Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Di Serang Dua Negeri.


__ADS_3

Mendengar pertanyaan dari Bian Wangwe itu , untuk sesaat A Yong termenung .


Baru kali ini dia mendengar ada sebuah kebaikan yang dibalas dengan pertanyaan bayar berapa.


Lagi pula ayah nya dahulu bilang , di dunia ini , tidak ada lagi manusia di luar dari lembah dan celah batu , tetapi sekarang ada serombongan orang yang ingin pergi ke kota Luxiang.


Tentu saja A Yong masih bingung karena dia tidak tahu jika sekarang dia sudah berada di tempat dan Dunia paralel yang lain nya lagi.


Semua pertanyaan itu di pendam nya di dalam hati nya saja , sekarang yang membuat dia penasaran adalah pertanyaan dari tuan Bian Wangwe , bahwa dia harus bayar berapa ?.


Sedemikian sombong nya kah tuan Bian Wangwe ini , sehingga menganggap semua kebaikan itu bisa dia beli dengan keping emas ?...


Dengan sedikit agak tersinggung , A Yong berkata , " maaf tuan Bian Wangwe , tidak semua kebaikan harus berbalas bayaran , saya menolong tuan tidak sedikitpun mengharapkan bayaran atau penghargaan , ini sudah kewajiban saya selaku manusia yang menjunjung rasa kemanusiaan nya , simpanlah harta tuan yang banyak itu , saya tidak butuh semua itu tuan , permisi !" ...


Dengan sekali sentak , tubuh A Yong pun lenyap dari hadapan mereka.


Bian Wangwe melongo melihat kenyataan bahwa masih ada di dunia ini orang yang berbuat kebaikan tanpa mengharapkan bayaran atau imbal balik dari kebaikan nya.


"Tuan seperti nya dia tersinggung dengan pertanyaan tuan barusan !" kata An Than Bhok.


Tuan Bian Wangwe menatap wajah pengawal sewaan nya itu.


"Apakah ada yang salah dengan pertanyaan ku barusan Than Bhok ?" tanya tuan Bian Wangwe heran.


"Bagi kita itu pertanyaan biasa dan sangat lumrah sebagai cara menghargai pertolongan orang lain , tetapi saya pernah mendengar dari guru saya , bahwa di Dunia yang lain , dimana ketulusan manusia nya dalam menolong orang lain , sangat tulus , pertanyaan seperti itu membuat orang akan menjadi tersinggung tuan , karena di dunia lain , kebaikan orang lain tidak boleh kita nilai dengan materi apa pun juga , karena bagi orang lain, menolong itu adalah kewajiban mereka yang utama tuan !" jawab An Than Bhok.


Tuan Bian Wangwe termangu mendengarkan penjelasan dari kepala pengawal nya itu.


"Apakah pemuda itu seorang pengembara waktu yang terdampar di Dunia Kita ini ?" tanya tuan Bian Wangwe lagi.


"Bisa jadi tuan !, karena tingkat kesaktian nya , diatas Kui Long sendiri , tuan tahu kan jika selama ini tuan Kui Long belum menemukan seorang lawan yang tangguh , baru sekarang bertemu lawan tangguh , eh sekali nya bertemu , nyawa Kui Long yang melayang oleh seorang anak muda !" kata An Than Bhok.


"Ya kau benar An Than Bhok , seandainya aku tidak membuat kesalahan , tentu sangat menguntungkan aku bila berhasil mengangkat dia menjadi pengawal pribadi ku , tetapi biarlah , ayo kita teruskan perjalanan kita , jangan sampai kita terlambat !" kata tuan Bian Wangwe.


Akhirnya perjalanan pun mereka lanjutkan kembali.


...----------------...


Kita tinggalkan perjalanan A Yong yang terdampar di tempat yang sangat asing bagi nya itu , kini kita pergi ke belahan Barat Benua yang sama , yang terpisah jarak yang sangat jauh sekali dari tempat A Yong berada.


Di sebuah hutan terbesar di Benua belahan Barat, tepat nya di hutan di Thai San (hutan besar) , Shin Liong dan kedua istri nya sedang berjalan menuju ke wilayah negeri Bangsa Ko Li Nyin (Manusia Rubah) berada.

__ADS_1


Negeri Bangsa Ko Li Nyin ini tidaklah terlampau jauh dari negeri bangsa Tiau Nyin , hanya sekitar empat hari perjalanan saja.


