
Sepeninggal sang Biksu beserta semua murid nya, Shin Liong segera mencari tempat yang cocok dan kira kira pas untuk meletakan kota yang dia simpan.
Setelah menemukan tempat yang cocok, dia langsung mengeluarkan kota dari ruang dimensi nya,dan meletakan kota itu di tempat yang dia kehendaki.
Ketika Biksu Tong dan para murid nya datang, mereka tertegun melihat di depan mereka sebuah kota sudah berdiri dengan megah nya.
Biksu Tong segera memerintahkan kepada beberapa orang murid nya agar pergi kekota sebelah, meminta bantuan para jendral untuk mengatur kota yang baru ada itu, karena para penduduk berebutan.
Akhirnya para jendral dan prajurit di bantu oleh murid Biksu Tong, mengatur orang orang yang akan menempati rumah rumah di kota itu.
Sang Kaisar Chong Kong Yu menugaskan jendral Bow Ce Liang untuk menjadi tuan ketua kota, dan membawahi dua ratus prajurit untuk membantu nya.
Rakyat yang tidak bisa bertani, di ajari bertani, dengan belajar dari kota di dalam lembah.
Masyarakat dari dalam lembah, juga banyak yang mengadakan perjalanan ke dalam ceruk itu sekedar untuk melihat lihat.
Beberapa hari setelah kegemparan di dalam ceruk batu itu, Shin Liong minta ijin kepada Biksu Tong, untuk melanjutkan perjalanan nya ke Utara.
"Sebenar nya, apa yang tuan muda cari di Utara?, itu kan daerah paling berbahaya tuan, penuh dengan mahluk iblis, tuan!" kata Biksu Tong.
"Sebenar nya kami sedang mencari dua orang kerabat kami, seorang wanita cantik dan seorang laki laki paro baya yang memiliki ilmu Tabib!" jawab Shin Liong.
Mendengar perkataan dari Shin Liong itu, sang Biksu spontan terdiam sesaat.
Shin Liong sudah menduga, tentu ada sesuatu yang terjadi dengan kedua orang mertua nya itu.
"Ada apa Biksu Tong?, adakah telah terjadi sesuatu?" tanya Shin Liong .
Kalau tuan muda mau mencari mereka, pergilah ke Utara sejauh sepuluh hari perjalanan dari sini, tuan nanti nya akan menemukan sebuah hutan lebat dengan ratusan pohon aneh bergetah merah seperti darah, nah kedua orang yang tuan muda cari, sering terlihat di daerah situ untuk mencari tanaman obat, tetapi berhati hatilah tuan, karena mereka sejati nya sudah tidak mengenal tuan semua,karena jiwa mereka sudah di kuasai oleh iblis, para murid saya sering melihat mereka di hutan itu, sewaktu melakukan pengintaian di markas para iblis itu!" kata Biksu Tong menjelaskan.
"Terimakasih Biksu Tong, semoga saja kami tidak terlambat untuk mengembalikan kesadaran mereka berdua!" kata Shin Liong .
Setelah berpamitan, mereka segera terbang menyeberangi lautan pasir hisap itu.
Sangkin ganas nya pasir hisap itu, mahluk Orgo juga tidak berani menyeberangi nya.
Setelah lumayan lama terbang ke Utara melintasi lautan pasir, akhirnya mereka tiba di pinggir hutan sisi Utara dari lautan pasir itu.
Mereka kembali terbang dari pohon kepohon , didalam hutan itu, untuk mempercepat perjalanan.
Menjelang hari ke lima, mereka tiba di sebuah celah tebing batu, antara dua buah gunung yang sangat tinggi.
Celah sempit itu menjulang dari barat ke timur, selebar kurang lebih empat depa, dengan kepanjangan mungkin ratusan Li.
Ketika Shin Liong ber istirahat di depan celah tebing batu itu, terlihat dua orang sedang berjalan tergesa gesa menghampiri mereka.
"Pasukan musuh sudah dekat, sekitar perjalanan satu hari dari sini, cepat berbenah dan pergi dari celah ini kemana saja!" teriak salah seorang dari kedua laki laki paro baya itu, karena mengira Shin Liong dan keluarga nya adalah pengungsi juga.
"Tunggu!, tuan, kami juga baru tiba di tempat ini, ada apa sebenar nya yang terjadi?" tanya Shin Liong .
