Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Negeri Mo Li Fa.


__ADS_3

Memasuki tingkat yang kedua dari pagoda emas kesucian itu, seluruh ruangan berwarna putih salju,tanpa diorama apapun juga, tetapi di situ hawa ketenangan hati dan kedamaian kian terasa pekat sekali, sehingga siapapun yang berada di tempat itu, terasa tidak ingin beranjak pergi.


Shin Liong terus menaiki tangga menuju ke ruangan ketiga.


Ternyata itu ruangan dimensi, dimana sebuah taman bunga terhampar luas dengan kupu kupu berbagai macam jenis dan warna nya, berterbangan ria kesana kemari.


Ditengah tengah taman bunga itu ada kolam berisi ikan berwarna warni.


Sedangkan disebuah kursi panjang, nampak seorang wanita muda yang cantik jelita sedang duduk menatap kearah ikan ikan di dalam kolam.


"I, ibu?" .


Dengan suara bergetar, Shin Liong memanggil wanita muda yang cantik jelita itu.


Wanita itu berpaling, menoleh kearah Shin Liong datang, seulas senyum luar biasa indah tersungging di wajah nya.


Di rentangkan tangan nya sambil berlari kearah Shin Liong.


Dengan tetesan air mata yang membasahi pipi nya, di peluk nya tubuh Shin Liong dengan erat.


"Putra ku!, putra ibu tersayang, kini kau sudah dewasa nak, kasih sayang ibu sudah besar sekarang, inilah saat saat paling bahagia didalam hidup ibu nak!" kata wanita muda nan cantik jelita itu.


"Ibu, aku datang membebaskan ibu, ayo kita pulang Bu!,kata kakek guru, kita tidak akan berpisah lagi kan Bu?" kata Shin Liong sambil memeluk sang ibu dengan erat nya, meskipun sudah dia tahan, mata nya tetap berkaca kaca karena haru.


Xue Bao Yu yang sebenar nya adalah reinkarnasi dari Dewi Chang 'e putra dari Dewata San Qin sendiri itu tersenyum manis, sambil mencium putra tersayang nya itu.


"Tentu saja kakek mu benar anak ku, marilah kita keluar dari pagoda ini!" kata Dewi Chang 'e sambil membimbing tangan putra nya untuk keluar dari dunia dimensi itu, dan turun menuju ke dasar pagoda emas itu.


Setelah mereka keluar dari pagoda emas kesucian itu, di luar terlihat kakek Qin sudah menunggu mereka berdua dengan senyuman ramah dan wajah yang gembira.


Melihat kehadiran kakek Qin disitu, Dewi Chang 'e atau Xue Bao Yu semasa hidup di dunia itu berlutut di hadapan kakek itu.


"Ayahanda, ananda menghaturkan sembah dihadapan ayahanda, cucumu kini telah selesai dengan perjalanan nya!" kata Dewi Chang 'e.


"Sudahlah putri ku, misi mu selesai, dan putra mu telah lulus ujian, kini dia telah menjadi seorang Dewata muda, namun misi nya masih banyak yang harus dia lakukan, serta ada seseorang yang masih mengharapkan kehadiran putra mu, dampingi dia putri ku, masih banyak yang harus dia pelajari dari semesta raya ini, hingga bisa benar benar menjadi Dewata muda satu satu nya nanti!" kata kakek Qin.


Shin Liong yang menyaksikan semua itu cuma bisa terdiam bingung.


"Jadi?, kakek adalah kakek kandung ku kah?, dan siapakah ibu ku ini yang sebenar nya kek?" tanya Shin Liong .


Kakek Qin tertawa terbahak bahak menatap wajah cucu nya yang tampak lucu itu.


"Shin Liong cucuku, aku memang kakek kandung mu, dan ibu mu ini sebenar nya bernama Dewi Chang 'e, putri kandung ku sendiri, ketika terlahir sebagai manusia, dia bernama Xue Bao Yu!, dan Yang mati itu adalah wujud manusia nya, sedangkan wujud sejati nya tetap hidup" jawab kakek Qin menjelaskan.


Sepintas, Dewi Chang 'e seperti gadis baru berusia dua puluh tahun saja, tidak ada yang menyangka jika Shin Liong yang kini telah berusia delapan belas tahun itu putra nya.


