
Ratu Qi Xun Er menatap kedua tamu nya itu dengan tatapan ramah dan senyuman yang khas di bibir nya.
"Kedua putri yang terhormat , tentu saja itu yang kami harap kan , pembicaraan dan perjanjian damai yang akan menyudahi pertikaian yang tidak pernah selesai ini !" kata Ratu Qi Xun Er menyambut gembira maksud dari kedua orang gadis cantik jelita itu.
"Sebelum masuk kedalam gerbang benteng istana ini , tadi di depan , dekat alun alun kota Raja , kami melihat ada sebuah batu prasasti yang menandakan perdamaian dan persaudaraan dari Negeri Ko Li Nyin dan Negeri Tiau Nyin , melihat itu , kami juga ingin membuat perjanjian seperti itu , dan mengakhiri konflik yang tidak berkesudahan di Thai San ini , kita negeri terbesar di Thai San ini seharusnya bisa jadi pelindung dari negeri negeri kecil di seputaran Thai San ini !" kata putri Zhi Yao mengutarakan keinginan nya.
"Kalau benar seperti itu , kami sangat senang dan mendukung sekali , mari kita awali era kedamaian di Thai San ini , tidak ada lagi pertumpahan darah yang percuma serta hilang nya nyawa yang dia sia belaka !" kata Ratu Xiau Kim Tiau ikut memberikan pendapat nya.
"Bagai mana tuan muda ?" tanya Ratu Qi Xun Er kepada Shin Liong .
Sebelum bicara , Shin Liong terlebih dahulu menatap ke empat orang gadis yang sama sama cantik jelita itu dengan tersenyum ramah .
"Bila memang itu tujuan dan harapan kalian semua , aku sangat senang mendengar nya , dan secepat nya perjanjian persaudaraan itu akan kita laksanakan dengan mencari titik paling tengah dari Thai San (Hutan besar) ini , tempat meletakan batu prasasti nya nanti , dan kelak , disitu akan menjadi sebuah kota besar yang di isi oleh semua Bangsa yang terdapat di lingkungan Thai San ini!" kata Shin Liong memberikan pendapat nya.
Ke empat perwakilan dari negeri nya masing masing itu , bersepakat untuk mengakhiri konflik serta memulai era baru , era persahabatan , persaudaraan demi kedamaian di seluruh Thai San ini.
...----------------...
Kita tinggalkan sementara perjalanan Shin Liong dan kedua orang istri nya , dan kita lihat perjalanan dari A Yong di bagian timur benua itu .
Siang itu matahari sudah melewati tengah hari , ketika A Yong memasuki sebuah desa yang cukup besar.
Karena A Yong berlari nya lewat dalam hutan , melompat dari satu pohon kepohon lain nya , maka A Yong semakin menjauh dari jalan umum dan nyasar kesebuah desa di tengah hutan.
Meskipun desa ini adalah desa terpencil , tetapi berpenduduk cukup ramai .
Hasil utama desa ini adalah emas dan keramik ,itu terlihat dari banyak nya pencari emas dan pembuat keramik di desa ini.
Tetapi satu hal yang membuat hati A Yong menjadi bingung adalah hampir semua orang di desa ini memiliki rumah yang hampir roboh semua nya , kecuali satu buah rumah yang berada di ujung desa , adalah rumah yang paling mewah dan paling besar di desa itu .
Tidak ada rumah makan di desa itu , yang ada cuma sebuah warung nasi yang kecil saja.
Semenjak awal memasuki desa itu , beberapa orang laki laki mengawasi A Yong yang berjalan santai menyusuri desa itu.
Di belakang rumah rumah penduduk , nampak ladang dan kebun kebun warga desa yang tumbuh subur .
Di sebuah warung kecil yang menjual nasi , A Yong mampir di tempat itu.
Tidak banyak yang makan di warung kecil itu , cuma ada dua tiga orang laki laki saja.
"Bibi !, apakah nasi putih nya masih ada BI ?" tanya A Yong sambil duduk duduk di ujung kursi panjang .
