
Shin Liong menatap kearah Dewa Erlang dengan tatapan tidak senang.
"Kalau kau ingin bertarung cukup dengan ku, sebelum aku mati, tidak seorang pun yang ku biarkan menyakiti ibu ku!" kata Shin Liong .
Dewa Erlang tertawa mendengar ucapan Shin Liong itu, baginya itu seolah olah cuma bualan anak muda saja.
"Kau pikir dengan berhasil membokong ku diam diam, kau sudah bisa menandingi aku?, kau terlalu cepat seribu tahun nak!" kata Dewa Erlang dengan sombong nya.
Kesombongan dari dewa Erlang ini bukan nya tanpa alasan, karena dia melihat tingkat kultivasi Shin Liong yang masih berada di alam Taruna menengah itu, mau menantang diri nya yang sudah berada di tingkat Dewa perak menengah, sama saja dengan babi mengejar tukang jagal.
"Aku baru tahu jika kau seorang Dewa yang cuma berani menggertak wanita, perlu kau tahu, dia ibu ku, sedikit saja kau mengganggu ibu ku, maka ku putuskan urat leher mu" kata Shin Liong lagi.
Dewa Erlang kembali tertawa tawa mengejek Shin Liong .
Seorang anak muda maju kedepan, "tuan Erlang, ijin kan aku memberi pelajaran kepada manusia tidak tahu aturan ini!"...
"Terserah kau saja Natcha, beri dia pelajaran yang tidak bisa dia lupakan seumur hidup nya!" kata Dewa Erlang sambil tertawa.
Natcha maju kedepan, melemparkan dua cincin kecil ke udara, lalu cincin itu berubah menjadi roda api yang besar, berdesing sambil berputar cepat, lalu melesat kearah Shin Liong .
"Bum!"...
"Bum!"...
Dia dentuman terdengar ketika kaki Shin Liong memapaki roda api itu.
Roda api itu langsung melesat mental kembali ke arah Natcha sendiri.
Natcha segera menghindari dari serangan balik cincin roda api itu.
Kini kedua roda api itu kembali menyerang kearah Shin Liong silih berganti, hingga;
"Trang!, trang!"...
"Trang!, Trang!"...
Dua kali dua kali terdengar suara dentingan nyaring, hasil dari benturan pedang kristal Katai putih inti bintang yang membabat roda api milik Natcha.
Roda api itu jatuh ketanah dengan masing masing terputus menjadi empat bagian gelang.
"Roda api ku!!" teriak Natcha melihat cincin roda api yang kini telah menjadi rongsokan biasa itu.
Selama ini roda api adalah senjata yang paling tahan terhadap hantaman logam jenis apa pun juga, ternyata hari ini, roda api itu dihadapan Shin Liong cuma seperti barang mainan saja layak nya.
Andalan Dewa Natcha adalah roda api, dengan hancurnya roda api, berarti kekalahan bagi Natcha sendiri.
Dewa Teng Sin melihat senjata andalan Natcha hancur, langsung menyerbu kearah Shin Liong dengan tombak api nya.
Putri Xuan Yi melihat sang suami di keroyok para Dewa, segera mengeluarkan pedang kecil nya dan melompat masuk kedalam arena pertarungan.
Meskipun pedang di tangan putri Xuan Yi cuma pedang kecil, tetapi pamor nya sangat luar biasa.
Pedang itu mengeluarkan nyala api berwarna biru, tetapi api ini tidak panas seperti api biasa, melainkan berhawa sangat dingin luar biasa, inilah pedang api es, api dengan nyala sangat dingin sekali.
"Kakak!, aku tidak akan membiarkan kakak berjuang sendirian, bila harus mati, biarlah kita mati bersama !" kata putri Xuan Yi.
"Meme!, mundurlah, aku masih mampu menghadapi mereka semua nya meme!" kata Shin Liong .
__ADS_1
Tetapi Putri Xuan Yi bersikeras untuk turut maju bersama sang suami.
"Tidak kakak!, biarkan aku maju bersama mu, kita adalah suami istri, sakit, sehat, susah, senang, kita tanggung bersama sama, bila harus mati, mati bersama mu adalah cita cita dan ke banggakan ku kak!" kata putri Xuan Yi bersikeras ingin maju bersama sang suami.
