
Shin Liong diam mendengar cerita dua orang yang pernah hidup di jaman dan masa yang sama, ber reinkarnasi di jaman yang sama tetapi dimasa yang sedikit berbeda, yang satu menjadi ibu, dan yang satu nya lagi menjadi anak menantu.
Dahulu kala, Dewi Chang 'e memang sangat membenci Dewi Xuyi, karena bagi Dewi Chang 'e yang cantik jelita itu, keberadaan Dewi Xuyi, justru membuat diri nya tampak bukan apa apa bila dibandingkan dengan nya.
Itulah pangkal asal muasal kebencian Dewi Chang 'e kepada Dewi Xuyi di masa lalu.
Tanpa di sangka sangka nya, kini justru seteru nya di masa lalu itu menjadi salah satu wanita yang paling di sayangi nya di masa kini, meskipun keadaan berbeda, kini dia telah kembali ke wujud Dewi nya, sedangkan Dewi Xuyi masih dalam sosok manusia reinkarnasi nya.
Sedangkan Shin Liong sendiri adalah perpaduan antara Dewita dan manusia biasa, jadi untuk mencapai tingkatan paling tinggi itu, dia harus di tempa sedemikian berat nya, dan kini putra nya itu telah lulus menjadi seorang Dewata muda.
Dewi Chang 'e melangkah mendekati putri Xuan Yi, lalu memeluk tubuh sang Dewi tercantik di seluruh semesta itu.
"Maafkan ibu nak, maafkan masa lalu ibu yang pernah membenci mu, maafkan ibu ya!" permohonan Dewi Chang 'e dengan tulus kepada putri Xuan Yi.
"Sudahlah ibu, itu masa lalu, di mana kita masih sering terhanyut oleh pikiran anak muda, sekarang kan ibu sudah menyayangi aku kan Bu?" tanya putri Xuan Yi sambil memeluk erat tubuh ibu mertua nya itu.
"Tentu saja ibu menyayangi mu, kini kau salah seorang wanita yang paling ibu sayangi!" jawab Dewi Chang 'e.
putri Xuan Yi berpaling kearah Shin Liong, "kakak, ini istana musim semi ku, bisakah kakak membawa istana ini dan juga tempat ini, agar satu waktu, bisa kita letakan di tempat mana kakak suka, untuk tempat kita hidup bersama dengan kakak Dewi Nuwa juga nanti nya!" kata putri Xuan Yi memohon kepada Shin Liong .
"Baiklah putri, akan kulakukan untuk mu, marilah kita kembali ke bawah agar aku bisa melakukan nya!" kata Shin Liong.
Mereka kembali ke dasar lembah, dan dengan menunjuk kearah yang di kehendaki, kemudian istana beserta telaga nya itu lenyap dari pandangan mata, berganti sebuah telaga berbatu batu dan bersemak semak di tempat itu.
Mereka meneruskan perjalanan ke arah Utara menuju pegunungan Lin Mao yang sebenar nya, mereka sendiri belum tahu di mana letak nya.
Perjalanan mereka di lakukan dengan terbang dari satu pohon ke pohon yang lain nya, tidak di lakukan terbang di alam bebas, karena akan bisa menarik perhatian mahluk itu yang bisa saja berada di bawah mereka.
Setelah delapan hari perjalanan melewati hutan lebat, maka pada hari ke sembilan, mereka tiba di pinggir sebuah Padang pasir tandus.
Nun jauh di tengah Padang pasir itu, terdapat sebuah pegunungan batu yang menjulang tinggi hingga pucuk nya tertutup awan.
Pegunungan itu begitu luas, seperti sebuah pulau di tengah lautan.
Sebuah perahu layar nampak meluncur di atas pasir di kejauhan, menuju kearah pegunungan batu itu.
Karena melihat hal yang aneh di depan mata nya, Shin Liong segera mengambil sebatang pohon yang cukup besar, Dangan panjang satu depa, dan di lemparkan ke tengah Padang pasir itu.
Ke jadian mengerikan pun terjadi, potongan kayu itu melesat masuk kedalam pasir, seperti sebuah batu yang di lemparkan ke tengah danau.
Rupanya itu pasir hisap, yang siap menelan siapa saja dan apa saja yang masuk kedalam nya.
Perahu layar yang berlayar di atas pasir itu menghilang di balik sebuah batu besar.