__ADS_1
"Wah, celaka, mahluk itu sedang menuju ke tempat ini dengan lebih dari lima ratus prajurit, cepatlah pergi dari tempat ini bila ingin selamat!" kata laki laki paro baya itu kepada Shin Liong .
"Tunggu! tuan, Kami bukan lah pengungsi, kami justru menawarkan tempat perlindungan yang baru bagi orang orang yang berlindung di celah ini, Jendral Bow Ce Liang menyuruh kalian semua bergabung bersama beliau di satu tempat, agar beliau bisa melindungi semua nya!" kata Shin Liong lagi.
Laki laki itu tertegun sebentar setelah mendengar nama jendral Bow Ce Liang disebutkan oleh Shin Liong .
"Tuan mengenal jendral itu?, bagai mana kami bisa yakin jika tuan memang berniat baik kepada kami?" tanya salah seorang dari laki laki itu.
Shin Liong membuka portal ke arah dalam ceruk di dinding tebing batu itu.
"Tuan lihat lah itu, putra saya akan mengajak tuan memasuki nya, dan mempertemukan tuan dengan sang jendral, ada berapa orang pengungsi yang berlindung di celah tebing ini?"tanya Shin Liong .
"Sepanjang tebing ini, mungkin lebih dari dua ribu orang tuan!" jawab laki laki paro baya itu sambil melangkah memasuki portal, mengikuti A Yong dari belakang.
Setelah beberapa lama, laki laki itu kembali keluar dari portal di ikuti oleh A Yong dan sang jendral Bow Ce Liang.
"Cepat kumpulkan semua orang untuk mengungsi dari tempat ini, cepat mumpung masih ada waktu!" teriak sang jendral Bow Ce Liang dengan lantang nya.
Kedua orang laki laki paro baya itu langsung berteriak nyaring sambil masuk ke sepanjang celah tebing batu itu.
Orang orang pun berhamburan keluar dari goa goa persembunyian mereka, berkumpul di dekat Shin Liong dan sang jendral berada.
"Berbaris lah yang rapi, dan masuk portal itu secara tertib, disana nanti ada para biksu muda dan para prajurit yang bertugas membantu kalian semua nya, ayo cepatlah masuk, mumpung masih banyak waktu!" perintah sang jendral.
Karena jendral yang sangat mereka kenal yang memerintahkan, maka kepercayaan dihati mereka pun tumbuh, dan dengan tertib, berjalan memasuki portal itu.
Kini empat portal terbuka menuju ceruk celah batu tempat Biksu Tong berada.
Karena empat portal di buka, maka evakuasi penduduk yang terperangkap di celah tebing batu itupun cepat selesai.
Setelah mengucapkan terimakasih kepada Shin Liong, sang jendral pun melangkah masuk ke dalam portal sebagai manusia terakhir yang menyeberang ke ceruk.
Setelah semua orang berhasil menyeberang ke ceruk tempat Biksu Tong berada, portal itupun akhirnya lenyap dari pandangan.
Setelah selesai menyeberangkan orang terakhir, Shin Liong segera mengajak ibu, kedua istri nya serta putra nya untuk naik ke atas tebing batu itu, menantikan kedatangan pasukan Orgo itu.
Hingga menjelang sore hari, dari kejauhan, nampak iring iringan pasukan mahluk Orgo terlihat mulai memasuki mulut celah batu itu.
Saat tiba di celah tebing, pasukan Orgo itu segera menyerbu ke lobang lobang yang terdapat di seluruh tebing itu, tetapi tidak ada seorang manusia pun yang mereka temukan, hanya bekas bekas kehidupan saja yang berserakan di mana mana.
Ketika mereka bermaksud untuk kembali, ternyata di mulut celah tebing, telah berdiri lima orang manusia yang telah menunggu mereka dengan pedang terhunus di tangan.
Tanpa berbicara panjang lebar lagi, Shin Liong segera menyerbu ke arah mahluk Orgo itu, di ikuti oleh A Yong, Dewi Nuwa dan putri Xuan Yi serta Dewi Chang 'e.
Meskipun kebal terhadap senjata biasa, tetapi menghadapi senjata pusaka langit dan mustika langit, mahluk itu tidak bisa berbuat banyak.
Sebentar saja, bangkai mahluk itupun bertumpuk tumpuk di celah tebing itu, hingga tidak tersisa satu pun juga.
Malam pun datang, dengan genangan darah mahluk Orgo yang membasahi celah dindin tebing batu itu.
