Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Dewi Menangis.


__ADS_3

Menjelang sore hari, kapal sandar di dermaga laut kota Zimo setelah berjalan selama satu hari dua malam dari kota Xi Yuan.


Saat kapal hampir tiba di kota Zimo, Tan Che Ing memberanikan dirinya menjenguk Dewi Teratai putih yang sudah satu hari suntuk tidak keluar dari kamar nya.


Hati Tan Che Ing terenyuh melihat penampilan Dewi Teratai putih saat itu,dalam sekejap, kecantikan nya seperti sirna entah kemana, kini yang berdiri dihadapan nya adalah seorang wanita berpenampilan lusuh, rambut awut awutan, mata merah dengan kelopak mata yang membengkak,persis orang yang telah hilang ingatan nya.


Tan Che Ing segera merangkul tubuh Dewi Teratai putih yang terus saja menangis.


"Nona Dewi!, kuatkan hati mu,banyak banyak bersabar ya, perjalanan kami sudah sampai pada tujuan, dan kita akan segera berpisah, berat hati ku melepaskan diri mu seperti ini nona, tetapi apa mau dikata, tabah ya nona, semua ujian pasti ada hikmah tersembunyi di balik semua nya!" kata Tan Che Ing turut menitikan air mata melihat derita sahabat baru nya itu.


"Tidak nona Tan, ini bukan ujian, tetapi musibah yang kubuat sendiri, aku harus menikmati derita ini, karena ini hasil dari perbuatan ku sendiri, aku menghancurkan hati kekasih ku nona, aku benar benar bodoh!, aku akan mencari nya meskipun harus ke ujung semesta sekalipun, aku ingin meminta ampunan dan maap dari nya, aku akan berlutut di kaki nya, bila dia tidak bersedia memaafkan aku, aku akan mengakhiri hidup ku di depan nya, agar dia tahu, bahwa aku benar benar sangat sayang dan cinta kepada nya!" kata Dewi Teratai putih sambil terus menangis tersedu sedu.


Suara nya kini telah parau karena kebanyakan menangis.


Tan Che Ing kembali memeluk tubuh Dewi Teratai putih dengan erat, air mata nya turut tumpah.


"Wahai Dewi menangis, betapa air mata mu akan terus keluar, hingga sampai kapan kah semua ini Dewi?" tanya Tan Che Ing pilu.


"Hingga kekasih ku bisa ku rangkul kembali, dan kebahagiaan ku yang dulu bisa ku dapatkan lagi, bila tidak, maka air mata ini akan terus keluar nona Tan!" sahut Dewi Teratai putih dengan suara serak.


"Aku mohon permisi Nana Dewi, aku dan suami ku telah tiba di tujuan, aku akan terus berdoa kepada Tian agar mempertemukan kau dengan suami mu kembali" kata Tan Che Ing kembali merangkul tubuh Dewi Teratai putih, lalu perlahan keluar dari dalam kamar itu.


Pluit tanda kapal akan sandar berbunyi nyaring, Tan Che Ing dan suami nya segera buru buru bersiap siap untuk turun dari kapal.


Ketika Pluit kedua berbunyi, kapal telah sandar di dermaga, dan para penumpang pun ramai turun dari kapal itu, sedangkan yang naik cuma beberapa orang saja.


Akhirnya setelah beberapa saat sandar di dermaga, perjalanan kapal menyeberang ke pulau Naga pun segera di mulai.


Perjalanan menyeberang ke pulau Naga, memakan waktu sekitar setengah hari lamanya, jadi sekitar tengah malam nanti, kapal itu akan tiba di pulau Naga, tepat nya di kota Zio.


Dewi Teratai putih tidak keluar dari kamar nya, masih terus menangis, namun kini dia menghibur hati nya dengan berbicara sendiri, seolah olah Shin Liong masih berada di sampingnya, dengan begitu, sedikit rasa sakit nya agak berkurang, tetapi bagi orang lain yang mendengar nya, tentu saja dia di kira orang gila.


Dewi Teratai putih duduk di tepi tempat tidur Sabil ber selonjor kaki, seperti biasa bila Shin Liong tidur ber bantal kan paha nya, sambil tangan nya membelai sesuatu yang tidak ada benda nya.


