
Kesunyian melingkupi seluruh penghuni istana langit, semua terdiam membisu.
"Yang mulia Dewata San Qin, sang Dewata sejati, terimalah salam hormat kami!" kata Kaisar langit sambil bersimpuh di depan Dewata San Qin di ikuti oleh seluruh Dewa Dewi.
"Yu Huang Di!, ketahuilah, akulah yang mengirim mereka kesana untuk menghukum istana Sien Fo, sebenar nya ini hukuman yang paling ringan yang bisa ku mohon pada Tian Agung, Tian Agung sendiri menghendaki seluruh negeri Sien Fo di balik, karena banyak nya kejahatan yang mereka lakukan selama ini, adapun kejadian barusan adalah teguran bagi kalian semua, yang mementingkan kedudukan sebagai Dewa, tetapi lalai dengan tugas dan tanggung jawab, tidak mustahil, di kemudian hari, istana langit ini benar benar akan musnah karena perbuatan kalian sendiri, kalian para Dewa Dewi adalah pengawas keberlangsungan hukum Tian Agung di semesta raya ini, bukan nya kedudukan sebagai Dewa membuat kalian menjadi lalai dan lengah dengan tugas kalian,bahkan Dewa Api Bintang, dengan kedudukan nya sebagai Dewa, di manfaatkan untuk memuaskan nafsu serakah serta nafsu binatang nya, mengumpulkan selir sebanyak banyak nya, dan yang sangat fatal adalah merebut semua istri orang lain demi kepuasan diri sendiri, kalian boleh memperbanyak istri kalian, berapa pun, tetapi pakailah aturan, jangan melanggar aturan Tian Agung, ketahuilah wahai Yu Huang Di!, aturan yang sebenar nya itu adalah aturan dari Tian Agung, bukan aturan Langit yang kalian buat, buatlah aturan yang sesuai dengan aturan Tian Agung!" kata Dewata San Qin.
Semua yang mendengarkan tertunduk malu, mereka masing masing merasa sudah banyak melanggar semua aturan dari Tian Agung.
"Ampun Dewata Sejati, kami memang telah banyak berbuat kesalahan dan melanggar aturan dari Tian Agung, tetapi kami memohon, berilah kami kesempatan untuk memperbaiki nya lagi!" kata Kaisar langit memohon keringanan kepada Dewata San Qin.
Semua tergantung cucu ku, dia lebih berhak dari pada aku sekarang ini!" kata Dewata San Qin sambil menatap sang cucu kebanggaan nya itu dengan tatapan kasih sayang, "apa pendapat mu sekarang ini cucu ku, segala keputusan mu, akan segera ku laksana kan!"...
"Kakek!, aku diciptakan untuk memelihara kebaikan dan melawan kejahatan, aku tidak membenci mereka kek, aku cuma tidak ingin ada seorang pun yang menghina apalagi menyakiti ibu ku, aku memaafkan mereka semua nya kek!" kata Shin Liong sungguh sungguh, bersamaan dengan itu, tubuh nya kembali bercahaya indah yang menyebar keseluruh istana langit.
Kini retakan panjang pada istana langit tiba tiba hilang sirna, segala kerusakan akibat pertempuran tadi hilang seketika, seperti tidak pernah terjadi apapun juga.
"Aku sudah memperbaiki semua nya kakek, tetapi maaf, masalah senjata mereka, aku tidak kuasa mengembalikan nya, karena senjata itu sendiri yang memilih ikut dengan ku, bukan aku yang meminta semua senjata itu masuk kedalam tubuh ku!"jawab Shin Liong jujur.
"Kakek tahu cucu ku, jiwa senjata itu sendiri yang memilih diri mu, kakek akan menggantikan semua senjata mereka!" kata Dewata San Qin sambil mengibaskan tangan nya, tiga macam senjata sudah ada di sana, masing masing tombak api Dewa Teng Sin, dan sepasang roda api Dewa Natcha.
Masing masing Dewa itu menerima senjata mereka kembali dengan suka cita, meskipun bukan senjata semula, tetapi setidak nya mereka sangat yakin dengan kemampuan dari senjata itu, karena di berikan oleh Dewata San Qin sendiri.
