
Sang pendeta bernafas lega melihat keyakinan dari sang Gubernur , jika cincin yang ada pada nya itulah yang berisi Tail emas asli , sedangkan yang dia serahkan pada pemuda itu cuma berisi Tail emas palsu .
Dengan terseok Seok , sang pendeta tua itu berjalan menuju kearah kamar pribadi nya yang berada di belakang bangunan utama itu .
Sesampai nya di dalam kamarnya , sang pendeta segera duduk bersila di lantai , dengan bersikap sempurna , mengumpulkan Qi murni untuk menyembuhkan luka dalam nya .
Namun baru beberapa tarikan nafas saja , tiba tiba dia mendengar suara teriakan dari sang Gubernur Lao Taijin .
"Bang*aaat !, Jaha*am kurang a*aaar !" ...
"Prang !" ...
"Bruang !" ...
"Bruang !" ...
Terdengar suara barang barang pecah terbanting ke lantai .
Dengan tertatih tatih , sang pendeta memaksakan diri nya untuk keluar kamar dan dengan langkah terseok Seok , berjalan kearah rumah utama .
Di ruang tengah rumah kediaman sang Gubernur itu , terlihat berbagai macam keramik dan pot bunga terbuat dari keramik mahal , hancur berantakan , dibanting oleh sang Gubernur ke lantai .
Beling pecahan keramik dan pot bunga berserakan memenuhi seantero ruangan itu .
Di tembok ruangan itu , terlihat putri Lao Fin Yen berdiri termangu dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar serta air mata nya yang mengalir membasahi pipi nya .
"Hentikan yang mulia !, hentikan !, apa yang terjadi sebenar nya yang mulia ?" tanya sang pendeta kepada Gubernur Lao Taijin .
"Pemuda Bangsat itu ternyata sudah mencuri semua Tail emas milik ku , kau benar , cincin ini ternyata yang berisi Tail emas palsu , berarti yang ada pada nya itulah yang berisi Tail emas yang aslinya !" kata sang Gubernur .
"Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang ?" tanya pendeta tua itu .
"Kumpulkan seluruh Prajurit kota , dan tangkap pemuda itu , hidup atau mati !" teriak Lao Taijin berteriak nyaring .
"Berapa ratus orang Prajurit kota kita yang mulia ?, seratus ?, dua ratus ?, atau lima ratus orang ?, satu Negeri Fangkea ini pun yang mulia kerahkan untuk menangkap pemuda itu , saya yakin tidak akan mampu , yang mulia cuma memperbanyak korban saja , sebaik nya kita sudahi berurusan dengan pemuda itu , atau kerugian kita bisa menjadi lebih banyak lagi , iya bila cuma rugi harta , bagai mana bila dia minta nyawa yang mulia dan nyawa putra putri yang mulia ?, siapa yang bisa menghentikan langkah nya , meskipun guru saya yang turun tangan , saya tetap tidak yakin yang mulia , tetapi terserah kepada yang mulia , setelah kesehatan saya agak lumayan , saya mau pulang ke selatan beberapa waktu menemui guru saya , tentu saja bersama Yan Zie Kong Cu sekaligus ingin memulihkan kesehatan saya di sana !" kata pendeta tua itu sambil berlalu kembali ke ruangan nya .
Pendeta itu mulai tidak perduli lagi dengan sang Gubernur yang dia anggap sudah tidak layak untuk di dibela lagi , karena tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari Gubernur ini .
Menurut pertimbangan nya , tinggal masalah waktu saja , melihat kehancuran sang Gubernur itu tiba .
Sang Gubernur tersandar ke tembok rumah nya , mata nya menerawang kosong , Tail emas yang dia kumpulkan dari hasil menipu pajak wilayah nya , kini raib cuma dalam sekejap saja , istri cantik yang sejak lama dia incar incar , kini juga terlepas dalam waktu yang sama , seolah semua yang di ucapkan pemuda tadi kepada nya , satu persatu , kini mulai tampak .
Shin Liong dan Putri Mei Yin hari itu sedang berjalan di pusat kota Han yang sangat padat dengan manusia yang berlalu lalang dengan urusan nya masing masing .
Di depan sebuah toko roti , Shin Liong melihat seorang bocah perempuan seusia tujuh tahun , dan seorang bocah laki laki usia lima tahun sedang berdiri menatap kearah pembeli yang silih berganti keluar masuk toko itu .
