
Dewi Teratai putih berlari memeluk tubuh Shin Liong yang basah oleh keringat itu,tangan kanan nya masih memegang pedang kristal putih.
"Sayang!, kau dua kali memberikan kejutan untuk ku malam ini, pertama panah cahaya, yang kedua pedang putih terang itu,masih banyak yang tidak ku mengerti tentang diri mu"kata Dewi Teratai putih sambil memeluk Shin Liong.
"Dewi!, panah itu bernama panah sumbu langit, pemberian mendiang ibu ku dalam mimpi, dan pedang ini bernama pedang kristal, terbuat dari Katai sisa sebuah bintang yang menciut hingga sebesar kepalan tangan saja,dan di tempa oleh kakek guru ku selama seribu tahun, baru bisa menjadi pedang utuh,pedang itu pemberian kakek guru Qin untuk ku" kata Shin Liong.
Shin Liong melepaskan pedang itu, dan secara ajaib,pedang itu menghilang dari pandangan mata.
Malam itu Shin Liong membersihkan dua belas ekor binatang siluman tingkat lima dan enam di bantu oleh Dewi Teratai putih.
menguliti nya,mengambil batu energi nya.
Juga dua mahluk Monster siluman tingkat delapan itu.
Setelah semua nya selesai,semua binatang itu dia masukan kedalam cincin ruang khusus untuk para pemburu agar tidak busuk dan selalu segar seperti baru dibunuh saja.
"Untuk apa sayang mengumpulkan binatang itu?" tanya Dewi Teratai putih.
"Binatang itu sangat berharga,nanti bila kita tiba di kota besar,kita jual,harga nya lumayan tinggi" kata Shin Liong menjelaskan.
"Kalau harus ke pantai timur,sesampai nya dikota Tao,kita harus keselatan, kekota Famoa, lalu ke kota Raja Alexia, terus ke timur kekota Fan Sau,ke Yufing,ke kota propinsi Yuking"kata Dewi Teratai putih menjelas kan.
"Wah sangat jauh sekali kah tujuan kita?" tanya Shin Liong sedih.
Melihat kesedihan di wajah Shin Liong, Dewi Teratai putih segera menarik tubuh Shin Liong agar berbaring di pangkuan nya, sambil membelai rambut Shin Liong yang panjang dia berkata, " kenapa menjadi beban sayang, ayo kita nikmati saja perjalanan kita ini, meskipun setahun baru sampai, kan kita sedang mengembara, maka nikmati saja,nanti kalau tiba di kota Yuking, kita bisa ikut perahu ke muara sungai chong, tepat nya kota Zimo,dari Zimo kita tinggal menyeberang saja" kata Dewi Teratai putih menghibur suami nya itu.
Ke esokan hari nya,setelah selesai sarapan, mereka segera menuntun kuda ke arah jalan.
Saat embun belum lagi kering dari rerumputan, kuda coklat yang di naiki dua orang itu segera berlari menyusuri jalan raya tanah bercampur batu kerikil itu.
Setelah hampir satu purnama penuh perjalanan dengan kuda yang di pacu kencang, akhirnya pada suatu sore,mereka tiba di gerbang kota Tao.
Karena mereka akan meneruskan perjalanan ke selatan,maka kuda mereka titipkan di penitipan kuda di gerbang selatan kota Tao.
Kota Tao sedikit lebih ramai dari pada kota Li Cuan,karena kota Tao berada di persimpangan empat tujuan.
Ke propinsi Han di sebelah barat, melewati kota Li Cuan, ke propinsi Tong di timur,melewati kota Min Tao, ke propinsi Song di Utara,melewati kota Sian Tao dan ke kota Raja Alexia di selatan melewati kota Famoa.
Shin Liong dan Dewi Teratai putih sengaja berjalan jalan dulu melihat suasana kota Tao sebelum meneruskan perjalanan ke kota Famoa.
Setelah dari penitipan kuda di gerbang selatan, tujuan mereka kini adalah rumah makan.
Di selatan kota Tao ini ada sebuah sungai, yang bernama sungai Liong melintang dari barat ketimur.
Kesebelah barat,sungai ini terus berbelok ke selatan dan bermuara di laut selatan,sedang kan sebelah timur,berbelok ke Utara, terus melewati kota Sian Tao dan berakhir di pegunungan Kwan lun sebagai hulu sungai nya.
