
pemuda tampan berkulit coklat muda itu segera membangun kan saudara kembar nya yang masih tidur.
"Adik Shen!, adik Shen!, cepat bangun, kita harus melanjutkan perjalanan kita!" kata pemuda itu membangun kan saudara nya dengan mengguncang tubuh nya.
"Uuaaah!" suara Shin Liong yang kini sudah menjadi Hao Shen itu, bangkit berdiri Sambil merentangkan tangan nya, hingga hampir menyentuh sesuatu di dada Shao Yi.
"Plak!"...
"Aduh!"...
Saat tangan Hao Shen hampir menyentuh bukit kembar itu, telapak tangan Shao Yi segera bersarang di tangan Hao Chun, yang membuat pemuda itu terlonjak kaget sekaligus terkejut.
"Maap nona, maafkan kebiasaan adik saya bila bangun tidur, pasti seperti itu" kata Hao Cun memohon maap untuk adik nya.
Ketika pemuda Hao Shen itu bangkit berdiri tadi, barulah ketiga orang dara cantik itu kaget bukan main, setelah menyadari bahwa tubuh dan wajah kedua orang pemuda itu, sama persis, seperti buah pinang dibelah rata.
"Ka' ka lian sa saudara kembar?" tanya Shao Yi termangu melihat kemiripan kedua saudara kembar yang begitu mirip, hingga warna kulit nya pun sama.
"Iya nona, kami saudara kembar, saya Hao Cun dan ini adik saya Hao Shen, kami kecapean setelah berjalan jauh, jadi istirahat sejenak di bawah pohon ini, eh ketiduran" jawab Hao Cun.
"Kalian dari mana?, dan bermaksud kemana?" tanya Shao Yi lagi.
"Kami dari kota Taoli, ingin ke kota Su Cuan, karena kata orang, di dekat kota Su Cuan, ada tabib sakti bernama Tabib Dewa, ayah kami sakit keras, dan kami harus menemukan tabib Dewa itu"kata Hao Cun sambil bersedih.
Sebenar nya kesedihan Hao Cun,atau Chao Kai bukan di buat buat, karena dia memang sedih mengingat nasip sang ayahanda nya.
"Kau benar saudara, di dekat kota Su Cuan memang ada tabib Dewa, tetapi itu dulu, puluhan tahun yang lalu, sekarang sang tabib Dewa nya sudah lama tiada, konon kabar nya dia mati diracun oleh murid nya sendiri yang menginginkan rahasia sang tabib sakti itu" kata Shao Yi.
Nampak ke kecewa an terlihat di wajah Hao Cun, sementara wajah Hao Shen sendiri, memang susah di tebak, apakah dia kecewa, sedih, atau justru senang, karena terlalu datar tanpa ekspresi apa pun juga.
"Sudahlah kakak, kalaupun tabib itu sudah tidak ada lagi, kita sebaik nya meneruskan perjalanan ke kota Su Cuan saja, mungkin disana ada seorang tabib yang bisa mengobati ayah!" kata Hao Shen memberikan pendapat nya.
"Kau benar adik, ayolah kita teruskan perjalanan mencari tabib sakti yang setara dengan tabib Dewa, untuk mengobati ayah!" kata Hao Cun sambil berjalan terlebih dahulu, sementara sang adik mengikuti nya dari belakang.
Sedangkan tiga orang gadis cantik itu cuma mengiringi di belakang dengan naik kuda yang dijalan kan perlahan.
"Apakah kalian ingin cepat cepat?, kalau mau cepat, silahkan mendahului kami" kata pemuda Hao Shen, kepada Shao Yi.
"Ti tidak, kalian jalan saja duluan dan kami mengikuti dari belakang!" kata Shao Yi kelabakan menjawab pertanyaan dari Hao Shen tadi, karena saat dia di tanya, dia sedang asik memperhatikan Hao Shen sendiri.
Mereka berjalan hingga menjelang sore, di dekat sebuah telaga kecil, Hao Cun berhenti.
"Kami akan menginap di dekat telaga kecil ini, silahkan kalian untuk melanjutkan perjalanan!" kata Hao Cun.