Kedua orang bocah itu , dengan pakaian yang lusuh , tidak lah masuk ke dalam toko roti itu , tetapi tidak pula pergi dari situ .
Kedua nya cuma berdiri melihat orang orang yang berlalu lalang , dengan sesekali meneguk air liur nya .
Seorang pemuda keluar dari toko roti itu , sambil mengunyah roti di mulut nya , sementara di tangan nya , ada sepotong roti yang tinggal separuh.
__ADS_1
Setelah keluar dari pintu toko itu , pemuda itu melemparkan sisa roti yang ada ditangan nya ke tanah berpasir .
Alangkah terkejut nya Shin Liong melihat , tiba tiba anak perempuan itu mengambil potongan roti yang sudah jatuh ke tanah itu , meniup debu yang melekat pada roti itu , lalu memberikan nya kepada anak laki laki itu .
Si pemuda tadi cuma menatap kearah kedua anak tadi , tertawa terbahak bahak , lalu merebut potongan roti tadi dari tangan sang bocah , meludahi nya beberapa kali , lalu menyerahkan kembali roti itu kepada anak tadi .
Kedua anak itu menangis tersedu sedu melihat potongan roti nya sudah penuh dengan ludah pemuda itu .
"Ha ha ha ha !, orang orang miskin cuma sampah yang tidak berguna , kalian lebih baik makan kotoran saja !" kata pemuda itu sambil terus tertawa lebar .
Namun tiba tiba tawa pemuda itu berhenti , diganti dengan suara ngak ngok ngek dari kerongkongan nya , ketika potongan roti yang tadi dia ludah itu memaksa masuk kedalam kerongkongan nya sendiri .
Tidak jauh dari nya , berdiri Shin Liong dan Putri Mei Yin yang menatap kearah nya dengan tatapan membunuh .
"Kalau kau tidak ingin membantu mereka , cukup jangan hina kan mereka , coba bayangkan bila satu saat kau berada di pihak mereka !" ucap Shin Liong Dengan rasa yang sangat tidak senang sekali .
Setelah berhasil menelan semua roti yang di masukan Shin Liong ke tenggorokan nya tadi , pemuda itu segera berlalu sambil menyumpah serapah Shin Liong macam macam .
Shin Liong mendekati kedua bocah tadi , ditatap nya wajah kedua bocah itu dalam dalam , ada rasa iba di dalam hati nya melihat kedua bocah itu .
"Siapa nama adik berdua ?" tanya Shin Liong kepada kedua nya .
"Nama saya Cong Eng dan ini adik saya Wi Ei Kong Cu , ibu kami sedang sakit , dan ayah kami sudah lama tiada !" jawab anak perempuan itu sambil berusaha menahan air mata nya sekuat daya agar tidak keluar , hingga suara nya bergetar agak serak .
Shin Liong segera memeluk kedua bocah itu , "saya pernah berada di posisi kalian ini , saya tahu arti nya kelaparan , saya tahu artinya kemiskinan !" ...
Shin Liong segera membawa kedua bocah itu kesebuah kedai nasi yang berdiri di tepi jalan .
Kedua bocah bersaudara itu makan dengan lahap nya , seolah olah mereka sudah berhari hari belum merasakan nasi .
Setelah kedua bocah itu selesai makan , Shin Liong kembali memesan nasi tiga porsi untuk di bungkus kan .
Setelah membayar harga makanan itu , Shin Liong mengajak kedua orang bocah itu ke pasar , untuk membeli beras dan semua kebutuhan hidup untuk kedua bocah itu .
Beberapa saat kemudian , mereka berjalan menyusuri gang sempit , menuju ke rumah ke diaman kedua orang bocah itu .
Mendekati ujung gang itu , mereka berhenti di depan sebuah rumah kecil yang sudah tua .
"Kakak !, inilah rumah kami , ibu ada di dalam rumah , sudah lama sakit !" kata bocah wanita itu sambil mengajak Shin Liong dan putri Mei Yin untuk memasuki rumah itu .
Didalam rumah yang tak memiliki bilik itu , terlihat seorang wanita muda sedang terbaring lemah .
Sebenar nya wanita itu lumayan cantik , tetapi karena sakit yang cukup lama , sehingga terlihat lebih tua dari usia nya yang sesungguh nya .
"Cong Eng !, Wi Ei !, kalian sudah datang ?, sudah makan belum nak ?" tanya wanita bertubuh sangat kurus itu tanpa menoleh .
