Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Wanita cantik Misterius.


__ADS_3

Gadis cantik Ah Mei dan Yun Yun menatap kearah Dewi Teratai putih dengan heran.


"Tetapi dia benar benar tuan muda suami mu nona!" kata Yun Yun.


"Ya, kalian benar!, tetapi hatiku tidak bisa menerima nya yang berubah menjadi dewasa dalam sekejap,aku perlu waktu, aku ingin dia bertumbuh menjadi pemuda bersama ku, bukan tiba tiba seperti itu!" ucap Dewi Teratai putih lagi sambil berdiri di samping tirai gaib punggung kura kura.


Sementara itu,Shin Liong yang belum sadar dengan perubahan dirinya, menatap kearah Shin Bu Mo Thi dengan tatapan tajam.


"Kau mau bermain main dengan sihir kepada ku tuan?, kau sudah hampir mencelakai kami dengan seruling mu ini, jadi mulai sekarang, kau bawa seruling bambu milik ku, dan aku membawa seruling sakti milik mu ini, kau sudah terlalu banyak mencelakai orang lain!" kata Shin Liong geram.


"Ha ha ha ha, hanya memiliki ilmu sihir untuk berubah seperti itu saja kau bangga anak muda, lihatlah siapa aku, bukan kah aku ini seorang raksasa sangat besar dan tinggi?" tanya Shin Bu Mo Thi sambil menebarkan ilmu sihir nya sekali lagi.


Tubuh Shin Bu Mo Thi tiba tiba berasap warna hitam pekat, dan perlahan lahan berubah menjadi wujud seorang iblis tinggi hampir sepohon Tao, berwarna hitam,dengan kuku kuku yang hitam dan runcing serta sepasang taring besar mencuat di mulut nya.


Raksasa hitam itu langsung menyerang kearah Shin Liong dengan kaki dan tangan nya.


Pohon yang kebetulan terkena hantaman tangan atau kaki nya, menjadi kering dan mati,karena sekujur tubuh raksasa ini sangat beracun sekali.


Shin Liong segera memutar seruling sakti yang berada di tangan nya itu dengan sangar cepat.


Terdengar suara lengkingan sangat nyaring,seperti raungan se ekor naga keluar dari seruling sakti yang di putar oleh Shin Liong itu.


Suara lengkingan itu membuat daun daun di sekitar nya berjatuhan seperti terkena hantaman angin ribut.


Raksasa hitam itu terhuyung ke belakang beberapa tindak, dan menabrak sebatang pohon hingga roboh.


"Kurang ajar,kau menyerang ku dengan senjata ku sendiri, kembalikan seruling ku, kalau tidak, aku benar benar akan merobek robek tubuh mu serta memakan hati dan jantung mu!" kata raksasa itu dengan suara nyaring.


"Kau pikir kau siapa sehingga bisa mengganggu perjalanan kami heh?, kau cuma membuang buang waktu kami saja!" kata Shin Liong.


"Bocah tol*l, kau memang membuat aku menjadi sangat marah sekali kali ini, aku tidak lagi berlaku sungkan terhadap mu!" teriak raksasa hitam itu sambil menyerang Shin Liong dengan serangan yang semakin cepat dan kuat sekali.


Berkali kali hantaman kaki dan tangan dari raksasa hitam itu berusaha mengenai tubuh Shin Liong , tetapi dengan gesit nya,tubuh Shin Liong menghindari nya.


Hingga satu ketika, saat kaki besar dari raksasa hitam itu bermaksud menginjak tubuh Shin Liong, tiba tiba secara tidak terduga, tubuh Shin Liong melesat memapaki kaki raksasa hitam itu dengan seruling sakti, tepat di tulang kering nya.


"Prak!" .


Terdengar suara berderak seperti suara ranting pohon yang patah.


Kaki besar raksasa itu patah tepat di tulang kering nya, membuat sang raksasa berteriak sekencang kencang nya, karena menahan sakit yang tak terperikan lagi.


Dengan satu kaki yang tersisa,raksasa itu membungkukan badan nya sambil memegang kaki nya yang patah tadi.


"Prak!" .

__ADS_1


Sebuah hantaman dari seruling sakti, menghantam dahi raksasa hitam itu hingga pecah terbelah dua.


