
Pemuda Luan Cen Tong tercekat melihat teman nya yang selalu menjadi andalan nya telah cidera berat entah oleh siapa, karena dia melihat kedua pemuda itu masih diam di tempat nya, tidak melakukan apa apa, dan tahu tahu tangan Kang Bo Peng yang bermaksud memukul Hao Shen, menjadi remuk seketika.
"Kalian!, kalian sudah membuat masalah dengan tuan muda Luan, kalian akan menyesali nya, tunggulah saja!" kata Luan Cen Tong sambil menggandeng teman nya yang berjalan sambil meraung raung kesakitan, karena tangan kanan nya hancur sebatas siku nya.
Pemuda Hao Cun menatap kearah adik nya Hao Shen sambil bergumam, "kau mengerikan adik!"...
"Ah kakak, aku tidak bermaksud kejam , aku cuma menyelamatkan orang lain dari kekejaman tangan nya, bila dia masih sempurna, berapa banyak lagi orang orang yang akan dia aniaya!" sahut Hao Shen.
"Terserah kau saja adik, karena kau adik ku, aku percaya pada mu, dan aku akan mendukung diri mu!" kata Hao Cun.
"Wajah kalian sangat mirip sekali, setahu saya, tidak ada warga kota ini yang kembar serupa seperti kalian, siapakah kalian ini sebenar nya?" tanya gadis bernama Go Guan Mi yang sejak tadi menggoda sahabat nya Jiu Mei yang duduk di samping Hao Shen.
"Hm, iya kami memang bukan warga kota Kwan Ton ini nona, kami cuma singgah sebentar, kami pengelana tanpa arah dan tujuan pasti, nama saya Hao Cun dan ini adik saya Hao Shen!" jawab pemuda Hao Cun dengan ramah nya.
"Saya mohon maap jika saya membuat kalian terlibat masalah di kota ini, maafkan saya!" kata gadis bernama Jiu Mei sambil menjura kepada Hao Cun dan Hao Shen.
"Sudahlah nona, tidak perlu sungkan, lagi pula kita tidak melakukan apa pun, dan orang orang banyak menyaksikan, bahwa kita cuma kebetulan satu meja saja, bukan direncanakan" kata pemuda Hao Cun.
Masakan yang dipesan oleh para gadis itupun tiba, dan mereka segera menyantap makanan yang sudah disediakan untuk mereka.
Selagi mereka menyantap makanan mereka, tiba tiba dari arah pintu, muncul pemuda bernama Luan Cen Tong tadi, kali ini dia bersama tiga orang lain nya, dan pemuda yang bernama Kang Bo Peng tadi sudah tidak terlihat lagi.
"Kakak Kong Ho, lihatlah kelakuan adik mu, mereka lah yang telah mengajak adik mu makan makan di sini kak!" kata pemuda Luan Cen Tong sambil menunjuk kearah Hao cun dan Hao Shen.
Ouw Kong Ho, pemuda brangasan usia dua puluh dua tahun, kakak kandung dari gadis Ouw Jiu Mei itu menatap kearah meja sang adik dengan muka merah padam.
"Jiu Mei!, kurang ajar, kau sudah bertunangan dengan tuan muda Luan, masih saja bersama orang lain, memalukan sekali, dan kau pemuda ban*sat!, jangan katakan aku Ouw Kong Ho Si Banteng tuli bila tidak memberikan pelajaran kepada kalian!" kata pemuda Kong Ho dengan beringas nya.
"Kakak!, kakak jangan sembarangan menuduh orang lain, kami tidak saling kenal, cuma karena semua meja sudah penuh, jadi kami minta ijin untuk bergabung di meja mereka, itu saja, dan tidak lebih dari itu!" kata Jiu Mei lantang.
"Plak!"...
Tiba tiba sebuah tempeleng an telapak tangan Kong Ho mendarat di pipi Jiu Mei, membuat pipi putih gadis cantik itu menjadi memerah seketika.
"Sudah kebiasaan kakak seperti itu, aku sedari awal tidak suka dengan pemuda Cen Tong itu, tetapi kakak bersikeras menjodohkan aku, hanya karena pemuda itu menjanjikan saudara sepupu nya untuk kakak, tetapi kakak tidak tahu, jika orang tua gadis itu sudah menjodohkan putri mereka dengan putra tuan kota Su Cuan!" kata Jiu Mei sambil menangis.
