Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Tumbal Rawa Maut.


__ADS_3

Kedua orang pemuda yang baru datang itu membungkuk di depan sang jendral tua Bian Hok Tong.


"Ampun tuan ku!, segala titah tuan ku telah hamba jalan kan, surat tuan ku sudah kami serahkan dengan jendral Lu Fei Yang langsung!" jawab pemuda bernama Cu Eng itu.


"Lalu apa tanggapan dari sang jendral itu?" tanya jendral tua Bian Hok Tong tidak sabaran lagi.


"Sang jendral itu berkata, "katakan kepada jendral mu, aku setuju syarat yang dia ajukan, besok, kami mulai bergerak, kalian buat saja tanda di sepanjang jalan agar pasukan kami bisa menyerang perkampungan itu!" kata pemuda Cu Eng menceritakan kepada sang jendral.


Dengan wajah tersenyum, sang jendral tua itu bertanya lagi, "lalu?, apakah sepanjang jalan sudah kalian beri tanda?, terutama di sepanjang rawa, bila sampai salah, bisa bisa gawat!"...


"Tuan ku jangan khawatir, sepanjang rawa telah kami beri tanda dengan sobekan kain putih, sehingga mudah bagi mereka untuk menyeberangi rawa nanti nya!" kata pemuda Cu Eng.


Mendengar perkataan dari bawahan nya itu, sang jendral itu tertawa Ter bahak bahak hingga bahu nya terguncang.


"Kong Yu!, sebentar lagi kau akan benar benar berhenti menjadi Kaisar, aku sengaja mengikuti mu mengungsi, cuma karena ingin memastikan nanti kau mati di dalam lembah ini, dan lembah ini akan menjadi hak milik ku sendiri, aku akan membuat Klan di dalam lembah ini, yaitu Klan Lu, dan kelak, seluruh keturunan ku akan hidup makmur di dalam lembah ini!" kata sang jendral tua Bian Hok Tong gembira.


"kalian memang anak buah ku yang dapat ku andal kan, terus awasi pintu masuk, dan berhati hatilah, aku akan pulang ke kediaman ku, supaya orang orang tidak mencurigai ku!" kata sang jendral sambil berlalu melesat kedalam kegelapan malam.


Shin Liong sengaja memindai sang jendral hingga memasuki rumah kediaman nya.


Setelah merasa sang jendral sudah pergi jauh, kedua pemuda bersaudara itu hendak pergi juga dari tempat itu.


Tetapi betapa terkejut nya mereka, ketika mendapati tubuh mereka sudah tertotok tanpa bisa di gerakan sedikit pun juga, bahkan untuk berbicara sekalipun.


Kedua bersaudara itu cuma merasa tubuh mereka tiba tiba dibawa terbang ke suatu tempat yang entah dimana.


Lalu tubuh mereka di lemparkan begitu saja, seperti karung pasir.


Setelah tubuh mereka berdua di lemparkan begitu saja, kemudian mereka berdua di tinggalkan dengan kondisi tertotok.


Kedua orang pemuda itu mencoba membuka totokan di tubuh mereka masing masing, tetapi bukan nya totokan di tubuh mereka terlepas, tetapi malahan, kulit tubuh mereka serasa di kuliti hidup hidup.


Kedua bersaudara itu menjerit sekuat kuat nya, tetapi suara mereka tidak keluar sedikitpun juga.


Malam terus bergeser menuju pagi, tanpa perduli dengan keberadaan dua orang pemuda bersaudara yang tertotok itu.


Pagi pun menjelang, dan matahari mulai memasuki lembah itu.


Shin Liong


Setelah selesai sarapan pagi, Shin Liong dan A Yong berjalan jalan di sekitar telaga.


Ternyata di dalam lembah itu, terdapat persawahan yang sangat luas dan sangat subur, dengan bulir padi yang menguning.


Sedangkan ditanah yang agak tinggi, terdapat perkebunan ber aneka macam buah buahan.


Sedangkan di sebelah barat lembah, terbentang sebuah hutan yang cukup luas dengan beraneka macam binatang di dalam nya.


Pantas saja sang jendral sangat berambisi untuk menguasai lembah ini, karena selain lebah ini sangat luas, juga sangat subur, sehingga tanaman apapun yang ditanam, bisa dipastikan akan berhasil panen, pikir Shin Liong di dalam hati nya.


"A Yong!, ayo kita naik keatas tebing ini!" ajak Shin Liong kepada putra nya.

__ADS_1


"Tetapi tebing ini kan tinggi ayah!" kata A Yong protes dengan ajakan sang ayah.


