Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Perjuangan di Mulai.


__ADS_3

Merah padam wajah sang kaisar mendengar semua penuturan dari kedua orang pemuda itu.


Tidak di sangka nya, sang jendral tua yang sudah dia anggap orang tua nya sendiri itu, tega menikam dirinya dari belakang.


"Maafkan hamba yang mulia, tadi malam hamba sedang kepanasan, dan mencari angin di bawah pohon besar di tepi timur telaga, tiba tiba hamba mendengar suara langkah mendekat, hamba lihat di bawah cahaya bulan, nampak sang jendral berjalan tergesa gesa ke arah pohon tempat hamba bersandar, maka secepat nya hamba berbunyi, lalu tidak seberapa lama, datang dua orang pemuda ini yang melaporkan tentang hasil pertemuan nya dengan jendral pihak musuh serta rencana penyerangan pasukan musuh besok, setelah mereka pergi, hamba yang mendengarkan semua nya, segera bertindak, pertama tama saya totok kedua pemuda itu, dan meletakan mereka di sebuah goa kecil tersembunyi, lalu pergi ke rawa rawa untuk memindahkan semua tanda yang sudah dipasang kearah yang justru sangat berbahaya,


dan pagi tadi, saya dan putra saya menaiki tebing batu untuk melihat kedatangan pasukan musuh, kami juga menyaksikan tiga ratus Prajurit mereka meregang nyawa menjadi mangsa rawa rawa hidup itu, saya lalu mengikuti sang jendral mereka yang melarikan diri pulang ke benteng, di sana saya berhasil memusnahkan sisa sisa dari prajurit Orgo itu serta membebaskan tawanan yang sekarang berada di lapangan yang mulia, sudilah yang mulia melihat mereka, karena mareka rakyat yang mulia juga!" kata Shin Liong.


Tiba tiba wajah sang Kaisar berseri seri.


"Benarkah kau berhasil membawa seluruh tawanan ke sini?, terimakasih anak muda, terima kasih atas bantuan mu!" kata sang Kaisar dengan wajah sangat terharu.


"Jendral Fu Shen, kuserahkan mereka pada mu, pancung kepala mereka hari ini juga, supaya jadi peringatan, dalam menghadapi musibah ini, jangan ada orang yang mengambil kesempatan dari derita masyarakat!" kata sang Kaisar sambil berlalu melangkah keluar di iringi oleh Shin Liong di belakang.


Ketika melihat sang Kaisar yang sangat mereka kenal masih hidup, serentak semua orang itu berlutut di hadapan Kaisar.


Mata sang Kaisar berkaca kaca, melihat rakyat nya menderita luar biasa, bahkan menjadi korban keganasan mahluk Orgo itu.


"Rakyat ku semua nya, kalian boleh tinggal di sini, dan mengusahakan tanah ini sebagai mana kita di dunia luar, kota kita adalah lembah ini, hidup lah dengan damai di tempat ini, panglima akan mendata kalian semua, beristirahat lah dahulu di barak barak yang sudah di buat memang khusus untuk kalian, para petugas akan memasak untuk kalian" kata sang Kaisar.


Sang Kaisar berpaling kearah Shin Liong, " terimakasih banyak anak ku, bila bertemu pengungsi lagi, kau boleh membawa mereka sebanyak banyak nya kesini nak, kasihan rakyat ku!" berkaca kaca mata sang Kaisar.


Sementara itu, A Yong dan pangeran Chong Fu Quon semakin akrab saja berteman.


Mereka sering berpergian mengelilingi lembah yang sangat luas itu, bahkan ada sebuah hutan di dalam lembah itu, dengan berbagai binatang hidup dan di biarkan berkembang biak disana.


Ditempat kediaman Shin Liong, nampak Shin Liong sedang berbincang bincang dengan ibu serta kedua istri nya.


" Kak!, seandainya saya sesakti Dewata, saya ingin membuatkan mereka semua nya rumah di dalam lembah ini!" kata Putri Xuan Yi.


"Adik Yi benar, kita buat sebuah kota yang nyaman di dalam lembah ini untuk semua orang, seperti nya lembah ini adalah tempat teraman di dunia yang kacau ini!" kata Dewi Nuwa menimpali perkataan adik nya.


Shin Liong merenung sejenak, bayangan sang kakek melintas di mata nya, dahulu waktu pertama bertemu dengan sang kakek, bagai mana sang kakek membuat sebuah telaga besar cuma dengan menyebut nya saja, dan kakek nya juga membuat rumah kecil untuk mereka berdua, cuma dengan menyebut nya saja.


