
Ibu itu menoleh kearah seorang gadis yang bertanya kepada nya itu.
Di tatap nya dalam dalam gadis berpakaian pendekar wanita dengan seksama, seolah olah ingin mengetahui lebih dalam lagi.
"Nona muda orang baru dikota Si Ma ini lah?"tanya wanita itu kepada gadis itu.
"Iya bibi, saya baru tiba di kota ini, cuma lewat dan mampir di kota ini beberapa hari. untuk beristirahat, oh ya bibi, kenalkan nama saya Shao Yi, saya penasaran mendengar pembicaraan bibi tadi, bagai mana bisa klan yang begitu kuat, sampai hancur di tangan seorang anak remaja?" tanya Shao Yi.
"Ooh itu, remaja itu bukan sembarang remaja, nak, dia Dewa yang menjelma menjadi seorang remaja, untuk membantu masalah kota Si Ma ini, dia datang dari atas langit yang berlobang di pagi hari bersama gulungan cahaya putih terang benderang, dia berhasil mengusir prajurit dari negeri Dao yang bermaksud menduduki kota kami ini, bahkan kepala pasukan dan satu orang jendral nya berhasil dia bunuh, lalu patriak klan Gak, bersama saudara nya, ayah nya dan kakek nya, berhasil dia tewas kan, kini kota kami ini benar benar bebas dari penindasan, tidak ada lagi yang menguasai kota ini dengan semena mena"kata wanita itu.
Tidak berapa lama, dari arah luar, masuk tiga orang gadis cantik menuju kemeja yang tidak jauh dari meja Shao Yi.
Tiga orang gadis yang baru masuk itu adalah Cai Na Li putri tuan ketua kota, bersama Gak Eng Niu dan Gak Lian Niang, dua dari empat putri cantik klan Gak.
Memang diantara Keempat putri cantik klan Gak, cuma kedua nona inilah yang berwatak lembut, makanya banyak disukai oleh orang orang.
Dua orang putri lain nya, Gak Sian Eng dan Gak Cui Ming bersifat urakan, keras hati, rada rada sombong dan yang pasti egois, yang membuat orang malas berteman dengan nya.
Setelah melihat ketiga dara cantik itu mendekat kearah meja mereka, wanita paro baya tadi segera melanjutkan makan nya, seolah olah tidak berbicara apapun.
"Siapakah mereka bibi?" tanya Shao Yi berbisik kepada wanita tadi.
"Yang sebelah kanan putri tuan ketua kota, sedangkan yang dua orang di kiri nya itu adalah nona nona muda klan Gak!" bisik wanita paro baya tadi sambil meneruskan makan nya.
Karena Shao Yi kebetulan duduk sendirian, ketiga dara cantik itupun segera menghampiri meja nya.
"Bolehkah kami bergabung di sini nona?" tanya nona muda Na Li.
"Oh silahkan nona bertiga duduk di sini satu meja dengan saya!" jawab Shao Yi ramah.
Ketiga orang dara cantik itu mengambil tempat duduk di dekat Shao Yi, sementara itu nona muda Na Li memesan makanan untuk mereka bertiga.
Memang ketiga dara cantik ini sudah berteman sejak lama, sejak mereka sama sama masih kecil, hingga kini, mereka sudah seperti saudara saja layak nya.
"Maap nona nona, kenalkan, nama saya Shao Yi, saya seorang pengembara yang kebetulan lewat di kota ini, kalau boleh tahu, siapakah saudari bertiga ini?" tanya Shao Yi pura pura tidak tahu.
"Oh iya, kenalkan nama saya Na Li marga Cai, dan yang ini nama nya Eng Niu dan yang itu nama nya Lian Niang, mereka berdua marga Gak!" kata nona Cai Na Li.
"Ooh, maap saudari Na Li, mereka keluarga Gak yang terkena musibah itu kah?" tanya Shao Yi mulai memancing kata kata untuk mencari tahu.
