
Melihat kedatangan empat orang Hwesio berjubah merah hitam itu, serentak pemuda Hao Cun, nona muda Nio nio, Liem Chu Kiang,dan Liem Ao Gwan, bergerak kearah tuan besar Liem Bao Ong yang masih duduk di atas tempat tidur.
Sedangkan Hao Shen masih tetap berdiri di tempat nya, memperhatikan para Hwesio itu satu persatu.
"He he he he, anak muda, sangat di sayang kan, dengan kau ikut campur urusan keluarga Liem, berarti kau mengantarkan nyawa mu kesini, kau tidak akan pulang dengan selamat lagi anak muda, kau boleh hebat dalam ilmu pengobatan, tetapi hari ini yang kau hadapi adalah empat api pilar Dewa, para Hwesio pilih tanding yang belum pernah terkalahkan!" ucap tuan Liem Tan Ouw dengan keyakinan yang kuat.
"Tuan, aku sudah sangat sering dikalahkan, jadi aku sudah tidak kaget lagi seandainya di kalahkan kembali, satu hal yang aku percaya, nyawa ku bergantung kepada Tian yang maha kuasa, bila ketentuan nya aku harus tewas di tangan para Hwesio iblis itu, aku dengan rela menyerahkan nyawa ku kepada Tian Agung, tetapi bila Tian Agung belum menghendaki nyawa ku lepas dari badan ku, aku percaya tidak akan ada seorang pun yang mampu mencabut nya!" ucap Hao Shen tenang.
"Keyakinan mu itu bagus anak muda, tetapi ini dunia nyata, bukan alam khayalan, keyakinan yang tinggi saja masih belum cukup nak, ayo hajar anak muda ini cepat!" perintah dari Liem Tan Ouw.
Segera saja salah satu dari ke empat Hwesio gundul itu maju menyerang kearah Hao Shen dengan serangan kebutan bulu gagak itu.
Meskipun senjata itu cuma kebutan dari bulu gagak, tetapi karena dialiri dengan tenaga dalam tinggi, maka kebutan itupun menjelma menjadi sebuah senjata yang sangat mematikan.
Sangat beruntung sekali Hao Shen atau Shin Liong , sudah berhasil menguasai jurus langkah Dewa Dewi yang dia ciptakan bersama Dewi Nuwa dahulu, sehingga gerakan secepat apapun, terlihat lambat di mata nya.
Melihat sang pemuda itu sedang sibuk meladeni salah satu dari empat api pilar Dewa, Liem Tan Ouw secara diam diam melangkah mendekat kearah Hao Cun, nona muda Nio nio dan ayah nya serta Liem Ao Gwan yang berdiri melindungi tuan besar Liem, dengan mempersiapkan pukulan jarak jauh namun di lepaskan dalam jarak tidak kurang dari satu langkah dari lawan nya.
Bisa di bayangkan akibat dari pukulan yang seharusnya di gunakan dalam jarak jauh itu, kini di gunakan pada jarak satu langkah saja dari lawan nya.
Sebenar nya inilah yang di takutkan Hao Shen atau Shin Liong , namun untung saja dia sudah mengantisipasi semua nya.
Dengan mengerahkan seluruh energi yang ada pada nya, Liem Tan Ouw secepat kilat melepaskan pukulan nya.
"Bum!!"...
"Tuing!!"...
Dentuman pukulan dari Liem Tan Ouw seperti menghantam sebuah dinding baja tebal, sehingga berdenging nyaring.
Dan bukan cuma itu, dinding tak terlihat itu mampu membalikan energi pukulan dari Liem Tan Ouw ke diri nya sendiri, sehingga tubuh laki laki paro baya itu terpental kebelakang, menabrak pintu hingga hancur, terus meluncur ke belakang hingga menabrak hiasan tanduk rusa yang di pajang di dinding, hingga menembus dada nya.
Mata Liem Tan Ouw mendelik tidak percaya, bahwa dirinya sendiri tewas oleh perbuatan nya sendiri.
Rupanya tadi, Hao Shen atau Shin Liong sempat memasang tirai gaib punggung kura kura untuk melindungi semua orang yang berada di sekitar tempat tidur tuan besar.
Minta tolong menjaga tuan besar, rupanya cuma akal akalan Hao Shen atau Shin Liong saja, supaya mereka berkumpul dan dia dengan mudah mengurung nya dengan tirai gaib punggung kura kura nya.
