Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Mencari Gunung Yung San.


__ADS_3

Shin Liong terus bersemedi, melepas kan semua panca indera nya, menyatukan segenap rasa nya dengan sang kakek, untuk meminta petunjuk dari kakek nya.


Shin Liong sudah bertekad, berapa lama pun dia akan terus bersemedi, bila sang kakek tidak juga menanggapi nya.


Akhirnya pada hari yang ketiga dalam semedi tanpa makan dan minum nya, Shin Liong mendengar suara kakek Qin memanggil nama nya.


"Cucu ku, sudahi semedi mu, kakek sudah melihat kesungguhan hati mu nak, kau rela berkorban demi orang lain, pergilah ke selatan, dan cari gunung Yung San, di kaki gunung itu ada telaga yang terbuat dari api berwarna biru, ketahuilah nak, telaga itu dahulu nya mengeluarkan hawa Qi murni yang sangat pekat, sehingga dahulu kala, Dunia ini tempat yang sangat padat dengan Qi murni nya, namun amarah dan nafsu biadab, membuat salah seorang Dewa memasukan sebuah batu matahari ke dalam telaga itu untuk menyumbat keluar nya hawa Qi murni, hingga telaga itu kini berubah menjadi telaga api, pergilah sendirian saja kesana, karena cuma kau seorang saja yang mampu melakukan nya, tidak juga ibu mu, siapapun yang ikut bersama mu, mereka akan menjadi gila karena menghisap hawa Qi hitam itu, nah pergilah secepat nya nak!" kata kakek Qin berbisik kedalam hati Shin Liong langsung.


Shin Liong membuka mata nya, melihat kesekeliling nya, dia tidak tahu, sudah berapa lama dia bersemedi di dalam ruangan itu.


Dengan sedikit agak terhuyung, Shin Liong berdiri dan berjalan kearah luar ruangan itu.


Di luar ruangan itu, nampak ibu nya, putra nya, dan kedua orang mertua nya, serta kedua orang istri nya sudah menunggu dengan sabar.


Nampak juga di situ ada jendral senior bersama sang pangeran Fu Quon.


"Bagai mana nak?, apakah kau dapat petunjuk dari kakek mu?" tanya Dewi Chang 'e memberondong pertanyaannya kepada sang putra yang baru saja keluar dari ruangan.


Meskipun agak lemas, dengan tersenyum, Shin Liong menjawab pertanyaan sang ibu nya itu.


"Sudah bu, Liong harus keselatan mencari sebuah gunung yang bernama gunung Yung San, dan di kaki gunung itu, ada sebuah telaga besar yang terbuat dari api berwarna biru Bu, Liong harus mengambil batu Matahari yang berada di dasar telaga itu, karena batu itu lah yang menyumbat sebuah sumber mata air yang juga mengalirkan hawa Qi murni ke seluruh dunia ini Bu, tetapi, Liong harus pergi sendiri, karena cuma liong sendiri saja yang kebal dengan hawa Qi hitam ini, siapapun yang ikut pasti akan menjadi gila karena menghisap hawa Qi hitam Bu!" jawab Shin Liong dengan lembut menyahuti pertanyaan sang ibu nya itu.


Mendengar keterangan dari Shin Liong itu, seluruh yang hadir menjadi terdiam dengan pikiran mereka Masing masing.


Yang paling keberatan adalah Dewi Nuwa dan putri Xuan Yi serta A Yong.


Dari raut wajah mereka, tergambar rasa ketidak setujuan mereka.


Tentu saja hal itu bisa dirasakan oleh Dewi Chang 'e.


"Kalian bertiga dengarlah nak!, apa yang di katakan itu benar, siapapun yang ikut keluar dari kubah ini, bukan nya menolong, tetapi malah menimbulkan masalah, tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kabut pekat nya hawa Qi hitam ini nak, biarkan dia menyelesaikan ini semua, karena ini memang tugas dan misi untuk nya sebelum benar benar menjadi Dewata muda, dia harus berjuang untuk semua mahluk hidup!" kata Dewi Chang 'e memberikan nasehat nya.


Meski betapa pun berat hati mereka, tetapi tugas demi kemanusiaan memang menghendaki hal seperti itu, maka mereka harus merelakan semua nya.


