Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Sang Jendral Tua .


__ADS_3

Pendeta Shi Ma termenung mendengar ucapan sang pangeran putra mahkota itu .


Hati nya terasa perih seperti teriris iris .


Dia teringat mimpi nya beberapa waktu yang lalu , bahwa istana Alexia musnah di lalap api yang sangat besar sekali .


Mimpi itu selalu berulang sebanyak tujuh malam berturut turut .


Pendeta Shi Ma Menundukkan kepala nya , "duh Dewata , hamba pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti nya , yang akan terjadi , terjadilah !" gumam sang pendeta dengan nada sangat sedih sekali .


"Tenang lah yang mulia Siauw Hong Siang !, mungkin sang pendeta merasa takut karena usia nya memang sudah sangat tua , tetapi satu hal yang bisa saya janjikan , besok pagi , kepala pemuda itu akan hamba persembahkan pada yang mulia Siauw Hong Siang !" ucap Dao Shu fa seorang jendral senior yang sudah berusia lanjut .


Meskipun sudah berusia cukup tua , tetapi semua orang tidak ada yang dapat meragukan kehebatan sang jendral ini .


Dalam setiap pertempuran , laki laki tua ini tidak pernah terkalahkan oleh siapa pun juga .


"Aku percaya kepada mu paman Dao Thai Goanswe , besok pagi aku juga ingin menyaksikan kepala pemuda itu kau penggal dan ketiga orang istri nya , menjadi istri ku !" kata putra mahkota dengan wajah berseri seri .


Malam pun berlalu dengan rencana rencana besar dari putra mahkota .


Sambil berbaring di kamar nya , sang putra mahkota membayangkan Dewi Teratai putih menjadi istri nya , mendampingi nya diatas singgasana istana Alexia .


Ke esokan pagi nya , saat matahari baru saja muncul dari ufuk timur , di halaman penginapan terlihat sebuah kereta kencana berhenti .


Di samping kanan kereta kencana itu , se ekor kuda coklat gagah yang di tunggangi oleh seorang laki laki tua berjubah kebesaran seorang jendral , nampak berjalan dengan tenang nya .


Dua ratus orang Prajurit khusus berjalan di belakang mereka dengan senjata tombak dan pedang .


Saat sudah berada di depan penginapan , dua orang Prajurit segera berlari kedalam rumah penginapan itu .


Saat keluar dari rumah penginapan , kedua orang Prajurit khusus itu di iringi oleh Shin Liong , A Yong dan ketiga orang istri nya .


Dibelakang nya nampak Dewi Chang 'e Dewi Lilian dan Arwanwen berjalan mengiringi nya .


Jendral Dao Shu fa bersedekap, duduk diatas kuda sambil memperhatikan Shin Liong dalam dalam .


Beberapa kali dia memindai tingkat kultivasi pemuda ini , namun dia tidak melihat sesuatu yang istimewa .


"Apakah kalian datang dengan maksud yang sama seperti kutu anjing tadi malam ?, bila benar , pulanglah , jangan ganggu keluarga ku , aku tidak ingin keluarga ku diganggu oleh siapa pun juga , bila itu tidak kalian indahkan , jangan bilang aku manusia kejam bila bertindak berlebihan !" kata Shin Liong sambil melangkah ke halaman rumah penginapan itu .


Jendral Dao Shu fa tertawa geli mendengar ucapan dari Shin Liong itu .


"Ho ho ho ho !, kau terlalu jumawa anak muda , kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa , serahkan ketiga wanita itu dan merangkak lah di depan ku , agar aku bisa mengampuni nyawa mu anak muda !" kata jendral tua itu .

__ADS_1


Seorang pemuda tampan keluar dari dalam kereta , sambil mata nya terbelalak melihat ketiga wanita cantik jelita itu .


"Hei sampah , aku tidak menyakiti mu asal kau serahkan Dewi Teratai putih dan kedua wanita lain nya kepada ku , akan kuberikan seribu keping emas sebagai imbalan kepada mu , bagai mana ?" tanya putra mahkota dengan sombong nya .