Bersamaan dengan pecahnya kepala nya, tubuh raksasa itupun menciut kembali ke bentuk asli nya, tubuh milik Shin Bu Mo Thi yang sudah tergeletak tak bernyawa.


Dengan tewas nya Shin Bu Mo Thi, cahaya terang di tubuh Shin Liong pun berangsur angsur memudar bersama kembali nya tubuh Shin Liong ke bentuk asli nya juga.


Rupanya bentuk pemuda tadi hanyalah kenyataan dari energi pedang Kristal Katai putih inti bintang yang menyatu di tubuh nya, untuk melindungi dari serangan berbahaya dan serangan sihir.


Melihat tubuh Shin Liong yang sudah kembali seperti semula, Dewi Teratai putih segera menghambur memeluk Shin Liong.


"Sayang!, kau selalu membuat aku terkejut, aku takut Shin Liong ku yang ini hilang selama nya" Isak Dewi Teratai putih di telinga Shin Liong .


Laki laki muda yang masih tinggi sebahu nya itu, dia peluk erat, ada rasa takut di hati nya, takut satu saat perpisahan itu akan terjadi.


"Sudahlah Dewi, maapkan Shin Liong ya, aku tidak bermaksud membuat Dewi bersedih, semua di luar kendali Shin Liong,,,Shin Liong sayang sama Dewi, Shin Liong juga takut kehilangan Dewi!" kata Shin Liong sambil memeluk Dewi Teratai putih dan menyapu air mata wanita cantik jelita itu dengan telapak tangan nya.


Dewi Teratai putih tersenyum bahagia mendapat perlakuan seperti itu dari Shin Liong, hatinya ber bunga bunga,seperti bunga Ying (sakura) yang sedang bermekaran.


"Kau tahu sayang, hidup di Dunia ini hanya kita berdua, tidak ada sanak saudara maupun kerabat, Dewi tidak ingin Shin Liong yang lain, yang Dewi mau cuma Shin Liong yang sekarang, kita sudah berjanji menua bersama,kemana mana berkelana berdua"kata Dewi Teratai putih masih memeluk tubuh Shin Liong, dia tidak meragukan kemampuan laki laki muda itu, tetapi dia tidak ingin kehilangan Shin Liong yang dia kenal selama ini, meskipun wajah dan tubuh Shin Liong ditukar menjadi lebih tampan dan lebih gagah, dia tetap memilih Shin Liong sang suami kecil nya itu, dia belum siap melihat Shin Liong tiba tiba menjadi besar dan dewasa seketika.


Dia masih ingin Shin Liong yang suka bermanja manja kepada nya, Seper kelakuan Shin Liong selama ini.


Shin Liong segera melepaskan kurungan tirai gaib yang mengurung kuda mereka, juga kedua gadis cantik Ah Mei dan Yun Yun.


"Apakah yang terjadi dengan tubuh tuan muda tadi?" tanya Yun Yun yang penasaran.


"Kalian tidak akan mendapatkan jawaban dari nya, karena itu merupakan perwujudan dari ilmu nya, bukan rupa sejati nya, ilmu yang sudah menyatu dengan darah dan detak jantung nya, bisa merubah wujud nya menjadi seperti tadi, tanpa dia sendiri menyadari nya" kata Dewi Teratai putih memberi penjelasan dengan asal menebak saja. tetapi dengan penjelasan dari Dewi Teratai putih itu, membuat kedua gadis cantik tadi tidak bertanya lagi.


Shin Liong sendiri yang tidak mengerti, maksud pertanyaan dari kedua gadis cantik tadi, cuma bisa diam tanpa banyak bicara lagi, sambil mempersiapkan kuda kuda mereka untuk kembali melanjutkan perjalanan.


Akhirnya setelah beberapa saat kemudian,dua ekor kuda yang mengangkut empat orang berjalan menyusuri jalan utama yang membelah hutan lebat itu, menuju ke kota Yufing.


Sebenarnya Shin Liong dan Dewi Teratai putih bisa saja memacu kuda yang mereka tunggangi berdua,tetapi karena Ah Mei dan Yun Yun belum begitu lihai dalam ilmu meringankan tubuh, dan kuda yang mereka tunggangi berjalan lambat menahan beban dua orang, terpaksa Shin Liong dan Dewi Teratai putih juga memperlambat jalan kuda mereka.