Beberapa hari setelah memulihkan kekuatan nya, Shin Liong segera meninggalkan tempat itu lewat portal ruang waktu yang dia ciptakan.


Setelah kepergian Shin Liong dari tempat itu, kini seluruh penghuni ceruk pasir api dan lembah benar benar seperti katak terkurung di bawah tempurung, tidak bisa kemana mana lagi.


Shin Liong keluar disebuah hutan yang sangat sunyi dan sepi, sangking sepi nya, suara jangkrik saja tidak terdengar, sungguh sebuah kengerian tersendiri, seperti di dalam lobang kuburan saja layak nya.


Untuk menghemat waktu, Shin Liong terbang ke udara, melesat diatas pepohonan yang paling tinggi.


Dari ke tinggian itu, dia melihat di kejauhan ada sebuah benteng pertahanan milik prajurit Orgo .


Karena penasaran, Shin Liong segera mendekati tempat itu.


Dari udara terlihat jika tempat itu sangat sepi, tidak ada tanda tanda kehidupan lagi.


Shin Liong turun di tengah tengah benteng itu.

__ADS_1


Di halaman benteng terlihat berserakan tulang belulang para Orgo itu.


Di dunia yang aneh ini, bahkan se ekor lalat saja tidak ada, sehingga tulang belulang para Orgo itu teronggok begitu saja, terlepas dari persendian nya, namun tidak ada lalat seekor pun yang hidup dan mengerubungi nya.


Di dalam bangunan utama nya, nampak tulang belulang Orgo terbujur diatas tempat tidur dengan pakaian kebesaran nya, rupanya dia sang jendral yang bertanggung jawab pada benteng ini.


Di bagian lain dari bangunan itu juga memiliki keadaan yang hampir sama semua nya.


Sedangkan di bagian belakang, berjejer bangunan mirip kandang ternak, namun sudah tidak ada penghuni nya satu orang pun juga.


Setelah cukup lama berkeliling memeriksa seisi benteng itu, akhirnya Shin Liong pun kembali terbang kearah selatan dengan kecepatan penuh.


Pada hari kedua, saat tengah hari, Shin Liong tiba di sebuah kota besar di pinggir sebuah sungai besar.


Sama seperti kota kota sebelum nya, kota ini juga sangat sepi sekali, bahkan seekor kucing yang biasanya selalu ada di setiap ada pemukiman manusia, kali ini tidak ada se ekor pun juga yang tampak.


Kota ini seperti nya sempat di serang pasukan Orgo sebelum orang orang nya mengungsi, ini terlihat dari rusak nya pintu gerbang kota, serta beberapa pertokoan yang ikut di rusak.


Di sebuah jalan yang terlihat dahulu nya sangat ramai, terdapat sebuah rumah sangat besar dengan halaman yang juga sangat besar.


Pintu gerbang baja di depan rumah itu telah roboh, dan di dalam terlihat semak belukar sudah tinggi tinggi, yang menandakan kota ini di tinggalkan sudah cukup lama sekali.


Di pintu gerbang yang roboh itu terlihat tulisan Guan Wangwe atau Hartawan Guan.


Namun yang aneh nya di rumah Guan Wangwe ini, tidak di temukan satu benda pun sebagai harta yang tertinggal, meski sebuah mangkuk keramik kecil sekalipun.


Seolah olah semua harta benda nya sudah di bawa lari terlebih dahulu oleh pemilik nya.


Di mana mana nampak tulang belulang manusia bekas terpotong akibat perkelahian atau pertempuran sengit.


Di ruangan tengah, nampak sepotong tangan manusia yang telah terpotong sebatas siku dan sudah mengering tinggal kulit dan tulang saja.


Sebuah cincin ruang kelas satu nampak bertengger di jari manis potongan tangan itu.


Shin Liong memungut potongan tangan itu serta mengambil cincin dari jari manis nya.


Setelah meneliti sesaat, Shin Liong mengintip kedalam cincin itu.


Betapa terperanjat nya hati Shin Liong setelah menyaksikan isi di dalam cincin itu.


Cincin itu dipenuhi oleh cincin ruang kelas satu pula, yang tiap cincin memuat harta benda dan keping emas serta permata yang tidak ternilai jumlah nya.


