
Pagi baru saja tersingkap menggantikan Dewi malam yang bertahta semalam suntuk.
Shin Liong dan Dewi Teratai putih melangkah keluar dari sebuah rumah makan.
Nampak Dewi Teratai putih berjalan dengan memeluk tangan kanan Shin Liong dengan erat.
Gadis gadis yang kebetulan melihat, nampak mencibir sinis.
"Huh, kasihan perempuan o on, suami seperti itu siapa yang akan merebut nya, tidak usah di pegangin juga tidak bakalan diambil orang kok, aku aja walau dikasih gratisan tetap ogah" omel seorang gadis gendut di pinggir jalan.
Teman nya melirik kearah gadis tambun itu, " he Ling Er, ada apa dengan mu, pagi pagi sudah sewot, biarkan saja dia, tubuh, ya tubuh nya sendiri, suami, ya suami nya sendiri, kenapa kau yang sewot, kan dia bukan madu mu?" ...
Gadis gendut itu melotot menatap teman nya tadi,hampir saja tangan nya melayang ke arah pantat teman nya itu, seandainya sang teman tidak segera pergi dari situ.
Sebenar nya Dewi Teratai putih melakukan itu, Disamping memang karena rasa sayang nya, selebih nya adalah ingin agar hati Shin Liong menjadi kuat, tidak mudah rendah diri menghadapi orang banyak.
Saat mereka berjalan, tiba tiba mata Shin Liong melihat sebuah toko perhiasan yang lumayan besar di depan mereka.
Shin Liong mengajak Dewi Teratai putih untuk mampir sebentar ke toko itu.
Tanpa banyak membantah, Dewi Teratai putih menuruti ke inginkan Shin Liong itu, meskipun dia tidak mengerti maksud nya.
Shin Liong memilih sepasang anting cantik berhiaskan bunga teratai,serta sebuah kalung bermata bunga teratai pula.
"Berapakah ini nyonya ?" tanya Shin Liong kepada wanita paro baya, penjaga toko itu.
Sebelum menjawab, wanita itu menatap wajah Shin Liong sesaat, lalu tersenyum agak sinis, " kalung nya dua ratus keping emas,dan anting nya seratus keping emas!" ...
"Ambilkan untuk ku,aku akan membeli nya!" kata Shin Liong.
"Hah?" wanita paro baya itu melongo mendengar perkataan dari Shin Liong tadi.
Hati nya sedikit tidak percaya,masa remaja tanggung seperti itu punya keping emas banyak?.
Shin Liong bergegas mengeluarkan kantong keping emas nya,dan menyerahkan tiga ratus keping emas kepada pemilik toko perhiasan itu.
wanita paro baya pemilik toko itu bergegas mengeluarkan perhiasan tadi dari tempat pajangan nya,dan menyerahkan kepada Shin Liong.
"Aku cuma bisa membelikan kamu benda ini Dewi, ku harap kamu mau menerima nya, sebagai rasa sayang ku kepada mu,aku cuma seorang laki laki melarat!" kata Shin Liong sambil menatap Dewi Teratai putih.
Dewi Teratai putih menatap wajah Shin Liong, diantara senyum manis nya,ada bulir air mata mengalir di sudut pipi nya, tidak disangka nya remaja tanggung itu begitu romantis pada nya.
Dipeluk nya tubuh laki laki muda yang kini berstatus suami nya itu dengan erat,rasa haru membuncah didada nya, membuat air mata nya tidak terbendung lagi.
Bukan nilai barang yang Shin Liong hadiahkan kepadanya yang membuat nya terharu, tetapi ketulusan laki laki muda itu untuk menyayangi nya lah yang membuat nya terharu.
"Shin Liong , aku tidak pernah meminta apapun kepada mu,selain kasih sayang, meskipun kita hidup kadang makan, kadang tidak, aku akan tetap mengikuti mu, tetapi karena engkau telah membelikan aku benda ini, aku akan menjaga nya, mengenakan nya,karena ini harta paling berharga bagi ku, lebih berharga dari dunia dan se isi nya ini, kenakan lah pada ku" kata Dewi Teratai putih.
__ADS_1
Shin Liong memasangkan anting di telinga Dewi Teratai putih, begitu juga dengan kalung nya.