"Adik Tan Ouw!, adik!" terdengar teriakan dari ke tiga Hwesio gundul yang tidak ikut bertarung, sambil mendekati tubuh Liem Tan Ouw yang ter pasak menyangkut di hiasan tanduk rusa.
Dengan cuma sekali genjot saja, tubuh Liem Tan Ouw dapat diturunkan nya.
Ternyata nyawa laki laki paro baya putra tertua dari tuan besar Liem itu sudah tidak bernyawa lagi, tewas dengan ulah nya sendiri.
Sebenar nya rata rata para murid senior dari sekte Dewa api ini memiliki ilmu kebal terhadap senjata tajam.
Tetapi karena kecelakaan itu akibat perbuatan diri nya sendiri, maka ilmu kebal itu tidak berlaku, karena ilmu kebal itu berlaku untuk serangan orang lain, bukan akibat serangan nya sendiri.
__ADS_1
Ke empat Hwesio itu marah bukan main setelah mengetahui bahwa saudara seperguruan mereka tewas tertusuk tanduk rusa.
Dengan gerakan yang sangat cepat, mereka berempat segera menyerang Hao Shen dari berbagai posisi.
Dua orang Hwesio bersenjata kebutan, dan dua orang Hwesio lagi bersenjata kan tasbih besar berwarna hitam .
Karena merasa ruangan begitu sempit, akhir nya Hao Shen berputar puta lari keluar ruangan.
Ke empat Hwesio gundul yang sedang murka itu, terus memburu Hao Shen kemanapun juga, hingga tiba di halaman depan yang cukup lapang itu.
Meskipun gerakan Hao Shen cepat di luar akal manusia, tetapi menghadapi gempuran empat orang Hwesio berkepandaian tinggi itu, akhirnya Hao Shen pun kewalahan pula.
Hao Shen melompat mundur beberapa tombak ke belakang, sambil mengeluarkan panah sumbu langit nya.
Beberapa kali panah sumbu langit meluncur menembus tubuh ke empat Hwesio itu, tetapi tidak menimbulkan luka sedikit pun.
"Ha ha ha ha, keluarkan terus kesaktian mu bocah, kau tahu jika tubuh kami semua nya kebal terhadap senjata apapun, bahkan senjata Dewa sekalipun!" kata salah satu Hwesio itu.
Pertarungan pun kembali terjadi, dengan sangat seru nya.
Hingga pada satu kesempatan, salah seorang dari Hwesio itu, berhasil mendaratkan serangan tangan kiri nya ke dada Hao Shen.
Untung Hao Shen masih sempat mengisi dada nya dengan hawa sakti nya sehingga tidak sampai terluka.
Tetapi meskipun begitu, tubuh Hao Shen tetap terjengkang kebelakang.
Dan pada saat tubuh Hao Shen terjengkang kebelakang, dua orang Hwesio memburu nya dengan senjata kebutan dari bulu burung gagak yang sudah dilapisi energi hitam itu.
Mendengar bisikan kakek Qin di telinga nya, secepat kilat, Hao Shen melepaskan panah sumbu langit dari tangan nya.
Ketika panah itu terlepas dari tangan Hao Shen, panah itupun hilang dari pandangan, dan berganti dengan pedang kristal Katai putih inti bintang.
Tepat disaat bersamaan, serangan dua orang Hwesio bersenjatakan kebutan bulu burung gagak itu hampir sampai di dada Hao Shen.
Meskipun terlihat waktu nya sangat sempit, tetapi bagi Hao Shen, itu sudah sangat cukup baginya untuk bertindak.
"Wus!"...
"Wus!"...
Dua tebasan yang tidak dapat di ikuti oleh mata terjadi.
Tiba tiba gerakan kedua Hwesio itu terhenti, karena dada mereka berdua sudah terputus oleh tebasan pedang kristal Katai putih inti bintang yang tajam nya seribu kali lebih tajam dari pada pedang mustika yang paling tajam.
Pedang kristal Katai putih inti bintang ini pedang mustika berkelas Dewata, karena di buat oleh Dewata San Qin sendiri selama seribu tahun.
Kedua Hwesio bersenjatakan tasbih besar, seakan tidak bisa mempercayai penglihatan nya, tubuh mereka yang sudah kebal segala senjata, termasuk senjata Dewa sekalipun, kini bisa tumbang secara mengerikan oleh senjata seorang anak muda.