Setelah beberapa minggu di jalan, barulah pintu gerbang kota Yufing terlihat menjulang tinggi di kejauhan.


Kota Yufing ini cuma mempunyai dua pintu gerbang, yaitu gerbang timur ke kota Yuking dan gerbang barat ke kota Fansau,sedangkan perguruan walet Emas berada di selatan tidak terlalu jauh dari kota.


Setelah ber basa basi sebentar, Ah Mei dan Yun Yun pun melanjutkan perjalanan mereka ke selatan, menuju ke perguruan walet Emas, sedangkan Shin Liong dan Dewi Teratai putih mampir di sebuah rumah makan yang cukup besar di kota Yufing.


Hari hari terakhir ini orang mulai ramai kembali keluar masuk kota Yufing setelah pesta festival kebudayaan selesai, mereka kembali ke kota masing masing.


Begitupun juga dengan rumah rumah makan, kembali normal seperti biasa nya, setelah sempat sepi beberapa hari.


Kali ini Shin Liong dan Dewi Teratai putih duduk di meja yang paling sudut, Sabil memperhatikan orang orang yang berlalu lalang.

__ADS_1


Dewi Teratai putih segera memesan makanan untuk dirinya dan Shin Liong, juga dua cangkir teh harum.


Nasi belum datang, baru teh harum yang disajikan oleh pelayan.


Sambil berbincang bincang ringan, Shin Liong dan Dewi Teratai putih meneguk teh harum mereka.


Tidak seberapa lama, dari arah pintu, masuk tiga orang.


Yang seorang laki laki paro baya, sedangkan yang dua orang lagi seperti nya dua orang gadis cantik jelita yang hampir seumuran.


Ketika mereka masuk ke dalam rumah makan itu,salah seorang dari gadis itu nampak agak kaget melihat ke arah Dewi Teratai putih dan Shin Liong.


Sedangkan Dewi Teratai putih sendiri juga agak kaget melihat wanita itu.


"Ada apa Dewi, kenapa Dewi seperti kaget melihat sesuatu?" tanya Shin Liong .


"Ah tidak sayang, Dewi cuma kaget melihat salah satu dari kedua gadis yang baru masuk itu sayang, wajah nya sangat mirip dengan ibu ku, tetapi ibu tidak pernah menceritakan bila dia memiliki keluarga lain nya kepada ku!" jawab Dewi Teratai putih.


"Yang mana?" tanya Shin Liong.


"Yang ber jubah merah itu!" kata Dewi Teratai putih.


"Haah?" ...


Shin Liong cuma bisa bingung,karena kedua gadis itu berbaju merah kedua nya.


"Kedua nya kan berbaju merah Dewi!" kata Shin Liong bingung.


"Ah iya maap sayang, maksud Dewi yang menghadap ke arah kita sebelah kiri!" jawab Dewi Teratai putih sambil terus menyeruput teh harum nya.


Ketiga orang yang baru datang itu duduk tidak jauh dari tempat Shin Liong dan Dewi Teratai putih duduk pula.


"Ibu, kenapa sih ibu semenjak masuk ke dalam rumah makan ini, lebih banyak diam, tidak seperti biasa nya,selalu berkicau terus" tanya salah seorang dari gadis cantik itu.


"Yu Hua!, memang nya ibu ini burung murai ya,kok berkicau terus?" tanya gadis yang di panggil ibu oleh gadis disebelah nya.


"Kan biasanya juga begitu,selalu ngoceh tak henti hentinya, tetapi kali ini ibu lebih banyak diam saja dari tadi semenjak kita masuk ke rumah makan ini" kata putri nya.


Rupanya kedua wanita yang Shin Liong sangka gadis kedua nya itu, ternyata ibu dan anak.


Yang ibu bernama An Lian, sedangkan sang putri bernama BI Yu Hua dan sang ayah adalah BI Kwa Ceng.


Mereka baru datang dari kota raja, menyaksikan festival budaya yang baru saja berlangsung itu.


Sang ibu yang bernama An Lian itu terus saja menatap kearah Shin Liong dan Dewi Teratai putih yang kini sedang asik makan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2