Setelah mengenakan anting dan kalung itu, nampak wajah Dewi Teratai putih seperti sebuah lampu yang timbul nyala nya, begitu indah memukau.
Shin Liong mengajak Dewi Teratai putih ketempat penitipan kuda,di dekat gerbang timur kota Li Cuan.
Namun baru saja mereka bermaksud pergi ketempat penitipan kuda,sebuah kereta berhenti de depan mereka.
Seorang wanita cantik turun dari kereta kuda itu.
"Shin Liong?, kau bersama siapa?, Dan mau kemana ?" tanya wanita cantik itu, seorang gadis kecil berusia sepuluh tahunan bersama nya.
"Siau Ji ( bibi kecil)?, ooh ini istri ku Siau Ji, nama nya Dewi Nuwa Wei,kami bermaksud pergi ke timur, ada suatu tempat yang harus kami datangi Siau Ji,syukurlah Siau Ji sehat saja, oh ya Dewi,ini Siau Ji ku,adik bungsu dari ibu ku, cuma dia kerabat yang mau mengakui aku keluarga" kata Shin Liong kepada Dewi Teratai putih.
Dewi Teratai putih merangkum kedua tangan nya didepan dada nya sambil membungkuk, "Salam Siau Ji,saya Dewi Nuwa Wei istri nya Shin Liong, mohon restu dari Siau Ji!" ...
Xue Xiu Fan memeluk Dewi Teratai putih dengan erat,air mata nya menetas bahagia, "saya Xiu Fan,putri bungsu keluarga Xue, Siau Ji titip Shin Liong ya Wei er, kasihan dia,semenjak kecil sudah menderita, tolong jaga putra Siau Ji ini ya Wei er,nama mu seperti nama seorang Dewi, sesuai dengan wajah mu"...
"Siau Ji jangan khawatir, saya akan menjaga Shin Liong dengan nyawa saya, sang maha kuasa telah memilihkan dia sebagai pendamping Wei, maka Wei akan menyayangi nya sepenuh jiwa Wei, Siau Ji" kata Dewi Teratai putih.
"Semoga Dewata selalu melindungi hidup kalian anak ku" kata Xiu Fan kembali memeluk kedua nya.
Gadis kecil putri dari Siau Ji nya tetap diam di atas kereta,tanpa berani turun.
Setelah berbincang bincang beberapa saat, mereka pun akhir nya berpisah, Siau Ji nya pergi ke toko obat milik keluarga,sedangkan Shin Liong dan Dewi Teratai putih pergi ke tempat penitipan kuda, menanyakan kalau kalau kuda coklat nya masih ada,kalaupun tidak ada,mereka bisa membeli lagi.
Ternyata kuda coklat tua itu masih ada,dan sang pemilik tempat penitipan itu meminta dua keping emas untuk biaya pemeliharaan dan pakan kuda itu.
Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh,meskipun dinaiki dua orang,kuda itu tidak merasa berat sama sekali.
Dewi Teratai putih merangkul pinggang Shin Liong dengan erat dari belakang, sementara kepalanya, dia letakan diatas bahu kanan Shin Liong.
Nampak wanita cantik jelita itu sedang kasmaran berat dengan sang suami nya itu.
Setelah keluar dari gerbang timur kota Li Cuan, kuda pun berlari dengan kencang ke arah timur menyusuri jalan yang cukup besar itu.
Setelah berhari hari melewati perkebunan warga, akhir nya desa terakhir pun mereka lewati.
Kini di kiri dan kanan jalan, yang terlihat cuma hutan rimba belantara saja,tanpa ada sebuah rumah pun.
Dua hari pun berlalu kembali setelah mereka memasuki rimba belantara itu.
Kini sore hari ketiga menjelang.
Shin Liong memperlambat laju lari kuda nya,melihat lihat tempat yang cocok untuk bermalam, malam ini.
Akhirnya setelah berkuda beberapa saat,Shin Liong melihat desebelah kiri tidak terlampau jauh dari jalan, terdapat sebuah lembah yang tidak terlalu terjal.
__ADS_1
Dengan menuntun kuda mereka,Shin Liong dan Dewi Teratai putih menuruni lembah yang tidak terlampau terjal itu.