"Bagai mana Bu?" tanya Shin Liong kepada ibu nya.
__ADS_1
"Tidak ada jalan lain untuk sampai ke gugusan pegunungan batu itu, selain terbang, mengingat jarak yang sangat jauh!" jawab Dewi Chang 'e.
"Baiklah!, aku akan menggendong A Yong dan kalian bertiga terbanglah lebih dahulu!" kata Shin Liong kepada kedua istri nya.
Memang satu satu nya yang masih belum bisa terbang cuma A Yong, sedangkan yang lainnya sudah bisa terbang, itulah salah satu alasan mengapa Shin Liong lebih memilih berlompatan terbang dari pohon ke pohon saja, karena A Yong masih bisa mengimbangi, bila cuma terbang dari pohon ke pohon saja, tetapi bila harus terbang di alam bebas, dia masih belum mampu.
Di dalam gugusan pegunungan batu itu ternyata ada sebuah cekungan terlindung mirip teluk, dengan beberapa buah perahu layar disana.
Beberapa puluh orang laki laki nampak bersiaga ketika Shin Liong dan keluarga nya tiba di tempat itu.
"Salam tuan tuan, kami adalah para pengembara yang kebetulan lewat di tempat ini, bolehkah kami menumpang mampir barang sebentar?" tanya Shin Liong ramah, sembari tersenyum kearah orang orang itu.
"Salam juga tuan tuan muda dan nona nona muda, harap tunggu sebentar, kami memberitahukan kepada pemimpin!" kata salah seorang laki laki yang langsung berlari kedalam ceruk celah batu.
Beberapa saat kemudian, laki laki itu keluar bersama seorang laki laki paro baya lain nya, berbadan tegap berambut panjang.
"Kalian dari mana?, dan mau kemana?" tanya laki laki paro baya itu sedikit galak,
"Maaf tuan, kami dari selatan, bermaksud ke Utara, bolehkah kami singgah barang sebentar di tempat ini?" tanya Shin Liong.
"Tidak!, tidak boleh!, kalian tidak boleh berhenti disini, pergilah!" kata laki laki paro baya itu masih dengan nada garang nya.
Shin Liong segera beranjak ingin pergi meneruskan perjalanan nya, "baiklah tuan, kalau begitu, kami mohon diri untuk melanjutkan perjalanan!"...
Namun tiba tiba laki laki paro baya itu kembali memanggil Shin Liong .
Shin Liong memandang dengan rasa jijik kepada laki laki paro baya itu.
"Ha ha ha ha, rupanya tuan sama saja dengan ulat bulu,menggunduli semua daun tempat nya berteduh demi diri sendiri, sungguh sangat disayang kan, disaat dunia dalam keadaan genting seperti ini, tuan bukan nya menolong, tetapi malah mengambil kesempatan dari penderitaan orang lain, demi kesenangan tuan, tuan memang ulat bulu!" kata Shin Liong sambil tertawa muak.
Laki laki itu marah sekali, sambil meludah ketanah, dia mengumpat panjang pendek tidak karuan.
"Kurang ajar sekali mulut mu anak muda!, apakah kau tahu kau sedang berhadapan dengan siapa?, akulah penguasa ceruk pasir api ini, lakukan apa yang aku katakan, atau kau akan menyesal selama nya?" kata laki laki paro baya itu dengan suara yang nyaring.
"Ayah!, biar ku robek mulut orang ini ayah!" kata A Yong sangat gusar mendengar perkataan laki laki itu.
"Jangan kan untuk merobek mulut nya, membunuh nya pun urusan mudah, dia cuma cicak yang suka berbunyi nyaring saja nak, tetapi sebenar nya dia sedikitpun tidak ada guna nya sama sekali!" kata Shin Liong.
"Kurang ajar, akan ku pecahkan kepala mu, dan kita lihat siapa yang sebenarnya tidak berguna sama sekali!" kata laki laki paro baya itu sambil bergerak menyerang kearah kepala Shin Liong .
"Prok!"...
Terdengar suara tulang yang patah, tetapi bukan tulang tengkorak dari Shin Liong, tetapi berasal dari laki laki itu yang berteriak sambil berjingkrak jingkrak kesakitan, karena pergelangan tangan nya sudah terkulai patah.
"Bug!"...
