Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Masalah di Alun Alun Kota.


__ADS_3

Malam ini bulan sedang purnama,dan bintang gemintang bercahaya indah pertanda malam cerah tanpa awan.


Di jalanan utama terlihat berkelebat dengan sangat cepat,dua bayang tubuh manusia di bawah keremangan cahaya purnama.


Shin Liong dan Dewi Teratai putih, meskipun mengerahkan sedikit energi mereka untuk berlari cepat, tetap saja gerakan mereka terlihat sangat cepat nya.


Ketika waktu tengah malam telah tiba, Shin Liong dan Dewi Teratai putih tetap saja bergerak melintasi jalan utama.


Kadang kadang tubuh mereka seperti terbang dari pohon ke pohon, lalu kembali berlari di atas tanah lagi.


Ketika matahari mulai muncul, barulah Shin Liong dan Dewi Teratai putih mulai mengurangi kecepatan mereka,dan akhir nya berjalan seperti biasa nya lagi.


Di tepi telaga kecil tidak jauh dari jalan utama, mereka berhenti untuk membuat sarapan.


Shin Liong segera mengumpulkan kayu kering, sedangkan Dewi Teratai putih mempersiapkan Periuk dan peralatan masak lain nya.


Setelah nasi dan lauk pauk nya matang, barulah mereka berdua mandi di telaga itu.


Selesai mandi, barulah mereka sarapan pagi, serta mempersiapkan bekal untuk mereka makan, siang nanti.


"Sayang, kita semalaman suntuk tidak tidur, apakah kau ingin tidur dulu, ataukah nanti saja?" tanya Dewi Teratai putih kepada suami kecil nya itu.


"Sekarang kepagian untuk tidur Dewi, sebaik nya nanti saja habis tengah hari nanti, sekarang sebaik nya kita meneruskan perjalanan saja, mungkin tidak jauh lagi kota Yuking terlihat!" sahut Shin Liong.


Akhirnya mereka meneruskan perjalanan mereka kembali.


Karena berlari di siang hari, maka supaya jangan menarik perhatian orang orang, mereka berlari di hutan dekat jalan utama.


Mereka terus berlari tanpa istirahat,dan hanya berhenti saat makan saja, kemudian kembali meneruskan perjalanan mereka lagi.


Hingga akhir nya, menjelang siang di hari berikut,gerbang ibu kota propinsi Yuan sudah berada di depan mata mereka.


Kota Yuking, tentu saja jauh lebih besar dari pada kota Yufing dan kota Fansau, karena kota ini adalah ibu kota propinsi yang di pimpin oleh seorang gubernur.


Hari memanglah belum terlalu siang,seandainya ingin melanjutkan perjalanan, masih sempat.


Tetapi suasana keramaian kota Yuking menggoda hati Shin Liong dan Dewi Teratai putih untuk istirahat sejenak di kota itu.


Yang pertama dan utama mereka cari adalah rumah makan istimewa di kota itu.


Dengan menyewa kereta, mereka minta diantar ke tempat rumah makan paling terkenal di kota propinsi Yuan itu.


Rumah makan itu cukup besar dan bertingkat dua, dan di belakang nya ada sebuah kolam ikan yang berisi ikan koi warna warni.


Dewi Teratai putih tidak mau naik ketingkat dua, tetapi memilih makan di sebuah meja paling tepi, tepat di samping jendela yang terbuka.


Di sebelah jendela itu ada terdapat kolam ikan.


Baru saja mereka duduk seorang gadis pelayan rumah makan menghampiri mereka.


"Nona muda berdua mau pesan apa?" tanya gadis cantik itu.


"Berikan kami makanan istimewa rumah makan ini dua porsi lengkap!" jawab Dewi Teratai putih.


"Minum nya apa nona muda?" tanya gadis itu lagi.


"Teh manis panas dua!" sahut Dewi Teratai putih lagi.


Gadis itupun berlalu masuk ke dapur.

__ADS_1


Tidak berapa lama, seorang pelayan yang lain lagi datang membawakan dua cangkir teh manis panas.


"Ini teh harum dari pegunungan Tao Lun yang terkenal itu sayang, coba cicipi rasa nya harum dan segar!" kata Dewi Teratai putih.


Shin Liong segera mencicipi teh harum dari pegunungan Tao Lun itu.