Rumah makan yang mereka singgahi berada tidak jauh dari dermaga kota Tao.
__ADS_1
Beberapa buah kapal api nampak sedang sandar di dermaga kota Tao ini, biasanya tujuan mereka adalah kota Kung Ciau di selatan kurang lebih tiga hari perjalanan dari kota Tao.
Shin Liong dan Dewi Teratai putih memilih meja paling sudut,karena bisa bebas memandang ke arah sungai Liong yang besar itu.
Untuk melanjutkan perjalanan ke timur atau ke selatan, mereka harus menyeberang sungai Liong yang lebar ini dengan menyewa rakit penyeberangan khusus.
Selagi mereka asik menikmati makanan mereka, dari arah pintu, masuk seorang laki laki paro baya bersama dua orang gadis cantik.
Setelah celingukan sebentar, salah seorang dari gadis itu menunjuk kearah Shin Liong dan Dewi Teratai putih duduk.
Ketiga orang itu langsung berjalan kearah Shin Liong dan Dewi Teratai putih duduk.
"Halo!, aku Shi Er dan ini Ming Ming teman ku,apa kau masih mengingat kami? tanya gadis cantik yang pertama.
Shin Liong menoleh kearah dua orang gadis cantik itu, " tentu saja aku mengingat kalian,bagai mana keadaan kalian,sehat saja kan?"...
"Bolehkah kami bergabung disini dengan kalian?" tanya Shi Er.
"Tentu saja Shi Er, silahkan duduk,kebetulan kami juga baru mulai,oh tuan silahkan duduk!" kata Shin Liong mempersilahkan mereka duduk.
"Terimakasih,kau penolong putri dan keponakan ku ini, kalau boleh tahu,siapa nama mu?" tanya laki laki paro baya yang datang bersama kedua orang gadis tadi,yang Shin Liong ingat adalah ayah dari Shi Er.
"Nama saya Shin Liong tuan,dan ini istri saya bernama Dewi Nuwa" jawab Shin Liong memperkenalkan diri nya.
"Hah!, istri?" kedua gadis muda itu terbelalak mendengar perkataan dari Shin Liong tadi.
Mereka merasa seakan tidak mempercayai pendengaran mereka sendiri.
Melihat para tamu suaminya itu seolah olah tidak mempercayai omongan suami nya, Dewi Teratai putih langsung berdiri dan menjura kepada ketiga orang itu, " kenalkan saya Dewi Nuwa, istri dari Shin Liong ini"...
Ketiga orang itupun balas menjura kepada Dewi Teratai putih dan Shin Liong.
"Shin Liong, maapkan atas perlakuan istri ku dahulu, aku mewakili mantan istri ku, memohon maap kepada mu atas perlakuan nya dahulu" kata tuan muda Wang Bau Qi dengan tulus.
Dewi Teratai putih yang tidak mengerti permasalahan nya,cuma diam sambil menatap raut wajah sang suami nya itu,seolah ingin membaca, ada peristiwa apa yang pernah terjadi.
"Aah itu bukan masalah besar tuan, tidak usah di ungkit ungkit lagi,saya juga sudah melupakan nya" jawab Shin Liong sambil tersenyum ramah ke arah tuan muda Wang Bau Qi.
Tuan muda keluarga Wang dan putri nya serta keponakan nya itu duduk berseberangan dengan Shin Liong dan Dewi Teratai putih.
Shi Er menatap kearah Shin Liong dan Dewi Teratai putih yang sedang makan,dan sesekali terlihat Dewi Teratai putih menyuapi Shin Liong, entah mengapa terasa ada sesuatu perasaan perih di dalam hati gadis cantik itu.
Terasa ada sesuatu di pelupuk mata nya yang ingin jatuh,namun sekuat daya dia tahan terus.
Entah apa yang kini dia rasa kan,ada rasa perih tetapi juga ada rasa bahagia.
Perih, karena laki laki yang dikagumi nya itu kini telah menjadi milik orang lain,dan bahagia karena kini laki laki yang selalu dihina serta di benci keluarga ibu nya itu telah mendapatkan seorang pendamping yang luar biasa cantik jelita nya itu,dan nampak sangat menyayangi nya.