"Sudah Bu , saya dan adik Wi Ei sudah makan , kami juga membawakan makanan untuk ibu , ibu makan ya Bu !" kata Cong Eng membujuk sang ibu agar segera makan .
Wanita itu masih berbaring sambil memejamkan mata nya , "panaskan saja untuk kalian nanti ya nak , ibu masih agak kenyang !"...
Mata Shin Liong berkaca kaca menahan keharuan hati nya menyaksikan kejadian yang sangat memilukan hati itu .
__ADS_1
Seorang ibu yang jelas jelas sangat kelaparan , rela berdusta di depan putra putri nya , hanya agar bisa memastikan bahwa putra putri nya besok masih bisa makan nasi .
Betapa mulia kasih seorang ibu , yang rela lapar demi putra putri nya .
"Kakak !, kakak makan lah , kedua anak kakak sudah makan !" kata Shin Liong dengan suara bergetar penuh haru .
Mendengar suara Shin Liong itu , wanita itu buru buru membalikan tubuh nya menghadap kearah Shin Liong sambil membuka mata nya .
"Si,,,,siapa,,,ka,,,,kalian !" tanya wanita itu sambil meraba dinding rumah bermaksud ingin duduk .
Rupanya wanita itu , Disamping sakit biasa , juga sudah tidak bisa melihat lagi .
Putri Mei Yin segera membantu wanita itu untuk duduk .
"Kakak sudah berapa lama kah kau tidak bisa melihat ?" tanya Putri Mei Yin .
"Eh , maaf nona , saya sudah cukup lama tidak lagi bisa melihat , awal nya cuma buram biasa , lama kelamaan penglihatan saya juga hilang !" wanita itu menjelaskan .
Putri Mei Yin memijat di sekitar mata wanita itu , lalu ke atas mata nya , akhirnya sampai di belakang tengkuk nya .
Setelah itu , dia meneteskan cairan berwarna kuning kental ke kedua mata wanita itu .
Wanita itu mengerang kesakitan beberapa saat , hingga air matanya bercucuran keluar .
Dan secara ajaib , bersamaan dengan air mata nya yang terus keluar karena kesakitan di mata nya itu , penglihatan nya pun berangsur angsur mulai pulih kembali .
Kini bukan lagi air mata kesakitan yang keluar dari mata nya , tetapi air mata haru , karena penglihatan nya bisa pulih seperti sedia kala nya lagi .
Putri Mei Yin bangkit ke dapur bersama Cong Eng , dia memasak air di atas tungku , di dalam sebuah kuali tanah , setelah air mendidih , di masukan nya beberapa campuran obat obat herbal kedalam kuali itu , lalu dimasak nya beberapa saat lagi .
"Kakak !, kakak sakit paru paru yang cukup parah , ini minumlah pil ini kak , tetapi terlebih dahulu kakak harus makan , karena minum pil ini tidak boleh perut dalam keadaan kosong , ayo makan dulu kak , setelah itu baru minum pil ini!" kata Shin Liong sambil menyerahkan sebungkus nasi kepada wanita itu .
Wanita itu cuma menuruti perkataan dari Shin Liong , dia segera makan nasi yang di sodorkan oleh Shin Liong .
Setelah beberapa saat , wanita itu selesai makan , lalu meminum pil kecil , sebesar biji pepaya , berwarna biru kristal itu .
Setelah meminum pil , tubuh wanita itu mengeluarkan keringat bercucuran yang sangat banyak sekali hingga pakaian nya basah semua .
Wanita itu beberapa kali mengelap keringat nya dengan kain , tanpa sadar jika nafas nya kini sudah tidak lagi tersengal sengal seperti tadi .
Putri Mei Yin muncul dari dapur bersama dengan Cong Eng , membawa teko berisi air ramuan obat herbal .
"Minum lah satu sloki kecil setiap hari satu kali , paling baik pagi hari , kalau hari ini sekarang saja tidak apa apa , kalau habis , Cong Eng bisa mengajari ibu cara yang kakak ajarkan tadi ya ?" kata putri Mei Yin kepada bocah kecil itu .
Sebelum pergi putri Mei Yin memberikan lagi beberapa bungkus obat herbal untuk cadangan wanita itu nanti nya .
Sedangkan Shin Liong , sebelum pergi , dia memberi wanita itu seratus keping Tail emas untuk modal usaha kedai kecil wanita itu .
Dengan tangisan haru , wanita itu melepaskan kepergian Shin Liong dan Putri Mei Yin .
...****************...
__ADS_1