"Seribu keping emas kurasa terlalu murah tuan , bahkan dengan satu kepala tuan yang tidak berharga itu pun masih terlalu murah kurasa , kecuali dengan kepala seluruh penghuni istana Alexia , itupun terlalu murah !" kata A Yong tiba tiba sambil berjalan kesamping ayah nya .


"Siapa kau budak hina , ada hak apa kau ikut campur bicara ?" tanya putra mahkota .


"Heh dengar pangeran tuli , nama ku Shin Yong , putra dari Shin Liong dan Dewi Teratai putih , jadi orang bodoh mana yang bilang aku tidak berhak ikut campur urusan kedua orang tua ku ?, atau kau ingin telinga mu ku korek dengan ujung pedang kah ?" tanya A Yong mulai membara darah muda nya .


Merah padam wajah putra mahkota mendengar perkataan dari A Yong itu .


"Kau jangan membual , aku tahu beberapa tahun silam Dewi Teratai putih masih belum memiliki putra , sekarang kau datang mengaku putra dari nya , mana bisa aku percaya !" bentak putra mahkota .


"Otak mu yang cuma sebesar biji lombok itu mana bisa memikirkan keanehan yang ada di semesta raya ini , dia memang putra kandung ku dan Shin Liong , pergilah dan jangan ganggu kami , kami cuma ingin hidup tenang , itu saja !" kata Dewi Teratai putih .


"Tidak Dewi !, kau harus menjadi istri ku , juga kedua orang wanita cantik itu harus menjadi istri ku , apapun resiko nya , kalian harus menjadi istri ku " kata putra mahkota dengan lantang .


"Kau pikir kekuasaan bisa menjadikan kau dapat berbuat semau mu , meskipun harus melewati ber ratus kali kelahiran , kami tetap memilih suami kami sekarang sebagai pendamping hidup kami , kau tidak usah berkhayal terlalu muluk muluk pangeran , jangan ganggu rumah tangga kami , atau kau akan menyesali nya seumur hidup mu !" ucap Dewi Xuan Yi dengan geram sekali .


Putra mahkota terpana mendengar ucapan dari Dewi Xuan Yi yang cantik jelita itu .


Baginya , bukan arti dari kata kata itu yang membuat nya terpukau , tetapi suara merdu dari Dewi paling cantik itulah yang membuat kuping nya seperti di nyanyikan lagu kasmaran .


"Kau memang tidak sadar diri pangeran , hanya bermodalkan harta dan tahta , kau mencoba merebut hak orang lain , menentang hukum langit , jangan ganggu rumah tangga kami , biarkan kami hidup damai , dan istana Alexia akan aman sentosa !" kata Dewi Xuan Yi lagi .


"Begini saja , bila dia bisa bertahan dalam sepuluh jurus dari serangan ku , maka kami akan mundur dan kalian boleh pergi , tetapi bila dalam sepuluh jurus dia kalah , maka kalian harus dengan rela ikut bersama kami , bagai mana ?" tanya jendral Dao Shu fa sambil menunjuk kearah Shin Liong .


Dewi Xuan Yi tersenyum simpul mendengar tawaran konyol dari jendral tua itu .


"Sekali lagi ku mohon jangan ganggu keluarga ku , pulanglah ke istana dengan aman , penyesalan diakhir cerita , tidak ada guna nya !" kata Shin Liong mencoba bersabar .


Tetapi rupanya , kata kata dari Shin Liong itu , diartikan oleh sang pangeran dan jendral Dao sebagai rasa jerih dari pemuda itu pada mereka .


"Ho ho ho ho , sekarang baru kau tahu arti nya takut ya , tetapi aku masih memberi kesempatan kepada mu , pergilah dengan merangkak serta jilat kaki kami baru kau kami ampuni !" ucap putra mahkota dengan pongah nya .


"Begitu kah ?, apakah kalian pikir aku takut ?, kau terlalu besar kepala pangeran , kalau memang begitu maksud kalian , baiklah , aku akan meladeni kalian semua , dan hari ini juga ku nyatakan istana Alexia ku hapuskan dari sejarah negeri Fangkea ini !" kata Shin Liong sambil melangkah maju kearah kereta sang pangeran .


"Bruak !!" ...


Dengan sekali kibasan tangan saja , kereta beserta kuda dan kusir nya terlempar sangat jauh hingga sampai keseberang jalan , dan jatuh berantakan .