__ADS_1
"Aku menyukai mu karena kejujuran dan keluguan mu, tetapi tidak mungkin untuk bersama mu, terlampau besar jurang yang menghalangi kita, biarlah, aku cukup bahagia memandang mu dari jauh telah mendapat kebahagiaan" kata hati Shi Er perih, sesuatu yang dia tahan sekuat daya nya kini bendungan itu hampir jebol.
Shi Er bangkit berdiri dan melangkah ke belakang rumah makan itu .
"Kau kemana Shi Er!" tanya Ming Ming.
"Kamar kecil!".
Cuma itu jawaban singkat dari Shi Er yang terus berjalan cepat ke belakang, ke arah kamar kecil.
Di dalam kamar kecil itu, Shi Er menumpahkan semua perasaan hati nya.
Bendungan kokoh yang dia bangun sejak semula, kini jebol, membuat air tumpah membasahi pipi nya yang putih licin itu.
"Entah kenapa,aku selalu mengingat laki laki itu, padahal dia jauh dari kata tampan, tetapi semenjak dia menyelamatkan hidup ku, aku selalu terbayang wajah nya,tutur sapanya yang ramah,juga hati nya yang bersih dari rasa benci maupun rasa iri dengki itu,kini dia telah bahagia,selayak nya aku harus turut bahagia pula, meskipun bukan dengan ku, karena aku tidak mungkin bisa bersama nya, ibu dan paman serta bibi seperti nya sangat membenci laki laki itu,ada apa sebenar nya yang terjadi dengan mereka?" kata hati Shi Er kalut.
Setelah beberapa saat, Shi Er pun tiba kembali di meja yang mereka tempati.
"Shi Er, kenapa mata mu merah ?" tanya Ming Ming.
"Eh, tadi di dalam kamar kecil, mata ku kemasukan sesuatu!" jawab Shi Er sekena nya.
Kebetulan makanan pesanan mereka pun sudah tiba ketika dia kembali ke meja itu.
Shi Er makan sambil diam diam sesekali memperhatikan Dewi Teratai putih dan Shin Liong.
"Tuan!, bukan kah tempat kediaman tuan di utara kota Tao?, tumben sampai kesini mencari tempat makan?" tanya Shin Liong sambil makan.
Tuan muda Wang tersenyum menatap kearah Shin Liong, "sebenar nya kami tidak bermaksud khusus kemari untuk makan, tetapi kami sedang mencari kapal yang akan berangkat ke kota Kung Ciau, tetapi rupanya semua kapal sudah pada penuh hingga beberapa hari kedepan,terpaksa besok kami naik kereta kuda saja ke kota Famoa "jawab tuan muda Wang.
"Sebenar nya kalian mau ke Kung Ciau apa ke Famoa?" tanya Dewi Teratai putih heran.
"Sebenar nya tidak kedua dua nya nona muda, kami mau ke kota Raja, cuma kalau lewat kapal, melewati kota Kung Ciau terus ke Famoa baru sampai ke kota raja, tetapi bila lewat darat, kita langsung ke kota Famoa dan terus ke kota Raja" kata tuan muda Wang menjelas kan.
"Ada apa di kota Raja tuan ?" tanya Dewi Teratai putih penasaran.
Ketiga orang itu nampak heran mendengar pertanyaan dari Dewi Teratai putih itu.
"Hah, kalian berdua tidak tahu?, dua purnama lagi kan di kota Raja akan diadakan festival budaya yang diadakan dua tahun sekali,orang orang dari ber bagai wilayah di seluruh negeri, juga dari berbagai perguruan bela diri di seluruh negeri sedang tumpah ruah menuju ke kota Raja Alexia untuk berpartisipasi di acara itu, atau sekedar melihat lihat keramaian saja" kata tuan muda Wang.
"Ooh iya iya, saya lupa tuan, dan kebetulan kami juga melewati kota Raja, mungkin kami akan mampir untuk sekedar menyaksikan keramaian dua tahunan itu" kata Dewi Teratai putih lagi.
"Sebenar nya kalian mau kemana?" tanya tuan muda Wang bertanya kepada Dewi Teratai putih.
"Kami ingin ke pantai timur,tepatnya kota Zimo, ada sesuatu urusan suami saya disana" jawab Dewi Teratai putih.
"Kota Zimo?, waaoo, perjalanan yang sangat panjang,hampir separo benua ini"kata tuan muda Wang.
__ADS_1
Mereka makan sambil melihat kesibukan orang yang berlalu lalang di dermaga kota Tao itu.
...****************...