__ADS_1
"Ah, rupanya saudari Shao Yi juga sudah mendengar tentang prahara yang menimpa klan Gak ya?, mereka berdua memang bagian dari klan itu, tetapi mereka keluarga kelas dua nya, dan tidak terkena prahara itu, yang terkena prahara itu cuma keluarga inti saja, leluhur Gak Bo Ong eyang mereka, lalu Gak Tao Jin kakek sepupu mereka, Gak Ming Kwan dan adik nya Gak Cung Kwan paman sepupu mereka yang menjadi patriak klan Gak!" kata nona muda Na Li menjelaskan.
"Hii!, begitu sadisnya kah orang yang melakukan nya nona?" tanya Shao Yi pura pura bergidik ngeri.
Melihat itu, ketiga dara cantik itupun tertawa menatap kearah Shao Yi.
"Saudari Shao Yi, kalau saudari melihat nya, saya yakin saudari tidak akan percaya dengan cerita yang nona dengar, orang yang sudah menewaskan eyang, kakek, serta paman kami itu cuma seorang bocah remaja masih di bawah usia kita, tetapi tingkatan ilmu nya sudah sangat tinggi, coba saja bayangkan, eyang kami yang sudah mencapai tingkat Dewa Bumi akhir saja tewas ditangan nya!" kata Eng Niu menerangkan kepada Shao Yi.
"Waaoo, seandainya bukan kalian yang menjelaskan kepada saya, pasti saya tidak akan percaya begitu saja nona, lalu sekarang dimana bocah sakti itu?" tanya Shao Yi mulai mengarahkan pertanyaan nya ke inti persoalan, tanpa dicurigai oleh ketiga dara cantik itu.
"Rupanya rasa penasaran mu sama seperti rasa penasaran gadis gadis di kota ini, dia memang sangat tampan saudari, dan yang membuat para gadis kota ini kalangkabut adalah sifat nya yang ramah serta mudah bergaul dengan orang orang miskin, tetapi sayang nona!" kata kata nona muda Na Li menggantung tidak jelas.
"Sayang kenapa saudari Na Li?" tanya Shao Yi penasaran.
Setelah menarik nafas nya sekali dan menghembuskan nya, seakan melepaskan semua beban perasaan di hati nya, nona muda Na Li kembali menjelaskan, "sayang sekali, pagi ini bocah sakti itu telah pergi melanjutkan petualangan nya, mengembara entah kemana lagi, cuma Tian yang tahu jejak langkah nya!" ...
"Haah?, pagi ini dia pergi?, pergi kemana ?" tanya Shao Yi lagi.
Nona muda Na Li mengangkat bahu nya.
"Mana kami tahu saudari, mungkin ke Utara, mungkin ke selatan, atau mungkin ke timur, atau bisa juga ke barat " jawab nona muda Na Li dengan suara agak berat.
Tetapi sang pujaan seperti nya tidak tertarik kepada satu pun gadis gadis di kota itu, bahkan sang pujaan terlihat menghindari semua gadis gadis cantik, entah ada masalah apa dengan pribadi bocah remaja itu.
"Ya, bocah remaja yang selalu memakai baju bermotif He Hua itu memang begitu tampan, saya rela tidak kawin selama nya untuk menantikan remaja itu datang meminang ku!" ucap nona muda Lian Niang sambil menatap keatas namun mata nya dia pejamkan.
Berbeda dengan Shao Yi yang jantung nya terasa melompat keluar dari dada nya setelah mendengar ucapan dari Lian Niang tadi.
Remaja tampan yang selalu memakai baju bermotif He Hua ( bunga teratai).
Ah bukan kah remaja yang tadi berpapasan dengan nya di luar gerbang kota, saat dia bermaksud masuk ke dalam kota mengenakan baju jubah panjang bermotif He Hua? pikir Shao Yi.
"Remaja itu memang tampan sekali, serta sangat simpatik, dan yang paling utama adalah mudah tersenyum kepada siapapun yang didapati nya" pikiran Shao Yi terus berputar, dan bayangan wajah tampan remaja itupun semaki jelas di pelupuk mata nya.
Entah mengapa, meskipun baru bertemu sekali, tetapi wajah tampan remaja itu terus melekat di ingatan nya.
"Siapakah nama remaja itu saudari?" tanya Shao Yi akhirnya.
"Aah rupanya saudari Shao Yi sama seperti kami, nama nya Shin Liong , itulah yang aku tahu, karena dia tamu dari ayah ku!" jawab nona muda Na Li.