"Kalian semua harus tahu, ini adalah Dewi Chang 'e putri ku, kalian pasti sudah mengenal nama nya, tetapi belum mengenal rupa nya, dan ini Shin Liong putra satu satu nya dari Dewi Chang 'e, dan itu adalah putri Xuan Yi, bidadari ketujuh dari kerajaan bidadari di negeri Mo Li Fa, ingat pesan ku tadi baik baik, atau kalian mendapatkan murka dari Tian Agung yang sangat mengerikan, aku akan pergi bersama putri,dan cucu ku,serta cucu menantu ku!" kata Dewata San Qin.
Kabut tipis membungkus tubuh Dewata San Qin dan ketiga orang kerabat nya itu.
Setelah kabut itu memadat, lalu melesat dengan kecepatan maha cepat menebus langit diatas istana langit.
Kabut tebal itu terus melesat dengan kecepatan yang tidak pernah dibayangkan manusia.
Lalu kabut itu masuk menerobos kedalam sebuah terowongan ruang waktu di angkasa raya, dan keluar diatas sebuah dunia yang lain.
Ke empat orang itu turun di sebuah pantai yang sepi, dengan deburan ombak terdengar sahut menyahut.
Seketika kabut itu hilang, Shin Liong menatap kesekeliling nya, sebuah pantai yang indah serta di belakang nya rimbun nya pepohonan hutan.
"Kita ada dimana ini kek?" tanya Shin Liong heran.
"Nanti kau juga akan tahu nak, ada seseorang yang harus kau temui di sini, ayo kita jalan biasa lagi!" ajak Dewata San Qin.
Mereka berjalan menyusuri pantai itu ke arah timur.
Baru setengah hari perjalanan, mereka melihat di kejauhan ada sebuah kota yang di kelilingi tembok tinggi.
__ADS_1
Setelah berjalan cukup lama, mereka pun akhirnya tiba di gerbang barat kota itu.
Kota itu ternyata hanya memiliki dua gerbang saja, gerbang timur ke dermaga laut, sedangkan gerbang barat menuju ke daratan, sedangkan di sebelah Utara, timur dan selatan kota itu adalah lautan lepas.
Setelah memasuki gerbang barat, sebuah kota sangat besar terpampang di depan mata mereka.
Sambil berjalan di dalam kota, Shin Liong mencoba mengingat ingat kota apa ini, karena dia seperti mengenal kota ini.
Setelah berjalan cukup jauh, barulah Shin Liong benar benar yakin, sekarang sedang berada di mana.
"Kakek!, bukan kah ini kota Raja Sun Cao kek?" tanya nya.
"Iya nak!, ada seseorang yang harus kau temui di sini cucu ku, kakek tahu, kau sudah sangat dewasa untuk bisa memaknai segala kejadian hidup ini nak, baik itu yang manis maupun yang pahit, semua ada hikmah dan tujuan nya nak!" kata kakek San Qin.
Mereka terus berjalan, hingga mencapai gerbang istana negeri Zhao yang sangat megah itu.
"Aku Shin Liong saudara dari putra mahkota Chen Chao Kai ingin bertemu dengan nya, tolong sampaikan!" kata Shin Liong sambil memperlihatkan ukiran ikan lumba lumba kecil dari batu giok sebagai lambang kerabat istana.
"Ba. baik tuan ku, akan hamba sampaikan, sudilah tuan ku menunggu barang sejenak!" kata prajurit penjaga gerbang itu dengan terbata bata, lalu berlari kedalam.
Tidak seberapa lama, pintu gerbang di buka, seorang pemuda tampan sudah menunggu di balik pintu gerbang itu.
"Adiiik!!", jerit pangeran Chen Chao Kai sambil berlari memeluk Shin Liong .
"Kakak, ini kakek ku, dan ini ibu ku, serta ini istri ku!" kata Shin Liong memperkenalkan para kerabat nya.
"Saya kakek Qin, kakek nya Shin Liong!" kata kakek Qin memperkenalkan diri nya.
"Saya Chang 'e ibu nya Shin Liong !" kata ibu Shin Liong memperkenalkan diri nya juga.
"Dan saya Xuan Yi, istri nya!" kata putri Xuan Yi turut memperkenalkan diri nya.
Mendengar kata kata dari Xuan Yi, sesaat pangeran Chao Kai tertegun, lalu bersikap biasa biasa saja lagi.
Chen Chao Kai mengajak mereka masuk kedalam istana, bertemu dengan sang Kaisar.
Bukan main gembira nya hati sang Kaisar, bertemu kembali dengan putra angkat nya itu.