"Mana mungkin kami jalan malam malam, kau ada ada saja, kami juga akan bermalam di tempat ini, tetapi ingat, kalian tidak boleh macam macam dengan kami, terutama kau!" tunjuk Shao Yi kepada Hao Shen yang tadi hampir saja menyentuh bukit keramat nya, dan gadis cantik itu masih saja jengkel dengan nya.
"Apa pula urusan dengan ku nona?, aku tidak mengganggu mu" sahut Hao Shen.
"Urusan?, ya tentu saja ada, wajah mu terlihat wajah cabul, tadi aja bila tidak ku pukul, tangan mu pasti menyentuh macam macam!" jawab Shao Yi jengkel.
"Macam macam apa?, orang tadi saya bangun tidur, tahu kalian ada saja tidak, mana ada sempat berpikiran seperti itu!" kata Hao Shen membela diri.
__ADS_1
"Sudah lah saudari Shao Yi, mungkin dia benar benar tidak sengaja hampir menyentuh anu mu, lagipula wajah nya terlihat lugu!" kata Sian Eng setengah menggoda Shao Yi.
Shao Yi tidak menjawab, cuma bibirnya saja yang dimencongi, sambil mata nya melotot menatap kearah Hao Shen, "kalau kau berani menyentuh nya, aku pasti akan memotong tangan mu itu"...
"Oh iya tuan muda Hao berdua, kalian sudah berapa lama berjalan dari kota Si Ma?" tanya Sian Eng lagi.
"Mungkin hampir satu Minggu nona!" sahut Hao Cun.
"Kalau begitu, apakah kalian melihat seorang anak muda mengenakan jubah bermotif He Hua dan berambut panjang berjalan di jalan ini?" tanya Sian Eng tiba tiba.
pemuda Hao Cun menoleh kearah adik nya Hao Shen, dia tahu siapa yang di maksud oleh gadis cantik itu.
"Maksud nona pemuda gembel berbaju motif He Hua itu kah?" tanya Hao Shen pura pura ingin tahu.
"Pletok!"...
"Aduuh!".
Jerit Hao Shen ketika jari tangan Sian Eng menggetok kepala nya.
"Apa apaan nona, kenapa main getok aja, sakit tahu, anak muda itu kan memang gembel"kata Hao Shen lagi.
Kembali tangan Sian Eng terangkat ingin menggetok kepala Hao Shen lagi.
"Kau tidak boleh mengatakan calon suami kami itu dengan sebutan gembel bila tidak ingin kami getok ramai ramai" sahut nona Cui Ming yang sedari tadi diam saja.
Mendengar itu, hampir saja tubuh Hao Cun terjungkal karena terkejut nya, sambil menatap kearah adik nya dengan pandangan yang cuma bisa mereka berdua saja mengetahui arti nya.
pemuda Hao Shen tidak menjawab, cuma bahu nya saja yang terangkat.
Sesudah itu, dia segera menanak nasi di atas tungku batu yang disusun tiga biji.
Sebagai lauk nya adalah daging bakar serta sambal seadanya saja.
Setelah selesai makan, mereka berbincang bincang kembali, sambil menghadap kearah api unggun.
"Apakah kalian benar benar bertemu dia ?" tanya Sian Eng kembali.
"Ya, beberapa hari yang lalu, tetapi dia pergi dengan berlari begitu cepat!" jawab Hao Shen.
"Bagai mana mungkin kalian memiliki calon suami yang sama?, apakah kau juga nona?" tanya Hao Cun kepada Shao Yi.
"Iya, eh ti tidak!, ya tidak!" jawab Shao Yi kalangkabut mendapat pertanyaan seperti itu.
"Aneh!, aneh!, dunia memang aneh!" keluh pemuda Hao Shen bergumam sendiri.
"Aneh apa nya?" tanya Sian Eng lagi.
"Aneh, ya aneh aja, bagai mana tidak aneh, anak muda itu memang gembel, miskin, hidup tidak karuan dari satu tempat ketempat lain nya, serta sebatang kara saja, bagai mana bisa tiga gadis cantik mengejar nya?" tanya Hao Shen lagi.
Kali ini hampir saja tangan Shao Yi yang menggetok kepala Hao Shen, seandainya dia tidak segera menjauh.
__ADS_1
"Sebenar nya kami ingin membunuh nya, karena dia telah membantai semua keluarga kami, tetapi dia menyelamatkan kami yang hampir menjadi korban dari Cio Mang Le, sehingga kami berhutang nyawa dan kehormatan kepada nya, tetapi dia telah melihat hal pribadi kami yang tidak boleh dia lihat, itulah makanya dia harus bertanggung jawab" kata Sian Eng.