__ADS_1
"Shin Liong !, Shin Liong !, Shin Liong !" begitulah hati Shao Yi mengulang ulang nama itu.
Akhirnya Shao Yi segera mengakhiri makan nya, lalu bangkit berdiri.
"Maap saudari bertiga, saya duluan ya, terimakasih atas perkenalan kita, semoga Tian masih mempertemukan kita, saya sangat senang mendapat sahabat sebaik kalian bertiga" kata Shao Yi, sambil berjalan kearah kasir, membayar harga makanan, lalu keluar dari rumah makan itu.
Tujuan utama nya adalah penitipan kuda, mengambil kuda nya, lalu keluar dari gerbang kota.
Setelah berjalan beberapa waktu, diapun tiba di persimpangan tiga jalur, ke barat laut arah kota Taoli, dan ke tenggara arah kota Su Cuan.
Shao Yi bingung harus ke arah mana dia pergi, ke Taoli ataukah ke Su Cuan.
Akhirnya Shao Yi bertanya kepada dirinya sendiri, "Shao Yi, seandainya kau ingin mengembara, kemana arah yang akan kau tuju, kota Taoli ataukah kota Su Cuan?"...
"Tentu saja aku akan menuju kota Su Cuan, kota yang lebih besar dari pada kota Taoli!" jawab Shao Yi sendiri.
Akhirnya dipacunya kuda menuju ke tenggara, menuju kota Su Cuan.
Sementara itu, Shin Liong karena tidak menggunakan kuda, dia mengambil jalan lewat hutan, terbang dari dahan ke dahan, dan dari pohon ke pohon lain nya.
Menjelang tengah hari, Shin Liong berhenti di pinggir sebuah sungai kecil berair dangkal dan berbatu batu.
Dia duduk di atas sebuah batu besar di pinggir sungai kecil itu, kaki nya dia julurkan berendam di dalam air.
Ketika bermaksud mencuci muka nya, barulah dia melihat telapak tangan kanan nya kini berisi lima titik seperti tailalat, tetapi berwarna kuning emas.
"Ibu!, tinggal lima titik lagi Bu, doakan anak mu agar bisa cepat mendapatkan lima titik lagi ya Bu, Shin Liong sudah sangat rindu dengan ibu, cuma ibu yang menyayangi Liong dalam kondisi apapun, dan tanpa syarat apapun, maapkan putra mu ini Bu, ternyata menjadi dewasa jauh lebih menyakitkan dari pada Shin Liong kecil dahulu Bu, Liong cuma ingin bersama ibu saja Bu, hidup di tempat ibu, dimana tidak ada kepalsuan seperti dunia ini Bu, hati putra mu terasa sakit Bu, tetapi Liong harus kuat kan Bu, bimbing jalan ku ya Bu" gumam Shin Liong sambil menatap lukisan seorang wanita cantik yang selalu dia bawa kemana pun dia pergi.
Air mata yang jatuh di pipi nya, cepat cepat dia hapus, seolah takut sang ibu melihat kedukaan nya.
Disimpan nya kembali lukisan itu dalam lumpang bambu, lalu di masukan nya di dalam cincin ruang milik nya.
Seperti biasa nya bila dia sedang berpergian, pisau kecil selalu siaga di pinggang nya.
Pisau kecil itu pemberian Siau Ji (bibi kecil)nya dahulu, yang konon milik sang ibunda nya selagi masih gadis.
Shin Liong berusaha mengusir bayangan kepedihan nya bersama Dewi Teratai putih dahulu, betapapun, waktu kebersamaan mereka cukup lama, sehingga berbagai kesan indah pernah tercipta dari kebersamaan itu.
"Dewi, biarkan rasa sayang ini akan ku gantung dilangit tinggi untuk mu, kau wanita pertama yang memberikan warna indah di dalam hidup ku yang kelam, sampai mati pun aku akan tetap mengenang diri mu Dewi, semoga kau mendapatkan laki laki yang benar benar kau cintai dan juga mencintai mu!" bisik Shin Liong sambil menghapus butiran titik titik air mata yang mengalir di pipi nya.
__ADS_1
...****************...