Kini dara cantik jelita itu sedang berhadapan dengan Dewa Natcha, sementara Shin Liong berhadapan dengan Dewa Teng Sin yang sudah menyerang dengan tombak api nya.
Tombak api Dewa Teng Sin menyerang kearah Shin Liong seperti gulungan ombak di lautan, silih berganti.
Hawa aneh mulai Shin Liong rasakan, penyatuan antara energi panah sumbu langit, pedang kristal Katai putih inti bintang dan tanda kedewataan nya yang mulai aktif di sekujur tubuh nya.
Meskipun serangan dari Dewa Teng Sin seperti ombak lautan, namun tidak sedikitpun dia merasakan panas dari tombak api, yang konon mampu melelehkan pedang yang menempel di tombak itu.
Malahan kini dia merasakan energi didalam tubuh nya, menarik semua energi dari lawan yang berada di sekitar nya.
Dewa Teng Sin pun kini menjadi sangat heran, tombak api di tangan nya itu, kini justru bergerak sendiri, mengejar kearah Shin Liong.
Awalnya dia mengira, jiwa tombak sakti nya itu menyerang sendiri kearah Shin Liong, jadi dia merasa agak gembira mendapati hal itu, sehingga dia semakin yakin dengan kemenangan nya kali ini.
Hingga pada satu kesempatan, tombak api di tangan Dewa Teng Sin terlepas dan melesat sendiri kearah dada Shin Liong .
Sementara itu, entah karena apa, tubuh Shin Liong sendiri tiba tiba kaku, seakan siap menerima hujaman dari tombak api.
Dewi Chang 'e dan putri Xuan Yi yang melihat hal itu sangat terkejut dan panik, karena mereka semua tahu kehebatan tombak api milik Dewa Teng Sin itu.
Tanpa sempat berbuat apa pun, kedua wanita cantik jelita itu cuma bisa pasrah saja melihat kejadian itu.
Sementara itu, seluruh prajurit langit bersorak gembira.
Tetapi tanpa ada yang menyadari nya, setelah menyentuh kulit Shin Liong , tombak api itu berubah menjadi cahaya, dan lenyap di dalam tubuh itu.
Dewa Teng Sin ternganga melihat pertunjukan yang sangat menakjubkan itu, tombak kebanggaan nya itu, kini menyatu kedalam tubuh Shin Liong .
Bahkan bukan cuma itu, roda api milik Dewa Natcha yang tadi pecah masing masing menjadi empat bagian itu, tiba tiba bersinar kuning, lalu melesat pula masuk kedalam tubuh Shin Liong.
Melihat pimpinan mereka mulai kewalahan, ribuan prajurit langit yang sangat terkenal di seantero semesta itu meringsek maju mendekati Shin Liong.
Tetapi baru saja mereka maju, ribuan anak panah melesat keluar dengan sendiri nya dari dalam tubuh Shin Liong, menyerang kearah para prajurit itu.
Sebentar saja, satu persatu prajurit yang paling di takuti di seantero semesta itu bertumbangan dengan leher yang hampir putus.
Kini panah Sumbu langit seperti mendapatkan kekuatan seratus kali lipat dari kekuatan asal nya.
Hal ini terjadi, karena bergabung nya jiwa beberapa senjata kelas mustika Dewa milik para Dewa Dewa itu kedalam pedang kristal Katai putih inti bintang, sehingga pedang maha sakti itu bisa mengendalikan unsur apapun, seperti pedang, tombak, panah, dan roda api.
Hari itu terjadi kegemparan luar biasa di istana langit, karena beberapa senjata andalan para Dewa, justru musnah masuk kedalam tubuh seorang pemuda.
Benteng terakhir adalah Dewa Rulay, yang sedari tadi, cuma diam menatap kearah pertandingan.
Shin Liong masih berada di tengah alun alun istana langit, dengan jubah putih bermotif He Hua itu, berkibar kibar tertiup angin.
Dewa Rulay melompat ke tengah arena, sambil menangkupkan kedua tangan nya di dada nya, mulut nya berkomat kamit membaca mantera sutra pengusir bala.
"Hiiaa!!"...
Telapak tangan dari Dewan Rulay di tadahkan keatas langit.
Selarik cahaya kuning melesat keluar dari telapak tangan itu, membentuk sebuah telapak tangan besar yang mengarah ke tubuh Shin Liong .