"Kalau kau tidak mampu naik keatas tebing itu, tidak usah kau bilang putra ayah!" kata Shin Liong mulai menggoda putra nya.


"Iih ayah bisa main ancam saja, emang nya ayah mau ibu bersuami orang lain?" tanya A Yong tidak kalah jahil nya.


"Apa?, apa kau bilang heh?, kau yang ingin mencari ayah baru, bukan ibu mu yang kepingin kawin lagi!" sanggah Shin Liong pura pura marah.


"Siapa juga yang mau mencari ayah lain, bagi A Yong, ayah ku, ya teman ku juga, ya sahabat karib ku juga, meskipun jahil dan usil, tetapi ayah adalah ayah terbaik, sangat pantas bila ibu sampai sakit ingatan setelah berpisah dengan ayah!" kata A Yong sambil tertawa tawa senang melihat muka ayah nya memerah.


"Sudah!, sudah!, ayo kita naik, dan perhatikan ayah naik terlebih dahulu!" kata Shin Liong sambil melompat dari satu tonjolan batu, ketonjolan batu yang lain nya, hingga akhir nya tiba juga di puncak tebing.


Melihat cara sang ayah memanjat naik keatas tebing batu dengan berlompatan dari satu tonjolan batu ke tonjolan batu lain nya, akhirnya A Yong juga meniru cara ayah nya melompat naik di tebing batu itu.


Walaupun waktu yang di pakai oleh A Yong mendaki tebing batu itu, lebih lama dari Shin Liong , tetapi pada akhirnya, dia tiba juga di puncak tebing batu itu.


Ternyata puncak tebing batu itu lumayan lebar, mungkin selebar seratus depa, mengelilingi sebuah lembah yang sangat besar, mungkin lebih besar dari pada se buah kota besar, mirip sebuah benteng alam yang sangat kuat.


Di sekeliling luar tebing batu itu, terdapat sebuah rawa rawa hidup yang sangat luas, sehingga memang sangat tepat untuk menjadi sebuah tempat perlindungan.


Tempat ini seperti nya seolah olah di buat oleh para Dewa untuk menjadi perlindungan umat manusia.


Diatas tebing yang tegak dan tinggi ini banyak terdapat pohon pohon yang tumbuh di atas batu, sehingga sangat tepat untuk tempat mengintai ke arah bawah, hingga jauh ke seberang rawa rawa hidup itu.


"A Yong!, duduklah di sini, lihatlah pemandangan yang serba indah ini, jarang jarang ada!" ajak Shin Liong kepada putra nya.


Sang putra duduk di samping Shin Liong sambil menyandarkan kepala nya di bahu ayah nya.


"Ah itu!"...


Baru saja Shin Liong ingin mengisahkan kepada sang putra, tiba tiba mata nya melihat gerakan di seberang rawa, seperti gerakan sepasukan kera besar berjalan tegak dengan mengenakan baju Jirah perang lengkap, sedang berupaya menyeberangi rawa.


Pasukan itu terlihat sekitar tiga ratus prajurit tempur.


Pasukan itu berjalan dengan lancar nya hingga hampir mencapai pertengahan rawa.


"Ayah!, apakah kita serang sekarang yah?, bila pasukan itu sampai menyeberang kesini, bakalan banyak korban yah!" kata A Yong bertanya kepada Shin Liong.


"Nanti saja dulu, kita lihat apa yang terjadi selanjut nya, jangan buru buru mengambil tindakan, bisa bisa kita sendiri yang celaka akibat bertindak tanpa perhitungan matang!" kata Shin Liong menasehati putra nya.


Lihat yah, yang paling depan satu persatu terhisap rawa, ternyata ayah benar, dan yang lain nya kini menjadi panik dan terlihat semakin kacau!" kata A Yong kagum dengan perkiraan sang ayah nya itu.


Padahal, tanpa sepengetahuan nya, sang ayah tadi malam, dengan ilmu meringankan tubuh nya yang sudah sangat sempurna, sehingga bisa terbang diatas rawa rawa, seluruh tanda tanda yang terbuat dari sobekan kain itu dia pindahkan ke tempat yang justru berbahaya.


Shin Liong segera mengeluarkan panah Sumbu langit nya, dan mengincar prajurit mahluk Orgo yang berada paling belakang.


"Enam anak panah, meluncur lah!" kata Shin Liong sambil melepaskan tali panah.


Tiba tiba enam anak panah segera meluncur ke arah mana Shin Liong mengincar tadi.