"Rasa nya memang istimewa, sangat berbeda dengan yang lain nya Dewi,harum nya juga agak beda dari biasa nya,harum nya seperti harum nikmat!" ungkap Shin Liong sambil kembali menyeruput teh harum nya.


Tidak berapa lama, makanan yang mereka pesan pun datang ke meja mereka.


Ketika mereka mulai menikmati makanan mereka, dari arah depan, masuk sepasang suami istri usia kira kira dua puluh lima tahunan, berwajah tampan dan cantik ke arah meja mereka.


"Maap bolehkah kami bergabung dengan kalian di sini?" tanya wanita cantik itu.


"Silahkan!, silahkan!, kakak berdua duduk bersama kami disini!" sahut Dewi Teratai putih dengan ramah.


Sepasang suami istri itu duduk berseberangan dengan Shin Liong dan Dewi Teratai putih.


Kalau Shin Liong dan Dewi Teratai putih duduk dekat jendela membelakangi kolam ikan, mereka justru duduk di depan Shin Liong dan Dewi Teratai putih, menghadap ke arah kolam.


"Kalian berdua mau kemana kah?" tanya wanita cantik itu bertanya.


"Kami mau ke pulau!" sahut Dewi Teratai putih sekena nya.


"Maksudnya ke kota Zio kah?" tanya wanita itu lagi.


"Kami tidak tahu kakak, yang pasti ke pulau!" jawab Dewi Teratai putih.


"Satu satu nya pulau di pantai timur, cuma pulau Naga saja dik!" kata wanita itu.


"Nah itu!, itu!, ke pulau Naga!" kata Dewi Teratai putih cepat.


pelayan datang menanyakan pesanan suami istri itu.


"Sama seperti mereka!" kata wanita cantik itu menanggapi pertanyaan dari pelayan rumah makan itu.


Pelayan rumah makan itupun kembali ke dapur untuk mempersiapkan pesanan suami istri itu.


"Oh iya dik, nama saya Tan Che Ing, dan ini suami saya Tong Xian Gu!" wanita cantik bernama Tan Che Ing itu memperkenalkan diri.


"Saya Dewi Nuwa dan ini suami saya Shin Liong "sahut Dewi Teratai putih juga memperkenalkan diri nya.


"Haah?, suami nya, saya kira adik nya, maap ya!" kata Tan Che Ing sambil tertawa.


Sementara itu Tong Xian Gu hanya diam saja,sambil sesekali menatap kearah Dewi Teratai putih dan Shin Liong bergantian.


Beberapa saat kemudian makanan mereka tiba ke meja itu, setelah sebelum nya,teh harum juga di suguh kan untuk mereka.


"Kalau mau ke kota Zio, lebih enak naik kapal saja, cuma memakan waktu tiga hari saja dari sini,kalau lewat darat agak lebih lama,karena harus melewati beberapa kota dulu,baru tiba di kota Zimo, dan dari kota Zimo, kembali naik kapal ke kota Zio di pulau!" kata Tan Che Ing mejelaskan.


"Kalau begitu biar kami ikut kapal saja, biar bisa istirahat, kakak sendiri mau ke mana?" tanya Dewi Teratai putih kepada Tan Che Ing.


Kami mau ke kota Zimo, tetapi sama ikut kapal juga, mungkin kita bisa bersama satu kapal besok, karena jadwal kapal ke kota Zio besok!" kata Tan Che Ing.


"Terimakasih kakak, senang berkenalan dengan Kakak" kata Dewi Teratai putih sambil tersenyum.


"Setelah singgah sebentar di kota Zimo, kapal akan terus menyeberang ke kota Zio selama setengah hari, baru sampai" kata Tan Che Ing.


"Terimakasih kak, kami akan ikut kapal saja kalau begitu, hitung hitung cari pengalaman, kami belum pernah naik kapal sebelum nya!" kata Dewi Teratai putih sambil memasukan jatah daging di piring nya, ke piring milik Shin Liong.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Shin Liong dan Dewi Teratai putih menyelesai kan makan mereka.


"Maap kakak, kami duluan ya, nanti kami menginap di penginapan yang terdekat dari sini, kami mau melihat keramaian kota Yuking ini dulu!" kata Dewi Teratai putih sambil berjalan ke arah kasir,dan membayar harga makanan mereka.


