
Pagi menjelang di dusun Liu san , para penduduk berkegiatan sebagai mana biasa nya .
Namun sedari pagi buta , hingga matahari mulai naik , tidak juga tampak batang hidung sang kepala dusun itu .
Meskipun sudah mencari kesegala penjuru dusun , sang kepala dusun itu tidak juga di ketemukan .
Agak jauh di belakang rumah , di ketemukan seonggok tulang belulang yang sudah tidak ada daging dan pakaian nya lagi , entah milik siapa .
Akhirnya , sebelum berangkat melanjutkan perjalanan mereka , Shin Liong terlebih dahulu mau melihat orang orang yang tadi malam dia sekap di pinggiran dusun , di dalam tirai gaib punggung kura kura nya .
Tetapi setelah sampai di tempat dia mengurung para laki laki tadi malam , mereka sudah tidak melihat siapapun lagi di tempat itu .
Padahal tirai gaib punggung kura kura nya masih utuh tanpa rusak atau di tembus orang lain .
Di dalam kurungan tirai gaib itu , yang tampak cuma beberapa onggokan tulang belulang manusia saja lagi , tanpa ada siapa pun di tempat itu .
"Hmm !, apa yang sebenar nya mereka rahasiakan , hingga lebih memilih mati , dari pada mengatakan nya ?" tanya Shin Liong kebingungan .
"Seperti nya ada sesuatu hal besar yang mereka tutupi kak , mungkin satu rahasia yang tidak boleh siapapun tahu !" kata Dewi Teratai putih menimpali ucapan suami nya itu .
"sudahlah , jangan terlalu di pikirkan , ayo kita lanjutkan perjalanan kita lagi , kota Yufing masih lumayan jauh lagi " .
"Sebelum tiba di kota Yufing , sebaik nya kita mampir sebentar di lembah teratai merah , aku ingin melihat suasana lembah itu sebentar !" kata Lilian .
"Tapi Bu , ibu kan tahu jika aji An Lian sudah ....!" kata Dewi Teratai putih tertahan .
"Meskipun mereka sudah tidak ada , tetapi pusara nya kan ada ?, aku ingin bersembahyang di pusara saudara ku itu !" kata Lilian lagi .
"Sebenar nya , bila mereka menelan pil yang aku berikan dulu , nyawa mereka selamat , kecuali mereka tidak mau meminum pil itu , karena pil itu sesungguh nya obat penawar racun nya !" jawab Shin Liong lagi .
"Jadi ? , pil itu penawar racun nya ya ? " tanya Dewi Teratai putih heran .
"Iya Dewi , itulah penawar nya , mereka akan selamat bila meminum pil itu , tetapi bila pil itu mereka buang , mereka akan tewas keracunan !" ...
Mereka segera melesat menuju kearah barat , dengan berpedoman dari arah mata hari .
Dua hari perjalanan , mereka tiba di sebuah persimpangan ke arah Utara , dan setelah menempuh dua hari perjalanan lagi kearah Utara , mereka tiba di sebuah lembah yang sangat luas .
Di tengah lembah itu ada sebuah Danau yang memanjang ke arah Utara , dan di pinggir pinggir Danau itu , tumbuh bunga bunga Ang Lian atau Teratai merah yang indah .
Di sebelah barat Danau , ada pedusunan kecil sekitar dua puluh buah rumah yang semua nya menghadap kearah timur atau kearah Danau .
Meskipun cuma memiliki dua puluh buah rumah , tetapi pedusunan ini cukup padat penduduk nya , karena banyak nya para pemuda dari daerah lain yang belajar di tempat ini .
Ya , tempat ini bukan lah Bu Koan ( perguruan silat) tetapi lebih menjurus kepada Pang (Perkumpulan) yang bernama Ang Lian Pang atau perkumpulan Teratai merah yang di pimpin oleh seorang wanita paro baya yang cantik , bernama An Lian , sebagai Pang Cu (ketua perkumpulan) nya .
Pang Cu An Lian ini di bantu oleh suami nya Bi Kwa Ceng dan putri nya Bi yu Hua yang juga cantik , tetapi sedikit agak tinggi hati , serta beberapa tetua perkumpulan dan para leluhur Ang Lian .
Sebenar nya antara An Lian dan Li Lian bukan saudara kandung , tetapi saudara jauh dari sang nenek mereka yang bersaudara .