Seperti perkiraan Shin Liong, ternyata benar, di lembah itu terdapat sebuah sungai kecil berair sebatas betis mereka, tetapi cukup untuk menjadi tempat bermalam.
Setelah mengikat kuda dan memberi makan dengan daun daun segar serta memberi minum nya, Shin Liong membuat gubuk sederhana berlantai kulit pohon dan ber atap kan daun daun pohon palm hutan.
Setelah mengumpulkan kayu kering, Dewi Teratai putih memasak nasi untuk mereka berdua, sedangkan Shin Liong menyusuri sekitar hutan untuk mencari binatang buruan.
Karena mereka beristirahat dekat sungai, maka para binatang pun biasanya berkumpul dekat air untuk minum, apa lagi sore hari.
Tidak susah bagi Shin Liong yang memang sudah berpengalaman berburu di hutan itu, untuk mencari seekor rusa jantan muda.
Dibantu oleh Dewi Teratai putih, Shin Liong membersihkan daging rusa jantan muda yang gemuk itu.
Dewi Teratai putih memasak daging rusa itu dengan sayuran yang dibawa nya dari lembah Teratai, dan sebagian nya di bakar diatas bara api.
Setelah semua selesai, barulah mereka berdua membersih kan tubuh di sungai kecil itu.
Hari hari bersama Shin Liong, membuat Dewi Teratai putih memahami arti kehidupan yang sebenar nya.
Wajah yang tampan adalah hiasan sementara yang pasti akan terkikis oleh waktu,tetapi hati yang baik dan penuh rasa tanggungjawab serta kasih sayang adalah hiasan yang tidak bakalan lekang oleh waktu hingga maut memisahkan.
Cinta karena rupa,akan segera pudar bersama dengan hadir nya rupa rupa yang baru.
Tetapi cinta karena hati, akan senantiasa bersemi meskipun rupa yang lebih tampan maupun cantik datang silih berganti.
Dewi Teratai putih mengangkat seiris daging rusa dengan sumpit nya,dan menyodorkan nya ke mulut Shin Liong, " cobalah ini,enak kok!"...
Shin Liong memakan daging yang di sodor kan Dewi Teratai putih ke mulut nya.
"Enak kan?" tanya Dewi Teratai putih.
"HM, Dewi, apa pun yang kau berikan kepada ku pasti enak,meskipun sebongkah batu,aku akan tetap memakan nya" kata Shin Liong.
"Ah masa,kalau ku sodor kan racun,memang kamu masih mau memakan nya ?" tanya Dewi Teratai putih sambil tersenyum.
Shin Liong mengangguk mantap, "tentu saja Dewi, karena mati di tangan mu adalah suatu kehormatan bagi ku!"...
"Kalau begitu aku yang tidak mau,aku tidak mau kau tinggalkan,aku ingin kita memiliki banyak anak dan cucu cucu, hidup damai di suatu tempat yang tenang, dengan kebun disekeliling rumah,lalu ada kucing,ayam,bebek, kambing sebagai peliharaan kita nanti nya, ya" kata Dewi Teratai putih sambil tersenyum menatap wajah Shin Liong.
"Tentu saja Dewi, kita akan mencari tempat yang tenang jauh dari keramaian,dekat sebuah danau,ada gunung gunung yang ditutupi rumput,serta tidak jauh dari hutan,para rusa, kijang dan lainnya berlarian di Padang rumput sambil makan rumput" sahut Shin Liong.
"Adakah tempat seperti itu Shin Liong, kalau ada,aku ingin kita membesarkan anak anak kita kelak ditempat seperti itu,di tempat dimana jauh dari sifat busuk manusia" kata Dewi Teratai putih antusias.
Shin Liong meng anggukkan kepala nya, "tentu saja ada Dewi, disitulah tempat kakek Qin mendidik aku agar menjadi manusia tangguh,disitu juga ada rumah kami berdua dengan kakek Qin,tidak jauh dari air terjun" kata Shin Liong.
Dua anak manusia yang sudah terikat dalam satu perasaan itu berbincang bincang sambil menikmati makanan mereka.
__ADS_1
Senja pun berakhir, digantikan sang malam yang selalu setia menepati janji nya,tidak pernah terlambat meskipun sedetik.
...****************...