Tetapi di alam angan angan Dewi Teratai putih, dia sedang membelai rambut Shin Liong seperti kebiasaan nya bila anak muda itu akan tidur.


Namun tiba tiba kesadaran Dewi Teratai putih seperti pulih.


"Sayang!, sekarang kau dimana?, bagai mana kamu tidur sayang?, tidak ada yang membelai rambut mu, kamu pasti tidak bisa tidur!"...


Tangis pilu wanita cantik itupun pecah kembali, di dalam bayangan pikiran nya, dia melihat Shin Liong yang gelisah tidak bisa tidur, lalu hujan turun, Shin Liong menggigil kedinginan.


"Sayang, tunggu aku sayang, aku Dewi mu, kita telah berjanji kan sayang, mengapa sekarang kau meninggalkan Dewi sendirian?" tangisan pilu Dewi Teratai putih terdengar menyayat hati.

__ADS_1


Bayang bayang kebersamaan mereka berdua kembali berputar di alam ingatan Dewi Teratai putih, masa masa indah penuh kebahagiaan dahulu.


Dewi Teratai putih bergulingan di lantai. sambil menangis sedih seraya mencengkram rambut nya.


Kini rambut nya awut awutan seperti rambut orang gila, hilang sirna sudah kecantikan nya yang dulu membius mata semua laki laki.


Kini Dewi Teratai putih di bilang gila tetapi masih waras, tetapi di bilang waras, sudah mirip orang gila, hidup diantara Dunia khayalan dan Dunia kenyataan.


Saat dia masuk kedunia khayalan nya, dia akan tersenyum, bahkan tertawa riang seolah olah Shin Liong masih berada di samping nya, tetapi bila dia tersadar pada kenyataan hidup nya yang pilu, dia akan menangis tersedu-sedu.


Menjelang tengah malam, kapalpun akhirnya merapat di dermaga kota Zio.


Dengan sekali genjot, tubuh Dewi Teratai putih pun terbang menuju tempat yang agak sepi di sudut dermaga itu.


"Wahai cinta ku, tuntun langkah ku menemukan suami ku!" gumam Dewi Teratai putih pelan, lalu segenap rasa nya dia satukan, utuk merasakan arahan hati nya, kemana harus melangkah.


Setelah terasa mantap, kembali Dewi Teratai putih menggenjot kaki nya, dan tubuh nyapun bergerak secepat kilat meluncur ke satu tujuan.


Saat matahari muncul di ufuk timur, Dewi Teratai putih sudah sampai di sebuah hutan di kaki bukit kecil.


Dia duduk sebentar di atas sebuah pohon tumbang, sambil melihat lihat keadaan, mencari dimana letak kuil Dewa tempat pintu portal ke Dunia dimensi kedua itu berada.


Dewi Teratai putih kembali mencari keberadaan kuil Dewa ke berbagai tempat, namun tidak juga dia temukan.


Namun di saat saat dia berada di ujung kekecewaan nya, tiba tiba tanpa sadar, langkah kakinya, membawa nya kesebuah gerombolan semak belukar yang cukup tinggi.


Karena rasa penasaran, Dewi Teratai putih menyibak gerombolan semak belukar tinggi itu.


Betapa terperanjat nya Dewi Teratai putih, setelah melihat di balik semak belukar itu, terdapat sebuah kuil kecil, kurang lebih tiga depa persegi, dengan tinggi sekitar tiga depa pula.


Dengan bersemangat, Dewi Teratai putih segera membersihkan semak belukar yang menutupi kuil kecil itu.


Setalah semua semak belukar yang menutupi kuil kecil itu habis, Dewi Teratai putih segera masuk kedalam kuil itu.


Di dalam kuil itu terdapat dua buah pilar yang cukup besar berdiri sejajar, dengan jarak sekitar satu depa.


Di pilar yang sebelah kanan, terdapat sebuah batu giok persegi empat, dengan gambar tangan tepat berada di tengah tengah atas pilar itu.


Dewi Teratai putih menyentuh gambar tangan di atas batu giok itu, lantas menyalurkan separuh energi nya, namun tidak ada reaksi apapun.