"A' ada tuan muda !, tunggulah sebentar akan saya siapkan !" kata wanita paru baya pemilik warung itu sambil berlalu keruang belakang warung , untuk mempersiapkan pesanan A Yong .
"Kau dari mana dan bermaksud untuk pergi kemana tuan muda ?" tanya seorang laki laki tua yang kebetulan juga sedang makan di tempat itu.
"Nama saya A Yong kakek , saya bermaksud pulang ke kota Raja Xue di dalam lembah batu , tetapi malah tersadar ke desa ini , ini desa apa ya ?" tanya A Yong yang masih belum menyadari keadaan itu.
"Kota Raja Xue ?, diseluruh Benua ini , sepengetahuan saya , tidak ada kota yang bernama kota Xue , apa lagi kota Raja nak , yang ada kota Luxiang !" kata laki laki tua itu.
__ADS_1
A Yong termenung sesaat , mendengar perkataan dari orang tua itu.
"Ah mungkin karena terlalu lama nya terkurung tidak bisa kemana mana , mungkin orang orang ini tidak tahu dengan keberadaan Kot Raja itu !" pikir A Yong .
"Lalu apa nama desa ini kek ?" tanya A Yong lagi.
"Nama desa ini desa Kim San nak !" jawab laki laki tua itu.
Pantas banyak terlihat pencari emas di kaki kaki bukit , ternyata nama Desa ini adalah desa Kim San (gunung emas) , pikir A Yong lagi .
"Apakah nama desa ini berhubungan dengan pencarian warga nya yang mencari emas kek ?" tanya A Yong .
"I' iya nak !" jawab laki laki tua itu lagi.
"Tetapi kenapa terlihat warga desa ini miskin miskin kek ?" tanya A Yong lagi.
Mendengar pertanyaan dari A Yong itu , terlihat wajah laki laki tua itu berubah seketika.
"I' itu a' anu nak ma ' ma !"...
Belum selesai laki laki tua itu bicara , wanita pemilik warung tadi keluar dengan membawa pesanan dari A Yong tadi .
A Yong segera menyantap makanan nya yang sudah terhidang di depan nya.
Dari celah dinding bambu , A Yong tahu jika ada beberapa laki laki sedang memperhatikan nya dari luar.
Tetapi A Yong pura pura tidak mengetahui hal itu , dia terus saja asik menyantap makanan nya.
Tetapi ketika berpapasan dengan A Yong , laki laki itu berbisik , "cepat pergi dari desa ini selagi sempat nak !"...
A Yong ingin bertanya , tetapi laki laki tua itu sudah cepat cepat keluar dari warung kecil itu , dan pergi entah kemana .
Akhirnya A Yong meneruskan makan nya tanpa banyak bicara lagi.
Setelah menyelesai kan makan nya , A Yong segera membayar harga makanan nya tadi kepada wanita pemilik warung .
"Bi !, saya telah selesai !, berapa biaya semua nya ?" tanya A Yong kepada pemilik warung kecil itu.
"Dua puluh keping perak tuan muda !" kata pemilik warung kecil itu.
A Yong menyerahkan satu keping emas dengan lobang bolongan di tengah nya , yang berarti nilai nya setengah keping emas atau lima ratus keping perak .
"Maaf tuan muda !, tidak ada kembalian nya !" kata wanita paro baya itu.
Dengan tersenyum A Yong berkata kepada wanita paro baya itu , "tidak usah bibi , kembalian nya ambil untuk bibi saja !"...
"Terimakasih tuan muda , terimakasih atas pemberian tuan muda !" kata wanita paro baya itu terharu.
"Oh iya bi , tadi waktu di jalan saya ada mendengar tentang kota Luxiang , saya harus berjalan arah kemana ya untuk bisa tiba di kota itu ?" tanya A Yong lagi.
__ADS_1
"Berjalanlah kearah Utara lewat jalan setapak di hutan itu , setelah lewat setengah hari , tuan akan menemui jalan besar , ikuti terus arah barat ,dan tuan akan tiba di kota Luxiang !" kata wanita tua itu.
