
Orang tua bongkok berjenggot panjang itu menatap kearah Shin Liong dengan tatapan yang sangat murka sekali, seandainya dia memiliki gigi, ingin rasanya dia mengunyah tubuh Shin Liong hidup hidup.
Orang tua bongkok itu menghentakkan kaki nya dengan kuat, tanah yang mereka pijak, tiba tiba bergetar seperti terkena gempa bumi.
Namun kaki Shin Liong seperti memiliki akar kedalam tanah, meskipun tanah bergetar, tubuh Shin Liong tidak tumbang, tetap berdiri tegak.
Akhirnya dengan satu teriakan nyaring, tubuh kakek bongkok itu melesat kearah Shin Liong seperti anak panah yang lepas dari busur nya.
Tetapi tubuh Shin Liong pun seperti berpindah pindah tempat, sehingga nampak tubuh kakek bongkok itu berkelebat kesana ke mari mengejar Shin Liong.
Kakek tua bongkok itu akhirnya melompat kebelakang beberapa tindak, kedua tangan nya di putar putar membentuk satu bulatan.
Dan secara aneh, dari kedua belah tangan nya itu, muncul kabut tipis membentuk bulatan pula, lalu berpendar membesar mengelilingi tubuh Shin Liong dan tubuh kakek tua itu.
Kini tubuh mereka berdua berada di dalam kurungan kabut tipis itu.
"Ha ha ha ha, kau boleh saja menghindar dari serangan ku, tetapi kali ini kau mau lari kemana heh?, kini kita berdua terkurung di dalam sini, dan kau tidak mungkin menghindar lagi dari ku, bertarung dengan ku, atau kau mati sia sia?" kata kakek bongkok leluhur senior Gak Bo Ong sambil tertawa terkekeh hingga air liur nya muncrat keluar, maklum mulutnya sudah tidak ada gigi nya lagi.
"Kakek terlalu memaksa saya kek, sebaiknya kita sudahi saja urusan ini, saya akan mengaku kalah dan pergi dari kota ini!" kata Shin Liong .
Kakek Gak Bo Ong sang leluhur senior klan Gak tertawa terkekeh kekeh mendengar ucapan dari Shin Liong itu.
"He he he he, boleh boleh, kau boleh pergi dari kota ini, tetapi ke neraka, kau sudah membunuh keturunan ku, maka balasan nya adalah mati!" kata kakek Gak Bo Ong sang leluhur klan Gak.
"Baiklah kek, kalau itu mau kakek, saya tidak akan bicara apa apa lagi, cuma hati hati kek, jangan sampai justru kakek yang tewas nanti nya, saya sudah memperingati kakek!" kata Shin Liong .
"Huh kau terlalu percaya diri bocah!, persiapkan saja diri mu menghadapi kematian mu!" kata kakek leluhur klan Gak itu.
Kakek Gak Bo Ong segera mengerahkan seluruh energi didalam tubuh nya, dia ingin tubuh Shin Liong hancur dengan sekali pukul saja.
Shin Liong tahu kalau tingkatan kakek tua itu paling tinggi dari yang lain nya, yaitu Dewa Bumi akhir, satu tingkatan yang tidak pernah di capai orang di dunia bawah dahulu, makanya dia tidak berani main main menghadapi serangan kakek tua itu.
Setelah seluruh energi terkumpul di dalam tubuh nya, dengan kecepatan kilat, kakek tua itu menyarangkan pukulan ke arah tubuh Shin Liong.
__ADS_1
Kali ini Shin Liong mengerahkan tiga perempat kekuatan nya untuk menyambut pukulan dari kakek leluhur klan Gak itu.
"BUM!!"...
Sebuah dentuman keras namun terkurung di dalam tirai kabut gaib terdengar menggelegar.
Tubuh Shin Liong sampai bergetar hebat dan rambut nya terlibat naik keatas.
Sedangkan sang kakek Gak Bo Ong sang leluhur klan Gak itu, tubuh nya melorot ketanah dengan kondisi tubuh sangat memperihatinkan , setiap ruas tubuh nya berpatahan tidak karuan, dan dari segenap lobang di tubuh nya keluar darah segar karena bagian dalam tubuh nya hancur lebur.
