Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Mahluk Orgo.


__ADS_3

Malam pun kini berganti pagi kembali, namun matahari seperti bersedih menyinari Bumi.


Tanpa awan atau apapun juga, cahaya matahari itu terlihat redup sendu, laksana matahari waktu senja hari.


Hingga matahari mulai muncul di ufuk timur, tidak ada satu pun Kokok ayam yang terdengar di tempat itu, terlebih lagi suara burung burung yang ceria menyambut datang nya pagi.


Di sekitaran desa juga tidak banyak tanaman tumbuh yang bisa di makan, cuma beberapa batang pohon singkong tua saja.


Tanah ini seperti tanah terkutuk saja layak nya, tanpa ada ciri ciri kehidupan.


Untunglah Dewi Chang 'e menyuruh membawa bekal yang sangat banyak.


awalnya Dewi Dewi Teratai putih dan putri Xuan Yi tidak mengerti maksud nya, baru sekarang mereka menyadari kebenaran pikiran sang ibu mertua mereka yang cantik jelita itu.


Selesai makan, mereka segera melanjutkan perjalanan mereka kembali mengikuti jalan setapak satu satu nya ke luar dari desa kecil itu.


Jalan itu melewati sebuah hutan lebat, dengan naik turun bukit.


Namun sepanjang perjalanan melewati hutan, jangan kan ada se ekor rusa, seekor kelinci pun tidak tampak.


Bahkan burung burung saja tidak terlihat satu pun juga.


"Ini benar benar dunia yang sudah mati Bu!" kata Shin Liong


"Ya! dosa apa yang telah di perbuat oleh manusia di sini, sehingga Tian Agung menurunkan mahluk pembuat bala di sini?" gumam Dewi Chang 'e.


"Apakah semua musibah itu karena ulah manusia itu sendiri nek?" tanya A Yong sambil terus berjalan.


"Ya nak!, Tian menciptakan dunia ini beserta segala isi nya kan untuk manusia itu sendiri, seperti hal nya Tian menciptakan ayam dan padi untuk manusia kan?, cuma sarat nya, manusia harus pandai bersyukur, dengan memelihara nya, serta menjalankan semua aturan nya, tinggal manusia itu sendiri nak!, pandai bersyukur apa tidak, jika pandai bersyukur, pasti Tian Agung akan memelihara nya, tetapi jika aturan nya dirusak, maka akibat nya akan dialami manusia itu sendiri!" jawab Dewi Chang 'e.


Mereka terus berjalan menyusuri hutan sunyi itu.


Namun belum lama mereka berjalan, tiba tiba mereka mendengar jeritan orang di kejauhan.


Spontan saja Shin Liong dan A Yong melesat kearah asal suara itu.


Disebuah tempat yang agak terbuka, nampak dua ekor mahluk menyerupai manusia, tetapi berbulu putih lebat, dengan tinggi satu setengah depa, berbadan besar, serta mengenakan baju dan celana seperti manusia, sedang tarik menarik, memperebutkan tubuh seorang manusia laki laki , yang sudah robek di bagian pantat nya.


Secepat kilat, Shin Liong mengeluarkan panah sumbu langit, dan melesatkan anak panah kearah kedua mahluk itu.


"Crep!"...


"Crep!"...


Dua buah anak panah terbuat dari cahaya, menembus tenggorokan kedua mahluk itu.


Tanpa sempat mengetahui siapa yang telah membokong nya, kedua mahluk itupun tumbang tersungkur ketanah, dengan leher bolong sebesar jempol kaki orang dewasa hingga tembus kesebelah.


Shin Liong dan A Yong mendekati mahluk yang sudah terkapar mati itu.


Sedangkan manusia yang tadi diperebutkan nya, juga sudah mati dengan tubuh robek hingga sampai perut akibat di tarik kedua mahluk yang berebut itu.


"Apakah ini mahluk Orgo yang nenek bilang tadi ayah?" tanya A Yong pada Shin Liong .


Shin Liong mengangkat bahu nya, "mana ayah tahu, ayah juga baru melihat sekarang ada mahluk seperti ini, ini seperti manusia dan kera berpadu menjadi satu!" jawab Shin Liong kebingungan.

__ADS_1


"Ya kau benar nak, ganas nya keganasan kera besar, namun kecerdasan nya adalah kecerdasan manusia!" sahut Dewi Chang 'e yang sudah tiba di belakang mereka.