Baru saja A Yong keluar dari warung kecil itu , di depan warung kecil itu telah menunggu tiga orang laki laki berbadan tinggi besar dan ber otot serta bertampang garang garang dan rata rata tingkat kultivasi mereka berada pada alam Brahmana akhir serta satu orang yang merupakan pemimpin dari mereka berada pada tingkat alam Brahmana sempurna.
"Mau kemana kau anak muda ?" tanya salah satu dari anak buah nya.
"Saya ingin ke kota Luxiang tuan !, permisi saya mau lewat !" kata A Yong dengan sikap sopan nya .
"Siapa yang sudah mengijinkan kau pergi keluar dari desa ini heh ?" tanya laki laki tadi.
"Maaf tuan , saya singgah di desa ini hanya untuk makan sebentar saja , maafkan bila itu salah , saya tidak tahu kalau orang luar tidak boleh masuk kedesa ini , maafkan saya tuan !" kata A Yong mencoba bicara baik baik.
"Hei !, tidak ada larangan pada siapapun yang akan memasuki desa ini , yang di larang adalah keluar dari desa ini , kau mengerti kah ?" tanya laki laki tadi dengan setengah membentak.
Orang orang yang tadi makan di warung kecil itu , cuma bisa mengintip dari celah dinding bambu saja, tanpa berani keluar.
"Maksud tuan ?, saya tidak mengerti maksud nya ?" tanya A Yong yang amarah nya mulai terpancing .
"Cuih !, dasar bocah tolol , siapa saja boleh memasuki desa ini , tetapi tidak ada seorang pun yang boleh keluar dari desa ini , kecuali..!" kata laki laki tadi.
"Kecuali apa tuan ?" tanya A Yong lagi.
"Kecuali kau tinggalkan nyawa mu bo*oh ha ha ha ha ,!" kata laki laki itu sambil tertawa yang di ikuti oleh dua teman nya yang lain.
Dengan masih bersikap tenang , meskipun darah muda nya sudah mendidih hingga sampai ke ubun ubun , A Yong berkata , "lakukan lah segera kalau tuan memang merasa mampu melakukan nya , tetapi saya ingatkan , bila kekuatan tuan tidak sehebat kata kata tuan , maka jangan menyesal "!.
Dengan muka merah padam , laki laki itu berkata , "kurang ajar !, bocah baru bisa merangkak dan masih bau kencur , sudah berani mengancam ku , awas saja kau , ku cabut nyawa mu sekarang juga !" ...
Dengan gerakan cukup cepat dan kuat , laki laki itu segera melayangkan serangan nya ke arah A Yong .
Namun A Yong yang sudah mewarisi gerakan jurus langkah Dewa Dewi dari kedua orang tua nya itu , sedikitpun tidak panik melihat serangan itu.
"Dengan serangan seperti ini kau bermaksud mencabut nyawa ku ?, setidak nya , kau perlu berkultivasi selama seratus tahun lagi tuan !" kata A Yong sambil bergerak dengan kecepatan luar biasa , tahu tahu tubuh A Yong lenyap dari hadapan lawan nya dan pada waktu yang sama , sudah berada di belakang laki laki kekar itu.
"Prak !" ...
Dengan sekali pukul pecahlah tengkorak kepala laki laki itu , dengan otak yang berantakan kesana kemari .
Tubuh laki laki tinggi kekar itu tertelungkup di tanah tanpa ada suara lenguhan apa apa , cuma kaki dan tangan nya saja yang berkelojotan beberapa saat , lalu diam untuk selama lama nya.
Kedua orang teman nya terkejut bukan main , seorang teman mereka yang selama ini terkenal berkepandaian tinggi , harus tewas di tangan seorang pemuda ingusan , cuma dalam satu jurus saja.
Padahal mereka yang bergelar Sam Kui Ang (tiga setan merah) selama ini malang melintang berkelana kemana mana , belum pernah terkalahkan.
"Ji Sute !, Ji Sute !" teriak kedua orang laki laki itu sambil membalikan tubuh saudara nya.
Ternyata wajah sang adik , juga sudah tidak utuh lagi , terkena pukulan dari A Yong tadi.
...****************...
__ADS_1
Author: (Ji Sute -adik kedua).