Setelah menempuh empat hari perjalanan dengan terbang diantara pohon ke pohon , akhirnya di hari yang ke empat , mereka tiba di depan gerbang kota Mingwa yang tinggi dan kokoh itu.


Setelah melapor kepada para penjaga gerbang kota , dan penjaga gerbang kota ini melaporkan ke pada atasan nya , Shin Liong dan kedua orang istri nya pun di ijin kan untuk memasuki kota Raja.


Di dalam kota Raja , nampak dua orang jendral kepercayaan dari sang Ratu sedang menantikan kedatangan Shin Liong beserta kedua orang istri nya.


Kedua orang jendral itu adalah jendral Ci Le Sia dan jendral Xio Wu yang sudah menantikan Shin Liong , setelah mendengar berita dari telik sandi bahwa mereka telah hampir memasuki gerbang kota .


Kota Mingwa , merupakan sebuah kota Raja yang cukup besar dan sangat ramai.


Namun penghuni kota ini sama seperti negeri Tiau Nyin , di kota Raja Mingwa ini penduduk nya semua nya bangsa Ko Li Nyin , tanpa ada bangsa lain nya.


Sama seperti kota kota lain nya , Kota Raja Mingwa ini juga memiliki sebuah alun alun kota yang sangat besar dengan di kelilingi oleh pohon Tao.


Di sebelah barat alun alun kota Raja itu., berdiri megah sebuah istana Ratu Qi Xun Er yang di kelilingi oleh tembok yang sangat kokoh dan tinggi.


Di pinggir alun alun itu , tepat di depan Gerbang istana , batu giok prasasti Perdamaian dan persaudaraan itu Shin Liong letakan menghadap kearah alun alun kota Raja.


Malam hari nya secara khusus , sang Ratu Qi Xun Er mengadakan jamuan kehormatan untuk tamu nya , dengan mengundang semua perwira dan pembesar negeri Ko Li Nyin itu.


Pagi hari nya , Shin Liong mengisi acara pagi nya dengan jalan jalan di sekitar kota Raja Mingwa.


Ketika Shin Liong , putri Xuan Yi dan Dewi Ying Fa sedang asik berjalan jalan menikmati suasana kota , tiba tiba dari arah luar gerbang kota Raja , berlari dengan kencang nya seekor kuda yang di tunggangi oleh seorang laki laki muda Bangsa Ko Li Nyin ,menuju arah ke istana sang Ratu Qi Xun Er.


Mungkin karena para penjaga gerbang sudah kenal pemuda itu , sehingga tanpa berteriak apapun lagi , pintu gerbang pun segera di buka oleh para prajurit penjaga gerbang.


Setelah gerbang di buka , kuda itu segera berlari masuk kedalam , ke arah istana sang Ratu.


Beberapa saat setelah pemuda itu masuk kedalam istana , terdengar dari atas menara istana yang paling tinggi , suara terompet di tiup oleh petugas secara terus menerus.


Bersamaan dengan suara terompet itu di bunyikan , terlihat di alun alun kedatangan para prajurit dari berbagai sudut jalan dan sudut kota , dengan mengenakan jubah perang dan senjata yang lengkap.


Para prajurit itu bergabung dan berbaris di pasukan nya masing masing.


Dalam waktu yang tidak terlalu lama , beberapa ribu prajurit sudah terkumpul di alun alun kota Raja itu.


Beberapa puluh pasukan Dian Tara nya adalah pasukan berkuda dengan berjubah perang serta bersenjata lengkap.


Sang Ratu Qi Xun Er keluar dari dalam benteng istana dengan menunggang kuda hitam legam , dengan mengenakan jubah perang serta pedang panjang tergantung di pinggang nya.

__ADS_1


Di kiri dan kanan sang Ratu , berdiri jendral Ci Le Sia dan jendral Xio Wu yang juga mengenakan jubah perang dan bersenjata lengkap.


"Dengarlah para prajurit ku semua nya , hari ini teliksandi perbatasan, telah melihat kehadiran pasukan negeri Long Nyin dari timur dan pasukan negeri Lo Fu Nyin di sebelah selatan dengan jumlah masing masing ribuan orang prajurit , dan sedang menuju ke kota Raja kita ini , mungkin mereka telah mendengar tentang kekalahan kita melawan pasukan Tiau Nyin beberapa waktu yang lalu , sehingga memanfaatkan saat saat kita lemah , untuk menyerang kita kembali , dahulu kita pernah bertahan dan berhasil melawan pasukan kedua negeri itu , meskipun saat itu mereka menyerang satu satu , tetapi kali ini mereka menyerang dengan bersamaan , tetapi kita tidak boleh patah semangat , kita harus berjuang sekuat tenaga kita !, ayo kita pertahan kan negeri kita ini , jangan serahkan meskipun satu jengkal saja !" teriak Ratu Qi Xun Er , yang disambut dengan teriakan sorak Sorai dari semua prajurit nya.


