratai putih membelikan sebuah jubah berwarna biru langit untuk Shin Liong dan satu lagi untuk diri nya dengan warna kembaran.


Ketika mereka sedang berjalan di deretan toko toko,mata Dewi Teratai putih yang jeli melihat sebuah tenda atau kemah terbuat dari kulit yang di samak dan di lapisi kain tebal.


Tenda itu lumayan besar, dua depa persegi.


Dia ingat,setiap sore mereka harus membangun pondok darurat untuk tempat bermalam di perjalanan.


Dengan ada nya tenda ini, dia tidak lagi harus membuat pondok darurat lagi.


"Sayang!, lihatlah, tuh ada tenda yang bisa di bongkar pasang,kaya nya kita butuh itu,kita beli yok!" ajak Dewi Teratai putih kepada Shin Liong .


"Kau benar Dewi, ayolah kita beli tenda itu supaya aku tidak susah susah lagi membuat pondok untuk kita berdua"kata Shin Liong.


"Itu cuma contoh nona muda, harga nya seratus keping emas, itu sudah termasuk tikar alas tidur" jawab laki laki pemilik toko itu.


"Baiklah tuan, kami beli yang seperti itu!" kata Dewi Teratai putih.


Laki laki pemilik toko itu menyerahkan sebuah bungkusan lumayan besar kepada Dewi Teratai putih.


Setelah meneliti isi nya, Dewi Teratai putih segera membayar harga nya kepada pemilik toko itu.


Setelah itu,Dewi Teratai putih memasukan tenda itu kedalam cincin ruang nya.


Setelah membeli semua keperluan mereka,seperti segala macam bumbu masak,dan keperluan mereka berdua di perjalanan, mereka segera naik kereta kuda menuju ke tempat penitipan kuda di gerbang barat.


Dari gerbang barat,mereka harus melewati pinggiran kota Raja untu mencapai gerbang timur, karena kuda tunggangan di larang memasuki kota raja,kecuali kereta penumpang.


Setelah melewati penjagaan di gerbang timur,akhirnya mereka keluar dari gerbang itu mengikuti jalan raya.


Dewi Teratai putih memeluk pinggang Shin Liong dengan erat, laki laki muda tinggi sebahu nya itu memegang tali kekang kuda dengan gagah nya.


Tentu saja kuda coklat itu tidak merasa berat, karena kedua orang yang duduk di punggung nya itu, mempergunakan ilmu meringan kan tubuh tingkat tinggi.


Jalan raya antara kota Alexia dan kota Fansau cukup ramai dilalui orang karena jarak yang tidak terlalu jauh serta di sepanjang jalan, cuma perkampungan penduduk yang terlihat.


Di sebelah kiri jalan, deretan pegunungan Hainan yang terlihat di belakang rumah rumah penduduk, membentang di kejauhan.

__ADS_1


Shin Liong dan Dewi Teratai putih tidak perlu mendirikan tenda untuk tidur malam hari,karena di Sepang Jang jalan,banyak di dirikan rumah rumah singgah, tempat para pelintas bermalam.


Hingga beberapa hari kemudian, gerbang kota Fansau pun terlihat berdiri megah di depan mereka.


Hari menjelang petang ketika mereka masuk kota Fansau.


Ke adaan kota Fansau agak lengang, karena sebagian penduduk belum kembali dari kota Raja,masih beberapa hari lagi hingga acara penutupan di laksanakan.


Shin Liong dan Dewi Teratai putih langsung menuju ke gerbang timur,untuk menitipkan kuda mereka di penitipan kuda disana, agar besok bisa langsung berangkat.


Kota Fansau ini juga memiliki empat gerbang.


Yaitu gerbang barat ke kota Raja,gerbang timur ke kota Yufing, gerbang Utara ke kota An Hiong dan gerbang selatan ke kota Liu Song.


Setelah menitipkan kuda mereka di penitipan kuda, Shin Liong dan Dewi Teratai putih pun mencari rumah makan untuk mengisi perut setelah setengah harian duduk di punggung kuda terus.


Tidak jauh dari gerbang timur,ada sebuah rumah makan cukup besar, yang biasa nya selalu ramai.


Tetapi berhubung orang orang sebagian masih berada di kota Raja, maka sudah beberapa hari ini rumah makan di kota Fansau ini, semua nya sunyi.


Ketika mereka masuk, cuma ada beberapa orang yang sedang makan di dalam rumah makan itu, termasuk dua orang paru baya berwajah brewokan rambut yang panjang agak gimbal,serta berbaju namun bertelanjang dada.


Ketika melihat Shin Liong dan Dewi Teratai putih memasuki rumah makan itu,mata kedua laki laki paro baya ini manjadi berbinar binar seperti kucing melihat ikan panggang.


Dewi Teratai putih mengajak Shin Liong duduk di sudut rumah makan itu menghadap ke arah para pelanggan yang makan.


Baru saja mereka selesai memesan makanan,tiba tiba kedua laki laki tadi berdiri dan menghampiri meja mereka.


"Hei bocah!, pergilah dari sini,jangan mengganggu orang tua sedang makan, kami mau duduk di sini!" hardik kedua laki laki kasar itu.


Dewi Teratai putih membimbing tangan Shin Liong dan mengajak nya untuk pindah dari tempat itu.


"Sayang,ayo kita pindah dari sini, kedua orang tua ini ingin duduk di sini!" kata Dewi Teratai putih.


Ketika mereka bermaksud pindah dari tempat itu,tiba tiba salah seorang dari laki laki itu memegang tangan Dewi Teratai putih, "yang pindah dia, budak mu itu,bukan kau,kau tidak ku ijin kan untuk pindah dari tempat ini, mengerti?" ...


"Lepaskan lah tangan mu dari nya,aku cuma bicara satu kali saja kepada orang yang mengganggu istri ku!" kata Shin Liong nyaring.


"Istri?, istri?, ha ha ha ha, badut ini mencoba melucu di tempat ini ya" kata laki laki yang memegang tangan Dewi Teratai putih.


"Gedebuk!!".


Terdengar suara ber gedebuk sangat nyaring,dan tahu tahu tubuh laki laki paro baya itu terlempar hingga ke seberang jalan tanpa bisa bangun lagi,burung keramat nya hancur kena tendang Dewi Teratai putih yang sangat geram.


"Kau mau juga ya, tidak ada siapapun yang boleh menyentuh kulit ku,apalagi memegang bagian dari tubuh ku, kecuali suami ku,karena semua sudah menjadi milik nya,siapa yang coba coba menyentuh tubuh ku, berarti menghendaki kematian segera datang kepada nya, kau mengerti pak tua?" teriak Dewi Teratai putih dengan geram.


Laki laki paro baya itu segera berlari ke seberang jalan, menghampiri teman nya yang entah mati atau masih hidup itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2