Setelah itu, barulah Shin Liong dan Dewi Teratai putih keluar dari rumah makan itu sambil memegang tangan Shin Liong.


Tan Che Ing yang melihat hal itu, tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.


"Mereka lebih seperti adik Kaka saja kelihatan nya, tetapi yang wanita sangat cantik, dan yang laki laki sangat tampan, jadi cocok lah!" kata Tan Che Ing mengomentari kedua anak muda itu.


"Yang laki laki lebih seperti anak anak, masa makan aja pakai disuapin, mending laki laki yang lebih dewasa, dari pada seperti anak anak itu" sahut Tong Xian Gu agak sinis.


"Laki laki yang lebih dewasa seperti siapa misalnya?" tanya Tan Che Ing.


"Ya, ya, seperti, "Tong Xian Gu tidak jadi meneruskan perkataan nya lagi.


"Seperti kakak maksud nya?, sadar kak, dia sudah punya suami, dan wanita itu sangat jelas terlihat amat mencintai suami nya, jangan merusak rumah tangga orang, ingat karma!" kata sang istri nya gusar


" Ah kamu terlalu pencemburu dik, mana ada aku mau sama gadis itu"kilah Tong Xian Gu.


"Aku bukan pencemburu kak, tetapi justru karena sangat mengetahui siapa diri mu itu, ingat bila kau macam macam dan mendapat masalah, aku tidak mau ikut campur sedikit pun" kata Tan Che Ing dengan muka masam.


Sementara itu, Shin Liong dan Dewi Teratai putih sudah sampai di alun alun kota Yuking.


Alun alun ini cukup besar, hampir sama besar nya dengan alun alun kota Raja Alexia, dan di pinggiran nya berjejer dengan rapi, pohon Tao yang berbatang besar dan rimbun.


Di bawah bawah pohon Tao rimbun itu banyak orang orang yang sedang duduk duduk beristirahat menikmati kesejukan.


Shin Liong dan Dewi Teratai putih duduk di bawah sebatang pohon Tao rindang sambil menatap orang orang yang sedang berlalu lalang.


"Apakah kau ingin tidur sayang, disini enak untuk beristirahat" kata Dewi Teratai putih bertanya kepada Shin Liong.


"Suasana pohon yang teduh ini ditambah perut ku yang kenyang, membuat mata ku menjadi terasa berat" sahut Shin Liong.


Dewi Teratai putih menarik tubuh Shin Liong agar berbaring dan meletakan kepala nya berbantalkan paha nya.


Baru saja Shin Liong tertidur pulas, dari arah jalan raya datang dua orang gadis cantik seusia Dewi Teratai putih.


Kedua orang gadis itu berjalan menghampiri tempat Shin Liong dan Dewi Teratai putih ber istirahat.


"Bolehkah kami beristirahat di sini sebentar?" tanya gadis cantik pertama bertanya kepada Dewi Teratai putih.


Dengan tersenyum, Dewi Teratai putih mempersilahkan kedua orang gadis itu untuk duduk di dekat mereka.


"Kenalkan nama ku Wen Niu dan teman ku ini bernama Cai Min" kata gadis pertama.


"Nama ku Dewi Nuwa " jawab Dewi Teratai putih singkat.


"Wah nama mu Dewi, sesuai dengan wajah mu, kau memang cantik seperti Dewi Dewi " kata Wen Niu ber basa basi.


Dari arah jalan raya, kembali datang sepuluh orang laki laki usia tiga puluhan tahun dengan tubuh tinggi besar, dan tangan penuh dengan tato gambar ular.


Kesepuluh orang laki laki kasar itu duduk di bawah pohon yang lain,yang tidak jauh dari pohon tempat Shin Liong dan Dewi Teratai putih beristirahat.


Kesepuluh orang laki laki itu sibuk meminum arak sambil sesekali menatap kearah Dewi Teratai putih duduk.


Sedangkan Dewi Teratai putih, meskipun tahu diri nya di perhatikan oleh kesepuluh orang laki laki kasar itu, tetapi karena tidak ingin mengganggu Shin Liong yang tidur berbantalkan paha nya, sehingga dia memilih pura pura tidak mengetahui nya saja.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2