Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Sin Ni Seng Sian .


__ADS_3

"Apa bila kau ingin menemui Kong Thai Sian Shin Liong itu , kau harus pergi kebarat sejauh perjalanan empat hari dari kota Guzian ini , dan melewati gunung Pek Sai , karena Kong Sian Shin Liong yang kau cari itu berada di kota Raja Qiantung , di istana Kaisar Liu !" kata laki laki suami dari wanita tadi .


"Terimakasih Koko , saya pasti akan pergi ke kota Raja Qiantung untuk menemui Kong Thai Sian itu , siapa tahu beliau bermurah hati mengajarkan saya satu atau dua jurus sakti milik beliau !" kata A Yong gembira.


"Semoga saja te , bila keberuntungan mu tinggi , maka itu bisa saja menjadi kenyataan !" kata laki laki itu lagi .


Tidak terasa , air tebu pesanan mereka telah di hidangkan di depan mereka cukup lama .


Mereka segera menikmati minuman yang mereka pesan tadi .


Setelah membayar harga minuman mereka , A Yong dan Dewi Pek Lan Hua segera beranjak pergi dari tempat itu , menuju sudut lain dari alun alun kota Guzian itu .


"A Yong !, sungguh sungguh kah kau akan menemui Kong Thai Sian itu ke kota Raja ?" tanya Dewi Pek Lan Hua .


"Tentu saja sungguh sungguh Lan Hua , setelah mengantarkan kamu pada kedua guru mu , aku akan mencari Kong Thai Sian itu sendirian ke Kota Raja !" jawab A Yong sambil duduk disebuah bangku kayu panjang , di bawah pohon besar yang rindang .


"Setelah mengantarkan aku pada kedua orang guru ku , apakah kau tidak akan menjenguk aku lagi A Yong ?" tanya Dewi Pek Lan Hua dengan raut muka yang nampak sangat bersedih .


"Lan Hua !, aku adalah seorang pengembara , bukan pengembara biasa , tetapi pengembara antar Dimensi , hari ini aku di Dunia ini , entah esok atau lusa aku berada di Dunia mana lagi , apa aku masih bisa selamat atau justru tewas , aku tidak yakin Lan Hua !" jawab A Yong seadanya .


Entah karena apa , tiba tiba di dasar hati gadis itu terasa ada sesuatu yang sangat perih sekali .


Begitu perih nya , hingga beberapa butir air bening mengalir dari sudut mata nya , meskipun telah dia bendung sekuat daya nya .


Ada rasa takut di tinggal sendirian , ada pula rasa takut kehilangan .


Kebersamaan mereka selama ini , membawa rasa yang berbeda di dasar hati dara jelita itu .


Rasa yang seumur hidup belum pernah ia rasakan sebelum nya .


Tiba tiba dada nya terasa sangat sesak sekali , serasa ada beban yang seharus nya dia lepaskan .


Tetapi meskipun dengan sekuat daya nya untuk melepaskan nya , beban itu tetap saja ada di dalam dada nya .


Sambil duduk bersandarkan pada pohon Siong tua nan rindang itu , di diri kan nya kedua lutut nya , dan wajah nya , ia benamkan di atas lutut nya , sambil mengurai sedu sedan kecil .


A Yong terpana melihat Dewi Pek Lan Hua yang duduk sambil membenamkan wajah nya , diatas kedua lutut nya .


Bahu dara jelita itu nampak turun naik menahan sedu sedan nya agar tidak sampai terdengar oleh A Yong .


"Maafkan aku Lan Hua , bukan maksud ku untuk membuat kau bersedih , maafkan A Yong ya !" pinta A Yong sambil menyentuh kedua pundak dara jelita itu .


Setelah beberapa saat terdiam , akhirnya Pek Lan Hua menyahut juga, "tidak apa apa A Yong , kau tidak bersalah , aku yang lemah , tidak bisa menguasai diri ku sendiri , setelah mendengar bahwa kau akan pergi meninggalkan aku , aku begitu terpuruk nya , ketahuilah A Yong , semenjak aku kecil , hingga seperti sekarang , aku tidak pernah punya seorang teman , apa lagi sahabat , cuma kau satu satu nya teman dan sahabat yang ku kenal , mendengar kita kelak akan berpisah dan tidak pasti bisa bertemu lagi , hati ku benar benar terpuruk A Yong !" kata Dewi Pek Lan Hua jujur .


