Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Di Taman Lokapala.


__ADS_3

Entah berapa lama Shin Liong melamun di atas batu di pinggir sungai kecil itu, satu persatu kenangan masa lalu berputar kembali di kepala nya.


Titik titik air hujan seperti tidak ia rasakan turun membasahi baju nya.


Entah air mata, entah air hujan yang jatuh bergulir di pipi nya, tidak dia hirau kan.


Berbagai rasa sakit telah dia rasakan, namun kini dia merasa selain raga nya yang sakit, jiwa nya juga ikut sakit.


Keheningan dan kesunyian, membuat semua kenangan manis nya bangkit ke permukaan kembali.


Shin Liong tersentak sadar ketika suara petir terdengar nyaring.


Buru buru Shin Liong mencari tempat berlindung dari hujan.


Tiba tiba sebuah petir menyambar kembali, tidak jauh dari Shin Liong berdiri.


Serumpun pohon Ara dengan akar ulur nya yang banyak, tumbang karena hantaman petir itu, dan sebuah lobang goa terlihat menganga di tebing bukit kecil.


Karena hujan masih turun, akhirnya Shin Liong melompat ke depan mulut goa itu dan berteduh di dalam nya.


Ruangan di dalam goa itu cukup lebar, dengan sebuah kerangka tubuh manusia berada di sudut goa itu.


Setelah memperhatikan kerangka itu sesaat lamanya, akhirnya Shin Liong duduk di sudut lain dari ruangan itu sambil berusaha memejamkan mata nya.


Tiba tiba telinga nya mendengar suara tikus mencicit dengan berisik nya dari arah sebuah lobang di pinggir dinding goa itu.


Dari kegelapan lobang kecil itu, muncul seekor tikus berbulu putih seputih salju, sebesar jempol kaki orang dewasa, berlari kearah Shin Liong duduk bersandar ke dinding goa.


Setelah berada di dekat kaki Shin Liong yang di selonjor kan nya itu, tikus putih itu meletakan sesuatu, lalu berlari kembali kedalam lobang kecil nya di dekat dinding goa.


Dengan ogah ogahan, Shin Liong bangkit memungut benda yang di letakan tikus putih tadi di dekat kaki nya.


Ternyata itu sebuah cincin bermata batu giok berwarna biru muda, seperti warna langit yang sedang cerah.


Shin Liong memperhatikan cincin itu dengan seksama, mirip dengan cincin ruang, tetapi terlihat sangat sangat besar dari sebuah cincin ruang yang paling besar sekalipun.


Ketika Shin Liong bermaksud membuka cincin itu, ternyata cincin itu di kurung oleh sebuah segel Dewa, segel paling kuat di semesta raya ini.


Untung Shin Liong sudah mempelajari berbagai macam segel dewa dari kakek Qin dahulu.


Tidak ada kesulitan bagi Shin Liong untuk membuka segel cincin itu.


Setelah meneteskan setetes darah nya ke batu cincin itu, Shin Liong segera membuka segel nya, dan saat cincin yang sudah dia pasang di jari nya itu ia arahkan ke dinding goa sambil membayangkan sebuah pintu portal, maka tiba tiba cincin itu memancarkan cahaya ke dinding goa, membentuk sebuah pintu portal ke alam dimensi lain nya.


Shin Liong segera memasuki pintu portal itu.

__ADS_1


Setelah Shin Liong masuk, pintu portal di dinding goa itupun menciut menjadi kecil, lalu hilang sirna tak berbekas lagi.


Shin Liong setelah memasuki pintu portal itu, dia keluar di sebuah Padang rumput yang sangat luas sekali.


Sangkin luas nya Padang rumput ini, sehingga sejauh mata memandang, yang tampak cuma bukit bukit yang di tumbuhi rumput semua.


Di sana sini tumbuh pohon pir Dewa dengan buah yang berwarna kuning emas bercahaya terang.


Di alam dimensi itu, hawa qi murni nya seratus kali lebih padat dari pada di dunia dimensi ke dua.


"Ah, aku seperti nya pernah melihat daerah ini, tetapi kapan dan di mana ?" pikir Shin Liong mencoba mengingat ingat semua nya, tetapi tetap saja dia tidak mengingat semua nya.