"Kaisar!, mana dia?, mana anak muda itu?, aku mau bertemu dengan nya!" kata kakek Qin kepada sang Kaisar.
"A ada tuan, dia sedang menemani ibu nya di taman belakang, kasihan wanita itu tuan, tiada waktu tanpa menangis!" kata sang Kaisar segera menyuruh seorang prajurit untuk memanggil seseorang di taman belakang istana.
Prajurit itu berlari kebelakang istana, dan beberapa waktu kemudian kembali bersama seorang anak remaja laki laki berumur sekitar enam belas tahun.
__ADS_1
"Ada apakah kakek memanggil ku?" tanya anak remaja itu.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu nak,lihatlah!" kata sang Kaisar sambil menunjuk kearah kakek Qin.
"E, eyang?, benarkah ini eyang Qin?" tanya anak remaja itu.
Kakek Qin memeluk anak remaja itu, "iya nak, ini eyang datang menjenguk mu, bagai mana kabar mu nak, dan bagai mana kabar ibu mu?" tanya kakek Qin kepada anak remaja itu.
Memandang anak remaja itu, Shin Liong seperti memandang sebuah cermin besar yang terpampang di depan mata nya.
Sempat terlintas berbagai macam pikiran, tetapi dia tidak berani berspekulasi macam macam.
"A Yong sehat saja eyang, sukurlah ada kakek Kaisar dan paman pangeran, sehingga bisa turut merawat ibu, ibu tidak akan berubah eyang, kecuali dia bisa bertemu ayah, setiap hari menyesal dan menangis, untung ada nenek Jin Mu yang merawat ibu dengan kasih sayang!" jawab anak remaja itu sambil meneteskan air mata nya.
"Shin Liong cucu ku, kesini lah nak!" kata kakek Qin pada Shin Liong .
Shin Liong maju mendekat kearah kakek nya.
Diraih sang kakek tangan nya, lalu tangan anak remaja bernama A Yong itu.
"Nak!, dia putra mu, putra kandung mu, dia cicit ku, putra dari Dewi Nuwa nak, kalau keterangan kakek ini di luar nalar mu, ketahuilah nak, di dunia ini ada yang masuk dalam akal manusia, tetapi sebenar nya lebih banyak yang tidak masuk akal manusia nak!" kata kakek Qin lembut.
"Pu, putra ku kek?, bagai mana mungkin itu terjadi kek, usia Ku baru delapan belas tahun, sementara dia sudah enam belas tahun, masa umur dua tahun aku sudah memiliki putra kek?"tanya Shin Liong masih sulit untuk percaya, karena sama sekali tidak masuk akal nya.
Kakek Qin mengajak mereka semua nya untuk duduk di lantai mendengarkan kisah nya.
"Shin Liong cucu ku, perjalanan mu baru saja di mulai sebagai seorang Dewata nak, masih sangat banyak keanehan dan keganjilan dari kuasa nya Tian Agung yang belum kau ketahui nak, bahkan kakek mu ini saja belum bisa memahami seberapa hebat nya Tian Agung itu, kita cuma bisa memuja dan mengagumi nya saja nak,tanpa bisa memikirkan seberapa hebat nya dia!" kata kakek Qin memulai cerita nya.
"Akupun tidak percaya kalau dia ayah ku kek, bila benar pun, maka aku harus membunuh nya, dia telah menyia nyiakan aku dan ibu ku kek!" kata anak muda bernama A Yong itu dengan wajah berapi api.
"Kalau itu kau lakukan, maka kau harus membunuh ibu mu ini terlebih dahulu nak!" tiba tiba terdengar suara seorang wanita dari ruang tengah istana.
Dari dalam terlihat seorang wanita kurus dan nampak tua berjalan di bimbing oleh seorang wanita cantik paro baya yang bertubuh agak subur serta berpipi agak tembem, namun sangat cantik.
"Ibu!, tetapi ibu, dia telah menelantarkan kita berdua Bu!" sahut anak muda A Yong itu.
"Tidak ada tetapi A Yong, kau yang lebih tahu dari ibu, atau ibu yang lebih tahu dari mu?" tanya wanita kurus bertubuh ringkih itu dengan nada tegas.
Anak muda bernama A Yong itu tercekat saat mendengar kata kata ibu nya kali ini.
Seakan ia melihat sosok lain dari ibu nya selama ini.
...****************...
__ADS_1