"Bruak !"...


Tiba tiba terdengar suara berderak nyaring , ketika sebuah gerobak kayu berderak hancur setelah menghantam pohon besar di dekat mereka beristirahat .


Seorang laki laki tua berbadan kurus , nampak tersungkur di tanah dengan buah Liu Ngan , pepaya , serta pisang yang terhambur di atas tanah .


Di depan kakek tua itu ada empat orang pemuda usia kira kira dua puluh lima tahunan , berdiri berkacak pinggang menatap kearah kakek tua itu dengan tatapan garang .

__ADS_1


"Lo Pek (pak tua) , sudah kami bilang kan , siapa saja boleh berusaha di tempat ini , tetapi harus mematuhi aturan yang sudah di tentukan !" kata salah satu dari ke empat pemuda itu .


"Tetapi Siang Kong (tuan muda) , saya masih belum mendapatkan tail sekeping perak pun hari ini , harus saya bayar dengan apa ?" kata kakek tua itu sambil menangis mengumpulkan buah dagangan nya yang masih bisa di makan .


"Masa bodoh , kalau tidak bisa bayar , tidak bisa berjualan di tempat ini , itu sudah peraturan !" bentak laki laki itu lagi .


Sementara itu , tiga orang yang lain nya , memungut buah Liu Ngan dan memakan nya , sambil kaki mereka menginjak injak sisa buah yang tidak mereka makan .


Meskipun dengan menangis dan meratap memohon , namun ketiga pemuda itu terus saja menginjak injak buah buahan yang berserakan di tanah .


"Kalian ternyata bina*ang hina dina yang tidak berguna , bisa bisa nya kalian menindas orang tua yang tidak berdaya !" kata Dewi Pek Lan Hua sambil berdiri dan mendorong salah satu dari ke empat pemuda itu hingga terjengkang kebelakang .


"Ho ho , rupanya gadis ini belum tahu siapa kita , dia mau sok jadi pahlawan kesiangan , ayo tangkap dan tela*jan*i dia !" perintah laki laki yang terjengkang kebelakang tadi dengan muka merah karena malu dan marah .


Namun baru saja ke empat pemuda itu bermaksud untuk menyerang A Yong dan Dewi Pek Lan Hua , tiba tiba dara jelita itu bergerak dengan sangat cepat nya , menghadiahi ke empat pemuda itu dengan masing masing satu kali tendangan .


"Buk !"...


"Buk !"...


"Buk !"...


"Buk !"...


Tubuh ke empat orang pemuda itu terpelanting ke belakang hingga sejauh lima depa , jatuh terjengkang dengan beberapa tulang rusuk yang patah .


Dengan terhuyung huyung , ke empat pemuda itu pergi dari tempat itu .


A Yong memberikan satu keping Tail emas kepada laki laki tua itu , "Lo Pek !, ini sekedar pengganti kerugian Lo Pek , terimalah , dan pulanglah Lo Pek !" ...


Dengan tangan yang gemetar , laki laki tua itu menerima Tail emas pemberian A Yong , lalu pergi dari tempat itu dengan gerobak kayu nya , setelah meninggalkan buah Liu Ngan untuk A Yong dan Dewi Pek Lan Hua .


Derak ban gerobak yang terbuat dari kayu itu , mengiringi kepergian dari laki laki tua itu menjauh dari tempat itu .


Ke esokan pagi nya , setelah sarapan dan mempersiapkan bekal di jalan , A Yong dan Dewi Pek Lan Hua keluar dari kota Guzian lewat gerbang barat , menuju kota Qiantung .


Namun rencana A Yong , sebelum tiba di kota Qiantung , dia akan mampir di gunung Ang Coa Shan , untuk mengantarkan Dewi Pek Lan Hua kepada kedua orang guru nya .


Sepanjang perjalanan , mereka isi sambil bercanda gurau , hingga dia hari perjalanan , tidak terasa mereka telah tiba di gunung Pek Sai .


Gunung ini di namakan Pek Sai bukan karena banyak singa putih nya , tetapi bentuk gunung itu sendiri yang menyerupai seekor singa putih yang sedang tertidur , bila di pandang dari kejauhan .