__ADS_1
Nenek An Lian dan Li Lian adalah saudara kembar , tetapi entah karena apa , sehingga nenek Li Lian lah yang terpilih menjadi Pek Lian Sian yang ke sembilan puluh tujuh .
Dan untuk menghindari kutukan dari para leluhur , maka nenek An Lian , di bawa keluar dari lembah Pek Lian oleh ayah nya , dan pergi sejauh jauh nya .
Dalam perjalanan nya , ayah oleh nenek Li Lian sampai kesatu lembah besar yang agak mirip dengan lembah Pek Lian .
Akhirnya di situlah dia menetap , karena ditempat itu banyak Ang Lian (teratai merah) maka lembah itu di namakan lembah Ang Lian .
Setelah nenek Li Lian mulai tumbuh dewasa , dan mengetahui kisah hidup nya , mulailah tumbuh benih benih kecemburuan yang menghasilkan dendam berkepanjangan pada keturunan nya , hingga sampai pada Li Lian sekarang ini .
Siang itu di pedusunan Ang Lian pang , banyak dari murid murid muda yang berlatih silat , ada juga yang sedang berkultivasi di ruangan khusus , namun ada juga yang sekedar pergi memancing di danau depan pedusunan itu .
Ang Lian pang ini , tidak hanya mengajarkan silat dan kultivasi saja , tetapi juga ilmu baca tulis dari tingkat dasar , hingga tingkat mahir , sehingga dalam waktu yang singkat saja , Ang Lian Pang ini , tumbuh menjadi sebuah perkumpulan yang bisa menyaingi kebesaran nama Pek Lian Pang (perkumpulan Teratai Putih) yang sudah terlebih dahulu hadir itu .
Tetapi beda nya dengan Pek Lian Pang adalah dalam menerima para pengikut nya .
Bila Pek Lian Pang dalam menerima para pengikut nya , sangat selektif dan tidak sembarangan orang bisa masuk , beda dengan Ang Lian Pang ini yang membebaskan siapa saja yang berminat , tidak perduli itu laki laki atau wanita .
Ketika melihat kedatangan delapan orang memasuki wilayah pedusunan mereka , para murid murid Ang Lian Pang ini segera bergerak menahan para tamu itu .
"Berhenti kalian !, orang asing dilarang memasuki perkampungan kami !" teriak salah seorang laki laki yang menghadang di depan mereka .
"Kami tidak bermaksud apa apa , cuma ingin bertemu An Lian , katakan kepada nya , Li Lian ingin bertemu dengan nya !" kata Li Lian menjelaskan maksud kedatangan mereka itu .
"Kalian tidak ada hak untuk bertemu dengan Pang Cu kami , pulanglah sebelum kami bertindak kurang ajar kepada kalian semua , ketahuilah , kami lah Eng Kau Tin ( barisan sembilan Garuda) yang terkenal itu !" kata salah satu dari sembilan orang pemuda yang menghadang mereka .
Mendengar itu , Li Lian tersenyum melihat ke congkak kan sembilan pemuda di hadapan nya itu .
"Kau memang tidak mengerti perkataan kami nyonya , jangan salahkan kami bila bertindak kasar !" kata pemuda yang tadi , sambil memberi isyarat kepada kawan kawan nya , untuk menyerang Li Lian .
Sembilan pemuda itu segera bergerak kearah Li Lian .
"Mundurlah Bu , biar para begundal besar omong ini ku beri pelajaran !" kata Dewi Teratai putih sambil melompat kedepan ibu nya .
Sembilan pemuda itu segera bergerak mengurung Dewi Teratai putih dari segala penjuru .
Namun sebagai seorang yang sudah sangat mahir menguasai jurus Langkah Dewa Dewi , tentu saja serangan ke sembilan orang itu tidak sampai membuat Dewi Teratai putih terdesak , malahan satu persatu dari kesembilan pemuda itu , terkena pukulan dari nya .
Rencana Dewi Teratai putih , hanya untuk membuat ke sembilan pemuda itu jerih menghadapi nya .
Tetapi , sembilan pemuda itu , bukan nya gentar , tetapi justru semakin bersemangat menghadapi Dewi Teratai putih ini .
"Eng kau Sai phok !" teriak pemuda yang pertama tadi .
Jurus Eng kau Sai phok (sembilan Garuda menyambar singa) adalah jurus andalan dari Pemuda Eng Kau Thin ini .