"Cucu ku, pergilah ke arah tenggara, disana takdir mu sedang menantikan diri mu, tetapi tetaplah rendah hati, dan jangan sombong, ibu mu akan mendampingi diri mu nak, pergilah!" ucap kakek Qin lalu lenyap dari pandangan mata mereka.

__ADS_1


Shin Liong dan Dewi Chang 'e segera berlari menuruni puncak tiga Dewa menuju kearah tenggara.


Dewi Chang 'e, sebagai seorang Dewita, tentu saja tingkat kepandaian nya juga diatas para Dewa Dewi, sehingga tidak sulit baginya untuk mengimbangi gerakan dari putra nya itu.


Sepanjang perjalanan nya, Dewi Chang 'e terkagum kagum, melihat bagai mana para binatang surgawi dan binatang illahi menjadi jinak kepada putra nya itu, seolah para binatang itu mengelu elukan sang pangeran mereka.


Setelah selama seminggu terbang dari dahan satu kedahan lain nya, dari pohon satu ke pohon lain nya, akhirnya mereka pun tiba di pinggiran sebuah kota yang sangat besar sekali.


Sekeliling kota ini di Pagari dengan tembok tinggi terbuat dari batu alam yang keras.


Setelah memutari tembok ini beberapa saat, barulah mereka menemukan sebuah pintu gerbang kota yang berhias bunga bunga serta menjulang tinggi dengan megah nya.


Di atas pintu gerbang bertuliskan Negeri Mo Li Fa (bunga melati).


Di pintu gerbang kota ini terdapat sepuluh orang prajurit wanita cantik berkepandaian tinggi, sedang bertugas menjaga pintu gerbang, dan bergantian setiap tengah hari serta tengah malam.


Setelah melapor pada petugas penjaga gerbang kota, dan membayar biaya masuk kota, akhirnya mereka pun memasuki kota itu.


Ternyata kota itu sangatlah ramai, dengan bangunan toko berjejer rapi di sepanjang kanan dan kiri jalanan kota yang sangat lebar.


Kereta aneh berlalu lalang di sepanjang jalanan.


Kereta ini di katakan aneh, karena di tarik oleh sejenis burung tanpa sayap, seperti burung unta, namun besar nya seperti kuda jantan.


"Ibu kita sekarang dimana, kenapa semua nya nampak seperti aneh?" tanya Shin Liong kepada ibu nya.


Dewi Chang 'e membimbing tangan putra nya, seperti seorang ibu membimbing tangan putra kecil nya.


Mereka terus berjalan menyusuri jalanan kota.


Di pinggir pinggir jalan, berjejer tanaman bunga melati yang berbunga rimbun, sehingga di mana mana semerbak bau harum bunga melati.


Dengan menumpang sebuah kereta, mereka minta diantar ke tempat rumah makan terkenal di kota itu, yaitu sebuah rumah makan yang besar.


Seperti negeri negeri dimana pun juga, di negeri inipun juga sama, laki laki dan perempuan banyak berseliweran, baik yang bekerja, maupun pengangguran nya.


Tetapi satu hal yang membedakan nya adalah, semua prajurit nya adalah perempuan muda dan cantik cantik.


Serta satu hal lagi yang menjadi keanehan negeri ini adalah semua penduduk nya terdiri dari pemuda dan anak anak, alias tidak ada satupun orang tua yang tampak berkeliaran di jalan.


Penduduk yang paling tua cuma tampak berusia sekitar dua puluh tujuh tahunan saja, itupun laki laki, sedangkan wanita nya, paling tua cuma dua puluh lima tahunan saja.


Disebuah rumah makan yang besar, dengan halaman yang luas, mereka berhenti, dan setelah Dewi Chang 'e membayar ongkos kereta, mereka berjalan memasuki rumah makan itu.


Di dalam rumah makan itu ternyata cukup banyak pengunJung nya.


Dewi Chang 'e dan Shin Liong duduk dekat jendela, di sebelah mereka duduk pula empat orang laki laki dua puluh tujuh tahunan usia mereka.

__ADS_1


Sambil tersenyum, Dewi Chang 'e menatap kearah putra tunggal nya itu, "tahukah kau berapa kira kira usia ke empat laki laki itu nak?" ...