"Dia bohong kak!" bantah pemuda Cen Tong.
"Kau mengada ada hanya agar tidak jadi menikah dengan tuan muda Luan saja, kau sudah diracuni oleh pemuda itu kah heh, setelah aku menghajar mu, aku juga akan membunuh pemuda itu!" kata Kong Ho sambil mengayunkan tangan nya ingin memukul tubuh Jiu Mei.
Tetapi belum lagi tangan itu sampai di pipi Jiu Mei, tangan nya tiba tiba ditahan oleh Hao Shen.
__ADS_1
Sekuat tenaga dia ingin menggerakkan tangan nya, namun tangan nya seperti di jepit gunung batu.
"Jangan pukul perempuan dua kali di depan ku, bila itu kau lakukan, maka kau akan menerima kemarahan ku, kau cuma kelihatan gagah dengan memukul perempuan tidak berdaya saja, tetapi Dimata ku, kau tidak lebih dari manusia pengecut!" kata pemuda Hao Shen, yang entah bagai mana, tahu tahu saja sudah memegang tangan Kong Ho dengan kuat.
"Dia adik ku, jangan kan ku pukul, kubunuh pun itu hak ku, kau tidak usah ikut campur, kalau tidak sekarang, nanti pun tetap akan ku pukul juga, dia harus menuruti semua kata kata ku, karena dia sudah ku jual dengan tuan muda Luan!" kata pemuda Kong Ho.
"Kakak keterlaluan, aku tidak mau kau jual!" seru Jiu Mei menangis nyaring.
Nampak wajah tuan muda Luan tersenyum puas.
"krek!"...
"Plug!"...
Tiba tiba tangan Kong Ho yang di pegang oleh Hao Shen tadi putus seperti di jepit gunting besi.
Jerit dan raungan dari mulut Kong Ho terdengar seolah olah akan merobek langit, saat tangan kanan nya putus di cekal tangan Hao Shen.
"Itu pelajaran bagi laki laki yang sewenang wenang dengan wanita yang lemah, apa lagi jika wanita itu saudara ataupun kerabat yang seharusnya dia lindungi, setelah ini, maka leher mu yang akan ku putus kan!" kata pemuda Hao Shen sangat marah.
Melihat kejadian itu, tubuh Luan Cen Tong langsung gemetar hingga tak sadar celananya basah karena takut nya.
"Aku paling membenci laki laki yang suka memaksakan kehendak nya kepada orang lain, kalau aku tahu kau masih saja memaksakan kehendak mu kepada orang lain, jangan salahkan aku bila bertindak lebih sadis kepada mu dari pada mereka, karena biang masalah adalah diri mu, pergilah sebelum selera makan ku terganggu, karena, kalau selera makan ku terganggu, aku tidak akan keberatan mencabut ubun ubun kalian!" kata Hao Shen kembali duduk setelah melemparkan tangan Kong Ho yang masih berada di tangan nya.
Sedangkan kedua pemuda yang termangu Mangu melihat peristiwa yang menimpa teman mereka Ouw Kong Ho.
Pemuda Ouw Kong Ho, sebenar nya pemuda yang paling terkenal di seantero kota Kwan Ton, karena ketinggian kultivasi nya diatas rata rata yang lain.
Tetapi ternyata, menghadapi pemuda Hao Shen, kepandaian dan tingkat kultivasi nya, seperti anak kecil saja bagi pemuda itu.
Kini dengan tangan kanan yang sudah buntung sebatas pergelangan tangan nya, Kong Ho tidak lagi bisa petantang petenteng di mana mana, ikut campur urusan yang sebenarnya bukan urusan nya.
Jiu Mei sebenar nya sedih melihat tangan kakak nya yang buntung, tetapi bila ingat kelakuan sang kakek yang se enak hati nya menjual dirinya pada tuan muda Luan, serta menampar muka nya di depan orang banyak, membuat dendam di hati Jiu Mei berkobar seperti kobaran api memakan rumput kering di musim kemarau.
Kedua orang pemuda teman Kong Ho yang biasanya paling nyaring bicara dan paling suka bertindak duluan dari pada Kong Ho, kini terdiam tanpa berani bersuara sedikit pun.
Mereka berdua segera membawa Kong Ho keluar dari rumah makan itu, tanpa berkata kata lagi, cuma suara jeritan dari Kong Ho saja yang terdengar.