Setelah selesai berpidato , memberikan semangat pada semua prajurit nya , sang Ratu dan semua pasukan nya bergerak kearah gerbang kota Raja.


Shin Liong dan kedua orang istri nya yang kebetulan melihat hal itu , segera mengikuti pasukan itu keluar dari gerbang kota Raja.


Di sebuah Padang tandus beberapa Li dari gerbang kota Raja , pasukan itu berhenti di tempat itu.


Kedua jendral masing masing mempersiapkan pasukan nya menghadap ke arah selatan dan menghadap kearah timur.


Pasukan yang menghadap ke arah selatan di pimpin oleh jendral Ci Le Sia , dan yang kesebelah timur di pimpin oleh jendral Xio Wu , dengan masing masing mereka membawa seribu dua ratus orang prajurit.


Karena mengira pasukan musuh masih jauh , maka malam itu semua prajurit , bermalam di Padang tandus itu sambil mendirikan perkemahan sementara mereka.


Shin Liong dan ketiga orang istri nya segera menemui sang Ratu Qi Xun Er , untuk membicarakan masalah penyerangan Dua negeri itu ke pada negeri Ko Li Nyin.


Mereka bertiga di terima sang Ratu di tenda pribadi nya sendiri.


Disitu juga ada kedua orang jendral yang sedang membicara kan langkah langkah apa yang selanjut nya akan mereka pergunakan didalam pertempuran nanti nya .


"Maaf Ratu !, menurut impormasi dari teliksandi mu , ada berapa prajurit mereka masing masing ?" tanya Shin Liong .


"Menurut impormasi dari teliksandi , jumlah pasukan Lo Fu Nyin dari selatan ada dua ribu lima ratusan Prajurit , sedangkan pasukan negeri Long Nyin dari timur membawa tiga ribu lima ratus Prajurit tuan , sedangkan Prajurit kita sekarang ini cuma dua ribu empat ratus orang , dan itupun harus dibagi dua , jadi yang berperang nanti masing masing seribu dua ratus orang Prajurit saja tuan , secara hitung hitungan , negeri Ko Li Nyin akan hancur lebur menghadapi serangan dua negeri itu , kita cuma menguasai Medan saja tuan , dan itu juga tidak akan banyak membantu !" kata sang Ratu Qi Xun Er.


Belum lagi Shin Liong menanggapi jawaban dari sang Ratu Qi Xun Er itu , tiba tiba datang seorang Prajurit dengan berlari Tergopoh gopoh menghadap ke pada sang Ratu.


"Ada apa Prajurit ?, apa yang terjadi ?" tanya sang Ratu heran.


"Ce' celaka yang mulia , ternyata pasukan Long Nyin sudah bersiaga di timur Padang tandus ini , mereka datang dengan peralatan perang yang lengkap yang mulia , dan pasukan kita sudah ber siaga menjaga segala kemungkinan , tinggal menunggu komando dari yang mulia saja lagi !" kata Prajurit itu melaporkan.


Sang Ratu menatap kearah Shin Liong , seakan meminta pendapat pemuda sakti itu.


"Bagai mana dengan pasukan negeri Lo Fu Nyin dari selatan ?" tanya Shin Liong kepada Prajurit yang tadi.


"Maaf tuan muda , pasukan bangsa Lo Fu Nyin , juga hampir tiba di tempat ini , mungkin sore ini atau besok , sudah tiba di sini !" jawab Prajurit itu.


"Kalau begitu masih ada waktu , tarik pasukan yang menghadang musuh di selatan untuk membantu pertahanan di timur Ratu , masalah pasukan musuh yang di selatan itu , serahkan kepada kami , usahakan bertahan semaksimal mungkin bila tidak mampu mendesak musuh !" kata Shin Liong memberikan pendapat nya.


Jendral Ci Le Sia segera menarik pasukan nya untuk bergabung dengan pasukan jendral Xio Wu , guna menghadapi pasukan Long Nyin yang sudah tiba di pinggir timur Padang tandus itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2