
Melihat semua Amgi (senjata rahasia) mereka rontok satu persatu , menyusul pedang pusaka langit yang sudah lenyap terlebih dahulu , kini ketiga kakek tua itu saling pandang , bimbang apa yang harus mereka laku kan lagi .
"Kalian sudah di beri waktu sangat panjang untuk merenung , hidup semakin tua , bukan nya kebaikan yang kalian kumpulkan , tetapi justru kejahatan lah yang kalian tabung , apakah kalian merasa hidup kalian selama lama nya ?, hari ini akan saya buktikan kepada kalian , bahwa tidak ada satu pun kehidupan mahluk itu yang berlangsung selama lama nya , bagai mana pun cara nya , dan siapapun kita , niscaya kematian akan tetap datang menghampiri kita semua !" kata Shin Liong .
Tetapi perkataan dari Shin Liong itu , bukan nya di dengar oleh para dedengkot tua itu , ketiga nya malahan menertawai perkataan Shin Liong itu .
"Cuih !, anak anjing sialan , kau tahu jika Dewa Yamadipati sendiri tidak berani mendekati kami ?" kata kakek tua Thien Mo sambil tertawa mengejek .
"Betul kah itu ?, baiklah , akan kulihat seberapa keras kulit kalian bertiga !" kata Shin Liong sambil berkelebat , bergerak sambil mengayunkan pedang Kristal Katai putih inti bintang nya ke arah kakek Sian Lo Sai .
"Trass !"...
Sekali tebas , tubuh kakek Sian Lo Sai itu pun putus sebatas dada nya .
Bukan main terkejut nya kakek Thien Mo dan Sian Hud Hok melihat seorang sahabat mereka yang terkenal kebal berbagai jenis senjata itu , dengan sangat mudah nya di tebas oleh pedang pemuda itu .
Rupanya Dewata tua itu benar benar membuktikan ucapan nya , bahwa kelak mereka bukan apa apa dan tak akan bisa berbuat apa apa .
Kesombongan dan keangkuhan yang selama ini bertahta dengan begitu lama di hati mereka , kini tiba tiba saja pupus begitu saja .
Dedengkot tua yang selama ini tidak pernah takut mati , karena meyakini jika Dewa Yamadipati (Dewa kematian) tidak bakalan berani mendekati mereka itu , kini pendirian mereka mulai goyah .
Kedua orang dedengkot tua itu berlutut Disamping jasad Sian Lo Sai yang terputus menjadi dua bagian itu .
"Kalian semua akan dikenang oleh semua orang seumur Dunia ini , tetapi tidak sebagai pahlawan yang di banggakan , tetapi sebagai penjahat besar yang memiliki dosa dan kesalahan Sebasar Bumi dan langit , setiap orang mengenang kalian , caci maki dan sumpah serapah akan terlontar , menambah berat hukuman kalian di neraka kelak , andaipun ber reinkarnasi kembali , kalian akan terlahir sebagai seekor babi yang hina !" kata kata Shin Liong menggema di lembah yang sudah tidak memiliki tebing batu lagi , karena hancur terkena hawa pukulan dari Shin Liong itu .
Mendengar perkataan dari Shin Liong itu , kini rasa takut dan gentar dihati kedua nya , dikalahkan oleh rasa amarah dan kemurkaan mereka .
"Dengan bisa membunuh seorang sahabat ku , kau pikir kami menjadi takut kepada mu ya ?, hei anak an*ing !, dengarlah , aku memang akan memilih mati seandainya tidak bisa membunuh dan mencincang tubuh mu itu , serta mengunyah jantung mu !" bentak kakek Thien Mo dengan murka nya , sambil menyerang kearah Shin Liong dengan seluruh tenaga nya yang tersisa .
"Trass !"...
"Trass!"...
Dua kali pedang Kristal Katai putih inti bintang berkelebat , kedua dedengkot tua itupun tumbang ketanah dengan tubuh yang terputus di bawah rusuk nya .
Mata kedua nya mendelik sesaat , seakan tidak percaya jika ajal mereka sampai ditangan seorang pemuda tanggung itu .
Dengan tewas nya tiga dedengkot tua sakti Benua besar itu , maka habislah sudah semua tokoh ter atas di Dunia Betara ini .
Shin Liong segera membuka tirai gaib punggung kura kura yang mengurung kedua orang istrinya itu .
"Ayo kita bergegas bergabung dengan pasukan sang Kaisar untuk menghadapi serangan negeri Sian Tan itu !" kata Shin Liong kepada kedua orang istri nya itu .