__ADS_1
Setelah saling bertatapan, tiba tiba kedua Hwesio itu berkelebat melarikan diri.
Tetapi sangatlah malang, karena gerakan dari Hao Shen atau Shin Liong itu jauh lebih cepat dari gerakan mereka sendiri.
"Wus!"...
"Wus!"...
Kembali dua kali kilatan pedang kristal menyambar, dan tubuh kedua Hwesio gundul sebagai empat api pilar Dewa itu padam dengan dada terputus karena tebasan pedang kristal Katai putih inti bintang.
Pedang ini satu satu nya yang ada di seluruh semesta, sekelas mustika Dewata itu sungguh tajam dan keras luar biasa, dan yang pasti, di dalam pedang itu, masih bersemayam roh dari bintang yang mengecil itu.
Setelah menyelesaikan kedua Hwesio gundul dari kuil api itu, Hao Shen melepaskan pedang nya keudara, dan pedang itupun lenyap seperti menguap ke udara.
Selanjutnya Hao Shen berjalan masuk kearah kamar tuan besar Liem, dan melepaskan Kungkungan tirai gaib punggung kura kura nya.
"Tuan besar Liem berjalan terseok Seok di papah oleh nona Nio nio, lalu membungkuk di hadapan jasad putra nya Tan Ouw yang tewas dengan dada tertembus tanduk rusa.
"Ayah!"...
Seorang gadis cantik berlari dari arah belakang bangunan utama, lalu memeluk jasad Liem Tan Ouw sambil menangis.
"Ai Ling!, ayah mu tewas karena perbuatan nya sendiri, sudahlah, relakan saja, semoga pada kehidupan berikutnya, dia bisa terlahir menjadi manusia baik!" kata tuan besar Liem sambil membelai rambut sang cucu nya itu.
"Sudahlah Ling Ling, paman telah bersekutu dengan para manusia jahat dari kuil api, ambisi nya terlampau besar, mengalahkan akal sehat paman!" kata nona Nio nio.
Tuan besar Liem berbalik menatap kearah pemuda Hao Cun dan Hao Shen.
"Tuan penolong!, terimakasih atas pertolongan tuan berdua, seandainya tidak ada tuan berdua, mungkin keluarga Liem akan hancur oleh ambisi memperebutkan harta duniawi" kata tuan besar Liem sambil menjura beberapa kali di hadapan pemuda Hao bersaudara ini.
"Tuan besar!, tuan jangan terlampau membesar besarkan masalah itu, kita sesama manusia memang sudah seharusnya saling tolong menolong, kami juga mohon maap, karena kami, keluarga tuan besar bermasalah, niat kami semula cuma ingin menyembuhkan tuan saja!" kata Hao Cun.
"Ayah benar tuan muda, jikalau tidak ada kalian berdua, bisa di pastikan hari ini keluarga Liem akan hancur, terimakasih banyak atas pertolongan tuan budiman berdua!" kata Liem Chu Kiang sambil menjura beberapa kali, di ikuti oleh nona muda Nio nio.
Sementara itu, nona Ling Ling masih menangisi kematian sang ayah nya.
Dari arah belakang bangunan utama, muncul kembali seorang wanita paro baya, namun berwajah cantik seperti wanita muda.
Sejenak mata nya menatap kearah jasad Tan Ouw dengan pandangan yang tidak dapat di artikan.
Kemudian muka nya berpaling menghadap kearah Hao Cun dan Hao Shen dengan tatapan mata yang murka.
"Kalian sudah membunuh suami ku, kalian menghancurkan rumah tangga ku, hari ini aku bersumpah, hidup ku tidak akan tenang sebelum membunuh kalian berdua!" kata wanita cantik itu sambil menuding kan telunjuk nya kearah Hao bersaudara.
Tiba tiba tuan besar Liem yang tadi cuma diam menatap kedatangan wanita cantik berusia paro baya itu menyahut dengan suara nyaring, "aku juga bersumpah, siapapun yang memusuhi tuan muda bersaudara ini, maka dia juga akan menjadi musuh semua keluarga Liem!"...
Mata wanita paro baya yang masih cantik seperti gadis itu melotot mendengar pernyataan dari tuan besar Liem itu dengan kemarahan yang terasa mau meledakan dada nya.
__ADS_1
Sedangkan gadis bernama Ling Ling itu cuma terdiam mendengar ucapan wanita itu.
...****************...