"Oh iya Bu, dahulu kakek pernah membuat sebuah telaga, cuma dengan menyebut disitu ada telaga saja, telaga nya langsung benar benar ada, dan kakek membuat rumah serta kebun cuma dengan menyebut kan nya saja Bu!"kata Shin Liong .


Dewi Chang'e tersenyum menatap kearah putra nya, "kenapa tidak kau tanyakan kepada kakek mu saja nak?" tanya nya.


"Baiklah Bu, aku ingin bertanya kepada kakek langsung!" kata Shin Liong sambil duduk bersila, melepaskan semua daya panca indra nya, dan menyatukan rasa nya ke pada sang kakek.


"Kakek!, Liong ingin bertanya sesuatu kepada kek!" ...


Tiba tiba di hadapan mereka muncul bayang bayang seorang laki laki, Semaki lama semaki jelas, jika laki laki itu kakek Qin atau Dewata San Qin.


Shin Liong dan Dewi Chang 'e serta kedua istri nya segera bersimpuh dihadapan kakek Qin.

__ADS_1


"Ada apa cucu ku, apa yang perlu kakek bantu?" tanya kakek Qin sambil tersenyum menatap kearah Shin Liong.


"Ayah!, cucu mu ingin ilmu yang bisa membuat sesuatu menjadi ada seperti yang pernah ayah perlihatkan kepada nya dahulu yah!" kata Dewi Chang 'e.


Mendengar itu, kakek Qin kembali tersenyum, "sekian lama, kenapa baru sekarang kau menginginkan nya cucu ku, kenapa baru sekarang ?" tanya kakek Qin.


"Maaf kek, setelah melihat penderitaan umat manusia di sini, saya baru terpikir kan, seandainya bisa membuat kan mereka rumah, agar mereka bisa hidup layak di lembah ini kek!" jawab Shin Liong .


Mendengar jawaban dari Shin Liong itu, kakek Qin kembali tersenyum, dia bahagia, cucu kesayangan nya itu mau memikirkan nasib orang banyak.


Di serahkan nya sebuah cincin bermata hijau kepada Shin Liong .


"Ambilah ini cucu ku, bagi mu sekarang cukup ini dulu, bila kau sudah mampu membuat alam dimensi sendiri, kau juga bisa membuat apapun yang kau kehendaki, sementara, pakailah cincin antar dimensi ini dulu, kau bisa menyimpan apapun kedalam nya, apakah itu rumah, istana, pohon pohon gunung, bahkan sebuah kota sekalipun, dan meletakan nya di tempat yang kau ingin kan cuma dengan menunjuk nya, simpan baik baik dan gunakan untuk kebaikan manusia, dengan banyak berbuat kebaikan, tingkat kultivasi mu akan terus naik!" kata kakek Qin sambil menyerahkan cincin bermata hijau daun itu kepada Shin Liong .


Shin Liong menerima cincin itu, serta meletakan di salah satu jari nya.


"Terimakasih kakek, terimakasih atas pemberian kakek ini!" kata Shin Liong sangat senang.


"Mana cicit ku A Yong, ini serahkan kepada nya, ini adalah sisa dari logam bahan pembuat pedang kristal, karena ini cuma sisa, maka cuma cukup untuk membuat sebuah pisau saja, tetapi meskipun ini cuma pisau kecil, kedahsyatan nya tidak kalah dengan pedang Kristal Katai putih inti bintang, ini nama nya pisau kristal Katai putih inti bintang"kata kakek Qin sambil meletakan pisau itu di lantai.


Shin Liong mengambil pisau kecil sepanjang satu setengah jengkal itu, dan mengamati nya.


Setelah pisau itu di letakan di lantai, Dewi Nuwa bermaksud melihat bentuk nya, tetapi dia terkejut, karena pisau kecil itu memiliki berat yang luar biasa berat nya, sehingga jangan kan terangkat, bergeser saja tidak.


"Kenapa begitu berat kek?" tanya putri Xuan Yi.


"Tentu saja berat, karena bahan nya adalah kristal Katai, yaitu sebuah material logam yang berasal dari bintang yang memadat dan mengecil hingga sebesar kepalan tangan saja, tetapi berat nya tetap seperti asal nya, kalau pun ada yang bisa mengangkat dan mempergunakan nya, itu karena jiwa dari kristal Katai itu sendiri menyukai orang itu!" kata kakek Qin.