Shin Liong menatap kearah laki laki yang di maksudkan ibu nya itu.


"Hmm, paling dua puluh tujuh tahun, atau dua puluh lima tahun!" jawab Shin Liong .


"Kau salah nak, usia mereka sekitar seratus dua puluh tahun!" kata Dewi Chang 'e sambil tersenyum ramah.


Shin Liong tersentak kaget,mengira ibu nya sedang bercanda dengan nya.


"Ah ibu sedang bercanda kan?" kata Shin Liong .


"Tidak!, coba kau tanya sediri saja kepada nya, berapa usia nya?" kata Dewi Chang 'e.


"Maap tuan tuan muda, menurut ibu ku, usia kalian sudah diatas seratus tahun, apakah itu benar?" tanya Shin Liong .


Ke empat laki laki itu serentak menatap kearah Shin Liong , lalu tertawa terbahak bahak.


"Nak!, kau jangan membuat kami merasa muda lagi, kau lebih pantas menjadi cucu kami, dan ibu mu benar tentang kami!" kata salah satu dari ke empat laki laki itu.


Shin Liong kembali menatap kearah sang ibu dengan tatapan heran.


"Bagai mana ibu bisa tahu jika mereka sudah tidak muda lagi?" tanya Shin Liong takjub.


"Nanti bila bertemu kakek mu, mintalah ilmu memindai tulang, sehingga kau bisa mengetahui berapa usia seseorang itu sesungguh nya, di semesta ini cuma sebagian kecil saja mahluk yang terganggu dengan usia, lebih banyak mahluk yang pisik nya tidak terpengaruh waktu nak!" jawab Dewi Chang 'e.


Ke empat laki laki yang ternyata sudah tua itu kembali menatap kearah Shin Liong dan ibu nya.


"Apakah kalian dari luar tembok kota?" tanya salah satu dari ke empat orang itu.


"Benar tuan, saya dan putra saya berasal dari luar kota ini, kalau boleh tahu, apa nama negeri ini?" tanya Dewi Chang 'e.


"Ini negeri Mo Li Fa, atau negeri nya para bidadari, konon di negeri ini lah adanya gadis tercantik di seluruh semesta raya ini, tetapi sangat di sayang kan nyonya muda, sudah empat tahun ini bunga tercantik di seluruh semesta raya itu kini sedang sakit keras nyonya, banyak tabib dan dukun di datangkan, tetapi semua nya tidak membuahkan hasil, sang Ratu sudah berusaha sekuat daya, tetapi tidak satupun usaha yang berhasil, bahkan sang ratu mengeluarkan sayembara, barang siapa yang berhasil mengobati putri kesayangan nya itu, bila dia laki laki, akan diangkat sebagai suami oleh sang putri, dan bila dia perempuan, akan dijadikan kerabat ratu dan mendapatkan hadiah yang tidak terhingga!" kata salah seorang laki laki itu.


"Kalau sekira nya nyonya muda dan putra nya punya sedikit keterampilan, patut lah di coba, siapa tahu berhasil, hadiah nya lumayan besar nyonya muda!" kata laki laki lain nya ikut mencelutuk omongan mereka.


"Terimakasih tuan, kami tidak memiliki kepandaian seperti itu!" jawab Dewi Chang 'e menghentikan pembicaraan karena pesanan mereka sudah tiba.


Setelah selesai makan, Dewi Chang 'e membayar harga semua makanan yang mereka makan tadi.


Keluar dari rumah makan itu, di seberang jalan, terlihat sebuah alun alun kota yang sangat luas di kelilingi oleh rimbun nya pepohonan rindang.


Dan di sebelah alun alun itu, adalah istana Mo Li Fa bertembok batu pualam putih, dengan gerbang terbuat dari baja.


Nampak beberapa prajurit wanita sedang berjaga jaga di pintu gerbang istana itu.


Dewi Chang 'e menatap kearah sang putra, "ibu tahu apa yang di maksudkan oleh kakek mu nak, cuma kau yang mampu menolong gadis itu, ayo ikuti ibu!" Dewi Chang 'e menggandeng tangan putra nya, menarik nya ke. arah gerbang istana Mo Li Fa.

__ADS_1


Tanpa membantah, Shin Liong mengikuti saja apa yang ibu nya kehendaki.


...****************...


__ADS_2