Enam prajurit mahluk Orgo yang berjalan paling belakang, tumbang ketanah dengan leher bolong.

__ADS_1


Melihat enam prajurit yang paling belakang tumbang dengan leher menyemburkan darah segar, prajurit yang di depan nya segera berteriak sambil berlari ke depan, dan hal ini juga di ikuti oleh para prajurit yang lain nya.


Kekacauan pun segera tercipta, mahluk itu merasa diserang oleh orang yang tidak terlihat di mana bersembunyi, akhirnya saling serobot mencari keselamatan diri masing masing.


Para prajurit yang paling depan berlari kesembarang arah,dan akhirnya menjadi korban dari keganasan rawa rawa hidup itu.


Meskipun sang jendral berusaha menenangkan para prajurit nya agar jangan lari, tetapi karena puluhan anak panah mengejar mereka yang berdiri paling belakang, mau tidak mau, prajurit yang paling belakang berusaha berlari kearah depan.


Prajurit yang paling depan mengira ada serangan mendadak dari pasukan musuh,segera berlari menuju arah tanah tinggi yang terlihat di depan mereka.


Tetapi tanpa mereka sadari, hal itulah yang mempercepat kematian mereka.


Tidak terlalu lama, akhir nya, tiga ratus prajurit Orgo itu musnah semua nya karena keganasan rawa rawa hidup, cuma sebagian kecil saja yang mendapatkan kehormatan, tewas di ujung anak panah dari Shin Liong .


Karena tinggal sendirian saja, akhirnya sang jendral memilih untuk kembali ke markas mereka.


"Pulanglah nak!, temui ibu dan nenek mu, katakan agar menunggu ayah, ayah ingin membuntuti pemimpin pasukan mahluk Orgo itu!" kata Shin Liong kepada A Yong.


"Tidak!, tidak!, tidak!, kita sama sama saja ayah!" kata A Yong tidak setuju dengan pendapat sang ayah.


"A Yong!, kamu tega melihat ibu dan nenek mu risau, ayolah cepat kembali sebelum ayah kehilangan jejak nya, ayo cepat!" perintah Shin Liong kini menjadi tegas.


Dengan sangat berat hati, A Yong terpaksa menuruti kata kata sang ayah.


"Ayah berhati hatilah!, aku pernah kehilangan ayah, dan aku tidak ingin hal itu terulang lagi, cepatlah kembali untuk aku dan ibu!" kata A Yong sambil melompat kearah dalam lembah.


Sedangkan Shin Liong , dengan ilmu langkah Dewa Dewi nya dan ditambah ilmu meringan kan tubuh nya yang memang sudah sempurna itu, dia melayang di atas rawa rawa hidup itu.


Agar tidak kehilangan jejak, Shin Liong mengedarkan persepsi nya, mencari keberadaan sang pemimpin pasukan Orgo yang akan menyerang lembah itu.


Setelah mengetahui letak keberadaan dari jendral pasukan Orgo itu, Shin Liong segera melesat dengan kecepatan yang tidak bisa di ikuti mata, untuk mengejar sang jendral pasukan Orgo.


Dari ketinggian sebuah pohon, Shin Liong melihat sang jendral itu terus berlari dengan kecepatan tinggi, menuju ke satu arah.


Setelah berlari dengan kecepatan tinggi, akhirnya di depan mereka terlihat sebuah benteng cukup besar, berdiri kokoh.


Melihat sang panglima yang pulang sendirian, pintu gerbang itupun di buka kan.


Sementara itu, di sudut benteng itu, nampak sesuatu yang ganjil namun luput dari perhatian sedang terjadi, seekor burung gereja kecil, bertengger di atas sudut benteng sambil memperhatikan semua keadaan di dalam benteng itu.


Sekitar dua ratus orang prajurit Orgo nampak sedang bersiaga di dalam benteng itu.


Sedangkan beberapa yang lain nya sedang berjaga jaga di setiap sudut benteng itu.


...****************...


Minggu tanggal empat Juni, author mendapat kecelakaan kerja, mata kiri author kena kawat, doa kan author tetap bisa menamatkan novel ini, meski dengan tertatih tatih, doa kan pula agar author bisa sehat seperti semula,


Author mesti harus terapi rutin setiap Minggu nya.


Karya yang author up date ini adalah simpanan author di drap yang seharusnya di revisi dahulu sebelum di update, tetapi berhubung gangguan mata author, terpaksa author update tanpa revisi.

__ADS_1


Jadi mohon maaf bila banyak tipo nya ya.


__ADS_2