Mata Jendral Dao Shu fa terbelalak melihat kenyataan yang terjadi di depan mata nya itu .

__ADS_1


Namun sang putra mahkota yang masih yakin jendral nya itu dapat mengungguli Shin Liong , berteriak agar sang jendral tua itu segera meringkus Shin Liong .


"Paman Dao Thai Goanswe , cepat ringkus pemuda itu dan bawa ketiga Dewi jelita itu untuk ku !" teriak putra mahkota .


"Anak muda !, cepat serahkan ketiga wanita itu kepada ku , ini titah yang mulia , siapapun tidak boleh membantah nya !" kata jendral tua itu kepada Shin Liong .


"Aku tidak perduli dengan titah sang putra mahkota ataupun sang kaisar sekali pun , bila mencoba mengganggu rumah tangga ku dan keluarga ku , maka istana Alexia pun akan ku buat banjir dengan darah , majulah orang tua , sesuai dengan kata kata mu tadi , bila dalam sepuluh jurus aku tidak mampu menandingi mu , maka ketiga istri ku ini menjadi milik sang pangeran , tetapi bila dalam sepuluh jurus kau tidak mampu mengalahkan aku , maka itu berarti kehancuran istana Alexia sudah tiba pada masa akhir kejayaan nya !" kata Shin Liong bersungguh sungguh tanpa bermaksud mengancam atau menakut nakuti .


Mendengar perkataan dari Shin Liong itu , sang putra mahkota merasa mendapat angin segar , dia yakin dengan kemampuan dari jendral tua itu akan mampu mengalahkan Shin Liong sebelum sepuluh jurus .


Begitu pun dengan sang jendral tua itu , dia merasa yakin sekali jika pemuda bernama Shin Liong itu tidak akan mampu bertahan lebih dari sepuluh jurus dari serangan nya .


"Tenanglah Siauw Hong Siang , sebelum sepuluh jurus , kupastikan ketiga bidadari itu akan menjadi milik mu !" jawab jendral Dao sambil mempersiapkan jurus Fung Lo Hai (angin mengacau lautan ) yang selama ini menjadi andalan nya .


Jurus ini hampir mirip dengan jurus langkah Dewa Dewi , tetapi penuh dengan kekurangan dan kelemahan disana sini .


Tubuh jendral Dao tiba tiba berubah menjadi bayangan yang berkelebat dengan sangat cepat sekali .


"Satu !" ...


Terdengar suara dari sang jendral bergema , memberi aba aba .


Meskipun bagi orang lain gerakan dari sang jendral ini sudah sangat cepat sekali , tetapi di mata Shin Liong dan ketiga istri nya , gerakan itu masih terlalu lambat dan sangat membosankan sekali .


Jendral tua Dao bergerak cepat mengitari tubuh Shin Liong , mencari tempat yang terlihat menjadi kelemahan dan kelengahan dari Shin Liong .


Setelah melihat beberapa titik di tubuh Shin Liong yang nampak terbuka , sang jendral pun segera melancarkan serangan maut nya kearah titik itu .


Shin Liong membiarkan tubuh nya beberapa saat , tanpa melakukan gerakan apapun juga .


Hal itu membuat hati sang jendral menjadi sangat riang , karena mengira lawan nya grogi menghadapi diri nya .


Namun betapa terkejut nya sang jendral tua itu , ketika kepalan tangan nya hampir menyentuh tulang rusuk Shin Liong , tiba tiba tubuh pemuda itu raib begitu saja dari hadapan nya , dan tahu tahu sudah berada di belakang nya sambil bersedekap .


Jendral tua Dao memutar tubuh nya sambil meningkatkan daya serangan nya ke arah dada Shin Liong .


Kali ni dia menggunakan energi maksimal untuk mempercepat gerakan serangan nya .


Sepintas terlihat Shin Liong seperti lengah dan tidak siap sama sekali .


Namun ketika tangan dari jendral tua Dao hampir menyentuh dada pemuda itu , kejadian tadi kembali terulang lagi , tiba tiba tubuh Shin Liong raib dari hadapan sang jendral yang memukul tempat kosong , dan tahu tahu sudah berada di belakang nya .


...****************...

__ADS_1


__ADS_2