__ADS_1
Mungkin karena terlalu geram dengan sikap laki laki paro baya itu, akhirnya kaki kanan A Yong menghantam pantat laki laki paro baya itu, sehingga terpelanting jau dan jatuh diatas lautan pasir.
Tanpa sempat bersuara, laki laki paro baya itu lenyap di telan Pasih hisap ganas itu.
Orang orang yang tadi memanggil laki laki itu dengan gemetar, berlutut di depan Shin Liong, "maafkan kami tuan!, maafkan kami!, silahkan tuan beristirahat di dalam ceruk, kami akan mempersiapkan tempat untuk tuan!" kata laki laki itu dengan tubuh gemetar.
Shin Liong segera melangkah kedalam ceruk celah batu itu.
Cukup jauh mereka berjalan menyusuri ceruk celah batu, hingga akhirnya tiba di sebuah ruang terbuka yang sangat luas sekali.
Didalam ternyata ada sebuah perkampungan yang cukup padat penduduk nya, mungkin sebanding dengan perkampungan di dalam lembah.
Di perkampungan itu, mereka di jamu di sebuah rumah agak besar, namun tidak mewah.
"Maafkan kami tuan!, pimpinan kami sebenar nya adalah Biksu Tong San Tiong, berhubung beliau masih bersemedi, maka pimpinan diserahkan kepada tuan Ong tadi, dia memang suka sewenang wenang kepada kami bila tuan Biksu lagi bersemedi!" kata laki laki tadi.
Tiba tiba seorang laki laki berkepala gundul keluar dari sebuah ruangan.
"Syukurlah tuan sudah datang, sungguh sangat lama saya menanti kedatangan tuan di tempat ini!" kata Biksu itu sambil menatap kearah Shin Liong, seakan kata kata ia tujukan kepada Shin Liong.
"Saya Biksu Tong San Tiong, penunggu ceruk ini sejak moyang saya tuan, maafkanlah bila penyambutan saya tidak semestinya!" kata Biksu itu lagi.
"Dia sudah tahu tentang diri mu nak!" kata Dewi Chang 'e berbisik di telinga Shin Liong.
"Sudahlah Biksu Tong, tidak usah terlalu banyak peradaban, saya Shin Liong , ini ibu saya, dan ini kedua istri saya, serta yang ini putra saya, ada berapa jiwa yang berlindung di dalam ceruk ini Biksu?" tanya Shin Liong .
"Hampir dua ribu jiwa tuan muda, dan kami kesulitan tempat tinggal, karena kami tidak boleh menebangi hutan di timur, karena itu tempat hidup nya para binatang yang turut mengungsi, jadi kami hidup dengan bertani seadanya saja tuan muda!" kata biksu Tong San Tiong.
Didalam ceruk itu ada sebuah kuil kuno yang besar dengan ratusan biksu sebagai murid kuil suci itu, yang berdiri di atas sebuah bukit.
"Menurut petunjuk yang saya dapatkan, kedatangan tuan muda, bisa membuka isolasi ceruk ini tuan!" kata biksu Tong.
"Saya bisa membuka isolasi tempat ini dengan menghubungkan ke tempat lain, tetapi kota yang sama sama terbatas, bukan nya dunia luar, karena bila di buka ke dunia luar, penduduk dalam bahaya!" jawab Shin Liong .
"Tidak apa apa tuan, bagi kami tidak apa apa, yang penting kami bisa berhubungan keluar dari tempat ini, meskipun tempat itu cuma sebuah pedesaan saja!" jawab Biksu Tong San Tiong.
"Baiklah kalau begitu, lihatlah batu besar itu, di batu besar itu ada goa yang menghubungkan tempat ini dengan sebuah tempat lain nya, pergilah melihat nya!" kata Shin Liong sambil menunjuk kesebuah batu besar.
Beberapa orang Biksu yang lebih muda berlari ke arah batu yang di tunjuk oleh Shin Liong itu.
"Guru!, guru!, di batu besar itu memang ada sebuah goa yang besar!" kata salah satu Biksu muda.
Sang Biksu beserta semua murid nya, segera memeriksa goa itu.
Mereka menyusuri goa itu, tidak sampai seratus langkah, mereka tiba di sisi lain goa itu, sebuah lembah yang subur, dengan sawah terbentang luas dan sebuah kota di kejauhan.
__ADS_1
...****************...