Shin Liong segera merentangkan kedua tangannya, dan terdengar suara ledakan dari tirai kabut tipis yang dipasang kakek Gak Bo Ong yang hancur berantakan.
Setelah tirai gaib kabut tipis itu hancur, Shin Liong segera berlalu dari tempat itu, berjalan kearah tengah kota Si Ma.
Setelah Shin Liong jauh dari tempat itu, dari atas pohon yang rimbun, melompat ke bawah tiga orang laki laki, mereka adalah Gak Shio Jin, sang leluhur kedua, dan kedua orang putra nya Gak Bun Cui dan Gak Ting Ong.
"Ayah!, maapkan aku, bukan aku tidak berbakti kepada mu ayah, tetapi tindakan ayah selama ini sangat banyak merugikan orang lain ayah, ayah tidak pernah menjadi dan berniat keluar dari dunia hitam ini, kini saat nya klan Gak membersihkan diri nya sendiri!" kata Gak Shio Jin sambil menatap wajah leluhur senior, Gak Bo Ong.
Kemudian ketiga orang anak beranak itu, memanggul jasad leluhur senior Gak Bo Ong, Gak Bun Cui memanggul jasad Gak Tao Jin dan Gak Ting Ong memanggul jasad Gak Cung Kwan.
Untuk sementara, leluhur Gak Shio Jin yang memegang pimpinan klan, hingga terpilih nya patriak klan yang baru.
Gak Tong Kwan, dan adik nya Gak Sian Eng, serta Gak Buan Ong dan adiknya Gak Cui Ming, sangat terpukul mendapati orang tua mereka telah tewas terbunuh.
Terutama kedua dara jelita Gak Sian Eng dan Gak Cui Ming yang tidak henti henti nya menangis dan menjerit histeris.
"Ayah!, aku akan menuntut balas atas kematian ayah dan kakek serta eyang, akan ku cari laki laki itu, dan akan ku korek jantung nya!" ucap Gak Sian Eng sambil menangis histeris.
Begitu juga dengan Gak Cui Ming, dara jelita itu terlihat sangat terpukul, dendam membara didalam hati nya serasa ingin meledakan dada nya.
"Dengar kan semua nya!" tiba tiba terdengar suara leluhur Gak Shio Jin bergema di ruangan itu.
"Untuk sementara waktu, pimpinan klan ini aku pegang dulu, sampai terpilih nya patriak yang baru!" ucap leluhur klan.
__ADS_1
"Tunggu!, tidak bisa begitu kek!, karena patriak nya adalah ayah saya, jadi yang berhak menjadi pemimpin itu adalah saya!" protes dari tuan muda Gak Tong Kwan.
"Dengarlah anak muda sombong!, semua ini terjadi karena ulah diri mu yang semena mena bertindak, dan selalu di bela oleh ayah, kakek dan eyang mu, apa kau sadar jika kehancuran klan Gak, tidak terlepas dari kelakuan mu sendiri, seandainya kau tidak bertindak sesuka hati mu, seluruh keluarga mu pasti masih tetap utuh!" kata leluhur klan Gak.
Gak Buan Ong, putra dari Gak Cung Kwan tiba tiba berdiri, "saya sudah memperingatkan kakak Tong Kwan, bahwa segala tindakan nya, bisa berakibat kehancuran klan Gak kita, tetapi kakak Tong Kwan tidak mau perduli dengan semua nasihat ku, coba seandainya kakak tidak memeras orang lain di rumah makan bebek panggang, tentu kakak tidak bakalan di lukai orang lain, kini bukan cuma kakak sendiri yang terkena imbas nya, tetapi kita semua, seluruh keturunan Gak Tao Jin, cuma kita berdua yang tersisa, memelihara dendam, dengan jalan apa kita bisa membalas. kan nya, sedangkan eyang yang termasuk manusia bergelar Dewa karena tinggi nya ilmu beliau saja harus tewas di tangan anak itu, apakah kita harus menambah korban lagi dengan memburu nya?" tanya pemuda itu sambil berlinang air mata.
Mata Gak Sian Eng melotot memandang kearah Buan Ong.