Ke empat gadis itu terpana menyaksikan kejadian yang begitu cepat, sehingga bagaikan mimpi saja rasa nya.
Tetapi bukan Kong Ho nama nya bila mau menerima begitu saja kekalahan nya.
__ADS_1
Di timur kota Kwan Ton ada sebuah bukit tepat berada di pinggir laut di tepi teluk Kwan Ton.
Di atas bukit itu ada sebuah rumah cukup besar berpagar batu alam.
Di rumah tersebut di huni oleh dua orang Datuk atau dedengkot tua bernama Ou Yang Kao Seng dan Ou Yang Liao Ceng.
Mereka berdua bukan tokoh hitam, tetapi bukan pula tokoh putih, karena mereka bertindak bukan atas nama golongan, siapapun yang tidak mereka senangi, akan mereka bantai, tidak perduli putih atau hitam, sedangkan siapapun yang mereka senangi, akan mereka bela, tidak perduli putih ataukah hitam.
Kedua Datuk itu adalah guru dari Ouw Kong Ho, mungkin karena itulah tidak ada satupun yang berani melawan Kong Ho, bukan karena tinggi nya ilmu pemuda itu, tetapi lebih kepada gentar dengan kedua Datuk itu.
Konon kedua Datuk itu sudah berusia lebih dari dua ratus tahun, dan tingkat kultivasi nya di tingkat Dewa Bumi akhir.
Rupanya, ke situlah Kong Ho di bawa oleh kedua teman nya.
Melihat keadaan Murid tersayang nya seperti itu, bukan main marah nya dua orang Datuk bersaudara kembar itu.
Merah padam muka kedua nya, merasa mendapatkan hinaan luar biasa dari orang lain.
Saat itu, Hao Cun dan Hao Shen sedang berjalan setelah keluar dari rumah makan, sedangkan ke empat orang gadis cantik itu, masih berada di dalam rumah makan, menyelesaikan makan mereka.
Bar saja Hao Cun dan Hao Shen bermaksud keluar dari halaman rumah makan itu, dari arah jalan raya, muncul dua orang sangat tua, bertubuh agak bongkok, dengan rambut putih riap riapan, tetapi sangat jelas bila kedua nya masih sangat kuat, bahkan mungkin lebih kuat dari pada para pemuda.
Di belakang kedua orang kakek tua itu, berdiri empat orang pemuda, yang salah satu nya adalah Luan Cen Tong dan Ouw Kong Ho.
"Guru!, salah satu dari kedua pemuda kembar itulah pelaku nya!" kata Kong Ho sambil menunjuk ke arah Hao Cun dan Hao Shen dengan tangan kiri nya, karena tangan kanan nya sedang di balut kain.
"Aku tidak perduli siapa diantara kalian pelaku nya, karena aku akan membunuh kalian berdua, kalian tinggal pilih, cepat cepat minta maap! dan bunuh diri disini, atau ku siksa dengan sangat kejam, setelah aku puas, barulah ku bunuh?" tanya Ou Yang Kao Seng sambil menuding kan telunjuk nya ke arah Hao bersaudara.
Di dalam rumah makan, para gadis sudah menyelesaikan makan mereka, dan membayar harga makanan nya.
Mendengar orang orang ribut ada perkelahian di halaman rumah makan itu, ke empat orang gadis itupun segera berlari ke luar.
Betapa terkejut nya mereka melihat siapa yang datang, dua Datuk bukit Kwan sang dedengkot yang sudah sangat kesohor kejam dan sadis nya itu.
Kontan saja Jiu Mei merasa sangat bersalah kepada dua orang saudara kembar itu, karena diri nya lah, mereka berdua menjadi korban.
Merasa tidak berdaya, Eng Xian, Jiu Mei, Guan Mi dan Bian Moi cuma bisa menangis menyesali tindakan mereka yang makan satu meja dengan kedua saudara kembar itu, sehingga mengakibatkan kedua saudara kembar itu mendapatkan masalah besar sekarang.
...****************...
Mohon maaf bila jauh dari kata sempurna, author juga menyadari segala kekurangan author, inilah batas kemampuan dari author, semoga kedepan nya, dapat di perbaiki sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Terimakasih pula atas semua dukungan nya, author sayak kalian semua, karena dukungan kalianlah author semakin tambah semangat.