Lalu Dewi Teratai putih kembali mencoba menyalurkan tiga perempat energi nya ke batu giok itu, tetapi tetap saja tidak ada reaksi apapun.


Akhirnya setelah menyalurkan semua energi nya, berulah pucuk kedua pilar itu mengeluarkan kilatan lidah petir, hingga akhirnya seluruh pilar itu memancarkan cahaya putih terang.

__ADS_1


Setelah semua cahaya putih terang dari kedua pilar itu bertaut membentuk sebuah layar yang terbuat dari cahaya putih itu.


Tanpa ragu ragu lagi, Dewi Teratai putih segera melesat masuk kedalam cahaya yang membentuk seperti layar itu.


Didalam cahaya itu seperti sebuah ruangan hampa, tubuh Dewi Teratai putih melayang tanpa bobot, tersedot sebuah lubang waktu.


Tidak seberapa lama, tiba tiba tubuh Dewi Teratai putih seperti terhempas kesatu tempat.


Ketika cahaya putih itu memudar perlahan, di hadapan nya terlihat dua pilar seperti pilar yang tadi, lengkap dengan batu giok berbentuk meja disebelah kiri nya.


Semula Dewi Teratai putih mengira bahwa dia masih berada di kuil dekat bukit di pulau Naga.


Tetapi setelah keluar dari kuil itu, barulah dia menyadari bahwa dia sekarang berada di tengah sebuah hutan rimba yang sangat lebat, meskipun bentuk dan rupa kuil itu persis seperti kuil yang dia masuki tadi.


Dewi Teratai putih melihat kesekeliling nya, yang tampak cuma kerimbunan pohon semua, bahkan bekas jejak manusia saja sudah tidak terlihat lagi, karena lama nya kuil ini tidak dikunjungi orang.


Dewi Teratai putih segera melesat ke atas dahan sebatang pohon besar, lalu melesat lagi ke dahan pohon lain nya,dengan begitu, perjalanan nya menjadi semakin cepat dari pada berlari di atas tanah.


Kini kehidupan Dewi Teratai putih seperti manusia yang hilang ingatan nya, selagi dia ber khayal tentang Shin Liong , dia bisa berbicara, dan tertawa sendiri, tetapi saat dia tersadar telah menyakiti hati Shin Liong , dia akan menangis, bahkan hingga ber guling guling di tanah sambil menjambak rambut nya, sambil mencaci maki diri nya sendiri.


Makan?, dia akan makan saat perut nya sudah terasa sangat lapar, itupun cuma beberapa kerat daging yang di bakar saja.


Kalau dia menanak nasi, dia akan menangis meraung Raung karena teringat kisah kisah indah nya dahulu selagi bersama Shin Liong.


Memang, kehilangan akan sangat terasa, ketika orang yang kita sayangi sudah tidak ada lagi.


Maka selagi masih ada kesempatan, perbaikilah hubungan, jangan sampai kita menyadari kesalahan, tetapi di saat saat kesempatan sudah tidak ada lagi.


(Ha ha ha, author sebenar nya orang bodoh, tetapi sok pura pura bijak).


"Lanjut!".


Setelah berhari hari menyusuri hutan rimba, akhirnya, pada satu siang, Dewi Teratai putih yang kini lebih pantas di sebut Dewi menangis itu tiba di pinggir sebuah jalan besar.


Nama nya jalan besar, karena biasa dilalui oleh para pelintas dari berbagai kota, tetapi sebenar nya jalan nya tidak terlalu besar juga, cuma cukup untuk dua buah kereta kuda melintas.


Dewi Teratai putih berjalan tanpa ada arah tujuan yang pasti harus kemana, dia cuma mengikuti naluri hati nya serta kemana kaki nya membawa diri nya ber jalan.


Dewi Teratai putih berjalan ke arah kanan, entah akan sampai kemana, tetapi yang pasti, arah kanan itu menuju arah matahari terbit, alias ke arah timur.


Mungkin perjalanan kita mengikuti Dewi Teratai putih yang kini lebih pas di beri gelar Dewi menangis itu akan ber henti sampai di sini untuk sementara waktu, dengan harapan, semoga Dewi Teratai putih bisa menemukan sang suami yang telah terpisah sangat jauh entah terdampar di Dunia mana lagi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2