Ketiga orang itu segera berkelebat terbang kearah timur ,menuju perbatasan negeri .
__ADS_1
Saat Shin Liong dan kedua orang istri nya menyusul pasukan Kaisar yang menuju ke perbatasan Negeri , waktu itu pasukan Kaisar baru mencapai perbatasan antara kota Raja Qiantung dan gunung Pek Sai , dimana A Yong pernah bermalam bersama dua laki laki paro baya yang menyusup ke dalam pasukan negeri Hong Than .
Dari tempat itu , masih satu hari perjalanan lagi mereka baru mencapai gunung Pek Sai , dan dari gunung Pek Sai dua hari perjalanan , mereka baru tiba di kota Guzian .
Melihat kedatangan ketiga orang muda mudi yang menyusul mereka , A Yong sangat gembira bukan main , melihat sang ayah dan kedua ibu muda nya itu dalam keadaan selamat .
Selama dalam perjalanan , A Yong , Biksu leluhur dan Bu Beng Koan Jin lebih banyak diam , tenggelam dalam alam pikiran mereka masing masing .
Ada berbagai ke khawatiran di dalam hati mereka , terutama Biksu leluhur dan Bu Beng Koan Jin yang tahu siapa itu ketiga dedengkot utama Benua besar ini .
Meskipun Shin Liong sangat sakti dengan tingkat kultivasi yang tidak mereka ketahui , tetapi bila di keroyok oleh tiga orang dedengkot tua yang juga sangat sakti itu , mereka ragu jika Shin Liong bisa mengimbangi mereka .
Makanya setelah melihat ketiga orang itu datang menyusul mereka dengan selamat , ketiga orang ini sangat gembira bukan main , bahkan saking gembiranya , ketiga orang ini sampai merangkul tubuh Shin Liong .
"Bagai mana ayah , apakah ayah dapat mengatasi ketiga dedengkot tua yang sangat sakti itu ?" tanya A Yong penasaran .
"Ya nak , dengan restu sang maha kuasa , ayah masih dapat mengatasi ketiga dedengkot tua itu , meskipun untuk itu , ibu mu Dewi Xuan Yi sempat cidera kena pukulan salah seorang Dari mereka !" jawab Shin Liong .
"Syukurlah Kong Thai Sian selamat dan berhasil mengakhiri petualangan ketiga dedengkot tua yang sangat sakti itu , kami sempat resah , takut terjadi sesuatu dengan Kong Thai Sian , karena sesungguh nya , ketiga dedengkot tua itu sangatlah licik sekali !" kata Biksu leluhur mengungkapkan isi hati nya .
Begitu pula dengan sang Kaisar dan semua jendral dan para perwira nya , mereka bersuka ria setelah mendengar kini semua tokoh tokoh penjahat golongan Hitam yang selama ini menguasai Benua besar ini dengan semena mena .
Malam itu mereka bermalam di tempat itu , di tenda yang di dirikan oleh para Prajurit khusus untuk mereka , yang berdekatan dengan tenda sang Kaisar .
Pada ke esokan pagi nya , setelah sarapan , dan para Prajurit merapikan tenda , perjalanan pun mereka teruskan kembali .
Bersama para Prajurit berkuda , nampak jendral Qiu Pang Lauw berada di tengah tengah mereka .
Sedangkan di belakang prajurit pejalan kaki , nampak iring iringan kereta pembawa peralatan dan perbekalan .
Dan di barisan paling belakang , nampak kereta sang Kaisar yang di iringi oleh kuda para jendral dan perwira utama pasukan itu .
Dan menjelang sore hari nya , mereka tiba di kaki gunung Pek Sai , lalu sang Jendral Qiu Pang Kian memerintahkan para Prajurit untuk mendirikan tenda di tempat itu .
Malam itu mereka kembali bermalam di tempat itu .
Ketika pagi menjelang kembali , belum lagi sang Kaisar bersiap siap untuk berangkat , dari luar tenda terdengar suara seorang Prajurit meminta ijin menghadap .
"Ada apa Prajurit ?" tanya sang Kaisar .
"Ampun yang mulia , ada empat orang wanita ingin bertemu dengan tuan ku , apakah mereka di ijinkan yang mulia ?" tanya prajurit itu .
"Ya bawa dia masuk kesini , tetapi sebelum itu , panggilkan Kong Thai Sian dengan semua pembantu nya ke tenda ku !" titah Kaisar .
Prajurit itupun segera pergi , dan sebelum pergi , dia mampir dulu ke tenda Shin Liong dan Biksu leluhur , untuk menyampaikan pesan dari sang kaisar itu .