Pintu rumah terbuka, A Yong masuk setelah jalan jalan bersama pangeran Fu Quon.


"Eh ternyata ada eyang di sini!" kata A Yong menyapa sang eyang nya.


"Ini oleh oleh dari eyang untuk mu, lihat lah!" kata Dewi Chang 'e menyapa sang cucu nya.


"Waaoo sebuah pisau yang sangat indah, apakah ini untuk A Yong eyang?" tanya A Yong kepada sang eyang .


"Iya nak, kalau pisau kristal Katai putih inti bintang ini menyukai mu, maka dia akan memasuki tubuh mu, dan berdiam di sana!" kata kakek Qin sambil meletakan pisau kristal itu ke tangan A Yong.


Setelah berada di telapak tangan A Yong, tiba tiba pisau itu memancarkan cahaya putih terang, lalu menghilang dari pandangan mata mareka semua.


"Kini pisau kristal itu telah bersemayam di dalam tubuh mu, kau bisa mengeluarkan nya sewaktu waktu kau memerlukan nya nak, nah berhati hatilah kalian semua, jaga diri baik baik, kakek akan kembali!" kata kakek Qin.


Tubuh kakek Qin tiba tiba bercahaya putih, lalu memudar seperti sebuah bayangan, dan hilang sama sekali.


Seorang prajurit datang menyampaikan pesan sang kaisar, agar secepat nya menghadap Kaisar.

__ADS_1


Shin Liong yang di ikuti oleh sang putra segera berangkat menghadap kepada Kaisar.


Ditempat kediaman sang kaisar, sudah ada beberapa orang yang sedang berbincang bincang dengan sang kaisar.


Ketika melihat kedatangan Shin Liong dan putra nya, sang Kaisar segera menyambut dengan gembira.


"Duduklah nak, duduk lah disini, ada yang perlu kita runding kan!" kata sang Kaisar sambil mempersilahkan Shin Liong duduk di dekat nya.


Meskipun begitu, Shin Liong tidak lantas duduk di dekat sang Kaisar, dia mengambil tempat di samping jendral Huang Fu Shen, sementara A Yong di tarik sang pangeran agar duduk di samping nya.


"Maaf yang mulia, adakah sesuatu yang sangat penting?" tanya Shin Liong .


"Iya nak!, sekitar tiga hari perjalanan dari sini, ada satu benteng milik musuh, dan konon menurut para telik sandi, di sana banyak rakyat ku yang di sandera oleh musuh, kami sudah mencoba menyerang beberapa kali, tetapi selalu gagal menyelamatkan tawanan, barang kali dengan bantuan nak Shin Liong, kita bisa membebaskan para tawanan itu!" kata sang Kaisar.


"Dengan senang hati yang mulia, saya sangat senang, bila bisa menolong sesama!" kata Shin Liong .


"Ayah!, A Yong ikut serta kan?" tanya A Yong kepada ayah nya.


"Iya!, tetapi tidak boleh jauh jauh dari ayah, dan yang penting, harus patuh!" sahut Shin Liong.


"Iya ayah!, jangan khawatir!" sahut A Yong.


"Panglima Fu Shen akan membawa dua ratus orang prajurit bersama kalian, besok pagi kalian boleh berangkat!" kata sang Kaisar.


"Ayahanda!, ijinkan ananda untuk ikut berjuang bersama A Yong ya?" pinta pangeran Fu Quon kepada Kaisar.


Mendengar permintaan sang putra, Kaisar lama terdiam berpikir.


Sambil menatap kearah sang jendral Fu Shen, kaisar bertanya, "bagai mana jendral?, bagai mana menurut pendapat mu?" ...


"Hamba tidak berani menjamin pasti selamat tuan ku, tetapi satu hal yang bisa hamba pastikan, selama saya masih bernafas, tidak akan saya biarkan pangeran berada dalam bahaya!" jawab sang jendral.


Sang Kaisar kembali menatap kearah Shin Liong , "bagai mana dengan pendapat mu anak ku?"...


"Asalkan sang pangeran jangan jau jauh dari A Yong, dan menurut semua kata kata hamba, hamba akan menjamin keselamatan nya!" sahut Shin Liong.


Mungkin kah pangeran ikut berjuang?.


...****************...


Terimakasih atas doa doa kalian semua,


Mohon maaf apa bila banyak kesalahan penulisan, karena yang author update hari ini masih yang tersimpan di draft dan belum di revisi awal oleh author, karena author nya masih sakit mata


Mohon di maklum ya.

__ADS_1


__ADS_2