"Seperti nya mereka kelaparan kak!" kata Putri Xuan Yi.


"Ibu muda benar yah!, lihatlah perut mereka yang kempes seperti karung tanpa isi!" kata A Yong lagi.


"Memang kau benar nak, mereka memang kelaparan, sehingga memperebutkan daging manusia!" kata Dewi Chang 'e.


"Apa ini yang nenek bilang mahluk Orgo itu nek?" tanya A Yong kepada nenek nya.


"Bukan nak!, mahluk Orgo yang nenek maksud kan adalah kera besar yang mirip manusia, kalau ini lebih kepada manusia yang mirip kera, berpikir dan memakai pakaian serta bersenjata seperti manusia!" jawab Dewi Chang 'e.


"Berarti mereka lebih ganas dari mahluk Orgo yang asli ya Bu?" tanya Dewi Teratai putih.


"Ya!, karena mereka berakal pikiran seperti manusia, mereka seperti singa yang tiba tiba di beri sayap!" kata Dewi Chang 'e lagi.


Setelah menguburkan mayat orang itu, tanpa menguburkan bangkai kedua mahluk itu, merekapun meneruskan perjalanan mereka.


Beberapa saat kemudian, sekitar sepuluh ekor mahluk Orgo jenis baru itu menghadang jalan Shin Liong .


Melihat keberadaan Shin Liong dan keluarga nya itu, para Orgo itu seperti melihat anak kijang di tengah alas, mereka berebut ingin menangkap nya.


A Yong dengan pedang Naga api nya segera mengamuk, membabat tubuh mahluk itu satu persatu.


Dengan gerakan nya yang sangat lincah dan cepat sekali, kesepuluh mahluk itu, bukanlah lawan sepadan bagi A Yong.


Satu persatu mahluk itu tumbang, tersungkur di tanah.


Dalam waktu yang tidak terlampau lama, enam ekor mahluk Orgo itu sudah tewas, sedangkan sisa nya bermaksud melarikan diri, tetapi empat pucuk anak panah, terlebih dahulu menembus tengkuk mereka hingga berlobang besar.


"Rupanya mahluk Orgo ini sangat banyak ayah, mereka ada di mana mana!" kata A Yong.


Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya mereka keluar dari hutan itu.


Kini mereka memasuki sebuah desa yang terlihat lebih besar dari desa sebelum nya, tetapi seperti desa sebelum nya, desa ini juga sangat sepi, tidak terlihat penghuni nya satu pun juga.


Di belakang rumah warga, nampak kebun pisang yang tumbuh subur.


Disepanjang jalan, beberapa tengkorak manusia tergolek dengan kondisi tinggal tulang belulang saja lagi.


Dan di samping sebuah rumah yang nampak nya paling besar, nampak teronggok tulang belulang manusia yang juga sudah tinggal tulang nya saja.


"Kejadian di tempat ini agak nya sudah agak lama terjadi !" kata Shin Liong .


Di kejauhan terlihat anjing anjing liar memperebutkan tulang belulang manusia yang terserah di mana mana.


"Ibu!, mungkinkah masih ada manusia yang tersisa di dunia ini Bu?" tanya Shin Liong dengan perasaan yang sangat sedih.


Dewi Chang 'e memeluk tubuh putra nya itu, "nak betapapun musibah menimpa, manusia pasti akan menemukan jalan nya sendiri, hal ini sudah terbukti sejak dahulu kala, ada satu hal ke istimewaan manusia yang di berikan Tian yang maha Agung nak, yaitu naluri bertahan hidup yang di bimbing langsung oleh nya, manusia pasti menemukan jalan nya, yakin lah, ini cuma sedikit dari seleksi alam, mana yang boleh bertahan, dan mana yang tidak!" jawab Dewi Chang 'e yang mengerti kegalauan hati putra nya itu.


"Apakah aku gagal menyelamatkan mereka Bu?" tanya Shin Liong lagi.


"Tentu saja tidak nak, ini seleksi alam sedang berlangsung, mana yang terbaik, pasti di lindungi oleh Tian dan di berikan jalan keluar nya, kita cuma perantara saja!" jawab Dewi Chang 'e kepada putra nya itu.


Shin Liong dan A Yong mengumpul kan semua tulang belulang itu di sebuah lapangan, mereka mengumpulkan semua sisa sisa tulang belulang yang tercerai berai ke mana mana akibat di bawa anjing liar.