Shin Liong melangkah perlahan menuruti daya insting nya saja, tanpa tujuan yang pasti.


Ternyata di sebelah timur dari Padang rumput itu, terdapat sebuah telaga besar ber air sangat jernih.


Di sekeliling telaga itu terdapat pohon Ying Hua ( bunga sakura) yang sedang berbunga, sehingga tidak ada lagi daun nya, yang ada cuma bunga berwarna pink indah mengelilingi telaga.


Di sebelah selatan telaga, hingga ke sebelah timur nya, terbentang hutan rimba yang lebat dengan berbagai pohon pohon langka disana, seperti pohon kayu Dewa, pohon pir Dewa, dan pohon Damar hiong yang mengeluarkan aroma sangat harum.


Beratus ratus anggrek hitam nampak bergantungan di dahan pohon Damar hiong itu.


Di sela sela pohon Damar hiong, tumbuh pula pohon kayu Ganyong, pohon dengan batang putih gemuk, tanpa cabang, baru di paling atas terdapat cabang nya seperti payung.


Shin Liong melangkah menuju kearah telaga yang cukup besar itu, dengan berjalan di sela sela pohon Ying Hua. yang sebagian condong ke arah telaga.


Di kiri kanan istana kecil itu terdapat beraneka tanaman bunga, seperti Mei Gui Hua ( bunga mawar), Yu Jin Xiang ( bunga tulip), Mo Li Hua (bunga Melati), Xi ang ri kui (bunga matahari) dan bunga bunga lain nya.


Seorang dara cantik jelita keluar dari dalam istana kecil itu dengan membawa keranjang untuk memetik bunga matahari yang telah tua.


Sejenak dara itu terkejut menatap kearah Shin Liong yang berdiri di halaman rumah yang mirip istana kecil itu.


Dara itu berjalan mendekat kearah Shin Liong yang masih berdiri terpaku.


"Hei!, kau siapa dan ada perlu apa kau ketempat ku ini?" tanya dara cantik jelita itu setengah gusar.


Shin Liong membungkuk beberapa kali di hadapan dara itu, "maapkan saya nona, tadi terjadi hujan badai dan saya berlindung di sebuah goa, ternyata di dalam goa itu ada se ekor tikus berbulu putih seperti salju, keluar dari dalam lobang dan memberikan sebuah cincin bermata batu giok biru langit kepada saya, setelah saya periksa, ternyata cincin itu adalah sebuah kunci portal ke dunia dimensi, setelah saya membuka segel Dewa yang menyegel cincin itu, akhirnya saya bisa memasuki dunia dimensi ini nona muda" kata Shin Liong hormat.


Dara cantik jelita itu, bila di lihat dari tubuh dan wajah nya, mungkin baru berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun saja, walaupun usia sesungguh nya, cuma dia sendiri yang mengetahui nya.


Dara cantik jelita itu menatap kearah Shin Liong dengan seksama, seolah olah sedang menyelidiki nya.


"Dunia dimensi ini milik ayah ku, dan tidak pernah terpisah dari tubuh ayah ku, dulu ayah sering menjenguk aku di dunia dimensi ini, namun sudah beberapa musim, ayah tidak lagi menjenguk aku, aku tahu sesuatu sudah terjadi dengan ayah ku, apakah kau tahu dengan seorang pemuda bernama Diao Hu Liang?" tanya dara cantik itu lagi.


"Aku tidak tahu nona muda, aku menemukan cincin itu di dalam goa,dan di sana ada kerangka tubuh manusia mengenakan jubah biru seperti jubah seorang tabib dan sisa sisa tempat tidur yang sudah hancur termakan usia" jawab Shin Liong sejujur nya.

__ADS_1


Bibir dara cantik itu bergetar, "Diao Hu Liang, sudah kuduga kau penyebab nya" gumam nya lagi.


"Maksud nona?" tanya Shin Liong bingung.


"Kalau melihat ciri ciri pakaian nya, kerangka itu adalah Diao Hu Liang, dia murid kedua ayah ku setelah kakak Ar Wan Wen, dialah yang sangat bernafsu menguasai taman Lokapala ini, serta menjadikan aku istri nya" jawab dara itu.