"Begitukah sifat mu Buan Ong?, sedari bayi mendapat kasih sayang dan perhatian dari klan, sekarang setelah terjadi musibah pada klan, kau malah ingin menghindar dan menumpuk kesalahan kepada orang lain?" tanya Sian Eng marah.
Tidak ada reaksi marah dari wajah Buan Ong.
"Kalau kau mau menuntut balas, kenapa tidak kau dan kakak Tong Kwan saja yang maju menantang anak itu, aku dan adik ku minta kalian bertanggung jawab kepada kematian ayah kami cuma karena membela kakak mu yang sudah jelas jelas salah itu, eyang saja tewas di tangan nya, apakah nyawa mu begitu banyak, sehingga ingin kau obral salah satu nya ?" tanya pemuda Buan Ong.
"Apa yang di katakan Buan Ong benar Sian Eng, memang nya kau menyimpan kesaktian apa?, sehingga berani menuntut balas kematian para pimpinan klan kita?, lalu berapa banyak orang orang yang di bantai oleh ayah mu, kakek mu dan eyang mu, mereka tidak menuntut balas karena sadar diri tidak lagi memiliki kemampuan apa pun juga, kini saat nya klan kita memanen hasil dari apa yang klan kita tanam dahulu, kalau selama ini belum terjadi, itu bukan karena Tian lengah, Tian tidak tidur nak, setiap kejahatan, akan mendapatkan balasan yang setimpal, kalau kau dan kakak mu tidak terima, dan berniat mencari anak itu serta mengadakan perhitungan dengan nya, lalu apa yang akan kalian lakukan, dan dengan modal apa?, ketahuilah nak, eyang mu Dudu adalah pendekar tingkat Dewa Bumi akhir, dan orang yang bisa mengalahkan seseorang yang berada di tingkat itu dengan mudah, adalah paling tidak harus berada di tingkat Dewa laut akhir, kau harus berkultivasi berapa ratus tahun lagi, hingga bisa mencapai tingkatan itu, itupun bila anak itu tidak menerobos ke tingkat selanjut nya!" kata leluhur Gak Shio Jin menasihati.
"Tidak!, aku tetap tidak setuju bila kakek Shio Jin yang memegang pimpinan klan, seharusnya aku yang menjadi patriak klan! kata Tong Kwan bersikeras.
Gak Bun Cui dan Gak Ting Ong tiba tiba maju kedepan.
"Biarlah aku yang akan mewakili ayah untuk menerima tantangan siapapun yang tidak setuju ayahku sebagai pimpinan klan ini, silahkan maju dan kita tentukan siapa yang lebih pantas menjadi patriak klan Gak ini!" kata Gak Bun Cui.
Akhirnya Tong Kwan tidak lagi bisa berbuat apapun juga, kepemimpinan klan Gak sudah beralih kepada Gak Shio Jin, di bantu oleh kedua orang putra nya.
Gak Sian Eng, meskipun tidak terima dengan keputusan kakek jauh nya itu, terpaksa harus menerima nya, tetapi di dalam hatinya masih tersimpan dendam membara kepada Shin Liong .
Begitu juga dengan Gak Cui Ming, dara jelita itu meskipun lebih banyak diam menangis, namun dendam di hatinya sebesar gunung Kai Tung.
Tanpa terlalu banyak upacara macam macam, penguburan para pimpinan klan Gak itu pun dilaksanakan dengan sederhana serta khidmat.
Gak Eng Niu putri tertua dari Gak Bun Cui serta Gak Lian Niang putri tertua dari Gak Ting Ong, adalah dara jelita yang usia nya sepantaran dengan Gak Sian Eng dan Gak Cui Ming, namun mereka tidak terlalu akrab, maklum lah dahulu semasa kepemimpinan patriak Gak Ming Kwan, mereka yang keturunan dari Gak Shio Jin, dianggap keluarga lapis kedua klan Gak, sedangkan yang dari keturunan Gak Tao Jin dianggap keluarga utama klan Gak.
Keempat dara jelita sepantaran ini memiliki kepribadian yang agak berbeda, Sian Eng dan Cui Ming agak kasar dan brangasan, sedangkan Eng Niu dan Lian Niang lebih kepada kalem dan agak pendiam.
__ADS_1
Tetapi yang pasti, satu hal persamaan mereka, sama sama jelita.
...****************...