Shin Liong tersenyum masam, pantesan tidak ada sebuah piring keramik pun yang tersisa, jika semua harta benda itu telah di masukan kedalam cincin ruang, dan semua cincin ruang itu dimasukan lagi kedalam cincin ruang lain nya, sehingga yang di bawa cuma sebiji cincin ruang, padahal isi nya seluruh harta benda dari Guan Wangwe ini.


Setelah menyimpan cincin ruang itu kedalam cincin ruang milik nya sendiri, Shin Liong segera pergi meninggalkan tempat itu.


Kali ini Shin Liong mampir ke tempat kediaman tuan ketua kota yang megah dan luas nya sebanding dengan kediaman Guan Wangwe tadi.


Di tempat ini juga sama seperti tempat terdahulu, semua nya berantakan hebat, bahkan tembok nya saja sampai roboh.

__ADS_1


Harta benda tuan ketua kota nampak berantakan tidak karuan karuan, dengan tulang belulang para prajurit kota yang tersebar kemana mana.


Di sebuah ruang bawah tanah yang tersembunyi, nampak kerangka empat orang manusia, dua orang laki laki dan dia orang wanita.


Di atas meja kecil, nampak empat buah cincin ruang kelas satu tergeletak begitu saja.


Di dalam ke empat cincin itu nampak kepingan emas memenuhi ke empat cincin itu.


Rupanya sang ketua kota ini semasa hidup nya, adalah seorang yang suka menindas masyarakat nya, serta mengumpulkan kepingan emas secara tidak baik dan memeras rakyat.


Setelah menyimpan ke empat cincin ruang itu, Shin Liong sudah tidak bernafsu lagi untuk melanjutkan penyelidikan nya, maka segera dia terbang kearah selatan untuk mencari gunung Yung San.


Setelah terbang hampir setengah hari lama nya, dari kejauhan Shin Liong melihat sebuah gunung berdiri tegak sendirian di kejauhan sana.


Segera Shin Liong mempercepat terbang nya menuju kearah gunung itu.


Setelah beberapa waktu lama nya, akhirnya Shin Liong tiba di puncak gunung itu.


Tetapi dari atas puncak gunung itu, tidak ada satu pun terlihat nyala api, apa lagi telaga ber api, padahal terlihat gunung itu lah satu satu nya yang terdapat di wilayah situ.


Sambil duduk diatas sebongkah batu besar, Shin Liong menatap kembali ke sekeliling nya.


Tetap tidak dia jumpai satu nyala api pun juga.


Hingga hari hampir malam, tetap saja tidak dia temukan ada satu pun nyala api di sekitar kaki gunung itu.


Malam pun menjelang, karena asik nya mencari nyala api dari telaga api yang di katakan oleh kakek nya itu, sehingga Shin Liong lupa untuk makan.


Al hasil, malam itu Shin Liong bermalam dengan perut yang kosong.


Mungkin karena perut nya yang lapar, sehingga malam itu dia tidak begitu nyenyak tertidur.


Menjelang tengah malam, saat kegelapan pekat mencekam, Shin Liong duduk sambil memeluk kedua dengkul nya.


Api unggun telah lama padam, dan bulan merah pucat pun telah lama menghilang di balik awan kelabu.


Tiba tiba pandangan mata nya tertuju ke selatan.


Nun jauh di selatan sana, terlihat cahaya biru terang memancar ke langit malam.


"Ah, jangan jangan di sana keberadaan telaga api itu, berarti aku masih belum sampai pada gunung yang di maksud kan, ini gunung yang salah, gunung yang di maksudkan masih sangat jauh di selatan sana rupa nya!" gumam Shin Liong sendirian sambil terus memperhatikan bias cahaya biru terang di langit selatan sana.


Shin Liong segera menentukan arah serta meletakan tanda dengan kayu dan batu yang terdapat di tempat itu, agar besok tidak salah arah lagi.


Malam pun bergulir terasa sangat lambat kini, dan mata hari belum juga terbit di ufuk timur sana.


...****************...


Untuk para pembaca yang mengusulkan agar Shin Liong mengambil cincin ruang yang dia temukan, ini hadiah untuk kalian, sekali ambil, langsung segudang.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan kalian semua nya.


__ADS_2