"Kemana kalian akan mencari nya di dunia yang sangat luas ini?" tanya Hao Cun bingung.
"Kemana saja, pokok nya kami akan terus mencari nya, dan menuntut Pertanggung jawaban nya!" jawab Sian Eng lagi.
Karena mengira kata kata kami yang di maksudkan itu adalah mereka bertiga, maka Hao Cun akhir nya cuma bisa diam saja.
"Perasaan wanita memang aneh, mudah ber ubah ubah seperti angin yang bertiup" pikir Hao Shen atau Shin Liong.
Ke esokan hari nya, mereka kembali melanjutkan perjalanan setelah sarapan pagi, kali ini Sian Eng satu kuda dengan Cui Ming, sementara kuda Sian Eng sendiri ditunggangi oleh Hao Cun dan Hao Shen, sehingga perjalanan mereka menjadi lebih cepat lagi.
Keakraban antara mereka pun mulai terjalin, terutama antara Shao Yi dan Hao Shen yang biasa nya selalu bertengkar, kini tidak lagi bertengkar.
Setelah lebih dari satu Minggu perjalanan, mereka tiba di sebuah desa di pinggir sungai kuning.
Di desa ini mereka menunggu kapal yang lewat dari kota Su Ciang ke kota Su Cuan.
Dan akhirnya, setelah menantikan beberapa lama nya, ada sebuah kapal api yang lewat dari kota Su Ciang ke kota Su Cuan.
Dengan menumpang kapal itu, perjalanan mereka pun menjadi sangat cepat, cuma dua hari satu malam, mereka pun tiba di dermaga kota Su Cuan.
Mereka memasuki kota Su Cuan setelah membayar biaya masuk di pos lintas batas di dermaga Su Cuan.
" Nona nona bertiga, mungkin kita akan berpisah di sini, kami akan melanjutkan perjalanan kami lagi, dan kalian berhati hati lah, jangan mudah percaya pada siapapun juga, semoga apa yang kalian cari, kelak akan bertemu" kata Hao Cun berpamitan.
"Kemana lagi kalian akan pergi?" tanya Shao Yi sambil melirik kepada Hao Shen.
"Kemana saja, mungkin ke kota Kuan Ton nona" kata Hao Cun.
" Nona Shao Yi, kalau boleh aku memohon, bila nanti nona ke kota Si Ma, tolong ajak bersama kedua nona Sian Eng dan Cui Ming ya, berbarengan bersama, bisa saling menjaga keselamatan" kata Hao Shen.
"Kau jangan khawatir, kami datang bertiga, tentu akan kembali bertiga pula,kapan kalian akan berangkat meneruskan perjalanan kembali?" tanya Shao Yi.
"Tidak buru buru juga ah, iya kan kak?" kata Hao Shen kepada Hao Cun.
"Tentu saja dik, cape tubuh ku aja belum hilang, mungkin kita perlu istirahat beberapa hari lagi" ujar pemuda Hao Cun menanggapi perkataan adik nya.
"Masih ada waktu beberapa hari kita di sini, ayo kita cari tempat makan terenak di kota ini"ajak Shao Yi.
Mereka pun segera berjalan menyusuri jalan di kota Su Cuan itu.
Dengan naik kereta kuda khusus dalam kota, mereka minta antar ke rumah makan terkenal di kota itu.
Mereka turun di pinggir jalan, tepat tidak jauh dari sebuah rumah makan yang sangat besar dan bertingkat dua.
Ketika akan memasuki halaman rumah makan itu, ada seorang wanita muda menggendong bayi nya yang selalu menangis tanpa henti.
Pakaian wanita muda itu sangat lusuh dengan rambut yang kurang terurus, dan bibir nya pecah pecah.
Shin Liong atau Hao Shen yang berjalan paling belakang, menghentikan langkah nya menatap kearah wanita muda dengan bayi nya itu.
__ADS_1
Tiba tiba ingatan nya melayang kepada sang ibu yang sudah lama tiada, ada rasa sedih, ada pula rasa kasihan, hingga dua tetes air mata mengalir di pipi nya.
...****************...