Mereka harus mengambil arah keselatan lagi selama perjalanan satu hari , baru tiba di gunung Ang Coa Shan .


Sebenarnya puncak Ang Coa Shan , dari punggung gunung Pek Sai sudah nampak , tetapi bila di jalani , tentu saja jauh .


Mereka harus bermalam di kaki gunung Pek Sai untuk malam itu .


Ke esokan hari nya , mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka kembali .


Dengan mengikuti jalan setapak menuju kearah selatan , mereka berjalan di bawah pepohonan tinggi serta turun naik bukit .

__ADS_1


Semenjak perjalanan dari gunung Pek Sai menuju ke gunung Ang Coa Shan , Dewi Pek Lan Hua tidak lagi berbicara sedikit pun juga .


Meskipun A Yong mengajak nya berbicara , dara jelita itu cuma menyahut , ya , tidak , atau tidak tahu , itu saja .


Sore menjelang senja , mereka tiba di kaki gunung Ang Coa Shan .


Mereka mencari pondok tempat guru Pek Lan Hua tinggal , tetapi tidak menemukan nya .


Saat sudah hampir putus asa , tiba tiba mereka bertemu dengan seorang wanita tua .


Wanita itu meskipun tua , tetapi wajah nya terlihat masih sangat cantik sekali , serta masih sangat enerjik .


"Maaf aji , bolehkah saya bertanya , apakah ada pondok atau rumah di sekitar sini ?" tanya A Yong kepada wanita itu .


Wanita tua yang masih sangat cantik itu menatap kearah A Yong sambil tersenyum ramah , "kalian siapa dan mau mencari siapa ?" ...


"Saya A Yong aji , dan ini Dewi Pek Lan Hua teman saya , kami bermaksud mencari kedua orang Subo dari teman saya ini aji !" jawab A Yong .


Wanita itu kembali tersenyum , kali ini menatap kearah Dewi Pek Lan Hua .


"Jadi kau murid sekaligus anak angkat dari Xio Er dan Xio Hua ya ?" tanya wanita itu lagi .


Pek Lan Hua hanya menganggukkan kepala nya saja , tanpa suara sahutan apa pun .


"Hmm , kalian ikuti aku !" perintah wanita tua itu lagi sambil melangkah ke sisi lain dari punggung gunung itu .


Mereka memutari punggung gunung Ang Coa Shan lewat sisi timur nya .


Setelah berjalan beberapa lama nya , mereka tiba di sisi selatan gunung Ang Coa Shan .


Ada sebuah Telaga yang tidak terlalu besar , dengan di kelilingi oleh batu batu sebesar sapi berserakan mengelilingi nya .


Di sisi Utara Telaga , menghadap kearah selatan , terdapat sebuah pondok yang tidak terlalu besar , tetapi sangat kokoh dan nyaman untuk di tinggali .


Dua orang wanita yang juga sudah tua , menatap kehadiran A Yong dan Pek Lan Hua sambil tersenyum senyum gembira .


"Ah , Lan er , akhirnya kalian sampai juga ketempat ini !" kata salah seorang wanita tua itu sambil berlari memeluk dara jelita itu .


Pek Lan Hua tidak berkata apa apa , hanya air mata nya saja yang berurai jatuh di pelukan wanita tua yang juga terlihat masih cantik itu .


"Ada apa Lan er , kau nampak tidak senang , apakah kau tidak suka ketempat nenek guru mu ini ?" tanya Tan Xio Er , yang termuda dari dua bersaudara kembar ini .


Mendengar pertanyaan itu , Dewi Pek Lan Hua semakin mempererat pelukan nya , pada tubuh Tan Xio Er guru sekaligus ibu angkat nya itu .


"Lan er !, kenalkan ini nenek guru mu , beliau bergelar Sin ni seng Sian , Subo inilah putri sekaligus murid kami satu satu nya yang bernama Pek Lan Hua itu Subo !" kata Xio Er memperkenalkan .


A Yong dan Pek Lan Hua terkejut bukan main , karena wanita tua yang cantik tadi itu adalah nenek guru dari Pek Lan Hua sendiri .


"Berarti ini !" kata A Yong sambil menunjuk kearah wanita cantik yang ternyata bergelar Sin ni seng Sian (Pertapa sakti , Dewi suci) itu .


...****************...

__ADS_1


__ADS_2