__ADS_1
Kebetulan saat itu , Biksu leluhur satu tenda dengan Bu Beng Koan Jin dan A Yong .
Saat Jendral Oey Bi Sue masuk kedalam tenda sang Kaisar membawa empat orang wanita itu .
Di dalam tenda sang Kaisar sudah ada Shin Liong dan kedua orang istri nya , serta A Yong , Biksu leluhur, Bu Beng Koan Jin dan jendral Qiu Pang Lauw .
Melihat ke empat wanita yang baru masuk itu , A Yong sangat terperanjat sekali , hingga sampai berdiri .
"Aji Xio Er , Xio Hua ? , pho pho , Lan Hua , apa maksud kalian ketempat ini ?" tanya A Yong .
"Kau mengenal mereka A Yong ?" tanya Dewi Xuan Yi kepada anak muda itu .
"Iya Bu , gadis itu teman seperjalanan A Yong , sedangkan kedua wanita di samping nya itu adalah ibu angkat sekaligus guru nya , dan wanita tua yang cantik itu adalah nenek guru nya Bu !" jawab A Yong .
Sementara itu , dara jelita bernama Pek Lan Hua itu , terkejut melihat keberadaan A Yong yang duduk dekat sang Kaisar , bersama seorang pemuda tampan mirip sekali dengan nya dan dua orang wanita cantik jelita luar biasa .
"A Yong ?, kau juga bersama pasukan Yang mulia ?, lalu berhasil kah kau bertemu dengan Kong Thai Sian itu A Yong ?" tanya dara jelita itu bingung bercampur gembira luar biasa hingga tanpa sadar , tangan nya memegang kedua pergelangan tangan A Yong , dan mata nya nampak berkaca kaca .
Dengan tersenyum simpul , A Yong menganggukkan kepala nya , " ya Lan Hua , inilah mereka , ini yang di bilang orang Kong Thai Sian itu Lan Hua , beliau bernama Shin Liong , dan kedua wanita cantik ini adalah istri nya , orang terlalu melebih lebih kan saja Lan Hua , padahal masih hebatan aku dari pada beliau !"...
"Ke' kenapa kau bersikap kurang ajar kepada mereka A Yong ?" tegur Pek Lan Hua tidak enak hati mendengar kata kata A Yong tadi .
"He he he he, tidak apa apa Lan Hua , dia tidak bakalan berani memukul ku , percayalah !" kata A Yong membela diri .
Melihat keusilan putra Shin Liong itu , semua yang hadir di tempat itu cuma tersenyum simpul saja , termasuk sang Kaisar sendiri .
Sedangkan ke empat orang wanita itu cuma diam membisu tidak mengerti .
"Bukankah kau Bi Kwan Eng ?" tanya Bu Beng Koan Jin tiba tiba setelan menatap kearah wanita tua cantik itu beberapa saat lama nya .
Wanita tua cantik itu balas menatap kearah Bu Beng Koan Jin dengan mata yang berkaca kaca .
"Iya Gwan ko , aku memang Bi Kwan Eng , tidak kusangka waktu ratusan tahun tidak kuasa merubah penampilan kalian bertiga , kalian masih tetap seperti terakhir kita berpisah dahulu !" jawab wanita tua cantik itu dengan suara bergetar .
Begitupun dengan Bu Beng Koan Jin , mata nya nampak berkaca kaca , dari sudut matanya mengalir sebutir air bening .
Kedua wanita paro baya itu saling berpandangan satu sama lain nya , semenjak kecil mereka tidak pernah tahu nama asli dari ibu angkat mereka itu .
Sedangkan Biksu leluhur dan Tosu Twa Kung , saling pandang , mereka tahu , ada cerita apa dimasa lalu dengan kedua sahabat mereka itu .
Bu Beng Koan Jin menarik nafasnya dalam-dalam sebelum berbicara , "Eng moi , aku tidak seberuntung yang kau kira , semenjak peristiwa itu , aku bersumpah bahwa Gak Bong Gwan sudah mati bersama pergi nya diri mu , yang ada sekarang adalah Bu Beng Koan Jin saja Eng moi , seorang laki laki yang tak berharga !"...
Sekuat kuat nya pertapa wanita ini memendam perasaan nya , kini berhadapan dengan laki laki yang pernah mengisi hati nya itu , dan tidak akan pernah tergantikan lagi , air mata nya pun luruh laksana hujan di awal musim kemarau .
Ada kisah apa diantara kedua nya ?.
__ADS_1
...****************...