Kini kesembilan pemuda itu saling berlompatan kearah Dewi Teratai putih sambil melayangkan serangan mereka secara bergantian , dan nampak sangat teratur rapi .
Seorang yang bergerak dari depan , akan di barengi dengan yang dari belakang sambil berputar , mengelilingi Dewi Teratai putih .
__ADS_1
Serangan itu selalu berganti ganti , depan belakang dan samping kiri kanan secara acak .
Kini benar benar tidak ada celah yang bisa di gunakan untuk meloloskan diri .
Namun , secepat apapun juga gerakan itu , Dimata Dewi Teratai putih yang sudah sangat mahir menggunakan jurus langkah Dewa Dewi , gerakan kesembilan pemuda itu terlihat masih sangat lamban dan penuh dengan celah kelemahan nya .
Saat dua orang pemuda menyerang dari depan dan belakang nya , tiba tiba tubuh Dewi Teratai putih berjumpalitan , kepala kebawah dan kedua kaki keatas , sambil melayangkan tendangan pada perut kedua orang pemuda itu .
"Buk !" ...
"Buk !" ...
Dua kali suara bergedebug berbarengan , terdengar , bersama terlempar nya dua orang pemuda sejauh beberapa depa , dengan darah segar membasahi bibir mereka masing masing .
Meskipun terluka dalam , kedua pemuda itu tetap bangkit , dan segera bersiap untuk menyerang kembali .
"Kau Eng Kiam !" ...
Terdengar suara aba aba dari pemuda pertama tadi .
Serentak kesembilan pemuda itu mengeluarkan pedang mereka masing masing .
Kau Eng Kiam ( pedang sembilan Garuda) adalah salah satu jurus pedang andalan dari Eng Kau Tin ini .
Sudah banyak pendekar kultivator yang tewas karena jurus pedang ini , meskipun tingkat kultivasi mereka lebih tinggi dari para Eng Kau Tin ini , tetapi karena jurus pedang ini mengurung dari segala arah dan tidak ada celah untuk melarikan diri , itulah yang paling di takuti oleh para pendekar kultipator.
"Trang !" ...
"Trang !" ...
"Trang !" ...
Terdengar suara ber dentingan nyaring ketika tiba tiba sebilah pedang pendek berwarna putih ditangan Dewi Teratai putih , memapaki semua pedang di tangan sembilan pemuda itu .
Serentak kesembilan pedang di tangan para pemuda itu , tinggal gagang nya saja , karena di babat hingga putus oleh pedang Giu po Kiam (Pusaka Pedang Perak) milik Dewi Teratai putih .
Pedang Giu po Kiam ini juga di kenal dengan nama Pek Lian Po Kiam (pedang pusaka Teratai Putih), dan hanya bisa di miliki oleh titisan atau pewaris Dewi Teratai Putih saja .
Bila ada orang yang tidak berhak , mencoba memiliki pedang ini , maka pedang ini akan menyedot seluruh energi nya , hingga sampai orang itu mati lemas kehabisan energi .
"Hm itukah Pek Lian Po Kiam yang terkenal itu ?, boleh juga , kau bisa menyerahkan nya kepada ku , dan urusan dendam diantara kita selesai !" terdengar suara seorang wanita , dan bersamaan dengan itu , di belakang Eng Kau Tin , sudah berdiri seorang wanita cantik paro baya .
"Ha ha ha ha , kau menginginkan pedang yang ada di tangan putri ku itu An Lian ? , apakah jiwa mu sudah siap dengan segala resiko nya ?" tanya Li Lian berjalan dari arah belakang Dewi Teratai putih .
Melihat siapa yang berbicara , mata An Lian terbelalak seketika .
"Kau ' kau masih hidup Li Lian ?, ba ' bagai mana mungkin ?" suara An Lian serak .
"Ya , kau tidak menyangka kan jika kami masih hidup ?, untunglah putri dan menantu ku datang menyelamatkan kami , serta menyelamatkan semua orang , jika tidak , kami sudah menjadi mahluk iblis , karena tipu daya mu An Lian !" ujar Li Lian dengan sangat gusar sekali .
__ADS_1
Dari arah dalam pedusunan , nampak seorang laki laki paro baya bersama seorang Dara cantik berjalan kearah mereka .
...****************...