__ADS_1
Dan ketika pagi hari nya, di puncak tebing, setelah selesai sarapan pagi, Shin Liong mengajak keluarga nya untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Setelah menempuh perjalanan selama lima hari lagi, maka pada satu siang, mereka tiba di sebuah hutan aneh.
Pohon pohon di hutan ini agak jarang, tetapi berbatang besar besar, tinggi lurus tanpa cabang di bawah nya, cuma di puncak pohon itulah terdapat banyak cabang yang tumbuh horisontal mirip sebuah payung raksasa.
Pohon berwarna putih kapur itu, ternyata memiliki getah yang merah seperti darah.
"Bu!, mungkin kah ini hutan yang dimaksudkan oleh Biksu Tong itu Bu?" tanya Shin Liong kepada ibu nya.
"Seperti nya iya nak!, berarti markas para Orgo itu tidak terlalu jauh lagi dari sini, berhati hatilah semua nya, kita tetap berada diatas saja, supaya mudah memantau sekeliling kita!" kata Dewi Chang 'e.
Hingga hari menjadi gelap mereka mengawasi sekitar hutan aneh itu, tetapi tidak ada tanda tanda kedatangan siapapun juga.
Hari kedua pun demikian juga, meskipun mereka telah mengitari hutan itu kemana mana, tetapi tidak ada seorang pun yang terlihat memasuki hutan itu.
Barulah pada hari kelima pengintaian mereka, Shin Liong kembali memindai kesekeliling hutan aneh itu, dan merasakan dari jarak yang cukup jauh, ada dua orang sedang berjalan memasuki hutan itu.
"Jauh di Utara ada dua orang sedang berjalan kearah sini, bersiap siap lah, mungkin itu yang kita cari!" kata Shin Liong .
"Kak, aku minta bila mereka memang kedua orang tua ku, cepat kurung dengan tirai gaib kakak, agar mereka tidak bisa lari lagi, biarkan Dewi terlebih dahulu menghadapi mereka kak!" kata Dewi Nuwa.
"Baiklah Dewi bila itu kemauan mu, tetapi berhati hatilah, aku tidak ingin sesuatu terjadi kepada mu!" kata Shin Liong .
"Dewi mengerti kak!, apa bila memang mereka sudah menjadi mahluk iblis yang sangat berbahaya bagi manusia, dan tidak bisa di perbaiki lagi, Dewi ikhlas mereka di lenyapkan saja, dari pada menambah banyak orang orang tak berdosa yang jadi celaka!" kata Dewi Nuwa sedih.
"Sabar lah Dewi, semoga masih belum terlambat untuk menyelamatkan mereka!" kata Shin Liong menghibur sang istri.
"Tenang kan saja hati mu, biar suami mu yang menghadapi nya, kau siapkan saja cairan yang di berikan kakek Qin waktu itu, bila keadaan sudah memungkinkan, cepat percikan cairan itu ke wajah mereka berdua!" kata Dewi Chang 'e.
"Semoga saja Bu, semoga ayah dan ibu bisa pulih seperti semula Bu, kasihan mereka, saya ingin mengajak mereka kembali ke lembah Teratai!" kata Dewi Nuwa tak mampu membendung air mata nya.
Dari arah Utara, datang dua orang manusia laki laki dan perempuan, sedang berjalan di dasar hutan, nampak seperti mencari sesuatu.
Dari ketinggian cabang pohon aneh itu, Shin Liong memperhatikan kedua orang itu.
Mata nya yang tajam, bisa memperhatikan meskipun dari jarak jauh sekali.
"Apakah benar mereka kedua orang tua mu Dewi?" tanya Shin Liong .
"Iya kak!, mereka memang benar kedua orang tua saya, tetapi sikap nya seperti bukan mereka kak!" jawab Dewi Nuwa.
'Itu karena pikiran mereka telah di kuasai oleh sihir iblis itu, sehingga mereka berubah menjadi mahluk iblis, meskipun tubuh mereka masih tetap manusia biasa!" kata Dewi Chang 'e menjelaskan.
...****************...
Sebenar nya mata author masih sakit, baru pulih sekitar empat puluh persen di bandingkan dengan mata kanan, sehingga author tidak bisa terlalu lama memandang layar hp, kepala langsung pusing, dan author harus ber istirahat sejenak, itulah sebabnya, mengapa author cuma bisa up date satu episode saja per hari nya, cuma sekedar menyapa kalian semua saja.
Terimakasih atas dukungan dan doa doa nya.
__ADS_1