Bukan main terkejut nya Shin Liong mendengar penuturan dari dara cantik jelita itu.


"Ta' taman Lokapala?" tanya Shin Liong kaget.


"Ya, ini taman Lokapala, tidak semua orang berjodoh bisa melihat taman Lokapala ini, kecuali pilihan para Dewa, aku masih belum mempercayai ucapan mu sepenuh nya anak muda, sebaik nya kau bersiap, aku akan menyerang mu, bila kau berhasil selamat, kau berhak memiliki taman ini,tetapi bila kau tidak berhasil selamat, maka nyawa mu akan melayang ke neraka!" ucap dara itu sambil menyerang kearah Shin Liong .


Betapapun tinggi nya tingkat kultivasi Shin Liong, tetapi menghadapi serangan dari dara itu, tingkat kultivasi nya seakan akan tidak berarti apa apa.


Masih untung dia memiliki jurus langkah Dewa Dewi, seandainya dia tidak memiliki jurus itu, sudah sedari awal dia tewas di tangan dara cantik jelita itu.


Tingkat kultivasi nya yang sangat jauh terpaut dari Shin Liong , membuat Shin Liong seperti anak kecil saja di hadapan dara itu.


Dara cantik itu telah mencapai tingkat Dewa Bintang menengah, satu jarak yang sangat jauh bagi Shin Liong , seperti jauh nya langit dan bumi saja.


Karena tahu jarak kultivasi mereka yang sangat jauh berbeda, maka sedari awal Shin Liong tidak berani mengadu tenaga nya dengan dara cantik itu.


Dengan sekali sentak, Shin Liong melompat mundur.


"Tunggu!' tunggu!' nona muda, bersabar dulu, saya mengaku kalah dengan nona muda, saya akan keluar dari taman Lokapala ini nona, ini terimalah cincin dimensi itu, saya akan keluar" ucap Shin Liong sambil menyerahkan cincin bermata batu giok berwarna biru langit itu.


Dara cantik itu menatap kearah cincin bermata batu giok biru langit itu, tiba tiba air mata nya berlinangan membasahi pipi putih nya.


"Ayah!, cincin kunci portal taman Lokapala itu kini bertemu pemilik nya, saya akan menyerahkan semua nya kepada sang pemilik cincin itu, sesuai dengan amanat ayah dahulu" kata dara cantik jelita itu sambil memperhatikan cincin yang merupakan kunci pintu dimensi ke taman Lokapala.


Sedangkan taman Lokapala itu sendiri berada di galaxy lain, sebuah galaxy yang sangat tersembunyi di semesta raya ini.


Dara itu menyodorkan cincin itu kembali kepada Shin Liong, sambil berkata, "simpan lah cincin ini baik baik tuan muda, mulai sekarang, dia adalah milik mu dan menjadi tanggung jawab mu, termasuk diri saya sendiri adalah bawahan tuan muda, saya penjaga taman Lokapala ini tuan muda!" kata dara itu bersimpuh di hadapan Shin Liong.


"Saya tidak berhak memiliki semua ini nona muda, sebaik nya nona muda yang menyimpan cincin kunci portal dimensi ini"tolak Shin Liong halus.


Tidak!, tidak boleh seperti itu tuan muda, cincin itu sendiri yang memilih tuan muda menjadi tuan nya, maka tuan muda harus bersedia menerima nya, lagi pula darah tuan sudah diserap oleh cincin ini, maka tidak akan ada satu orang pun di semesta ini yang bisa membuka nya, kecuali tuan muda sendiri, meskipun dia seorang dewa sekali pun!" kata dara cantik jelita itu.


Akhirnya Shin Liong pun terpaksa menerima cincin itu dan memasukan ke jari nya.


"Baiklah nona muda, tetapi bisakah saya tahu nama nona muda siapa?" tanya Shin Liong .


Sambil tersenyum manis, dara itu menjawab, "nama saya Fu Mei Yin putra dari Fu Chen Cao sang tabib Dewa"...


"Baiklah nona Mei Yin, panggil saja saya Shin Liong !" kata Shin Liong ramah.

__ADS_1


Nona muda Mei Yin mengajak Shin Liong memasuki istana kecil di taman Lokapala itu.


...****************...


__ADS_2