__ADS_1


Setelah semua terkumpul, Shin Liong mengeluarkan pisau kecil nya, lalu menyalakan pemantik api yang ada di gagang pisau itu.


Sebentar saja, api pun menyala di atas kayu kering yang di kumpulkan A Yong, lalu membakar habis tulang belulang itu hingga menjadi abu.


Esok hari nya, setelah sarapan, mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan yang sudah di tumbuhi rumput, pertama sudah lama tidak ada yang melewati nya.


Hutan lebat kini kembali mereka masuki


Hingga beberapa saat lama nya mereka berjalan, tidak ada satupun hewan buruan yang mereka temui, cuma segerombolan anjing liar dan serigala saja yang ada.


Pada siang hari, hari ketiga setelah mereka keluar dari desa kedua, mereka masih melewati hutan belantara yang lebat.


Tiba tiba telinga Shin Liong mendengar suara pertempuran di tempat yang sangat jauh.


"Tunggu!, tunggu!, saya mendengar Lamat Lamat, suara pertempuran, apakah kalian mendengar juga?" tanya Shin Liong .


Semua nya mencoba mempertajam pendengaran nya.


"Tidak ada suara apa pun yah!, mungkin kuping ayah belum di bersihkan!" kata A Yong menertawai sang ayah.


"Iya, tidak ada suara apapun juga!" kata Dewi Teratai putih.


"Sama, meme juga tidak mendengar apa pun juga kak!" sahut putri Xuan Yi.


"Ibu?, apakah ibu juga tidak mendengar suara pertarungan itu Bu?" tanya Shin Liong kepada ibu nya.


"Suara nya berasal dari sana!" kata Dewi Chang 'e sambil menunjuk kesebelah kanan.


Serentak mereka melompat kesebelah kanan dengan gerakan yang cepat.


Cukup jauh mereka berlari, akhirnya ditepi sebuah sungai, mereka melihat sepuluh orang laki laki paro baya bertarung melawan sepuluh ekor mahluk Orgo.


Di tanah terlihat tubuh dua orang manusia sudah tergeletak dengan perut robek besar terkena pedang dari mahluk Orgo itu.


Rupanya kulit mahluk itu kebal dengan senjata biasa.


A Yong dan Shin Liong yang melihat hal itu, langsung turun pula ke arena laga, membantu kesepuluh laki laki paro baya itu.


Sebentar saja, pedang Naga api di tangan A Yong sudah meminta korban se ekor mahluk Orgo.


Begitu juga dengan Shin Liong, panah sumbu langit di tangan nya pun sudah memakan korban se ekor mahluk Orgo.


"Hrrrrrr!, kurang ajar!, manusia manusia hina, kalian cuma di ciptakan untuk menjadi budak dan makanan kami saja!!" kata salah satu dari mahluk itu yang mengenakan jubah perang.


"Rupanya mahluk iblis seperti kalian, bisa bicara juga ya, kita lihat saja, siapa yang bisa pulang, dan siapa yang tinggal nama!" kata Shin Liong sambil menarik tali panah nya, dan saat dilepaskan, empat buah anak panah tiba tiba melesat, kearah empat ekor mahluk Orgo itu.


Meskipun mahluk itu menghindar dengan kecepatan tinggi, tetapi menghadapi anak panah sumbu langit, kecepatan itu tidak ada guna nya sama sekali.


Empat ekor mahluk itu tiba tiba ambruk ke tanah dengan tulang leher yang putus tertembus anak panah.


Empat ekor mahluk yang tersisa itu bermaksud melarikan diri, tetapi Dewi Chang 'e, Dewi Dewi Teratai putih , putri Xuan Yi dan A Yong sudah terlebih dahulu menebas leher mereka dengan senjata masing masing.


Sepuluh ekor mahluk Orgo itu akhirnya tumbang semua nya, tanpa tersisa satu pun juga.


Kesepuluh laki laki paro baya itu membungkukan badan nya di depan Shin Liong dan keluarga nya.

__ADS_1


"Terimakasih banyak tuan tuan muda, dan nona nona muda, atas pertolongan kalian, kami dari pasukan kesepuluh, kaisar Chong Sian, menghaturkan ribuan terimakasih atas pertolongan kalian semua!" kata salah satu dari sepuluh orang laki laki paro baya itu.


...****************...


__ADS_2