__ADS_1
Jurus terhebat yang paling ditakuti para Dewa, kini keluar juga akhir nya.
Jurus inilah yang berhasil menundukkan Sun Go Kong jaman dahulu kala.
Melihat jurus telapak Budha itu keluar, semua Dewa Dewi bernafas lega, karena prahara di istana langit akan segera berakhir.
Kini di langit nampak sebuah telapak tangan yang sangat besar, meluncur turun kearah Shin Liong , seperti penepuk lalat yang turun menepuk tubuh lalat.
Shin Liong tau, bila dia lari kemanapun tidak ada guna nya bagi jurus telapak Budha itu.
Makanya dia diam menantikan kedatangan telapak Budha yang sangat besar itu menimpa tubuh nya.
Ternyata perkiraan nya meleset, telapak Budha itu tidak menepuk tubuh nya, karena bila itu di lakukan, istana langit juga akan hancur berkeping keping, jadi telapak Budha itu cuma menggenggam tubuh Shin Liong didalam telapak tangan nya, lalu berusaha meremas tubuh Shin Liong sekuat tenaga.
Melihat hal itu, para Dewa Dewi dan seluruh kerabat istana langit bersorak Sorai gembira.
Tubuh Shin Liong yang berada didalam cengkraman telapak Budha itu, tiba tiba merasa Arus energi didalam tubuh nya bergolak sangat dahsyat sekali.
Seluruh elemen di dalam tubuh nya kini terbangun dari tidur panjang nya, dan bereaksi disaat saat kritis itu.
Energi itu semakin lama, semakin membesar, hingga akhirnya;
"BUM!!!!!"...
Sebuah dentuman maha dahsyat terdengar hingga bumi Kahiyangan, tanah nya para Dewa yang berada di bawah turut bergetar beberapa saat, seperti terhantam gempa.
Yang lebih parah nya, Bumi Kahiyangan itu sempat berayun ke kiri ke kanan beberapa waktu, seperti bendulan yang bergerak, menyebabkan kerusakan parah di seantero muka Bumi Kahiyangan itu.
Bertepatan dengan suara dentuman dahsyat itu, telapak Dewa yang tadi mencengkram tubuh Shin Liong , kini hancur menjadi debu, menyisakan tubuh Shin Liong yang masih berdiri tegak, namun kini memancarkan cahaya warna warni seperti cahaya berlian, itulah cahaya surgawi, pangkat tertinggi para Dewata dan Dewita.
Dewata Surgawi adalah satu satu nya sepanjang masa umur semesta raya itu.
Istana langit kini berderak kencang, retakan timbul dimana mana, karena tidak sanggup menerima cahaya surgawi itu.
Beberapa saat lagi, istana langit akan tinggal kenangan saja.
Namun disaat saat sangat genting itu, tiba tiba dilangit muncul seorang laki laki tua, namun sangat gagah dan tampan dengan pamor luar biasa juga.
"Hentikan cucu ku!, hentikan perbuatan sia sia ini!, kau di ciptakan bukan untuk memusnahkan semesta raya ini, tetapi menjaga dan memelihara nya, tarik kemarahan mu cucu ku, tarik segera sebelum semesta ini hancur, kasihani mahluk yang banyak, yang ikut hidup di semesta raya ini!" teriak laki laki tua itu.
Melihat laki laki tua berwajah sangat teduh itu, tiba tiba cahaya dari dalam tubuh Shin Liong melemah.
Cahaya itu semakin lama, semakin melemah, hingga akhirnya lenyap sama sekali.
Mengetahui siapa laki laki tua yang baru datang itu, seluruh penghuni istana langit bersimpuh, termasuk Dewi Chang 'e dan putri Xuan Yi serta Kaisar langit, atau kaisar Giok.
Cuma Shin Liong seorang yang tidak ikut berlutut, karena dia begitu mengenal laki laki tua itu.
"Kakek!"...
Cuma ucapan itu saja yang keluar dari mulut Shin Liong , sambil berlari memeluk laki laki tua itu.
Melihat kejadian itu, istana langit serentak menjadi sunyi sepi, seperti tidak lagi berpenghuni, bahkan burung Hong yang bisa nya berterbangan pun diam ditempat nya.
Jangan kan para Dewa Dewi, sang Kaisar langit pun terdiam kaku.
...****************...
__ADS_1